Tag Archive for: project child indonesia

Menjadi Seorang Ayah: Mendampingi Masa Depan Anak

Written by Citra Dwizarati, Content Writer Intern at Project Child Indonesia

Menjadi seorang ayah yang baik tidaklah mudah, hal ini menjadi tantangan bagi para ayah dalam mendidik dan mendampingi anak. Keterlibat seorang ayah dalam hubungan antara ayah dan anak akan mempengaruhi kehidupan anak.

Dalam memperingati hari ayah nasional, para ayah dapat memulai untuk mempelajari berbagai pengetahuan tentang parenting dan ikut terlibat dalam mengasuh anak

Taukah kamu, betapa pentingnya parenting pada anak?

Parenting merupakan Ilmu atau pola asuh orangtua terhadap anak-anaknya. Pentingnya menerapkan pola asuh yang baik pada anak dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak.

Tetapi dalam menerapkan ilmu parenting sudah semestinya melibatkan kedua peran orangtua, yang mana anak membutuhkan dukungan kedua orangtua.

Terutama peran ayah juga penting dalam mendampingi anak, yang secara tidak langsung dapat mendekatkan diri pada anak.

Maka keterlibatan ayah dapat mempererat kedua hubungan antara ayah dan anak-anaknya.

Seperti yang banyak diketahui, masih terdapat kurangnya peran ayah dalam mendidik anak.

Fatherless atau tidak adanya peran ayah dalam mengasuh anak, hal ini mempengaruhi perkembangan anak 

Tapi, kini zaman telah berubah. Maka penting bagi ayah dalam mengubah cara mendidik anak.

Menurut kak Seto sebagai psikolog anak, dengan diperingatinya hari ayah nasional dapat meningkatkan kesadaran bagi ayah untuk terlibat dalam mendidik anak.

Dengan kurangnya keterlibatan ayah dalam mengasuh anak, sehingga dibentuknya hari ayah nasional untuk meningkatkan peran ayah dalam mendampingi anak-anak. Dalam memperingati hari ayah nasional, para ayah dapat memulai untuk mempelajari berbagai pengetahuan dan ikut terlibat dalam mengasuh anak

Dahulu, pengetahuan dalam mengasuh anak sangat terbatas. Sehingga keterbatasan tersebut menjadikan minimnya ketidaktahuan sang ayah dalam mendampingi anak. Seiring berjalannya waktu menjadi tantangan bagi seorang ayah dalam mengikuti perkembangan zaman dalam mendampingi anak. Sedangkan Ilmu yang kini mudah didapatkan dari buku maupun sosial media memudahkan para orangtua dalam mempelajari pola asuh yang baik pada anak.

Sehingga anak berhak hidup layak yang dipenuhi hak-nya, sehingga orangtua bekerjasama dalam merancang pola asuh yang dapat melengkapi kebutuhan anak. Maka sebagai ayah perlu mempersiapkan anak sebagai generasi maju demi masa depannya.

Bagimana Manfaat dari Parenting?

Peran ayah dalam kehidupan anak-anak sangat penting dalam mempengaruhi masa depar anak.

Dengan menerapkan parenting yang baik dapat memberikan berbagai manfaat pada anak-anak diantaranya dapat membangun rasa percaya diri anak, membentuk beberapa pola pikir anak dan meningkatkan kemampuan sosial anak.

Tidak hanya itu, banyaknya kejahatan di lingkungan sekitar menjadi tantangan bagi ayah. Terutama dalam memberikan edukasi seksual untuk mencegah pelecehan seksual, ayah juga dapat mengajarkan atau mendampingi anak untuk belajar bela diri.

Pendidikan pertama kali yang didapatkan oleh anak berasal dari rumah yang diajarkan oleh kedua orangtuanya. Tidak hanya pada ibu, keterlibat seorang ayah dalam hubungan antara ayah dan anak akan mempengaruhi kehidupan anak.

Maka dari itu, penting bagi kedua orang tua untuk bekerja sama dalam mendampingi anak. Dengan kecerdasan yang dimiliki anak atas didikan orangtuanya, yang tidak hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri bahkan orang lain.

Ayah sebagai kepala keluarga tentu memiliki tanggung jawab yang besar dalam memprioritaskan hal yang penting bagi keluarganya. Pencapaian terbesar seorang ayah dapat melihat anaknya dapat tumbuh dengan baik. Dengan menerapkan ilmu parenting dalam kehidupan akan membantu dalam perkembangan dan tumbuh anak.

Dengan merayakan hari ayah, menjadi pengingat dan menghargai peran para ayah dalam mendidik anak-anak. Selamat Hari Ayah Nasional! father’s day!

Generasi Muda dalam Aksi Gotong Royong

Written by Citra Dwizarati, Content Writer Intern at Project Child Indonesia

Generasi muda sebagai penerus bangsa berperan penting dalam meneruskan bangsa Indonesia dengan menerapkan nilai-nilai sumpah pemuda dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sangat mempengaruhi persatuan dan kemajuannya bangsa indonesia.

Tahukah kamu perjuangan para pemuda?

Indonesia merupakan negara kepulauan, penduduk yang menyebar dari sabang sampai merauke yang menjadikan Indonesia kaya akan keragaman budaya, agama, ras, suku hingga kebiasaannya. Meskipun masyarakat Indonesia berasal dari suku yang berbeda, tetapi kita tetap satu bangsa.

Sumpah pemuda menjadi awal perjuangan para pemuda-pemudi yang berjanji dan mengaku satu tanah air, satu bahasa, dan satu bangsa Indonesia.

Perjuangan pemuda yang bertahun-tahun dalam melawan penjajah, tidak mematahkan semangat para pemuda untuk memperjuangkan kemerdekaan. Tindakan tersebut sebagai bentuk peduli dengan bangsa indonesia dalam mewujudkan perjuangan cita-cita para pemuda. Hingga pada akhirnya para pemuda berhasil menyatukan bangsa Indonesia.

Proklamasi sumpah pemuda yang memiliki makna yang mendalam sebagai pedoman bagi penerus bangsa untuk memajukan bangsa Indonesia.

Untuk menghargai jasa para pahlawan, kita dapat menanamkan nilai-nilai sumpah pemuda kepada penerus bangsa. Dengan menanamkan jiwa nasionalisme, persaudaraan dan kebersamaan dalam diri.

Hari sumpah pemuda menjadi bagian sejarah terpenting. Pesan penting yang disampaikan pada teks pidato sumpah pemuda, menjadi pengingat bagi kita semua betapa harumnya perjuangan para pemuda dalam memperjuangkan kemerdekaan demi Indonesia yang satu.

Kita sebagai generasi muda tentu perlu bisa menjadi generasi penerus. Maka perlu membangun karakter bangsa dengan menerapkan nilai-nilai sumpah pemuda.

Bagaimana menerapkan nilai-nilai sumpah pemuda?

Sejarah menjadi pedoman bagi kita bagi para penerus bangsa dalam membangun indonesia menjadi lebih baik. Merayakan hari sumpah pemuda dengan menanamkan nilai sumpah pemuda sebagai bentuk menghargai jasa para pahlawan.

Dengan menerapkan sikap nasionalisme, persatuan, cinta tanah air, kebersamaan dan persaudaraan sebagai nilai yang terkandung dalam sumpah pemuda.

Salah satu bentuk sikap anak muda dalam menerapkan nilai sumpah pemuda dengan bergotong royong.

Gotong royong merupakan kegiatan yang dilakukan secara bersama kerjasama untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Gotong royong sebagai sikap perjuangan para pemuda, menjadi budaya yang sudah tumbuh bersama masyarakat menjadi kebiasaan bagi masyarakat Indonesia.

Maka peran generasi muda diperlukan untuk melakukan aksi gotong royong. Semangat kerjasama tim sebagai sikap dasar anak bangsa, yang bersama-sama dilakukan dalam membersihkan lingkungan yang awalnya berat menjadi ringan.

Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh – Johny Soelistyo

Dengan meningkatnya semangat gotong royong terhadap lingkungan, menjadi contoh bagi generasi penerus dalam menanamkan sikap sumpah pemuda.

Aksi yang dilakukan tersebut oleh generasi milenial tanpa disadari telah menerapkan nilai-nilai sumpah pemuda. Sebagaimana kita sebagai makhluk hidup menjadi tanggungjawab bersama dalam menjaga lingkungan. Langkah kecil yang dilakukan secara bersamaan, membawa perubahan dan harapan bagi bangsa.

World clean up day, sebagai salah satu kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan kesadaran terhadap lingkungan. Kampanye yang dilakukan mengajak membersihkan lingkungan demi kepentingan bersama. Kegiatan yang dapat kita rasakan manfaatnya melalui kebersamaan yang terjalin dalam mencapai lingkungan yang bersih dan sehat.

Pada 16 September, kegiatan peduli lingkungan yang dilakukan oleh team project child dengan bergotong royong melalui kegiatan clean up day. Kegiatan tersebut sebagai salah satu bentuk mempererat kebersamaan dan persatuan dalam menjaga lingkungan.

Kegiatan ini meningkatkan kesadaran dan untuk mengingat kembali betapa besar perjuangan para pemuda dalam memperjuangkan kemerdekaan dengan semangat kebersamaan dan persatuan. Maka untuk tetap terus berjalannya sikap perjuangan pemuda, maka diperlukan menanamkan sikap gotong royong sejak dini.

Seiring waktu, sikap gotong royong menurun. Keberadaan teknologi menjadi tantangan bagi anak muda. Meskipun begitu, tingginya semangat anak muda tidak menghalangi dalam bergotong royong.

Saat ini gotong royong yang tidak hanya dilakukan seperti kerja bakti, namun ada pula gotong royong di era digital melalui donasi dalam membantu mensejahterakan masyarakat.

Melalui berbagai kegiatan yang tersebar di media sosial dapat mendorong semangat generasi muda. Kebiasaan gotong royong yang membawa kesejahteraan, yang mana bahu membahu kepada sesama yang memperkuat persatuan untuk mencapai kepentingan masyarakat umum

Sumpah pemuda memperkuat persatuan indonesia. Dengan persatuan, kita dapat memajukan bangsa Indonesia. Besarnya perjuangan yang telah dibangun oleh para pemuda melalui sumpah pemuda, tanpa adanya jasa para pemuda.

Tunawisma yang Masih Berkembang di Indonesia

Written by Shania Amalia Hafta, Content Writer Intern at Project Child Indonesia

Homeless atau disebut sebagai tunawisma merupakan kasus yang masih harus diperhatikan. Walaupun Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, jumlah penduduk miskin Indonesia pada September 2021 mengalami penurunan, tetapi status ini masih ditemukan di sekitar kita.

Peristiwa Tunawisma di Indonesia

Dilansir dari Kompas.com, pada 16 September 2022 terdapat keterangan bahwa ada seorang tunawisma yang ditemukan oleh warga telah meninggal di kolong jembatan Inspeksi Kalimalang, Duren Sawit, Jakarta Timur. Diketahui, Bapak tersebut berusia 57 tahun dan bisa mendapatkan makanan jika diberikan oleh warga sekitar. Bahkan, pada tahun 2021, ketika masa pandemi masih berlangsung ketat, masih ada Bapak berusia 68 tahun berkeliling mencari sampah untuk bertahan hidup selama adanya program PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat). Ada juga seorang tunawisma yang diduga oleh warga mengalami gangguan kejiwaan di daerah bagian provinsi Bengkulu, kemudian meninggal dunia karena dibunuh dengan senjata tajam.

Lalu, apa sebenarnya definisi Tunawisma?

Menurut Glasser (1994), tunawisma adalah kondisi yang terpisah dari masyarakat, tidak adanya ikatan atau lemahnya hubungan sosial dengan orang lain. Sedangkan menurut Tomas dan Dittmar (1995), seseorang dapat dikatakan tunawisma bukan hanya tidak memiliki tempat tinggal. Tetapi, juga adanya beberapa dimensi terkait, seperti kurangnya rasa aman dan kehangatan tubuh, emosional, tidak ada privasi, kurang ada rasa keterikatan dengan dunia, dan lemahnya kehadiran spiritualitas di dalam diri, seperti adanya harapan, memiliki tujuan hidup, dan bentuk keyakinan lainnya.

Berapa data kasus Tunawisma di Indonesia?

Menurut beberapa sumber, terdapat 3 juta tunawisma di Indonesia. Pada 2019, diperkirakan ada sekitar 77.500 gelandangan dan pengemis masih tersebar di kota-kota besar Indonesia. Pada tahun 2020, diketahui Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta mencatat bahwa, masalah gelandangan merupakan posisi teratas yang mengalami penyandang masalah kesejahteraan sosial, yaitu dengan jumlah 1.044 orang. Bahkan, pada tahun 2021, dilansir dari katadata.co.id, ada beberapa provinsi yang memiliki tingkat tertinggi jumlah gelandangan di desa/kelurahan, diantaranya adalah Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, DKI Jakarta, dan Sulawesi Selatan.

Mengapa orang dengan status tunawisma bisa muncul?

Menurut Mago, dkk., yang melakukan penelitian menggunakan Fuzzy Cognitive Map untuk memahami sebuah sistem sosial yang ada, tunawisma dapat bermunculan disebabkan adanya beberapa hal yang dihadapinya, seperti perumahan, akses layanan sosial, kondisi kesehatan mental, dukungan keluarga, asuransi, masalah pengangguran, dan peristiwa traumatis lainnya, seperti adanya pelecehan seksual di masa kanak-kanak dan pembelajaran. Ada juga dari sudut pandang postmodernisme, yaitu memahami arti dari kata ‘rumah’ tidak hanya sebagai tempat berlindung, tetapi juga sebagai stabilitas, kenyamanan, keamanan, keselamatan, ekspresi diri, dan kesejahteraan fisik yang tidak bisa lepas dari kondisi ekonomi, sosial, dan politik yang berlaku. Lalu, ada juga teori konstruksi sosial yang menjelaskan tentang perilaku manusia termasuk rasa ingin tahu, adanya keinginan dasar untuk merasakan keamanan, merefleksikan, dan menilai apa yang harus mereka lakukan di tengah-tengah struktur kekuasaan yang berlaku di kehidupan sosial. Selain itu, tunawisma dapat muncul disebabkan ketimpangan akan standar upah, ras, harga rumah, layanan kesehatan, baik fisik maupun mental.

Bagaimana caranya menanggulangi tunawisma?

Lakukan program preventif atau pencegahan terjadinya tunawisma, dengan mengadakan kegiatan penyuluhan, bimbingan, latihan, pendidikan, pemberian bantuan, dan pengawasan dengan topik utama yang berkaitan dengan kondisi hidupnya, kondisi keluarganya, hubungan antara lalu lintas dengan tunawisma, dan rehabilitasi tunawisma. Berdasarkan salah satu penelitian, bisa juga menggunakan pendekatan panti untuk membangun komunikasi dan motivasi agar bangkit dari kondisi yang dihadapinya. Lingkungan Pondok Sosial juga bisa berperan dalam memberikan tempat tinggal untuk memiliki kehidupan yang layak. Lalu, bisa juga menggunakan metode transit home, yaitu merubah hidup tunawisma dengan memiliki tempat tingal yang layak dan memahami pembekalan diri agar siap bersosialisasi dengan kehidupan di masyarakat. Tetapi, ada juga yang menggunakan metode transmigrasi, yaitu mengirimkan para tunawisma ke luar daerah atau luar pulau untuk diberikan pemahaman mengenai kontribusi dan motivasi usaha yang dapat dilakukan di desa.

Apakah ada solusi lain untuk menangani tunawisma?

Semuanya tergantung pada pihak pemerintah yang memiliki tekad untuk mengatasi permasalahan tunawisma di Indonesia berdasarkan undang-undang dan hukum yang berlaku, seperti tentang kesejahteraan sosial, kesejahteraan anak, perlindungan anak, dan penangulangan gelandangan dan pengemis. Begitu juga dengan pihak LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang sebagai wadah untuk advokasi memahami persoalan kemiskinan serta aksi menyuarakan kebutuhan masyarakat. Tidak lupa juga, peran dan partisipasi masyarakat untuk mendukung program penanggulangan tunawisma, sehingga menjadi langkah besar untuk membangkitkan motivasi tunawisma kembali menjalani hidup yang wajar sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

Young Generation in Preserving Batik

The role of young generation in preserving batik is very important. Way that we can do to celebrated national batik to use batik, as a form of appreciating Indonesian batik culture.

Did you know the influence of national batik day celebration?

With the celebration of batik, it can have an impact on the global community.

As we know, Indonesia is rich in cultural diversity, especially batik cloth. Basically batik as a popular Indonesian cultural identity.

The increase of batik industry changes people’s lifestyles in dressing dynamically, so that craftsmen follow the flow of fashion developments. Which is batik can also prosper the batik craftsmen both nationally and globally

Batik has become a new innovation in modern way.

“The increasingly varied batik motifs have awakened a number of Indonesian designers to develop modern batik” -Tina Andrean

The Short History of Batik

Historically, the traditional process of making batik is not easy through various steps.

The types and philosophies of batik from various regions provide uniqueness and so meaningful that poured into traditional batik.

So that the art on cloth made traditionally has a high and universal value. So only certain circles can use batik cloth.

However in this era batik can be used by all people regardless of the social status, makes batik a part of popular culture.

But people are basically using Batik that identically used at formal events.

Meanwhile, how can we use batik continuously?

The stigma of our society towards using of batik could be change through the trend of wrapped cloth by young people which has become the new fashion trend of 2020 until now.

Overtime, batik cloth has developed to be more modern, especially in the digital era, making it easier to introduce modern batik culture which is now a fashion trend. One of them is in introducing batik wrapped cloth through the hashtag Berkain Bersama.

This movement based on the anxiety of young people against the use of batik that had faded, began to get used to using batik cloth to invite all groups to preserve batik culture. Through #BerkainBersama, you can find enthusiasm of young people to use batik wrapped cloth.

We can see that this movement invites and gets a positive response from all circles who can encourage the use of batik again. The Berkain Bersama movement aims to realize and succeed in normalizing the use of batik in everyday life.

The technique of tying and wrapping the fabric becomes an artistic value in the use of batik.

These movement that changes traditional fabrics that flexible to used, so that it can encourage young people to use batik as daily clothing. Activities that can have a positive influence. Especially young people who take part in using batik cloth which can have a positive influence on other young people. The high use of batik wrapped cloth has become a new habit in dressing.

The more difficult the process of making batik, the higher the value of batik. So that as Indonesian cultural heritage, it is certainly important for us the younger generation to maintain and preserve it.

How to preserve batik?

Historically, batik has a deep meaning, therefore, it is important for young people to know the history of batik making. Love for our homeland begins with small steps by starting to get used to using batik cloth as a form of support for Indonesian culture. By using batik, we take part in preserving culture.

As we can see, the use of batik is very dynamic at times. As Indonesian citizens should be proud and loved of the richness of Indonesian culture. So that batik can be sustainable and passed down to the next generation. Therefore, we as the younger generation take part in preserving batik culture

Happy World National Batik Days, Let’s #BerkainBersama!

Youth in Humanitarian Action: Vulnerable Roles, Significant Influence

Written by Maria Olivia Laurent, Content Writer Intern at Project Child Indonesia

On 19 August 2003, the world was stunned to silence by the bombing attack on the Canal Hotel in Baghdad, Iraq. On that day as well, the humanitarian sector suffered a tragedy unlike ever before, with 22 people dead, including the chief humanitarian in Iraq, Sergio Vieira de Mello, in a targeted attack on the United Nations Assistance Mission in Iraq (UNAMI). To remember the losses that day and the significant effort from all humanitarian workers, the United Nations formalized 19 August as World Humanitarian Day. Today, we celebrate the hard work of all workers who have given their lives and dedication in providing support and protection to people most in need. This year’s World Humanitarian Day’s theme is #RealLifeHeroes, focusing on the inspiring personal stories of humanitarian heroes during the Covid-19 pandemic. Events and campaigns held by various organizations worldwide bring together partners and institutions to advocate for the well-being of aid workers. I believe everyone who reads this article is a humanitarian, whether you work in this sector, or you have a passion as one. Let’s discuss what being a humanitarian really is and our roles as young people in it!

What is humanitarian aid? Is it the same with other types of emergency aid? 

Yep, any aid given during emergencies and disasters is considered humanitarian aid. All programs, procedures, and supports are designed to save lives and alleviate suffering during and in the aftermath of crises. The ‘human’ in humanitarian means that those aids directly benefit the affected people. For example, giving shelter and food to earthquake victims, treating injured civilians in war, connecting displaced families, etc. Have you ever donated to an emergency fundraiser? If yes, you can also be considered giving humanitarian support. The Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) of the UN is the main body responsible for coordinating emergency responses. 

During emergencies and conflicts in their countries, young people are forced to shoulder the burden of fighting on the frontlines for their communities and become extremely vulnerable to violence and exploitation. Many are forced to drop out of school to care for their families. Basic necessities like safety, health, and sanitation are also cut off. Children face the dangers of being illegally recruited as child laborers and soldiers. Girls may also face pressure to marry early to secure their families’ survival, effectively killing their dream and future in these uncertain times. 

Getting Involved

If we look at the bigger picture, even aid workers in international organizations are also subjected to discriminative treatment. Either their hard work is overlooked, or their communities don’t receive enough support to do their mission. But if you begin to doubt if your work really matters, please don’t! We may not have much money or resources, but remember, our voice and perspective are invaluable. The development of technology and education have profited the humanitarian sector and modern innovation on how to help people better as well. Young people’s knowledge of social dynamics and disaster prevention like flooding and climate change help countries prepare and recover from crises. More and more young volunteers are going straight to the center of disasters and becoming agents of change. 

As first responders, we must demand to be involved in decision-making and leadership positions. After all, we know our communities better than others. Organizations need to have a balanced power structure and promote youth representation. This way, we are not only helping those in need, but also improving our knowledge of natural and social issues that arise. Women, especially, as the largest victim group in any disaster, must be equally acknowledged. The humanitarian industry is still dominated by men and often fails to listen to women’s opinions. Because of this, potential aids and programs may neglect women’s needs. Maximizing young girls’ roles is essential in designing and implementing the action plan. If we can start having an equal power dynamic in the humanitarian industry—undoubtedly the industry which revolves around people most—then I believe other industries will also follow and reinforce the roles of young men and women. 

Guidelines for Youth Humanitarian Initiatives

This IASC guideline created by UNICEF and several partner organizations focused on the key points related to services, participation, resources, and data that youth communities can use to develop their programs both in emergency aid and peacebuilding initiatives. “These new guidelines call upon us to give away power; to trust young people and to work with them as partners by giving them safe space to meet and discuss their ideas on how they can improve life in their own communities,” said Henrietta Fore, the UNICEF Executive Director (UNICEF, 2021). Moreover, the Covid-19 pandemic provides many opportunities for the youth to contribute by raising awareness, countering misinformation on social media (hoaxes), and mobilizing assistance by being medic volunteers or field operational personnel. 

Access the guideline here: https://interagencystandingcommittee.org/events/iasc-guidelines-working-and-young-people-humanitarian-and-protracted-crises

The five key points are: 

  1. Service – Promoting inclusive programs for all young people within humanitarian settings.
  2. Participation – Supporting engagement and partnership with youth, through sharing information and involvement in decision-making processes such as budget allocation, etc.
  3. Capacity – Strengthening young people’s capacities and capabilities as humanitarian actors and empowering local youth-led activities. 
  4. Resources – Increasing resources for the needs and priorities of youth affected by crises.
  5. Data – Ensuring the use of age-and-sex-disaggregated data pertaining to youth in humanitarian settings.

There are so many humanitarian organizations and communities both in Indonesia and worldwide you can join and contribute to. Each of them caters to specific needs, such as education, gender equality, poverty alleviation, and others that you can adjust to your interest. Project Child Indonesia has various programs focusing on children’s development, especially their educational needs and wellbeing. Through our programs Sekolah Sungai, Mindfulness, and Online Learning Assistance, we thrive on helping children from poor communities to reach their full potential. Check out our website and social media to know more. Lastly, happy World Humanitarian Day to all workers and contributors, and we hope to see you as our next humanity warriors!

Reference

Adolescents in humanitarian action. (n.d.). UNICEF. https://www.unicef.org/adolescence/humanitarian-action

IASC Guidelines on Working with and for Young People in Humanitarian and Protracted Crises. (2020, November 2). IASC. https://interagencystandingcommittee.org/events/iasc-guidelines-working-and-young-people-humanitarian-and-protracted-crises

Shifting power to young people in humanitarian action. (2019, June 24). Action Aid. https://actionaid.org/publications/2019/shifting-power-young-people-humanitarian-action

World Humanitarian Day. (n.d.). OCHA. https://about.worldhumanitarianday.org/

Mengembalikan Perspektif Sungai Bersih dan Sehat Anak-Anak

Written by Amaranila Nariswari, Content Writer Intern at Project Child Indonesia

Sejak tahun 2011 lalu, pemerintah Indonesia menetapkan tanggal 27 Juli sebagai Hari Sungai Nasional dan secara resmi mencantumkannya dalam Pasal 74 Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2011. Harapannya, dengan adanya Hari Sungai Nasional ini, masyarakat akan lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan sungai-sungai yang ada di Indonesia serta mengembalikan fungsi sungai yang sebelumnya tercemar dan tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Berbicara tentang sungai, apa sih, yang ada di benak kalian jika kalian membaca atau mendengar kata ‘sungai’? Kira-kira sama tidak ya, perspektif setiap orang terhadap sungai? Atau coba kalian bandingkan diri kalian pada saat ini dengan pada saat kalian kecil, apakah ada perubahan pandangan mengenai sungai? Coba kalian menggambar sungai, ada komponen apa saja yang tercantum dalam gambar kalian itu?

Ternyata ada lho, penelitian yang melihat bagaimana anak-anak mengkonstruksikan konsep dari sebuah sungai. Penelitian ini dilakukan oleh Margaret Mackintosh dan diterbitkan pada tahun 2010. Mackintosh (2010) dalam artikelnya mencoba mencari tahu seberapa dalam pemahaman anak-anak umur 9-10 tahun di Inggris mengenai sungai melalui analisis terhadap beberapa kegiatan, di antaranya ialah hasil wawancara dan menggambar. Beberapa jawaban menarik yang tercantum dalam artikel Mackintosh tersebut di antaranya menyatakan bahwa sungai merupakan “something that flows and has fish and water” (sesuatu yang mengalir dan memiliki ikan dan air), tidak sedikit pula yang menjawab dengan “wet water running down” (air basah yang mengalir) atau “a long blue thing that’s wet” (sesuatu yang berwarna biru dan panjang yang mengalir). Jawaban-jawaban tersebut cukup menarik, bukan? 

Apabila dianalisis, jawaban-jawaban tersebut cukup menggambarkan bagaimana anak-anak mempersepsikan konsep sungai. Jawaban-jawaban tersebut didominasi oleh aspek air yang mengalir, dibarengi dengan rerumputan di sekitarnya, kemudian ada pula kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan di sungai, seperti berpiknik atau memancing. Pada kenyataannya, kegiatan-kegiatan tersebut tidak mudah dilakukan di sungai-sungai di Indonesia karena air sungai yang tercemar menyulitkan kegiatan memancing, dan banyaknya polusi tanah menyebabkan minimnya rerumputan di sekitar sungai untuk berpiknik. Volume air yang seharusnya cukup untuk mengairi tanah di sekitarnya juga mulai berkurang, padahal, volume air tidak pernah berubah, lho! Baik pada saat ini, seribu tahun yang lalu, atau seribu tahun ke depan. Hanya saja, jumlah air bersih memang berkurang, dan sungai-sungai mulai banyak yang mengering karena wujud dan lokasi air yang berubah. Sedih sekali, kan!

Bagi mereka yang tinggal di bantaran sungai, dampak dari minimnya air sungai yang bersih tentu berpengaruh dalam menurunnya kualitas hidup. Berkaca dari hasil penelitian di atas, sudah seharusnya kita sadar tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, mulai dari membuang sampah pada tempatnya hingga menghemat penggunaan air bersih. Melihat kondisi masyarakat sekitar sungai yang rentan, Project Child Indonesia memiliki program yang ditujukan untuk mendukung perkembangan masyarakat di tiga lokasi bantaran sungai berbeda di Yogyakarta: Kricak, Gajahwong, dan Code. Ialah “Sekolah Sungai”, program ini berfokus untuk mengkampanyekan isu-isu kesehatan, lingkungan yang bersih, dan pemberdayaan masyarakat setempat. Apabila kalian ingin tahu lebih lanjut mengenai program Sekolah Sungai dari Project Child Indonesia, kakak-kakak dapat mengakses tautan berikut!

Selama masa pandemi ini, kegiatan Sekolah Sungai disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat sekitar. Salah satunya adalah kebutuhan belajar adik-adik di tiga lokasi bantaran sungai di atas. Kebijakan pemerintah yang sebelumnya mengharuskan kegiatan belajar-mengajar menjadi daring bukan merupakan perkara mudah bagi masyarakat sekitar. Sulitnya akses terhadap internet dan tingkat pemahaman yang berbeda bagi tiap-tiap anak tentu juga menjadi ‘PR’ tersendiri bagi orang tua. Melihat peliknya permasalahan ini, Project Child Indonesia hadir dengan program “Online Learning Assistance” (OLA) guna membantu adik-adik beradaptasi dalam kegiatan belajar-mengajar secara daring maupun peralihan ke masa luring pada saat ini. 

Dikembangkan sejak tahun 2020, program OLA ini telah menjangkau lebih dari 40 sekolah di Yogyakarta dan Pacitan dalam memfasilitasi kebutuhan pembelajaran daring bagi kelompok yang paling rentan. Didanai oleh Alumni Grant Scheme (AGS) dan dibantu oleh para relawan, OLA memberikan fasilitas pembelajaran peer-to-peer bagi anak-anak usia 10-12 tahun dalam memahami materi belajar di sekolah, terutama dalam bidang matematika, sains, dan Bahasa Inggris. Project Child Indonesia juga mendukung kebutuhan emosional adik-adik dan para relawan melalui kegiatan “Mindfulness”. Kegiatan ini bertujuan untuk merangsang kecerdasan emosional anak-anak melalui partisipasi aktif dalam kegiatan yang bersifat interaktif antara relawan dengan anak-anak di tiga lokasi di atas. 

Melihat keberhasilan dari dua program tersebut, selanjutnya Project Child Indonesia memiliki cita-cita untuk terus mendukung program pemerintah dalam menciptakan akses pembelajaran daring yang setara bagi seluruh anak di Indonesia. Project Child Indonesia dalam hal ini memprioritaskan mereka yang memiliki akses terhadap sumber daya yang terbatas agar pulih dari situasi pandemi pada saat ini. Tentu saja, program kami tidak akan berhasil tanpa bantuan dari para donor dan relawan yang telah menyisihkan sebagian sumber dayanya untuk bersama bergerak dalam kebaikan! Kakak-kakak dapat mengakses informasi lebih lengkap mengenai program kami dan berdonasi melalui tautan berikut

Referensi

Mackintosh, M. (2010). Children’s Understanding of Rivers, International Research in

Geographical and Environmental Education, 14:4, 316-322, DOI: 10.1080/10382040508668365

Saving the Groundwater: Bringing Groundwater Awareness through Online Campaign

Project Child Indonesia celebrated 2022 World Water Day by organizing a series of events and campaigns to promote groundwater awareness concurrently with the UN World Water Development Report 2022 and UNESCO’s annual environmental theme. Project Child Indonesia, along with various stakeholders and organizations, created a water week dedicated to not only raising awareness of groundwater but also encouraging people to take action in contributing to protecting our most vital natural resources for the sake of future generations. 

In celebration of World Water Day, Project Child Indonesia raised “Saving the Groundwater with A Healthy Lifestyle” as the main theme of this year’s biggest environmental event yet. The event took place from the 19th to 26th of March 2022, involving a rough estimate of 100+ volunteers and stakeholders taking part in the online campaign and webinar. The webinar was not only made to increase awareness, but to also celebrate the works of dedicated environmental actors and organizations in their respective fields. The key actors are:

  1. Sabrina Farah Salsabila, a master of science candidate from HE Delft Institute for Water Education;
  2. Muhammad Rizky Pratama from Bye Bye Plastic Bag Chapter Jogja, an organization committed to educate and end the use of single plastic use. 

These actors enlightened us on the importance of groundwater and how we can prevent contamination from taking place. In addition to that, this webinar was intended to help us understand how our lifestyle affects the scarcity and quality of our natural resources. It is in fact important to note that our lifestyle greatly affects the environment. Knowing that, any form of action to save the environment can indeed prevent major disasters, so long as we remain consistent. 

To this day, Project Child Indonesia continues to advocate for the cause by collaborating with Campaign.com #ForChange in order to get more people to take action and promote a healthier lifestyle for all. 

https://www.campaign.com/challenge/id/save-the-groundwater-with-healthy-lifestyle

Click the link and take part in our online campaign NOW! By taking part in this campaign, you’re not only doing the Earth a favor, but you’re also supporting our cause and helping our organization to facilitate upcoming projects!

Our speakers and participants

Project Child Indonesia Received Special Recognition as Non-Profit Organization for the 2021 Digital Transformation Award

Project Child Indonesia is grateful and humbled to have received the 2021 Digital Transformation (DX) Award organized by Swiss Chamber of Commerce (Swisscham) Singapore and Deloitte. The DX Award celebrates innovation and digitization across Southeast Asia, inviting multinationals, SMEs, startups, profit and non-profit organizations, in categories including Cybersecurity, B2C, Healthcare, Insurance, Financial Services, Advanced Manufacturing, Business Services, Buildings & Infrastructure. Project Child Indonesia was given a special recognition prize as a Non-Profit Organization to attend the pitching night in December 2021. Facilitated by Swiss Chamber of Commerce (Swisscham) Indonesia, we attended and received the physical trophy on 29 March 2022.

The Award was given in recognition of our Online Learning Assistance Program, an adjustment of our River School program, which aims to address the challenges of distance learning for children from vulnerable communities during the pandemic. Numerous children experienced lack of parental guidance, lack of understanding on school subjects, and lack of access to proper gadgets and internet support. Although today’s children are adept at using gadgets and could adjust quicker to digital learning than parents and teachers, digital literacy and access to proper learning facilities remain low, prompting concerns of learning loss. 

The Online Learning Assistance program focuses on providing additional formal and non-formal education for children living by the river and coastal areas of Indonesia through online tutoring. With the support of our partners, namely the Ministry of Foreign Affairs Indonesia and PT XL Axiata, we were able to provide 30 tablets and 3 routers respectively to be used during hybrid classes. We have conducted a total of 140 online and offline classes in 2021, assisting a total of 268 students supported by 91 volunteers as tutors. This year, the 4th batch (Batch 34) of the program is underway, supporting 90 children from Yogyakarta and Pacitan. 

We are truly grateful to Swisscham Singapore and Deloitte for recognizing our vision of supporting children in their online learning journey. We hope that with this recognition, Project Child Indonesia can further provide educational assistance to children through our Online Learning Assistance program. 

Learn more about our Online Learning Assistance Program here.

Siapa yang Berhak Menyandang Gelar Pahlawan?

Written by Dhiandra Sekar Taji, Social Media Admin intern at Project Child Indonesia

Peristiwa apakah yang pertama kali muncul di pikiran kita saat mendengar tanggal 10 November? Sebagian besar orang akan berpikir bahwa di hari tersebut pasukan Bung Tomo sedang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia kembali dikarenakan ultimatum yang dilakukan oleh Belanda. Ultimatum yang merendahkan harkat dan martabat masyarakat Indonesia. Hari di mana mereka berjuang mempertaruhkan nyawanya demi mempertahankan kemerdekaan Ibu Pertiwi. Hal tersebutlah yang membuat mereka dijuluki sebagai pahlawan oleh masyarakat. Namun, apakah hanya orang-orang yang berjuang di medan perang saja yang berhak mendapat panggilan pahlawan?

Apabila ditelisik lebih jauh, secara bahasa pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Lantas, apakah hanya sosok pejuang saja yang layak disebut pahlawan? Lalu, bagaimana dengan para guru yang berada di garda terdepan untuk menumpas kebodohan? Bagaimana juga dengan para dokter yang mempertaruhkan nyawanya demi kesembuhan pasiennya? Selain itu juga, banyak profesi lain yang memiliki caranya masing-masing untuk berjuang demi kesejahteraan bersama. Apakah usaha dan pengorbanan mereka kurang layak untuk dapat menyandang gelar pahlawan di bahu mereka? 

Saya rasa tidak. Saat ini semua orang yang bergelut di profesinya masing-masing berhak disebut sebagai pahlawan.

Namun, apakah hanya orang-orang berpangkat dan memiliki julukan di pekerjaannya saja yang dapat disebut pahlawan? Bagaimana dengan nasib orang-orang di luar sana yang bekerja sekuat tenaga untuk mendapatkan sesuap nasi dan bertahan hidup? Bagaimana dengan buruh pabrik, petani, serta profesi lain yang tidak berpangkat dan dianggap remeh oleh orang lain? Apakah perjuangan mereka tidak layak untuk mendapatkan gelar pahlawan? Tentu saja bagi saya mereka layak untuk mendapat gelar pahlawan karena tanpa perjuangan mereka kebutuhan kita tidak akan terpenuhi.

Cobalah untuk tidak melihat terlalu jauh. Cobalah untuk melihat orang-orang yang berada di sekeliling kita lebih dekat. Adakah orang-orang di sekeliling kita yang layak menyandang  gelar pahlawan di pundaknya? 

Tentu saja ada. Keluarga kita adalah pahlawan bagi kita. Orangtua bekerja siang dan malam tak kenal lelah demi memberikan yang terbaik untuk anaknya. Merekapun tidak pernah mengharapkan imbalan terhadap apa yang telah mereka berikan. Sementara itu, saudara kita juga berusaha sekuat tenaga untuk menjaga dan melindungi kita dari kejahatan yang ada di dunia luar. Itulah keluarga, selalu menyelimuti kasih sayang antara satu dan yang lainnya. Bukankah sosok tersebut juga layak disebut pahlawan? Tentu saja mereka sangat layak.

Namun, dari sekian banyak profesi serta peran yang ada dalam masyarakat, terdapat satu sosok penting yang layak disebut pahlawan. Sosok tersebut adalah diri kita sendiri. Kita adalah pahlawan bagi diri kita sendiri. Diri kita sudah berkorban sedemikian banyak agar menjadi yang terbaik saat ini. Tak terhitung berapa banyak air mata serta tenaga yang terbuang untuk melewati berbagai rintangan kehidupan. Tak terhitung pula berapa kali kita terbentur agar kita bisa terbentuk menjadi diri kita saat ini.

Semua orang bisa menjadi pahlawan. Tua renta maupun muda bugar. Kita tidak perlu melakukan baku hantam untuk mengalahkan musuh maupun memasang ranjau untuk menjebak musuh. Untuk menjadi pahlawan, kita hanya perlu menjadi manusia yang bermartabat. Apabila kita bisa memanusiakan manusia, kita berhak menjadi pahlawan, pahlawan bagi diri kita dan pahlawan bagi orang lain. Selamat hari pahlawan kepada pahlawan yang gugur di medan perang, kepada orang yang ada untuk kita, dan yang terpenting adalah selamat hari pahlawan untuk diri kita sendiri.

REFERENCE

Setiawan, E. (n.d.). Arti kata pahlawan – Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online. https://kbbi.web.id/pahlawan. Retrieved October 16, 2021, from https://kbbi.web.id/pahlawan

International Stress Awareness Week 2021

Written by Nathaniel Alvino Risa Prima, Content Writer Intern at Project Child Indonesia

Well, if you have yet heard about International Stress Awareness Week, you don’t need to belittle yourself! This week-long commemoration might not be as profound as other international events out there. Nonetheless, it doesn’t mean that its role is less significant for society, especially youths.

We all understand that modern lives contribute to modern pressure. Billions of people across the globe have now shifted from a relaxed lifestyle to a more quick-phase and hectic one. It is proven by the fact that there are more people who leave the rural areas and move to the city for the sake of job and opportunities. This phenomenon might lie in the younger generation’s motivation to create better individual lives.  

It is peculiarly reflected in the existence of hustle culture as you can read further here. In this matter, youth are the ones who have been prone towards stress due to the external pressures that, later, be internalized by themselves. This difficult situation is usually caused by education responsibilities, social lives, as well as challenges regarding employment. 

The data from Champions (2021) shows that around 60% of young adults experience stress due to the pressure to succeed. While the others have instead to deal with mental pressure rooted in self-image, body image, and health. 

These overwhelming modern responsibilities and personal complications often lead to psychological stress that is concerning. While it is not justifiable (and rather, impossible) to suggest that we have to leave our social and professional lives to safely escape the mental pressure. At the end of the day, there are life obligations awaiting. 

It is also important to note that stress is actually very manageable as long as you do it correctly (the easiest and safest one by seeking assistance from the professionals).

Commemorating Awareness

Since 1998, International Stress Awareness Week has been commemorated as a reminder towards the importance of mental health and emotional management. This year, the (almost) week-long commemoration runs from 1st to 5th November 2021. The topics that are highlighted include the minimum investment within mental health service, that is apparent throughout the COVID-19 pandemic. 

As we can see, there are many people who experience loss during this pandemic. The world, suddenly, changes drastically to the point that it is no longer the place that we have once ever known. For many, this shift might be too shocking and affects their mental health. While much of government focus and public funding focused on the issue of physical health, the notion of mental health (and its assistance) has instead been left out. 

Stress Awareness Week becomes a very pivotal period for everyone to reflect and “take a break”. It is the time for every student and worker to recognise the stress they are involved with at school and their workplace. 

The steps might be started by discovering your personal limits, creating boundaries in the workplace and among peers, leaving toxic relationships, as well as getting involved in physical activities such as sports. The purpose is to highlight the physical and mental impact of stress, as well as what we must all do to safeguard our wellbeing.

So, have you taken a break today? Chill out a little, and remember! Your mental health is as equally important as your physical health.

Happy International Stress Awareness Week!

References:

Lupton, Megan. (2021). International stress awareness week 2021: what, when, & which speakers can help?. Champions. Retrieved from https://champions-speakers.co.uk/news/all-about-international-stress-awareness-week

No Name. (2021). International stress awareness week 1-5 november 2021. ISMA. Retrieved from https://isma.org.uk/isma-international-stress-awareness-week