Posts

Safety and Health at Workplace: No. 1 Priority

Written by Graciella Stephanie Ganadhi, Content Writer Project Child Indonesia

Working from home has been a privilege that not everyone can have. Healthcare workers, government officials, and those whose work are providing services for the general public cannot enjoy such luxury. Healthcare workers have to work to provide quality treatment for those who are sick, especially in this current pandemic. Government officials have to work to ensure quality service in every aspect of its citizens’ life and make sure that the economy is not collapsing. Even several social workers cannot work from home because there are so many people who do not even have homes and cannot care for themselves. 

This year’s World Day for Safety and Health at Work is more important than ever. Not only at hospitals, governmental buildings and various public places are at risk of infection spread. Police officers are not having less risk than healthcare workers. Sellers in the marker are not having less risk than government officials. This pandemic threatens us all, regardless of our workplace.

Awareness of safety and health at work demands to be increased as the pandemic becomes more and more life-threatening. As the government, we need to ensure the safety and health of our officials when they come to the workplace. As employers, we need to ensure the safety and health of our employees. Precaution and understanding the same ground rules need to be stated to everyone who works out of the house. If you have to go to work and you feel sick or you feel like you have symptoms of any sickness, please call in sick from work. It is better to be safe than risking infecting others at your workplace. If you own the workplace and you have employees coming in to work, some precaution might be needed. Checking everyone’s temperature and making sure everything is sterile and sanitized can be one of the ways you can prevent the spread of infection in your workplace. Educating your employees on how to stay safe, clean, and healthy is also highly needed. If you have provided all the necessary precaution, but failed to educate your employees of the importance of the precaution’s reinforcement, then the precaution will fail to be effective.

Going to work during this trying time might be difficult. If you have the privilege to stay at home, please do. If you have to go to work, please make sure to stay safe, healthy, and follow all the health instructions. As a part of a society, we can help to put an end to this outbreak. No matter how small and insignificant your contribution to the world right now, if there is something you can do to cut the pandemic chain, please do. Remember to always stay safe and healthy!

References:

  • https://www.un.org/en/observances/work-safety-day

Jangan-Jangan Aku Kena COVID-19?

Ditulis oleh Graciella Stephanie Ganadhi, Content Writer Project Child Indonesia

Akhir-akhir ini apa kalian pernah merasa parno tiba-tiba tenggorokan mulai sakit, agak demam, terus dada juga mulai sesak sehabis kalian nonton berita tentang COVID-19? Lalu kalian jadi bertanya-tanya, jangan-jangan aku kena COVID-19? Hm, kemungkinannya sih sebenernya kecil banget, hampir ngga mungkin malah. Kalo kalian habis jalan-jalan ke luar negeri atau ketemu sama penderita COVID-19 sih, mungkin aja kalian kena COVID-19, tapi kalo kalian udah social distancing dan tiba-tiba kalian merasa sakit, mungkin aja itu cuma gejala psikosomatik dari otak kalian, guys!

Jadi, otak kita ini punya bagian yang namanya amigdala. Nah, amigdala ini apa sih? Basically, amigdala itu punya fungsi macam-macam, guys. Salah satunya adalah mengatur rasa takutmu. Nonton berita dalam jangka waktu yang cukup lama, terutama berita yang bikin takut kaya berita COVID-19 akhir-akhir ini bikin otak kalian, terutama sistem saraf otonom, terus-terusan berada di posisi fight atau flight sehingga kalian jadi stres. Stres kalian inilah yang menyebabkan ketidakseimbangan antara sistem saraf simpatetik dan parasimpatetik sehingga muncul reaksi psikosomatik yang mirip gejala COVID-19.

Stres berlebih itu sebenarnya merugikan, lho. Sebuah penelitian oleh André Bovis dan André Simoneton di 1949 menunjukkan bahwa stres dapat menyebabkan penurunan frekuensi tubuh. Jadi, semua benda di alam semesta ini bergetar dan memiliki frekuensi, mulai dari sel sampai atom. Orang yang sehat seharusnya punya frekuensi antara 7000 hingga 8000 uB (unit Bovis). Kalo seseorang punya frekuensi yang kurang dari 1000 uB, artinya orang tersebut sudah mendekati kematian. Orang yang sakit parah bakal punya frekuensi antara 2000 hingga 3000 uB, sedangkan orang yang sakit dan stres bakal punya frekuensi dibawah 5000 uB. Nah, ketakutan atau kecemasan berlebih dapat menyebabkan turunnya frekuensi tubuh menjadi dibawah 5000 uB dan ini bisa jadi bahaya untuk kita. Studi menunjukkan virus juga punya frekuensi sekitar 5000 uB. Artinya, jika frekuensi tubuh kalian berada dibawah 5000 uB seperti saat kalian stres, virus akan mengira bahwa tubuh kalian adalah “rumah” karena frekuensi yang mirip. Jadi ketika kalian stres, virus bakalan lebih mudah masuk dan bikin kalian sakit.

Sebaiknya, jangan khawatir dan stres berlebihan tentang berita, guys. “Sadar bukan cemas, siap bukan panik” harusnya jadi moto kalian dalam menghadapi situasi sekarang ini. Tetep nonton berita, yah! Tapi gausah dibawa stres. Saat kaya gini penting untuk melek berita, tapi juga kesehatan harus tetap jadi nomor satu. Tonton berita secukupnya, kalo perlu, jam nonton berita itu udah kalian jadwal. Jangan seharian mantengin berita. Habis nonton berita, kalian bisa ngegame atau olahraga ringan atau meditasi buat meredakan stres juga bisa banget, lho. Yuk, batasi nonton berita yang bikin stres dan tetap mengutamakan kesehatan ya!

Referensi:

  • http://www.lamartinablanca.com/Unidades_Bovis.html
  • https://whitemagicway.com/bovisbiometer.html
  • https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200323131032-255-486024/cegah-corona-jadi-jadian-akibat-stres-dan-cemas-berlebih
  • https://twitter.com/mbahndi/status/1241556884261224449?s=08

Did I Finally Catch COVID-19?

Written by Graciella Stephanie Ganadhi, Content Writer Project Child Indonesia

Do you feel like you have a sore throat or increasing fever after watching or reading the news regarding COVID-19? Or your skin is suddenly itchy and your chest feels tight? You might worry that you finally have caught the disease, right? Well, no worries, fellas. Worst case scenario is yes, you might have the disease because you have come into contact with someone that has the virus or you just recently came back from travelling overseas. However, the chance of that happening is very, very, very small or none at all. There is a bigger chance that you might suffer from the psychosomatic side-effect of watching too much news.

Your brain has a part called amygdala. It is the part which controls your memory and also your fears. Due to the constant stream of worrisome news, your amygdala reacted strongly to it. Your amygdala causes the autonomous neuron system to be in constant fight or flight mechanism that causes you to stress. The imbalance between the sympathetic and parasympathetic nervous system then causes you to have the psychosomatic reaction which is the sudden fatigue, dry cough, sore throat, etc. that is similar to the symptoms of COVID-19.

Stress can cause you so much more harm than you might think. In a research done by André Bovis and André Simoneton in 1949, stress can cause a decrease in your body’s frequency. Everything in this universe is vibrating and has frequency, from cells to atoms. A healthy human being should have a frequency between 7000 to 8000 uB (unit Bovis). If someone has 1000 uB or less, that means the person is nearing death. A seriously ill person will have about 2000 to 3000 uB, while a moderately sick or stressed person will have under 5000 uB. Fear or worry can cause your body’s frequency to drop and if you become stressed, your frequency will be under 5000 uB. Now, why is this dangerous? As study shows, viruses have the frequency at around 5000 uB as well. This means, if your body’s frequency is also around 5000 uB, viruses might see your body as potential “home” because of the similar frequency. Thus, you will be more prone to sickness due to viruses.

So, don’t worry and stress too much about the news. “Aware not anxious, prepare not panic” should be your motto in facing this fearsome situation. Be aware of the news, but not too aware that it causes you stress. Be prepared, but don’t panic and buy everything or hoard things that others might need more than you do. Watch the news moderately. Don’t watch too much, but also don’t stop caring about the news as well. Stay in the loop, stay informed, but take time to enjoy yourself. Do things that make you happy. Watch the news for an hour then play games for another hour. Watch the news for an hour and  then do light exercise or meditation for the next hour. Portion your news-watching time in a day, it will help with the stress. Remember to stay healthy and stress-free, folks!

References:

  • http://www.lamartinablanca.com/Unidades_Bovis.html
  • https://whitemagicway.com/bovisbiometer.html
  • https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200323131032-255-486024/cegah-corona-jadi-jadian-akibat-stres-dan-cemas-berlebih
  • https://twitter.com/mbahndi/status/1241556884261224449?s=08

Standardisasi Kualitas Air Menurut Dinas Kesehatan dan Dinas Lingkungan Hidup

Ditulis oleh Sekar Ningtyas Kinasih, Content Writer
Project Child Indonesia


Kompleksitas permasalahan sumber air bersih di Yogyakarta masih memerlukan upaya lebih lanjut yang ditujukan kepada pemerintah daerah, masyarakat maupun kelompok tertentu yang terlibat dengan pembangunan proyek pemerintah. Diungkapkan oleh salah satu peneliti senior dari Pusat Penelitian Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan (LIPI) tahun 2016 bahwa maraknya pembangunan hotel dan apartemen, minimnya lahan konservasi, perubahan tata guna lahan pertanian menjadi non-pertanian merupakan perkara utama krisis air kota Yogyakarta. Adapun unsur-unsur lain yang mempertajam penurunan kualitas pada air bersih seperti limbah rumah tangga, limbah industri hingga tingginya konsumsi air secara berlebihan. 

Kesadaran akan air sebagai materi esensial pada keberlangsungan hidup manusia menjadi dasar utama penerapan Drinking Water Program yang dilakukan sejak tahun 2016 ke beberapa sekolah oleh Project Child Indonesia– sekaligus bukti nyata terhadap dukungan implementasi Sustainable Development Goals (SDG) nomor 6, yakni menjamin ketersediaan air bersih dan sanitasi layak secara universal pada setiap lapisan masyarakat di tahun 2030. Pada tanggal 10 Juli 2019, PCI kembali mengadakan sosialisasi Drinking Water Program bersama 5 sekolah mitra baru yaitu SD Cokrokusuman, SD Sayidan, SD Karangmulyo, SD Ngupasan dan SD Wirosaban yang juga dihadiri 22 perwakilan sekolah mitra lainnya maupun 3 perwakilan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta. 

Tak hanya mempromosikan bagaimana DWP meningkatkan keterjangkauan akses air minum yang cukup terhadap anak-anak sekolah, di kesempatan yang sama para fasilitator seminar juga memberikan penyuluhan standardisasi kualitas air menurut Dinas Kesehatan dan Dinas Lingkungan Hidup melalui 3 parameter utama sebagai berikut:

Syarat Fisika
Air berkualitas perlu memenuhi beberapa syarat fisika seperti:

  • Jernih alias tidak keruh – umumnya disebabkan oleh butiran koloid tanah liat.
  • Tidak berwarna dan tidak mengandung bahan-bahan berbahaya pada kesehatan.
  • Tawar – apabila secara fisik air memiliki rasa asin, manis atau pahit, dapat diartikan bahwa air tidak layak konsumsi.
  • Tidak berbau – kondisi air yang bau mengindikasikan adanya penguraian bahan organik oleh mikroorganisme air.
  • Suhu normal – memastikan suhu air tidak panas yang kerap disebabkan oleh pelarutan zat kimia pada saluran pipa dan berujung pada resiko kesehatan. 
  • Nilai kandungan Total Dissolve Solid atau disingkat TDS (zat padat) tidak melebihi 1000 untuk air bersih dan 100 untuk air minum.

Syarat Kimiawi
Ada pula beberapa syarat kimiawi yang perlu diperhatikan yakni:

  • pH (derajat keasaman) – tingkat keasaman pada air umumnya dikarenakan adanya pelarutan gas oksida (karbon dioksida), sehingga disyaratkan kandungan pH mencapai 6 hingga 8 agar senyawa kimia tidak berubah menjadi racun yang mengganggu kesehatan.
  • Besi (Fe) – kondisi air yang memiliki kandungan besi lebih dari 0,1 mg dapat dicirikan dengan warna air yang cenderung kuning dan rasa khas seperti logam. Hal ini dapat beresiko pada gangguan dalam tubuh.
  • Kesadahan – kesadahan ditimbulkan oleh adanya kandungan sulfat dan karbonat , klorida dan nitrat dari magnesium, kalsium,  besi dan aluminium. Tingkat kesadahan dalam air dipastikan tidak melebihi 500 mg/l karena dapat menimbulkan terbentuknya lapisan kerak putih pada alat dapur, korosifitas pada pipa air hingga kondisi perut mual.
  • Nitrat dan Nitrit – pencemaran kedua zat ini bersumber dari tanah maupun tanaman, yang apabila terkandung pada air dalam jumlah berlebihan akan menghalangi aliran oksigen di dalam tubuh.
  • Timbal (Pb) – pencemaran air dapat ditimbulkan oleh logam timbal (Pb) yang kemudian memicu resiko gangguan ginjal, hati, otak hingga kematian sehingga patut untuk dihindari.

Syarat Mikrobiologi
Memastikan air minum tidak terkontaminasi oleh bakteri E.coli (Escherichia Coli) yang merupakan bakteri patogen penyebab gangguan pencernaan seperti diare dan muntaber. Beberapa Coliform lain yang patut dihindari adalah Salmonella Typhi yang memicu terjadinya demam typoid (tifus). Bila bakteri ini masuk melalui mulut dan tersebar di dalam tubuh, hal ini dapat berujung pada gangguan pencernaan yang ditandai dengan gejala seperti demam, sakit kepala, sakit perut dan penurunan nafsu makan.


Melaksanakan uji kelayakan air bersih sesuai standardisasi yang telah ditetapkan oleh pihak Dinas Kesehatan dan Dinas Lingkungan Hidup sangatlah penting, guna menjamin bahwa setiap lapisan masyarakat berhak memperoleh air bersih sebagai pemenuhan kebutuhan hidup dan terbebas dari ancaman kesehatan. Implementasi DWP merupakan salah satu komitmen yang diharapkan dapat menjadi sarana terpenuhinya tujuan-tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG) disertai dengan tumbuhnya kesadaran masyarakat dalam pengambilan langkah preventif pada pencemaran air dalam kehidupan sehari-hari seperti pengurangan pemakaian deterjen, menghindari pembuangan sampah ke sungai, tidak mengeksploitasi sumber mata air, mengoptimalkan pelaksanaan rehabilitasi lahan kritis sebagai konservasi air bawah tanah hingga penggunaan air secara wajar (tidak berlebihan).


Sumber :

Penyediaan Akses Air Minum untuk Masa Depan Anak

Manusia memerlukan air bersih untuk hidup. Air yang tercemar tidak hanya kotor dan tidak layak dikonsumsi, namun juga dapat berbahaya bagi kesehatan dan dapat beresiko menimbulkan kematian. Untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan memenuhi hak dasar bagi seluruh penduduk Indonesia, penyediaan akses air minum yang terjamin perlu dipertimbangkan secara serius untuk menjadi salah satu prioritas pembangunan nasional. Terbatasnya akses terhadap air dapat merampas kesempatan anak dalam hal pendidikan dan ekonomi dan dapat menghambat mereka untuk keluar dari lingkaran kemiskinan. Karena jauhnya akses air dari rumah, seringkali anak-anak di daerah terpencil juga mendapat tugas untuk mengambil air bagi keluarga mereka. Tanggung jawab ini akan menyita waktu mereka yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk belajar dan bermain. Akses air yang aman dan mudah dijangkau akan memberi mereka tambahan waktu agar mereka dapat bermain layaknya anak-anak pada umumnya dan menggunakan waktu untuk belajar demi masa depan mereka.

Pembangunan infrastruktur merupakan salah satu prioritas pembangunan bagi pemerintahan Presiden Joko Widodo. Presiden menegaskan dalam berbagai kesempatan betapa pentingnya infrastruktur bagi kemajuan suatu bangsa, meliputi sebagai pondasi dasar dalam pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kemandirian suatu negara. Hal ini juga berlaku bagi pembangunan dan pengembangan infrastruktur air minum atau biasa disebut sebagai Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM).

Tantangan lain selain kurangnya penyelenggara SPAM di pedesaan di antaranya adalah infrastruktur yang digunakan untuk mendistribusikan air di Indonesia kondisinya biasanya sudah usang, kurang terawat dan rentan terhadap kebocoran. Apabila sistem distribusi tersebut rusak, air akan dapat terkontaminasi dengan organisme penyakit yang ditularkan melalui air. Tingkat pertumbuhan penduduk yang pesat juga mengakibatkan adanya kesenjangan antara jumlah penduduk dan cakupan pelayanan yang belum memadai. Kurangnya tenaga ahli lokal juga sering menjadi penghalang untuk menciptakan sistem distribusi pengolahan air yang lebih modern, yang membutuhkan tenaga terlatih untuk operasi dan pemeliharaannya.

Berdasarkan penilaian kinerja yang dilakukan Badan Peningkatan Penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSPAM) terhadap 371 PDAM pada 2016, diketahui bahwa jumlah PDAM yang berada dalam kondisi sehat 198 (53%), kurang sehat 108 (29%), dan sakit 65 (18%). Kondisi ini berbeda dari tahun 2015, dimana dari 368 PDAM yang dinilai, PDAM dalam kondisi sehat 196 (53%), kurang sehat 100 (27%), dan sakit 72 (20%). Sedangkan pada 2014, dari 359 PDAM yang dinilai, PDAM dalam kondisi sehat 182 (51%), kurang sehat 103 (29%), dan sakit 74 (21%) (BAPPENAS 2017). Dari sini dapat disimpulkan bahwa dari tahun 2014 sampai dengan tahun 2016, jumlah PDAM yang sehat bertambah hanya sedikit, jumlah PDAM yang kurang sehat bertambah dan jumlah PDAM yang sakit sedikit berkurang. Terlihat tantangan lain SPAM di Indonesia yaitu masih diperlukan banyak perbaikan untuk pemeliharaan SPAM dari pemerintah.

Sesuai UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, penyediaan air minum adalah salah satu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib pemerintah daerah. Seiring dengan program pembangunan pemerintah, aspek pendanaan untuk pembangunan SPAM juga harus menjadi komitmen dan perhatian pemerintah daerah. Namun dengan keterbatasan pendanaan pemerintah daerah dan prioritas pembangunan lainnya, pemerintah pusat juga turut mendukung pembangunan SPAM di daerah melalui pendanaan APBN, sehingga pembangunan infrastruktur SPAM mendapatkan pendanaan bersama dari pemerintah daerah dan pemerintah pusat.

Selain melalui APBN dan APBD, pemerintah juga membuka kesempatan kepada badan usaha untuk mendukung pengembangan SPAM melalui mekanisme Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 122 Tahun 2015 tentang Sistem Penyediaan Air Minum. Kelebihan dari skema KPBU antara lain memberikan alternatif pembiayaan lain karena keterbatasan pendanaan pemerintah, efisiensi, teknologi baru yang dipergunakan oleh swasta dan mempercepat peningkatan cakupan dan kualitas pelayanan publik. Skema KPBU diharapkan dapat mengoptimalkan biaya investasi terutama di perkotaan yang pertumbuhan penduduknya meningkat dengan pesat. Kemampuan membayar di perkotaan yang cenderung lebih besar dapat menjadi alasan kuat bagi penanam modal untuk berinvestasi, namun bagaimana dengan masyarakat di wilayah terpencil yang tidak mampu? Kurang kondusifnya iklim usaha mengakibatkan sektor swasta enggan untuk mengembangkan SPAM di pedesaan. Akibatnya jaringan perpipaan dan penyediaan air minum untuk masyarakat miskin pedesaan kurang mendapat perhatian baik dari pemerintah maupun dari pihak swasta.   

Upaya untuk mengembangkan SPAM di Indonesia salah satunya dapat dimulai dari sekolah dengan menyediakan instalasi air minum untuk membangun kebiasaan dan meningkatkan kesadaran anak-anak, guru, orang tua, dan orang-orang di sekitar lingkungan sekolah. Sistem water filter menjamin kebersihan air sehingga meminimalisir potensi penyakit akibat air yang tercemar. Selain itu, anak-anak akan dapat menyisihkan sebagian uang sakunya untuk membeli keperluan lain selain air minum. Sistem ini juga mudah untuk dipelajari sehingga siapapun dapat mengoperasikan dan melakukan pemeliharaannya.  Penerapan Drinking Water Program di sekolah dapat menawarkan opsi penyediaan air minum untuk membantu pemerintah baik di perkotaan maupun daerah terpencil, khususnya untuk anak-anak. Dengan sistem penyediaan air minum yang baik dan terjangkau, anak-anak akan mendapat kesempatan untuk mengembangkan potensi mereka karena mereka memiliki lebih banyak waktu untuk belajar dan bermain, sehingga harapan untuk memiliki masa depan yang lebih cerah pun lebih besar.