Posts

Ketimpangan Pendidikan di Timur Indonesia

Written by: Dhiandra Sekar Taji, Social Media Admin Intern at Project Child Indonesia

“Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncang dunia” – Ir. Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia

Kutipan tersebut merupakan sebuah kutipan yang dilontarkan dengan lantang oleh Bapak Proklamator kita, Ir. Soekarno. Seruan tersebut berhasil menggetarkan hati para pemuda Indonesia yang sedang membara dan haus akan kemenangan. Pemuda merupakan ujung tombak bangsa di masa depan. Mereka akan menjadi garda terdepan bangsa dalam melindungi daratan dan lautan yang membentang dari Sabang hingga Merauke. Darah, keringat, tenaga, pikiran, dan perasaan akan mereka kerahkan hingga titik darah penghabisan demi kesejahteraan negara tercinta, Indonesia. 

Namun, apakah hal tersebut akan terjadi apabila negara kita tidak dapat memenuhi hak mereka? Hak yang diidam-idamkan para pemuda, yaitu merasakan bangku pendidikan dengan layak. Saya rasa kesuksesan pemuda dalam membawa Indonesia menjadi negara yang lebih baik tidak akan terjadi apabila hak tersebut tidak dipenuhi. Kesuksesan bangsa Indonesia mungkin hanya akan menjadi dongeng pengantar tidur dan angan-angan yang hanya dikuburkan dalam-dalam tanpa batu nisan.

Memang, apabila dilihat saat ini pendidikan Indonesia berjalan seperti biasa. Para pemuda pergi ke sekolah dengan hati riang gembira demi menuntut ilmu yang mereka dambakan. Namun, apabila dilihat lebih dekat, pendidikan yang mereka kenyam tidak seindah yang terlihat. Pendidikan yang mereka dapat tidak rata bagi pemuda Indonesia di beberapa bagian terutama di daerah Indonesia timur.  

Mereka harus menyeberangi sungai dan memanjat jembatan sempit untuk menuntut ilmu. Mereka harus mempertaruhkan nyawa mereka untuk belajar demi mendapatkan selembar ijazah yang akan turut andil dalam mensejahterakan bangsa Indonesia. Mereka harus bersusah payah terlebih dahulu untuk merasakan hangatnya bangku pendidikan. 

Selain itu, banyak dari anak-anak yang merupakan calon dari pemuda tangguh kita di Indonesia timur yang tidak dapat membaca. Mereka buta huruf. Bahkan, 3 provinsi dengan persentase tertinggi penduduk yang buta huruf berasal dari provinsi di Indonesia Timur, yaitu Provinsi Papua (22,03 persen), Nusa Tenggara Barat (7,52 persen), dan Sulawesi Barat (4,46 persen). Data tersebut didapat dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020.

Apakah itu terlihat adil? Bukankah itu terlihat sangat memprihatinkan? Mengapa hal tersebut harus terjadi pada garda terdepan Indonesia di bagian timur? Mengapa anak-anak dan pemuda di timur Indonesia harus merasakan peliknya pendidikan? Apakah pemerintah hanya menganggap pemuda di barat Indonesia saja yang bisa menjadi serdadu masa depan bangsa? Hal apa yang membedakan antara pemuda di bagian timur Indonesia dan bagian barat Indonesia? 

Saya rasa tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua pemuda tersebut. Mereka adalah para pemuda cerdas andalan bangsa. Mereka adalah para pemuda yang akan tumbuh menjadi para pemuda yang kuat dan pintar sehingga mampu mengharumkan nama bangsa. Tidak ada perbedaan kualitas antara pemuda di timur Indonesia dan barat Indonesia. Untuk itu, kami, para garda terdepan bangsa memohon dengan sedalam-dalamnya untuk memberantas ketimpangan kualitas pendidikan di timur Indonesia, agar kami dapat membuat bangga ibu kita tercinta, ibu pertiwi.

Referensi

Kasih. (2021, June 9). 2,9 Juta Penduduk Indonesia Masih Buta Aksara, Terbanyak di Papua. Edukasi.Kompas.Com. Retrieved November 29, 2021, from https://edukasi.kompas.com/read/2021/09/06/170506771/29-juta-penduduk-indonesia-masih-buta-aksara-terbanyak-di-papua

Overcoming Medical Waste Problem during the Pandemic

Written by Adides Gideon Simanjuntak, Rafy Ramadhan, Stephanie Ruth Armida: Content Writer Interns Project Child Indonesia

It has been more than a year since we have our ‘14 days quarantine’. Who would have thought that the pandemic would stick around for such a long time? Just imagine all the medical waste we have produced up until now! If we do not pay any attention to medical waste, it will cause us problems in the future. Let us see what medical waste actually is, what are the problems caused by it, and what we can do to help!

What is Medical Waste?

According to WHO, Medical Waste can be classified as waste that is generated with the body fluids/contact with human beings or animals. Masks, gloves, hazmat suits, and other used medical devices from COVID-19 testings are the common examples of medical waste that has increased during the pandemic. Medical waste comes not only from hospitals, but also from households. Everyone produces medical waste, including us. 

Problems Arise

As the number of COVID-19 patients keeps getting higher each day, the number of PPEs (Personal Protection Equipments) used is also getting higher. This results in more medical waste produced. Unfortunately, our country hasn’t been able to handle it very well. Due to COVID-19, medical waste in Indonesia has reached 6.417,95 tons as of February 4th, 2021.

Right now, our country is facing problems from several dimensions:

  • Environmental
    • Most PPEs contain polypropylene, polyurethane, polyacrylonitrile, polyethylene, and polyethylene terephthalate, chemicals that make it harder to break down. The fragmentation of it will not only harm the land, but also the water ecosystems in rivers and the sea.  They can tangle and poison animals such as fish and birds that live near water. 
    • PPEs will release toxins if they are burned in the open, causing air pollution. Medical waste such as these has to be incinerated to kill the dangerous elements in it. However, even Incinerators cause pollution, meaning more health problems to the respiratory system and the skin. 
    • Landfills are overwhelmed by medical waste. The degradation process of medical waste can release the toxic chemicals to an open environment which can be hazardous to people around the area. 
  • Social

Because rivers are now heavily polluted with medical waste, families who rely their lives  on rivers are at risk. For example, residents who depend on the Cisadane river for their daily necessities are now scared of using the water because it’s too dangerous (Keck, 2020). Workers who rely on waste picking are also impacted because they have to be in contact with the medical waste; hence, they have a bigger risk of catching the virus. 

  • Economic

To save our country, our government has to work on solutions, and they definitely cost a lot of money. For example, they are building new incinerator plants, and while the government is working on those, they also have to spend more on third-parties in order to let hospitals use their incinerators to burn medical waste.

The Good News

You can a little be at ease, because our government and other bigger parties surely are working on the solutions for our medical waste problems. One of them is that our government is cooperating with cement factories by using their kilns as incinerators. In the meantime, Rosa Vivien Ratnawati, the Director-General for Solid Waste, Hazardous Waste and Hazardous Substances Management at the Ministry of Environment and Forestry of the Republic of Indonesia stated in one of Indonesian Institute of Sciences (LIPI)’s webinar last year that the government is currently focusing on building five new incinerators this year and a total of 32 incinerators within the next five year.

Another solution comes from LIPI. They are working on an environmentally-friendly method which is called recrystallization. It even produces recycled plastics with higher purity, as explained by Sunit Hendrana (2021), one of the researchers in LIPI. 

Lastly, our government also utilizes autoclaves, a sustainable tool to manage medical waste. It sterilizes medical waste using heat from pressured steam. WHO is working with our Ministry of Environment and Forestry and in collaboration with UNDP on building four autoclaves in hope that it can help solve the lack of incinerators in the country.

What Can We Do to Help?

There are many things we can do to help our environment, and they are very simple! Starting off small, we can reduce disposable mask consumption by wearing a double cloth mask or reusable mask such as the N95 mask. It might seem trivial, but if everyone does it, we can eventually reduce huge numbers of domestic medical waste. Also, in case you are unsure what to do with your medical waste, you can disinfect them simply by soaking in bleach/detergent before disposing of them at your nearest public health center (hospitals, clinics) where they can help you with better medical waste management. Remember, even the smallest thing can bring a huge impact if done by a lot of people. Stay safe and stay kind to our environment!

References:

Keck, M. (2020, September 7). COVID-19 Medical Waste Is Heavily Polluting This River in Indonesia. Global Citizen. https://www.globalcitizen.org/en/content/covid-19-medical-waste-Cisadane-river/

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. (2021, January). Rekristalisasi, Solusi Daur Ulang Sampah Medis. http://lipi.go.id/berita/single/Rekristalisasi-Solusi-Daur-Ulang-Sampah-Medis/22316

Rikin, A.S. (2020, April 22). KLHK Akan Bangun 5 Insinerator Tahun Ini. Bisnis.com. https://ekonomi.bisnis.com/read/20200422/99/1230996/klhk-akan-bangun-5-insinerator-tahun-ini

Perempuan dan Pendidikan

Ditulis oleh Vina Dina, Content Writer Intern Project Child Indonesia

Di Indonesia, perbedaan kedudukan dan pembagian tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan masih banyak berkembang di masyarakat karena faktor budaya dan kepercayaan. Sebagai contoh, anak perempuan dipandang lebih bertanggung jawab untuk mengurus urusan rumah tangga seperti menyiapkan makanan, mencuci, membersihkan rumah daripada laki-laki.

Konstruksi sosial yang membentuk pembedaan antara laki-laki dan perempuan pada kenyataannya mengakibatkan ketidakadilan terhadap perempuan. Pembedaan peran, status, wilayah dan sifat mengakibatkan perempuan tidak otonom. Perempuan tidak memiliki kebebasan untuk memilih dan membuat keputusan baik untuk pribadinya maupun lingkungan karena adanya pembedaan tersebut (Ainiyah, 2017).

Masyarakat memandang perempuan sebagai sosok yang lemah lembut dan memiliki peran ideal sebagai seorang istri dan ibu yang memiliki tanggung jawab untuk membesarkan anak, membersihkan rumah, mengurus dapur dan melayani suami. Bahkan di beberapa daerah, perempuan memiliki tiga tuntutan utama yang wajib dipenuhi yang dikenal dengan 3M, yaitu Masak (memasak), Mancak (berdandan), Manak (beranak/melahirkan anak). Namun, apakah perempuan ditakdirkan hanya untuk melakukan ketiga tugas tersebut? Apakah ketika mereka tidak menjalankan salah satu tuntutan tersebut, ia gagal menjadi seorang perempuan?

Jauh daripada itu, perempuan memiliki peran yang lebih penting dan lebih luas. Perempuan juga memiliki hak untuk dirinya sendiri dan memilih apa yang ingin mereka lakukan selagi tidak bertentangan dengan norma, hukum dan agama. Mereka berhak memutuskan apakah ia akan menikah, memiliki anak, karier apa yang akan mereka jalani, bahkan seberapa tinggi pendidikan yang akan mereka ambil.

Seiring dengan berkembangnya zaman, peran perempuan semakin berkembang dan tidak dibatasi. Dewasa ini, banyak perempuan mulai menyadari mereka berhak memilih dan mengambil keputusan untuk pribadinya maupun lingkungannya. Hal tersebut didukung dengan semakin berkembangnya paham feminisme dan terbentuknya lembaga-lembaga pemberdayaan perempuan.

Berbicara mengenai perempuan, salah satu sosok yang berjasa dalam memperjuangkan hak-hak kaum perempuan adalah R.A. Kartini. Beliau dikenal sebagai sosok emansipasi wanita yang memperjuangkan kebebasan, persamaan hukum dan pendidikan bagi perempuan.  R.A Kartini membuktikan bahwa perempuan bisa memiliki peran yang lebih besar bagi lingkungannya bahkan bagi bangsa dan negara. Perempuan memiliki hak untuk memutuskan pilihan-pilihan yang ada di hidupnya dan mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya.

Sayangnya, meskipun emansipasi wanita telah diperjuangkan oleh R.A. Kartini dan tetap digaungkan oleh banyak pihak, masih banyak stigma yang bermunculan ketika seorang perempuan mengambil keputusan yang tidak umum di masyarakat, seperti memiliki pendidikan dan/atau jabatan yang tinggi, menjadi pemimpin, memilih untuk tidak menikah dan memiliki anak, serta lain sebagainya. Oleh karena itu, perempuan membutuhkan lebih banyak keberanian untuk memperjuangkan hak dan pilihannya.

You educate a man; you educate a man. You educate a woman; you educate a generation.

-BrighamYoungs

“Untuk apa sekolah tinggi-tinggi, nanti ujung-ujungnya juga di dapur, mengurus anak dan rumah?” 

Pendapat tersebut masih sering sekali kita dengar bahkan sampai detik ini dan membuat sebagian perempuan ragu untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Padahal, pendidikan merupakan hak setiap warga negara, baik laki-laki maupun perempuan, tua atau muda, kaya atau miskin, semua berhak menuntut pendidikan sampai jenjang yang mereka inginkan. Meskipun nantinya seorang perempuan dengan tingkat pendidikan tinggi memilih menjadi ibu rumah tangga, namun ia dapat menjadi seorang ibu rumah tangga dengan wawasan yang lebih luas dan terbuka sehingga melahirkan anak yang cerdas.

Hal tersebut didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Winarti (2019) yang menunjukkan semakin tinggi tingkat pendidikan ibu, maka semakin baik pola pengasuhan yang diberikan kepada anak. Semakin baik pola asuh yang diberikan, maka akan semakin baik pula tingkat kecerdasan anak karena keluarga, terutama ibu, merupakan tempat belajar pertama yang anak miliki sebelum selanjutnya melanjutkan pendidikan ke sekolah formal.

Educate a woman, you educate her family. Educate a girl and you can change the future.

-Queen Rania of Jordan

Secara tidak langsung, dengan memperbesar kesempatan bagi perempuan untuk mendapatkan pendidikan tinggi, diharapkan dapat mencetak generasi-generasi selanjutnya yang lebih cerdas karena perempuan merupakan arsitek kecerdasan generasi selanjutnya. Selain itu, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka akan semakin besar pula kesempatan bagi mereka untuk mendapatkan pekerjaan dan jabatan yang lebih baik serta pendapatan yang lebih layak.

Terlepas dari persepsi masyarakat bahwa peran ideal perempuan adalah sebagai istri dan ibu, perempuan memiliki hak untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Tidak semua perempuan siap untuk hidup bersama membangun rumah tangga, dan tidak semua pasangan yang menikah siap untuk menjadi orang tua. Oleh karena itu, biarkan perempuan memilih apa yang terbaik menurutnya. Sebagai manusia, perempuan memiliki hak untuk mendapatkan kebahagiaan dalam hidup dan menjalani kehidupan sesuai keinginannya tanpa memikirkan stigma masyarakat terkait keputusannya.

Kita harus membuat sejarah. Kita mesti menentukan masa depan yang sesuai dengan keperluan sebagai seorang kaum perempuan dan harus mendapatkan pendidikan yang cukup seperti kaum laki-laki

-R.A. Kartini

Sudah saatnya kita menghapus persepsi bahwa perempuan hanya memiliki peran sebagai anak, kakak/adik, istri dan ibu. Lebih dari itu, perempuan berhak untuk mendapatkan pendidikan tinggi dan mewujudkan semua impiannya sehingga ia dapat menolong dirinya sendiri untuk kemudian mendidik anak-anaknya dan membantu mensejahterakan bangsa dan negara melalui ilmunya. Seperti yang dituliskan pada surat R.A. Kartini untuk Ny. Abendanon, “kami berikhtiar agar teguh sungguh, sehingga kami sanggup berdiri sendiri, menolong diri sendiri. Dan siapa yang dapat menolong dirinya sendiri, akan dapat menolong orang lain dengan lebih sempurna pula”. 

Sebagai sesama perempuan dan sesama manusia, kita bisa saling membantu satu sama lain untuk mendapatkan akses pendidikan yang lebih baik. Untuk membantu mendukung kemudahan akses dan fasilitas dalam pendidikan di masa pandemi Covid-19, Project Child Indonesia mengadakan program Online Learning Assistant (OLA). OLA merupakan program yang dibuat untuk membantu anak-anak komunitas Sekolah Sungai mendapatkan dan memahami materi sekolah dengan lebih baik lagi melalui tutor tambahan diluar jam sekolah baik secara offline maupun online. Kamu dapat berkontribusi dalam program tersebut dengan menjadi volunteer, partner atau supporters dan berdonasi pada laman kitabisa.com

We believe that everyone can do good, and this time is our job to fix the misunderstood opinion about women’s education and bring the brighter future.  

Sumber:

Ainiyah, Qurrotul. (2017) “Urgensi Pendidikan Perempuan Dalam Menghadapi Masyarakat Modern’, Halaqa: Islamic Education Journal

Nabila, F. S. dan Jakaria U. (2020) “Persepsi Masyarakat terhadap Pentingnya Pendidikan Tinggi untuk Kaum Perempuan (Studi Kasus di Desa Curah Dringu Kecamatan Tongas Kabupaten Probolinggo)”, AL-HIKMAH : Jurnal Pendidikan dan Pendidikan Agama Islam, 2(2), p-ISSN 2685-4139Winarti, W. (2019) “Hubungan Antara Tingkat Pendidikan Orang Tua dengan Orientasi Pola Asuh Anak Usia Dini (Studi di RA al Karimy Kec. Kutorejo Kab. Mojokerto)”, PROCEEDING: The Annual International Conference on Islamic Education, 4(1), pp. 261-270.

Pandemi, Pendidikan, dan Teknologi

Ditulis oleh Vina Dina, Content Writer Intern di Project Child Indonesia

Pendidikan adalah proses memperoleh pengetahuan. Melalui pendidikan, baik di sekolah maupun diluar sekolah, anak akan mendapatkan pengetahuan mengenai hal-hal di sekitarnya dan diharapkan dapat mengubah dunia menjadi lebih baik lagi.  Menurut data Profil Anak Indonesia tahun 2018, Mayoritas anak usia 5-17 tahun berstatus masih bersekolah (83,62%). Sisanya sebesar 12,69% anak tidak/belum bersekolah dan 3,70% anak berstatus tidak bersekolah lagi. Jika dilihat menurut tipe daerah, persentase anak usia 5-17 tahun yang berstatus masih bersekolah di perkotaan lebih tinggi dibandingkan di pedesaan. Sebaliknya, persentase anak yang tidak bersekolah lagi di daerah perkotaan lebih kecil dibanding daerah perdesaan. Penyebab dari perbedaan persentase tersebut diakibatkan adanya perbedaan kemudahan akses pendidikan serta ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan.

Pandemi Covid-19 yang berlangsung semenjak awal tahun 2020 secara nyata menyebabkan banyak perubahan di berbagai sektor termasuk sektor pendidikan. Pada masa pandemi, pemerintah mengubah sistem pendidikan di Indonesia menjadi sistem pembelajaran jarak jauh dengan berbagai metode yang berkembang secara dinamis menyesuaikan kondisi pandemi. Salah satu dari metode tersebut yang juga merupakan metode yang paling umum digunakan adalah metode pembelajaran dalam jaringan (Daring). Dalam metode daring, sistem pembelajaran dilakukan sepenuhnya secara online, seperti penyampaian materi melalui video conference ataupun media online lain sehingga metode ini sangat bergantung pada jaringan online dan membutuhkan smartphone untuk dapat mengakses materi yang diberikan.

Sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia saat ini adalah Sistem Pendidikan Nasional, yaitu sistem yang pengelolaannya diselenggarakan secara sentralistik sehingga seluruh sistem dan kebijakan diatur oleh pemerintah pusat dan berlaku untuk nasional. Sistem Pendidikan Nasional didalamnya mengatur mengenai tujuan pendidikan, materi dan metode pembelajaran, tenaga kependidikan hingga untuk persyaratan kenaikan pangkat (Munirah, 2015 dalam Afifah, 2020). Oleh karena itu, perubahan sistem menjadi sistem pembelajaran jarak jauh akibat pandemi harus diterapkan oleh semua sekolah dan instansi perguruan tinggi yang ada di seluruh daerah di Indonesia.

Sistem pembelajaran jarak jauh dapat menjadi solusi belajar mengajar yang efektif dalam masa pandemi Covid-19 apabila setiap siswa dan pengajar memiliki ketersediaan akses terhadap jaringan internet dan smartphone atau personal computer (PC) lainnya serta menguasai cara penggunaan alat komunikasi dan aplikasi yang ada didalamnya. Akan tetapi, tidak semua pengajar dan siswa memiliki fasilitas tersebut sehingga dapat menghambat keberlangsungan proses belajar. Oleh karena itu, Project Child Indonesia menginisiasi program Online Learning Assistance untuk membantu anak-anak Sekolah Sungai, yaitu anak-anak di daerah bantaran Sungai Code, Sungai Winongo dan Sungai Gajahwong. Program Online Learning Assistance tersebut juga bekerja sama dengan PT. XL. Axiata Tbk. untuk memberikan bantuan kuota, serta sesi tutor secara online dan offline bersama dengan volunter agar anak-anak dapat lebih mudah memahami materi dan mengerjakan tugas mereka.

Selain itu, Project Child Indonesia juga membantu memfasilitasi belajar anak-anak Sekolah Sungai dalam proses belajar mengajar menggunakan Tablet PC yang dihibahkan oleh Kementerian Luar Negeri (KEMENLU) kepada Project Child Indonesia. Adanya bantuan hibah 35 Tablet PC oleh KEMENLU sangat membantu keberlangsungan dan kelancaran proses belajar mengajar anak-anak dan diharapkan dapat meningkatkan prestasi mereka karena berkurangnya hambatan untuk mengakses materi sekolah.

Perkembangan Pandemi Covid-19 yang sangat dinamis menuntut setiap manusia untuk juga dapat bergerak secara dinamis. Tidak menutup kemungkinan perubahan-perubahan di berbagai sistem yang terjadi untuk menyesuaikan keadaan pandemi akan tetap diterapkan meskipun pandemi telah berhasil diatasi. Keberhasilan suatu sistem tidak akan bisa dicapai oleh hanya satu manusia, namun hanya bisa diwujudkan bersama-sama sebagai satu kesatuan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk dapat saling mengulurkan tangan untuk membantu sesama sekecil apapun bantuan itu karena, everyone can do good.

Kamu juga bisa membantu meningkatkan fasilitas belajar anak-anak Sekolah Sungai dengan ikut berdonasi di KitaBisa.com Bantuan Belajar untuk Adik-Adik Sekolah Sungai. Bantuan akan disalurkan untuk keberlangsungan sekaligus biaya operasional kegiatan Online Learning Assistance. Everyone can do good, including you. So, when will you start?

Sumber:

https://www.kemenpppa.go.id/lib/uploads/slider/e56dc-15242-profil-anak-indonesia_-2019.pdf

Afifah, Nur. (2020). SISTEM PENDIDIKAN DI INDONESIA. 3.

http://pusdatin.kemdikbud.go.id/wp-content/uploads/2020/05/PANDUAN-PEMBELAJARAN-JARAK-JAUH-BELAJAR-DIRUMAH-MASA-C-19.pdf

Distribusi Printer HP di Yogyakarta dan Pacitan

PROJECTCHILD.NGO – Di musim pandemi ini, banyak sekolah mengalami kesulitan dalam melaksanakan proses belajar-mengajar. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah ketersediaan teknologi di sekolah. Tidak semua pelajar maupun pihak sekolah mempunyai akses terhadap teknologi yang mereka butuhkan. 

Satu kebutuhan yang tidak semua sekolah bisa penuhi adalah kebutuhan akan printer. Walaupun sistem belajar-mengajar saat ini dilakukan secara daring, keperluan dalam mempersiapkan rapor, dokumen legal, surat, dsb masih membutuhkan kertas dan printer untuk mencetak tulisan yang dibutuhkan.

Untuk meringankan beban, HP Indonesia bersama dengan TribunNews mengadakan program Eduxtion yang bertujuan untuk  membantu sistem belajar bagi 100 juta orang pada tahun 2025. Salah satu realisasi program ini adalah dengan memberikan hibah sejumlah 1.162 printer HP Neverstop 1000a/w ke beberapa daerah di Indonesia.

Dalam program Eduxtion, Project Child Indonesia terpilih sebagai salah satu distributor untuk 32 hibah printer di sekolah dasar negeri dan menengah pertama di Yogyakarta. Sekolah-sekolah tersebut adalah sekolah partner Project Child Indonesia. Proses distribusi berlangsung dari 3 Maret hingga 9 Maret 2021.

Setiap kepala sekolah dasar yang menerima unit printer mengungkapkan rasa syukur atas hibah printernya.

“Saya sangat berterima kasih atas unit printernya. Ini akan sangat bermanfaat bagi sekolah kami.”

Ibu Lestari, Kepala Sekolah SD Surokarsan 2, Yogyakarta.

“Wah kebetulan kami juga sangat membutuhkan printer sekarang ini. Terima kasih banyak.”

Ibu Handayani, Kepala Sekolah SD Tegalpanggung, Yogyakarta.

Pada akhirnya, distribusi printer sebagai salah satu implementasi program Eduxtion HP Inc Indonesia berjalan lancar. Semua sekolah yang menjadi tanggung jawab Project Child Indonesia senang untuk menerima unit printer HP. Dengan hibah printer ini, harapannya adalah sekolah-sekolah yang menerima terbantu dalam memenuhi kebutuhan administrasi dan akamedik.

HARDIKNAS: Saatnya Melawan Diri

Ditulis oleh Graciella Stephanie Ganadhi, Penulis Konten Project Child Indonesia

Pada 3 Juli 1922, tiga tahun setelah kembali ke tanah air dari pengasingannya di Belanda, Ki Hajar Dewantara mendirikan “National Onderwijs Institut Tamansiswa” (Sekolah Taman Siswa) di Yogyakarta. Sekolah ini merupakan sumbangsihnya terhadap pendidikan muda-mudi tanah air yang kala itu dibatasi oleh pemerintah Hindia Belanda untuk menuntut ilmu. Kala itu, orang yang berhak bersekolah hanyalah kalangan ningrat, orang peranakan, dan anak priyayi. Filosofinya yang paling dikenang dan dihidupi hingga sekarang adalah “Patrap Triloka” yang berbunyi: “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani (Di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan).” Menurutnya, semua orang, terlepas dari latar belakang dan kemampuan ekonominya, berhak untuk mengenyam pendidikan yang dapat berperan dalam perbaikan hidupnya.

Setiap tahunnya, tanggal 2 Mei selalu diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional yang bertepatan dengan hari kelahiran Ki Hajar Dewantara. Sebagai muda-mudi Indonesia di jaman sekarang, semangat kita seharusnya sepadan dengan semangat yang dimiliki Ki Hajar Dewantara. Bapak Pendidikan kita di masa mudanya telah berjuang melawan pemerintah Hindia Belanda demi mewujudkan kesetaraan pendidikan bagi seluruh rakyat. Pada jaman sekarang, yang merupakan lawan kita mungkin bukan pemerintah Hindia Belanda, melainkan kemalasan kita sendiri yang dengan mudah bisa kita lawan. Sebelum adanya keputusan untuk pembelajaran daring, banyak dari kita yang acapkali mengeluh dan menyuarakan keinginan untuk belajar dari rumah karena kita sudah terlalu bergantung pada internet untuk segala kebutuhan kita. Namun, nyatanya, setelah diputuskan untuk melaksanakan pembelajaran melalui daring, banyak dari kita yang protes karena kesulitan. Memang, seperti yang dirasakan oleh Ki Hajar Dewantara, perubahan itu pasti menyulitkan, apalagi dengan banyaknya dari kita yang mungkin masih kurang paham tentang penggunaan pembelajaran daring. Tetapi, janganlah biarkan penghalang kecil bernama keengganan belajar dan kemalasan ini menghalangi langkah kita untuk menuntut ilmu. Jangan sia-siakan perjuangan Ki Hajar Dewantara yang berjuang untuk kesetaraan pendidikan kita semua. Ujian kita lebih mudah, jadi marilah kita sebagai muda-mudi Indonesia terus berjuang mengalahkan ego kita sendiri demi masa depan kita yang lebih cerah!

Referensi:

  • https://id.wikipedia.org/wiki/Sekolah_Taman_Siswa
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Hadjar_Dewantara
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Pendidikan_Nasional

Penyediaan Akses Air Minum untuk Masa Depan Anak

Manusia memerlukan air bersih untuk hidup. Air yang tercemar tidak hanya kotor dan tidak layak dikonsumsi, namun juga dapat berbahaya bagi kesehatan dan dapat beresiko menimbulkan kematian. Untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan memenuhi hak dasar bagi seluruh penduduk Indonesia, penyediaan akses air minum yang terjamin perlu dipertimbangkan secara serius untuk menjadi salah satu prioritas pembangunan nasional. Terbatasnya akses terhadap air dapat merampas kesempatan anak dalam hal pendidikan dan ekonomi dan dapat menghambat mereka untuk keluar dari lingkaran kemiskinan. Karena jauhnya akses air dari rumah, seringkali anak-anak di daerah terpencil juga mendapat tugas untuk mengambil air bagi keluarga mereka. Tanggung jawab ini akan menyita waktu mereka yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk belajar dan bermain. Akses air yang aman dan mudah dijangkau akan memberi mereka tambahan waktu agar mereka dapat bermain layaknya anak-anak pada umumnya dan menggunakan waktu untuk belajar demi masa depan mereka.

Pembangunan infrastruktur merupakan salah satu prioritas pembangunan bagi pemerintahan Presiden Joko Widodo. Presiden menegaskan dalam berbagai kesempatan betapa pentingnya infrastruktur bagi kemajuan suatu bangsa, meliputi sebagai pondasi dasar dalam pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kemandirian suatu negara. Hal ini juga berlaku bagi pembangunan dan pengembangan infrastruktur air minum atau biasa disebut sebagai Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM).

Tantangan lain selain kurangnya penyelenggara SPAM di pedesaan di antaranya adalah infrastruktur yang digunakan untuk mendistribusikan air di Indonesia kondisinya biasanya sudah usang, kurang terawat dan rentan terhadap kebocoran. Apabila sistem distribusi tersebut rusak, air akan dapat terkontaminasi dengan organisme penyakit yang ditularkan melalui air. Tingkat pertumbuhan penduduk yang pesat juga mengakibatkan adanya kesenjangan antara jumlah penduduk dan cakupan pelayanan yang belum memadai. Kurangnya tenaga ahli lokal juga sering menjadi penghalang untuk menciptakan sistem distribusi pengolahan air yang lebih modern, yang membutuhkan tenaga terlatih untuk operasi dan pemeliharaannya.

Berdasarkan penilaian kinerja yang dilakukan Badan Peningkatan Penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSPAM) terhadap 371 PDAM pada 2016, diketahui bahwa jumlah PDAM yang berada dalam kondisi sehat 198 (53%), kurang sehat 108 (29%), dan sakit 65 (18%). Kondisi ini berbeda dari tahun 2015, dimana dari 368 PDAM yang dinilai, PDAM dalam kondisi sehat 196 (53%), kurang sehat 100 (27%), dan sakit 72 (20%). Sedangkan pada 2014, dari 359 PDAM yang dinilai, PDAM dalam kondisi sehat 182 (51%), kurang sehat 103 (29%), dan sakit 74 (21%) (BAPPENAS 2017). Dari sini dapat disimpulkan bahwa dari tahun 2014 sampai dengan tahun 2016, jumlah PDAM yang sehat bertambah hanya sedikit, jumlah PDAM yang kurang sehat bertambah dan jumlah PDAM yang sakit sedikit berkurang. Terlihat tantangan lain SPAM di Indonesia yaitu masih diperlukan banyak perbaikan untuk pemeliharaan SPAM dari pemerintah.

Sesuai UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, penyediaan air minum adalah salah satu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib pemerintah daerah. Seiring dengan program pembangunan pemerintah, aspek pendanaan untuk pembangunan SPAM juga harus menjadi komitmen dan perhatian pemerintah daerah. Namun dengan keterbatasan pendanaan pemerintah daerah dan prioritas pembangunan lainnya, pemerintah pusat juga turut mendukung pembangunan SPAM di daerah melalui pendanaan APBN, sehingga pembangunan infrastruktur SPAM mendapatkan pendanaan bersama dari pemerintah daerah dan pemerintah pusat.

Selain melalui APBN dan APBD, pemerintah juga membuka kesempatan kepada badan usaha untuk mendukung pengembangan SPAM melalui mekanisme Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 122 Tahun 2015 tentang Sistem Penyediaan Air Minum. Kelebihan dari skema KPBU antara lain memberikan alternatif pembiayaan lain karena keterbatasan pendanaan pemerintah, efisiensi, teknologi baru yang dipergunakan oleh swasta dan mempercepat peningkatan cakupan dan kualitas pelayanan publik. Skema KPBU diharapkan dapat mengoptimalkan biaya investasi terutama di perkotaan yang pertumbuhan penduduknya meningkat dengan pesat. Kemampuan membayar di perkotaan yang cenderung lebih besar dapat menjadi alasan kuat bagi penanam modal untuk berinvestasi, namun bagaimana dengan masyarakat di wilayah terpencil yang tidak mampu? Kurang kondusifnya iklim usaha mengakibatkan sektor swasta enggan untuk mengembangkan SPAM di pedesaan. Akibatnya jaringan perpipaan dan penyediaan air minum untuk masyarakat miskin pedesaan kurang mendapat perhatian baik dari pemerintah maupun dari pihak swasta.   

Upaya untuk mengembangkan SPAM di Indonesia salah satunya dapat dimulai dari sekolah dengan menyediakan instalasi air minum untuk membangun kebiasaan dan meningkatkan kesadaran anak-anak, guru, orang tua, dan orang-orang di sekitar lingkungan sekolah. Sistem water filter menjamin kebersihan air sehingga meminimalisir potensi penyakit akibat air yang tercemar. Selain itu, anak-anak akan dapat menyisihkan sebagian uang sakunya untuk membeli keperluan lain selain air minum. Sistem ini juga mudah untuk dipelajari sehingga siapapun dapat mengoperasikan dan melakukan pemeliharaannya.  Penerapan Drinking Water Program di sekolah dapat menawarkan opsi penyediaan air minum untuk membantu pemerintah baik di perkotaan maupun daerah terpencil, khususnya untuk anak-anak. Dengan sistem penyediaan air minum yang baik dan terjangkau, anak-anak akan mendapat kesempatan untuk mengembangkan potensi mereka karena mereka memiliki lebih banyak waktu untuk belajar dan bermain, sehingga harapan untuk memiliki masa depan yang lebih cerah pun lebih besar.