Posts

PCI Talks: Everyone Can Do Good

Written by Dara Ayu Ariane, Content Writer Intern at Project Child Indonesia

Project Child Indonesia is back with another online webinar and this time featuring its Executive Director, Surayah Ryha, as the guest speaker. With the theme “Everyone Can Do Good”, it serves as not only the NGO’s slogan that all staff cherish but also as a constant reminder and invitation to the webinar participants to do good in any form. 

The webinar was held on April 20, 2021 and lasted from 15.30 WIB to 17.00 WIB. It was also supported and sponsored by To My Daughter, a jewelry company based in Bali that has a mission to help young girls in impoverished communities worldwide.

Brigitta Paula, the webinar’s moderator and Project Child Indonesia’s Marketing & Fundraising intern, started off the webinar with a brief explanation of the theme and the guest speaker’s background. Then it was time to give the spotlight to Surayah Ryha who not only shared information about Project Child Indonesia as an NGO, but also the back-story of why she started the NGO in the first place, what the slogan stands for, and the various positive impacts the NGO has given to its surrounding communities. 

Surayah Ryha started with sharing her eye opening experience with the Last Living Sea Tribe during her thesis days. She learned two paradoxes: 1) the people living hand-in-hand with nature don’t really care about it and it’s because 2) when their survivability is at stake, protecting nature doesn’t become the main agenda anymore. 

She also shared the progress of Project Child Indonesia over the past 10 years, dating back to 2011 when the NGO only had a single program. 

For the latter half of the webinar, Surayah Ryha mainly shared on the positive benefits of volunteering and the importance of doing good things as youths. She explained that by having young adult volunteers, the NGO is working with a privileged group of people that have the skill sets and knowledge to come up and realize social change. 

“Young people are also agents of change, mobilizing to advance the Sustainable Development Goals to improve the lives of people and the health of the planet.”

Surayah Ryha, Executive Director of Project Child Indonesia


If you missed out on the chance to join our latest PCI Talk, don’t forget to follow our Instagram account to stay updated with future events! 

Volunteer dan Internship, Why Not?

Ditulis oleh Vina Dina, Content Writer Intern Project Child Indonesia

Pernahkah kalian bergabung menjadi volunteer saat kuliah? atau menjadi anak magang? Hmm, mungkin sebagian mahasiswa bertanya-tanya, kenapa harus menjadi volunteer? Apa sih pentingnya magang? Unpaid pula. Nanti juga setelah lulus juga kerja.

Okay, so, we will talk about those topics yang juga merupakan tema dari PCI Talks vol.2, College Experience: Volunteer and Internship, bersama dengan Kak Abie dan Kak Fajar yang merupakan “alumni” volunteer dan internship Project Child Indonesia. Singkat mengenai PCI Talks, PCI Talks merupakan program webinar yang diselenggaarakan oleh Departemen Partnership Project Child Indonesia dan disponsori oleh To My Doughter (TMD). PCI Talks vol. 2 yang dilaksanakan pada tanggal 26 Maret 2021 lalu, membahas mengenai pengalaman-pengalaman Kak Abie dan Kak Fajar saat menjadi volunter dan menjalani internship di Project Child Indonesia serta pentingnya pengalaman tersebut untuk dunia kerja yang tentunya bisa menjadi bahan pertimbangan untuk kita semua.

Mengapa harus menjadi volunteer?

Semua yang manusia lakukan, kecerdasan yang manusia miliki bisa digantikan oleh mesin, terkecuali empati.

-Abie Zaidannas Suhud

Mengapa harus menjadi volunteer? Jawabannya mungkin akan berbeda untuk setiap orang. Namun bagi Kak Abie dan Kak Fajar, dengan menjadi volunteer kita diajarkan untuk lebih berempati, solutif dan merupakan proses untuk dapat membantu orang lain sekaligus mengenal diri sendiri. 

Rasa empati sangat diperlukan untuk membangun hubungan sosial. Dengan empati, kita bisa ikut memahami dan merasakan apa yang orang lain rasakan sehingga kita bisa lebih tepat dalam memberikan masukan dan solusi. Ketika kita menjadi volunteer, besar peluang kita akan bertemu dengan orang-orang yang tidak mendapatkan privilege sebesar yang kita peroleh sehingga dapat memunculkan keinginan untuk berkontribusi membantu meringankan beban-beban yang mereka miliki seperti yang dirasakan oleh Kak Fajar. Keuntungan lain ketika menjadi volunteer adalah bertemu dengan berbagai macam karakteristik individu, baik yang berbeda agama, budaya, bahkan bahasa. Hal tersebut meningkatkan kemampuan kita untuk beradaptasi dengan orang baru dan menjadi lebih toleran.

Apakah wajib mengikuti kegiatan volunteer saat kuliah? Tentu tidak. Namun, menjadi volunteer bisa menjadi salah satu alternatif untuk menemukan apa yang kalian sukai, atau sebaliknya, kalian bisa menjadi volunteer karena hal-hal yang kita sukai. Sebagian dari kita mungkin senang bertemu dan bermain dengan anak-anak seperti Kak Abie dan juga memiliki ketertarikan pada pendidikan, sebagiannya lagi memiliki ketertarikan menjadi relawan untuk korban bencana alam seperti Kak Fajar, dan sebagian lainnya mungkin belum menemukan apa yang disukai, but it’s okay. Kita bisa mencoba banyak hal baru untuk memperluas zona nyaman kita bukan? Coba saja dulu, siapa tau kita temukan hal-hal menarik dan menyenangkan saat menjadi volunteer?

Selagi ada kesempatan dan kalian memiliki privilege untuk mengeksplor banyak hal, lakuin aja dulu. Karena saat menjadi volunteer, selain kalian membantu orang lain, kalian juga berproses untuk semakin mengenal diri sendiri.

-Septian Fajar

Apakah internship itu penting?

Penting atau tidaknya suatu kegiatan tergantung pada skala prioritas dari masing-masing individu. Internship atau magang bisa menjadi penting untuk sebagian mahasiswa karena ketika kita mengikuti kegiatan magang, maka kita akan mendapatkan pengalaman bekerja langsung dilapangan yang tidak bisa kita peroleh di kehidupan kampus. Ketika kita terjun langsung dilapangan, kita tidak jarang menemukan masalah-masalah yang harus segera diatasi dan dicari solusinya sehingga dapat meningkatkan kemampuan problem solving seseorang. 

Kemampuan tersebut sangat penting karena seperti yang Kak Fajar ceritakan dalam PCI Talks vol.2. Saat menjalani wawancara untuk melamar pekerjaan, pertanyaan yang ditanyakan bukan hanya pertanyaan umum seperti “kamu akan melihat dirimu 5 tahun lagi seperti apa”, akan tetapi lebih sering pertanyaan-pertanyaan mengenai problem solving. Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut, dibutuhkan pengalaman nyata yang setidaknya hampir mirip dengan masalah-masalah yang ditanyakan oleh perusahaan dan dapat kita peroleh ketika kita pernah terjun langsung dilapangan seperti saat menjadi volunteer atau internship di suatu organisasi atau perusahaan.

Selain itu, tidak menutup kemungkinan jika pekerjaan kita di masa depan akan sesuai dengan apa yg kita kerjakan saat menjalani internship, seperti yang dialami oleh Kak Sabrina, salah satu “alumni”  internship di PCI sekaligus audience di PCI TALKS vol. 2.

Sebagian perusahaan atau organisasi memang mengadakan program internship secara unpaid dan hal tersebut menjadi pertimbangan untuk beberapa orang. Tentu saja karena semua orang di dunia ini membutuhkan uang untuk bertahan hidup. Namun, adakalanya mendapatkan pengalaman lebih berharga dari pada mendapatkan gaji. 

The keys are earning, learning and networking. Learning dan networking akan mengarahkan kita ke earning.

-Abie Zaidannas Suhud

Seperti pesan dari Kak Abie, 3 hal yang paling penting untuk dipertimbangkan ketika memilih sesuatu adalah earning, learning dan networking. Namun learning dan networking akan mengarahkan kita pada earning di masa yang akan datang. Ketika kita mengikuti program internship, mungkin kita tidak akan mendapatkan sisi ‘earning’ apabila perusahaan atau organisasi yang kita pilih tidak memberikan fasilitas tersebut. Namun ‘learning’ dan ‘networking’ akan selalu bisa kita peroleh asal kita mau mengetuk pintu serta belajar dan menanyakan pertanyaan yang tepat. Kita mungkin tidak mendapatkan hasilnya secara langsung, tapi siapa yang tau apa yang akan terjadi di hari esok, bulan depan, atau 10 tahun lagi? The tree takes time to grow and bear fruit, isn’t it?.

Tak perlu tunggu hebat, untuk berani memulai apa yang kau impikan

-Terhebat, Coboy Junior

Beberapa dari kita mungkin ada yang merasa ragu untuk mencoba bergabung dalam kegiatan volunteer dan internship karena merasa tidak memiliki basic yang matang. Tapi, siapa orang yang tidak pernah merasa ragu di dunia ini? Just start today, mulailah melangkah melakukan sesuatu yang bisa mendekatkan kita ke impian kita karena kita tidak perlu menjadi sempurna saat memulai. Nikmati prosesnya serta belajar dari kesalahan dan lingkungan sekitar. Sejalan dengan apa yang diungkapkan Kak Abie, ketika kita masih muda, resiko yang kita dapatkan saat membuat kesalahan akan lebih sedikit. So, jangan takut untuk mencoba banyak hal yang kalian ingin coba!

Just do it! Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Mumpung masih ada kesempatannya. Bisa jadi, saat menjadi volunteer, kita bisa menemukan hal yang benar-benar kita nyaman dan sukai. Kita juga bisa mendapatkan kenalan baru, sahabat baru dan mungkin saja mereka yang kita temui saat volunteer dan internship adalah rekan kerja kita di masa yang akan datang seperti yang dialami oleh Kak Abie dan Kak Fajar. Selain itu, tidak menutup kemungkinan ketika kita menjadi volunteer dan intern, secara tidak langsung kita membantu orang-orang yg tidak seberuntung kita untuk mendapatkan sesuatu yang tidak mereka dapatkan sebelumnya, seperti pendidikan, kesehatan, rasa aman dan lainnya.

Just do good then you will get good. 

Untuk teman-teman yang memiliki ketertarikan terhadap bidang pendidikan dan senang bertemu dan berinteraksi dengan anak-anak, Project Child Indonesia bisa menjadi wadah yang tepat untuk memulai langkah baru. Project Child Indonesia membuka pendaftaran volunteer dan internship yang terbuka untuk seluruh Indonesia. Kalaupun internship dan volunter bukanlah hal yang teman-teman sukai namun ingin berkontribusi untuk membantu pendidikan anak-anak, kalian juga bisa mendonasikan sebagian uang saku kalian di kitabisa.com. Everyone can do good, no matter what you are interest in or how big the impact that you bring. The choice is yours.

PCI Talks: Studi di Luar Negeri 101

Ditulis oleh Mikhael Sianturi, content writer intern of Project Child Indonesia

PROJECTCHILD.NGO – Project Child Indonesia kembali untuk memberikan materi, dan kini dalam bentuk wawasan studi di luar negeri. Judul acara kali ini adalah “Studi di Luar Negeri, Mengapa dan Bagaimana?” Seminar dilaksanakan dalam bentuk webinar melihat situasi sekarang masih tidak memungkinkan untuk melaksanakan seminar tatap muka.  Namun, dengan format acara seperti ini, peserta webinar dari mana saja bisa mengikuti. Maka dari itu, PCI mencoba untuk menyebarluaskan webinar ini seluas mungkin. Webinar dilaksanakan pada hari Selasa, 9 Maret 2021, dari jam 19.00 WIB hingga selesai.

Seperti judulnya sendiri, webinar ini memberikan pengetahuan mengenai kualitas-kualitas bagus yang bisa didapatkan dengan studi di luar negeri dan cara mendapatkan cara mendapatkan beasiswa dan aplikasi studi di luar negeri. Webinar ini menghadirkan tiga pembicara. Mereka ialah Alicia Andie Angkawidjadja dari University of Toronto, Kanada,  Nadia Kristanto dari Middlebury Institute of International Studies at Monterey, California, dan Mikha Triadimas dari La Trobe University, Australia. 

Moderatornya pun juga mengambil studi di universitas di luar negeri, yaitu Dara Ayu Ariane dari Ritsumeikan Asia Pacific University, Jepang. 

Webinar PCI Talks Studi di Luar Negeri, Mengapa dan Bagaimana?

Pembicara pertama, Mikha Triadimas, menyampaikan materinya seputar kuliah di Negeri Kangguru. Ia menjabarkan alasan-alasan mengapa Australia, khususnya Melbourne  menjadi pilihan dia, mulai dari iklimnya, acara-acara di kotanya, arsitekturnya, dan sisi alamnya. 

Mikha juga menjelaskan alasan memilih La Trobe University. Ini dikarenakan Australia yang memiliki iklim pendidikan yang sangat bermutu, mata kuliah yang bermacam-macam, dan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan studi yang lebih singkat (3 tahun). Selain itu, Mikha juga menjelaskan sistem operasional berkuliah di universitasnya dan cara pemerintah menangani pandemi yang melanda.

Pembicara kedua, Alicia Andie Angkawidjadja, dalam gilirannya menyampaikan pengalamannya menjalankan studinya di Toronto, Kanada, dan cara mendapatkan beasiswa. Selain itu, ia juga menjelaskan alasan di balik memilih University of Toronto. Mulai dari peringkatnya yang tinggi (#18 sedunia), opsi kelas yang banyak, orang Kanada yang ramah, dan lain lain. 

Pembicara terakhir, Nadia Kristanto, menyampaikan materinya mengenai tentang pilihan universitasnya di California dan cara mendapatkan beasiswa di tengah pandemi. Nadia memberikan penjelasan yang sangat teliti; sampai di langkah-langkah teknis, mentalitas yang dibutuhkan, dan tips-tips yang berguna. 

Pembicara Nadia memberikan materinya

Webinar ini mendapatkan respon positif dari peserta-pesertanya. Berikut adalah beberapa tanggapan dari tiga peserta terpilih.

“PCI Talks kali ini nambah banyak banget wawasan baru, terutama tentang kehidupan seputar kuliah di luar negeri. Lewat 3 narasumber yang kuliah di negara berbeda, aku jadi tau kondisi belajar dan lingkungan di masing-masing negara. Dapet useful tips juga buat dapet beasiswa, lengkap pokoknya. Terimakasih PCI Talks.”

-Adjeng

“Menurutku PCI Talks kemaren insightful bangett, segala tips dan cara-cara untuk dapet beasiswanya tu ditunjukkin langsung sama speakersnya, dan mereka juga banyak cerita pengalaman nyata yang bikin makin penasaran gimana rasanya sekolah di luarrr negeriiiii”

-Theresia Tyas

“The event itself is really resourceful, especially for students who are trying to find more information on studying abroad as well as receiving scholarships. As an undergraduate student pursuing my studies abroad, I find the webinar to be extremely refreshing and insightful, especially the part where I am able to gain other student’s perspectives on studying abroad.”

-Angelien Pardi