Tag Archive for: Masa Pandemi

Menjadi Volunteer di Masa Pandemi: Kesempatan Memberi Kembali Tidak Datang Dua Kali

Written by Juhandi Dwi Putra Lyana, Content Writer Intern at Project Child Indonesia

Melakukan kegiatan volunteer di tengah masa pandemi adalah suatu tantangan tersendiri. Berbagai kegiatan disesuaikan dengan situasi saat ini, salah satu contoh yang dilakukan Project Child Indonesia adalah Online Learning Assistance (OLA). Sebuah program yang bertujuan untuk membantu proses belajar anak-anak di masa pandemi.

Kali ini, saya berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan salah satu relawan program Online Learning Assistance yang bernama Stephanie Andrean, atau lebih sering dipanggil Kak Steph. Kak Steph saat ini sedang menempuh pendidikan nutritional science di Fachhochschule Münster. Di samping kesibukan kuliahnya, Kak Steph juga bekerja paruh waktu dan menjadi volunteer di PCI. 

Kak Steph sudah mengikuti akun Instagram milik Project Child Indonesia sejak lama. Ia pernah mencoba mendaftar sebagai volunteer di batch ke 32, tapi belum beruntung. Tidak menyerah di situ, Ia mencoba lagi untuk mendaftar sebagai volunteer di batch ke 33, meskipun ada sedikit keraguan dalam hatinya, Kak Steph memberanikan diri dan mendapat kesempatan untuk menjadi volunteer di batch ke 33.

Satu Visi

“Aku sangat percaya kalau everyone can do good, walaupun jauh sekali pun, dan aku merasa aku lumayan privileged untuk hidup aku yang sekarang. Jadi, aku merasa ini saatnya aku give back ke orang lain dan aku rasa melalui PCI (Project Child Indonesia) bisa jadi salah satu cara aku buat give back.” kata Kak Steph ketika saya menanyakan alasannya untuk bergabung Project Child Indonesia sebagai volunteer. Ia merasa bahwa Project Child Indonesia memiliki visi yang sejalan dengan nya dan dapat membantu untuk merealisasikan visi tersebut. Terlebih lagi, Kak Steph ingin merasakan pengalaman baru terutama dalam mengajar, “Keknya seru deh” tambah Kak Steph.

Kegiatan Volunteer 

Sebagai volunteer, Kak Steph bertugas untuk membantu salah satu anak yang duduk di tingkat Sekolah Dasar dalam proses belajar, seperti membantu mengerjakan PR dan menjelaskan ulang materi pelajaran jika si anak masih belum paham. Biasanya, Kak Steph akan melakukan kegiatan pendampingannya pada hari Selasa dan Rabu mulai dari pukul 15.30 sampai 17.00 dan bisa diatur juga mengikuti kebutuhan si anak. Setiap minggu, Kak Steph juga membuat narrative report dan menulis report setiap bulannya.

Berbagai tantangan dihadapi Kak Steph selama menjadi volunteer. Kak Steph harus memikirkan cara supaya proses mengajarnya menarik dan tidak membuat bosan. Karena interaksi daring sangat terbatas, kegiatan harus dibuat semenarik mungkin untuk anak-anak. Terlebih lagi jika situasi sedang tidak kondusif, maka akan banyak distraksi baik dari volunteer atau si anak. Di-ghosting, chat cuma di-read, atau si anak yang tidak datang pada jadwal yang sudah ditentukan sudah Kak Steph rasakan sebagai volunteer.

“Sabar adalah Koentji” ujar Kak Steph. Menurutnya, sabar adalah kunci untuk menghadapi semua tantangan tersebut. Kak Steph menyadari juga bahwa tidak bagus juga untuk mem-push, “Bagaimanapun juga, mereka masih anak anak jadi butuh kebebasan. Mungkin juga sedang banyak kegiatan, makanya capek. Tapi sejauh ini, mereka masih baik-baik saja.”

Selain itu, Kak Steph juga harus membagi waktu dengan kegiatan lainnya. Menurutnya, kita harus tahu batasan kita. Jangan sampai kita burn out dan keteteran sehingga tanggung jawab kita akan terbengkalai nantinya. Cari tau apa yang kita benar-benar inginkan, membuat skala prioritas, masukan ke to-do-list, jangan menunda-nunda, dan nikmati apa yang kita lakukan adalah segelintir saran dari Kak Steph untuk membagi waktu.

Manfaat yang Didapat

Benefit yang dampaknya paling besar buat aku sih jadi bisa ngomong panjang lebar sama anak kecil. To be honest, selama ini aku merasa canggung karena aku ngga tau mau ngomong apa dan ngga ada bahan pembicaraan. Tapi sejak volunteer OLA ini, aku lebih banyak tahu tentang anak-anak, seperti kehidupan mereka seperti apa. Karena selama ini, aku nggak pernah hidup berdampingan sama mereka jadi ga pernah tau seperti apa. Jadi lebih membuka mata gitu. ketemu orang-orang baru juga menambah kenalan, lebih ke gaining and training soft skill, seperti time management, how to work with people, how to socialize.” kata Kak Steph saat saya menanyakan tentang manfaat apa yang telah didapat selama 3 minggu kegiatan Online Learning Assistance berlangsung. 

Kak Steph merasa senang atas apa yang sudah didapatkan sejauh ini. Meskipun baru sebentar, Ia sudah mendapat banyak hal menarik. Kak Steph berharap untuk kedepannya bisa menemukan hal-hal yang lebih menarik lagi dan apa yang dia sudah ajarkan dapat membantu anak anak yang mengikuti program ini.

Kak Steph juga punya pesan untuk kita semua, “Jika memang waktu dan situasi memungkinkan, coba daftar volunteer deh. So far, I am not regretting this opportunity. Aku pribadi berpikir mungkin aku akan lebih menyesal kalau ga nyoba daftar. Kesempatan nggak datang 2 kali, sekalipun 2 kali pasti circumstances nya sudah berbeda.” Mencoba sesuatu yang baru bukanlah hal yang salah, kesempatan hanya datang satu kali. Jadi, jika ingin bergabung dengan Project Child Indonesia atau mau memulai sesuatu yang baru. Just do it. It is now or never.

Siapa yang Berhak Menyandang Gelar Pahlawan?

Written by Dhiandra Sekar Taji, Social Media Admin intern at Project Child Indonesia

Peristiwa apakah yang pertama kali muncul di pikiran kita saat mendengar tanggal 10 November? Sebagian besar orang akan berpikir bahwa di hari tersebut pasukan Bung Tomo sedang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia kembali dikarenakan ultimatum yang dilakukan oleh Belanda. Ultimatum yang merendahkan harkat dan martabat masyarakat Indonesia. Hari di mana mereka berjuang mempertaruhkan nyawanya demi mempertahankan kemerdekaan Ibu Pertiwi. Hal tersebutlah yang membuat mereka dijuluki sebagai pahlawan oleh masyarakat. Namun, apakah hanya orang-orang yang berjuang di medan perang saja yang berhak mendapat panggilan pahlawan?

Apabila ditelisik lebih jauh, secara bahasa pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Lantas, apakah hanya sosok pejuang saja yang layak disebut pahlawan? Lalu, bagaimana dengan para guru yang berada di garda terdepan untuk menumpas kebodohan? Bagaimana juga dengan para dokter yang mempertaruhkan nyawanya demi kesembuhan pasiennya? Selain itu juga, banyak profesi lain yang memiliki caranya masing-masing untuk berjuang demi kesejahteraan bersama. Apakah usaha dan pengorbanan mereka kurang layak untuk dapat menyandang gelar pahlawan di bahu mereka? 

Saya rasa tidak. Saat ini semua orang yang bergelut di profesinya masing-masing berhak disebut sebagai pahlawan.

Namun, apakah hanya orang-orang berpangkat dan memiliki julukan di pekerjaannya saja yang dapat disebut pahlawan? Bagaimana dengan nasib orang-orang di luar sana yang bekerja sekuat tenaga untuk mendapatkan sesuap nasi dan bertahan hidup? Bagaimana dengan buruh pabrik, petani, serta profesi lain yang tidak berpangkat dan dianggap remeh oleh orang lain? Apakah perjuangan mereka tidak layak untuk mendapatkan gelar pahlawan? Tentu saja bagi saya mereka layak untuk mendapat gelar pahlawan karena tanpa perjuangan mereka kebutuhan kita tidak akan terpenuhi.

Cobalah untuk tidak melihat terlalu jauh. Cobalah untuk melihat orang-orang yang berada di sekeliling kita lebih dekat. Adakah orang-orang di sekeliling kita yang layak menyandang  gelar pahlawan di pundaknya? 

Tentu saja ada. Keluarga kita adalah pahlawan bagi kita. Orangtua bekerja siang dan malam tak kenal lelah demi memberikan yang terbaik untuk anaknya. Merekapun tidak pernah mengharapkan imbalan terhadap apa yang telah mereka berikan. Sementara itu, saudara kita juga berusaha sekuat tenaga untuk menjaga dan melindungi kita dari kejahatan yang ada di dunia luar. Itulah keluarga, selalu menyelimuti kasih sayang antara satu dan yang lainnya. Bukankah sosok tersebut juga layak disebut pahlawan? Tentu saja mereka sangat layak.

Namun, dari sekian banyak profesi serta peran yang ada dalam masyarakat, terdapat satu sosok penting yang layak disebut pahlawan. Sosok tersebut adalah diri kita sendiri. Kita adalah pahlawan bagi diri kita sendiri. Diri kita sudah berkorban sedemikian banyak agar menjadi yang terbaik saat ini. Tak terhitung berapa banyak air mata serta tenaga yang terbuang untuk melewati berbagai rintangan kehidupan. Tak terhitung pula berapa kali kita terbentur agar kita bisa terbentuk menjadi diri kita saat ini.

Semua orang bisa menjadi pahlawan. Tua renta maupun muda bugar. Kita tidak perlu melakukan baku hantam untuk mengalahkan musuh maupun memasang ranjau untuk menjebak musuh. Untuk menjadi pahlawan, kita hanya perlu menjadi manusia yang bermartabat. Apabila kita bisa memanusiakan manusia, kita berhak menjadi pahlawan, pahlawan bagi diri kita dan pahlawan bagi orang lain. Selamat hari pahlawan kepada pahlawan yang gugur di medan perang, kepada orang yang ada untuk kita, dan yang terpenting adalah selamat hari pahlawan untuk diri kita sendiri.

REFERENCE

Setiawan, E. (n.d.). Arti kata pahlawan – Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online. https://kbbi.web.id/pahlawan. Retrieved October 16, 2021, from https://kbbi.web.id/pahlawan