Tag Archive for: anak

Memilih Childfree, Mendefinisikan Kembali Peran Wanita

Written by Maria Olivia Laurent, Content Writer Intern at Project Child Indonesia

“Kok umur segini belum punya anak?”

“Semoga nanti habis nikah langsung dikasih momongan ya~”

“Makin banyak anak makin banyak rezeki, hihi.”

Kayaknya sudah biasa ya mendengar pertanyaan-pertanyaan seperti itu dari keluarga dan teman-teman? Haduh, sudah beban menjadi wanita di era sekarang ini susah, ditambah lagi ekspektasi dan nyinyiran dari orang sekitar. Nyatanya, asumsi bahwa setiap wanita akan menjadi seorang ibu sudah mendarah daging di pikiran dan tradisi masyarakat sejak berabad-abad yang lalu. Hal ini merupakan sebuah konsekuensi hidup di tengah budaya patriarki yang membatasi peran wanita sedemikian rupa. Kasarnya, wanita itu cuma mesin ngelahirin dan ngebesarin anak doang.

Tidak ada salahnya jika wanita ingin menjadi seorang ibu. Menjadi ibu adalah sebuah kehormatan dan pengorbanan besar demi membesarkan buah hati. Namun, tidak ada salahnya pula jika wanita tidak ingin menjadi seorang ibu. Semua ini tergantung pilihan. Konsep ‘my body my choice’ inilah yang melahirkan fenomena childfree yang sedang marak dibahas di masyarakat dan media sosial. Childfree adalah sebuah istilah yang merujuk pada orang atau pasangan yang memilih untuk tidak memiliki anak. Childfree tidak sama dengan childless, ya. Childless merujuk kepada kondisi dimana seseorang tidak memiliki anak karena sebuah keadaan walaupun mereka menginginkan anak tersebut. Gampangnya, childfree itu terjadi karena faktor internal yakni pilihan. Sedangkan childless terjadi karena faktor eksternal seperti keguguran, penyakit, maupun kondisi fisik lainnya. 

Fenomena childfree ini terbilang kontroversial karena banyak yang beranggapan bahwa wanita harus memberikan keturunan untuk suaminya. Sebuah hakikat seorang wanita yang tertulis di ajaran-ajaran agama dan norma sosial. Akan tetapi, seiring berkembangnya zaman dan isu-isu yang berdampak besar di kehidupan manusia, asumsi ini mulai diperdebatkan. Melihat dari data sensus penduduk, angka kelahiran di Indonesia terus mengalami penurunan. Di tahun 2019 sendiri angka kelahiran kasar per 1000 penduduk di Indonesia hanya berada di angka 17.75. Laju pertumbuhan penduduk pada tahun 2010-2020 menunjukan angka 1.25%, sebuah penurunan dari periode sebelumnya tahun 2000-2010 pada angka 1.49% (Badan Pusat Statistik, 2020). Laju ini juga diprediksi akan terus menurun di periode berikutnya. 

Lantas, apa sih yang membuat semakin banyak orang memilih untuk childfree? Ada banyak faktor yang mendukung hal tersebut, terkait masalah fisik, psikologis, ekonomi, juga faktor lingkungan. Yuk kenali alasan-alasannya terlebih dahulu sebelum kita berpikir yang enggak-enggak dan main hakim sendiri. Siapa tahu salah satu alasan di bawah ini kalian setujui juga.

Pertama adalah kondisi fisik yang tidak memungkinkan untuk memiliki anak. Entah itu karena penyakit bawaan, tubuh yang lemah, atau risiko kehamilan dan melahirkan yang besar. Jadi daripada membahayakan ibu dan janin, lebih baik tidak memiliki anak saja. Biasanya, wanita yang memutuskan untuk tidak memiliki anak karena memprioritaskan kesehatannya akan dicap egois. Mereka yang bilang seperti itu mungkin tidak paham tentang kondisi medis dan seberapa bahayanya kehamilan bagi beberapa wanita. Kalau kata dokter sudah mustahil, jangan dipaksakan karena dorongan orang sekitar, sebab ibu bisa kehilangan nyawa dan sang bayi bisa lahir cacat atau malah meninggal. 

Kedua, kondisi psikologis. Seseorang harus memiliki mental dan kesiapan batin yang matang untuk dapat membesarkan anak. Mereka mungkin sadar bahwa mental mereka masih rapuh atau ada trauma masa lalu yang belum terselesaikan. Oleh sebab itu, mereka memutuskan untuk childfree agar anak mereka tidak terbebani masalah orang tuanya dan tidak tumbuh di lingkungan yang toxic. Lagi-lagi, memiliki anak adalah sebuah tanggung jawab yang besar dalam berjangka panjang. Jika seseorang merasa masih belum siap menanggung itu, mungkin menjadi childfree adalah jalan yang tepat untuk saat ini. 

Alasan ketiga ini bisa dibilang adalah alasan terkuat. Faktor keuangan yang belum stabil. Aku rasa ungkapan “banyak anak banyak rezeki” ini hanya berlaku untuk keluarga yang sudah berkecukupan. Jika kebutuhan sehari-hari saja masih susah tercukupi, bagaimana dengan kebutuhan anak nantinya? Kaum milenial lebih memilih untuk menabung daripada memiliki anak. Bukan karena pelit, tapi karena mereka tidak ingin anak mereka tumbuh serba kekurangan. Nanti saat ekonomi sudah jaya, baru mereka akan memiliki anak di rumah yang sudah sejahtera. Atau jika nanti tetap memilih untuk childfree, hal ini juga wajar, kok. Toh, kalian bebas untuk menggunakan uang hasil kerja kalian sendiri. Banyak juga orang kaya childfree yang memutuskan untuk menjadi orang tua asuh atau donor anak-anak panti asuhan. 

Faktor selanjutnya adalah lingkungan. Anak muda lebih mempunyai environmental awareness dibanding generasi sebelumnya. Memiliki anak akan menambah overpopulasi dunia dan memperparah kerusakan lingkungan. Emisi karbon dikhawatirkan akan semakin memburuk dan membuat keberlangsungan makhluk hidup terancam. Anak-anak kita pun akan terancam. Mereka akan hidup di dunia dengan keterbatasan air bersih, tumpukan sampah, jalanan macet, dan sebagainya. Memang, kita tidak bisa memprediksi apa yang akan sesungguhnya terjadi di masa depan, namun melihat dari kondisi memprihatinkan Bumi kita saat ini, tidak herab bahwa argummen lingkungan ini menjadi semakin populer di kalangan childfree

Terakhir adalah alasan personal. Mereka memang tidak mau punya anak, sesederhana itu. Mungkin mereka tidak suka anak kecil, ingin kebebasan total, tidak mau terikat, dan lain sebagainya. Namun, hal yang perlu diingat adalah keputusan childfree ini harus merupakan keputusan bersama jika terjadi di sebuah pasangan agar tidak menimbulkan konflik. Jangan lupa untuk diskusi tentang anak waktu mempersiapkan pernikahan ya!

Ketika kita sudah memutuskan untuk childfree, kerap muncul pertanyaan ini: Nanti siapa yang akan merawatmu waktu tua?

Wah, berarti sama saja mereka menginginkan balas budi dari anak mereka saat tua nanti. Anak bukanlah pembantu atau sumber uang kita. Kita melahirkan dan membesarkan mereka dengan ikhlas. Belum tentu juga anak akan mau merawat orang tuanya saat tua nanti, jadi pernyataan itu sejatinya tidak berlaku untuk orang childfree

Pada akhirnya, beberapa orang masih akan mengatakan keputusan childfree ini egois. Tetapi, akan jauh lebih egois untuk memiliki anak karena tekanan sosial dan menyesalinya nanti. Orang tua tidak akan bahagia. Anak-anak pun juga tidak akan bahagia. Mereka juga mungkin akan mengatakan bahwa memiliki anak akan membuat hidup seseorang bermakna, tapi sekali lagi, makna hidup setiap orang berbeda-beda. Setiap orang berhak mengambil keputusan akan hidup mereka sendiri, entah itu memiliki anak atau tidak, dan hanya mereka yang dapat menilai apakah keputusan itu tepat atau tidak. 

Referensi

Cain, S. (2020, July 25). Why a generation is choosing to be child-free. The Guardian. https://www.theguardian.com/books/2020/jul/25/why-a-generation-is-choosing-to-be-child-free

Clason, M. (2020, October 12). Why Do People Choose to Be Childfree?. Soapboxie. https://soapboxie.com/social-issues/Why-Do-People-Choose-To-Not-Have-Kids

Fenomena Childfree di Indonesia. (2021, September 2). Media Indonesia. https://epaper.mediaindonesia.com/detail/fenomena-childfree-di-indonesia

Saroh, N. I. (2021, September 5). Tren Childfree Pasangan Muda, Bisakah Diterapkan di Indonesia? Voi.Id. https://voi.id/berita/82230/tren-childfree-pasangan-muda-bisakah-diterapkan-di-indonesia

Manfaat Hewan Peliharaan untuk Pertumbuhan Anak

Written by Zahara Almira Ramadhan, Content Writer Intern at Project Child Indonesia

Hewan peliharaan merupakan sesuatu yang erat kaitannya dengan masa kecil, bukan? Saat berbicara tentang peliharaan, banyak orang akan teringat dengan hewan peliharaan yang dulu mereka punya. Aku sendiri termasuk orang tersebut. Sedari kecil, aku pernah merawat berbagai macam hewan, mulai dari kelinci, hamster, ikan, kura-kura, sampai sekarang aku terjebak dengan kucing.

Dari memelihara hewan-hewan ini, aku cukup belajar tentang rutinitas dan tanggung jawab. Tentu saja karena tiap harinya aku harus memberi mereka makan dan minum, menjemur atau melepasnya dari kandang, membersihkan kandang, dan mengajaknya bermain. Kelihatan kan bahwa hewan peliharaan itu bukan sekadar teman bermain atau pajangan saja, melainkan makhluk hidup yang butuh dirawat dan disayang untuk bertahan hidup. Siapa lagi yang bisa menyediakan jasa itu kalau bukan majikannya?

Nah, artikel ini hadir untuk para orang tua yang masih ragu atau bahkan enggan memberikan hewan peliharaan kepada anak. Apa yang diragukan nih? Takut mereka tidak bisa bertanggung jawab dan ujung-ujungnya kalian yang merawat hewan itu? Atau takut rumah jadi berantakan karena keberadaan makhluk kecil yang dirawat oleh makhluk kecil lainnya alias anak-anak? Tenang, banyak penelitian dan pendapat ahli yang menunjukkan bahwa hewan peliharaan memiliki manfaat untuk pertumbuhan sosial, emosional, kognitif, dan fisik anak.

Pertumbuhan sosial dan emosional

Hawkins et al. (2017) menemukan bahwa kasih sayang anak terhadap hewan peliharaan menimbulkan perasaan peduli dan kasih sayang terhadap orang lain. Anak-anak yang dekat dengan peliharaannya juga cenderung mudah berteman. Ini karena anak terbiasa menghabiskan waktu dengan peliharaan, seperti mengelus, bercengkrama, dan bermain dengannya. Banyak anak sering berbicara dengan peliharaannya, menangis di depannya saat sedih, dan menceritakan rahasia kepadanya. Mungkin terdengar aneh untuk beberapa orang, tapi kenyataannya, kebiasaan tersebut melatih anak untuk berempati dan berkomunikasi kepada orang lain. Perlu diingat, dampak positif tersebut datang dari hubungan yang dekat dengan peliharaan; kedekatan emosional anak dengan peliharaannya sangat berpengaruh dengan manfaat yang akan didapatkan. Jadi, keberadaan peliharaan secara gamblang mungkin tidak cukup untuk memengaruhi pertumbuhan sosial dan emosional anak.

Pertumbuhan kognitif

Menurut seorang profesor pendidikan, hewan dapat membantu anak untuk belajar (Strickland, 2021). Dulu, para pendidik menemukan bahwa therapy animals, terutama anjing, membantu anak berkebutuhan khusus untuk belajar. Tapi, penelitian terbaru ternyata menemukan bahwa semua anak terbantu untuk belajar dengan keberadaan hewan. Ini karena anak merasa lebih rileks di sekitar hewan dibanding manusia. Salah satu kemampuan kognitif yang dapat berkembang adalah kemampuan membaca. Dr. Moore, dekan kedokteran hewan di The Ohio State University, mengatakan, memang ada program yang mendukung anak-anak untuk membaca dihadapan kucing atau anjing. Walaupun hewan-hewan itu tidak mengerti apa-apa, kegiatan membaca ini tetap melatih kemampuan membaca dan membentuk kepercayaan diri anak (Gordon, 2021).

Kesehatan fisik

Mempunyai hewan peliharaan mengharuskan anak untuk mengajaknya bermain atau berjalan-jalan keluar rumah. Para pemilik anjing pasti tahu rasanya rutin mengajak anjing jalan-jalan atau bermain di dog park. Nah, kegiatan ini cukup melatih kesehatan fisik anak karena mereka rutin beraktivitas dengan peliharaannya. Studi dari University of London menyatakan bahwa anak dengan hewan peliharaan beraktivitas fisik lebih banyak dibanding anak yang tidak memiliki peliharaan (Halodoc, 2018).

Kerennya lagi, peliharaan juga bisa mencegah pertumbuhan alergi pada anak. Seorang dokter anak spesialis alergi dan imunologi mengatakan, mempunyai beberapa hewan peliharaan dapat mengurangi resiko pertumbuhan alergi tertentu pada anak (Strickland, 2021). Dari penelitiannya, anak-anak yang terekspos terhadap dua anjing atau kucing saat mereka bayi cenderung terhindar dari alergi-alergi umum, seperti alergi debu, tungau, bulu hewan, rumput liar, bahkan penyakit asma.

Itu dia beberapa manfaat hewan peliharaan untuk anak, mulai dari mendukung pertumbuhan sosial sampai kesehatan fisik. Tidak bisa dipungkiri bahwa memelihara hewan mungkin terlihat sulit untuk sebagian orang, terutama ketika anak-anak yang mengurusnya dan apabila sesuatu terjadi kepada peliharaan. Seperti makhluk hidup pada umumnya, hewan peliharaan juga bisa sakit dan meninggal dunia. Banyak anak menganggap peliharaannya sebagai teman atau saudara, dan mereka akan sangat terpukul saat ditinggalkan peliharaannya (Fraga, 2017). Di sinilah peran orang tua dibutuhkan untuk membantu anak melewati kesedihannya. 

Anak-anak menghadapi kesedihannya dengan cara yang berbeda. Ada yang murung, tidak mau berbicara, atau mencari distraksi dengan bermain. Alih-alih bersedih, ada juga yang merasa marah dan bersalah karena kematian peliharaannya. Peranmu adalah memvalidasi apa yang dirasakan anak dan menjelaskan bahwa perasaan tersebut normal di situasi ini. Jelaskan juga alasan di balik kematian peliharaan, misalnya sebuah penyakit atau jangka hidup yang cenderung singkat bagi hewan tertentu. Terkadang, anak juga butuh closure atas kematian peliharaan, bisa berbentuk upacara pemakaman kecil-kecilan, menanam tumbuhan di sekitar makam, atau membuat album foto untuk mengenangnya.

Maka dari itu, bantuan dan pengawasan dari orang tua sangat dibutuhkan dalam memelihara hewan. Tidak hanya dalam mengurusnya saat hidup, tapi juga dalam menuntun anak menghadapi hal buruk. Apa pun jenis hewan yang ingin dipelihara, pastikan kamu mencari tahu cara mengurus hewan itu karena masing-masing hewan membutuhkan perawatan dan gaya hidup yang berbeda. Pasti banyak hal baik yang akan datang setelah anak mahir mengurus dan semakin dekat dengan peliharaan. Dijamin kamu tidak akan menyesal membiarkan ia memeliharanya!

Referensi

Fraga, J. (2017, June 8). When a Pet Dies, Helping Children Through ‘The Worst Day of Their Lives’. The New York Times. Retrieved from: https://www.nytimes.com/2017/06/08/well/family/when-a-pet-dies-helping-children-through-the-worst-day-of-their-lives.html 

Gordon, S. (2021, September 30). How Kids Benefit From Pet Ownership. Verywell Family. Retrieved from: https://www.verywellfamily.com/how-kids-benefit-from-pet-ownership-5201854 

Hawkins, R. D., Williams, J. M., & Scottish Society for the Prevention of Cruelty to Animals. (2017) Childhood Attachment to Pets: Associations between Pet Attachment, Attitudes to Animals, Compassion, and Humane Behaviour. International Journal of Environmental Research and Public Health, 14(5), 490. https://doi.org/10.3390/ijerph14050490

Redaksi Halodoc. (2018, February 20). 6 Manfaat Punya Hewan Peliharaan untuk Anak. Retrieved from: https://www.halodoc.com/artikel/6-manfaat-punya-hewan-peliharaan-untuk-anak Strickland, B. (2021, August 30). The Benefits of Pets for Kids. Parents. Retrieved from: https://www.parents.com/parenting/pets/kids/the-benefits-of-pets/

Bangkitkan Budaya Mendongeng kepada Anak

Written by Zahara Almira Ramadhan, Content Writer Intern at Project Child Indonesia

Siapa yang ingat dengan cerita Bawang Merah dan Bawang Putih? Dongeng yang menceritakan anak yang kejam versus anak yang baik hati ini cukup susah dilupakan, bukan? Dongeng telah mewarnai masa kecil kita dan meninggalkan memori yang berkesan sampai kita tumbuh dewasa. Namun, apakah dongeng masih relevan di era yang sudah serba digital ini?

Tentu saja! Dongeng merupakan sebuah tradisi mendunia yang akan tetap relevan seiring perkembangan zaman. Apakah kamu tahu bahwa sejak tahun 2005, satu dunia memperingati Hari Dongeng Sedunia pada tanggal 20 Maret? Awalnya, Hari Dongeng dipelopori oleh negara Swedia pada tahun 2001, lalu menyebar ke negara-negara lainnya sampai mendunia. Tema yang diangkat pun bervariasi dari tahun ke tahun. Pada tahun 2022 ini, Hari Dongeng Sedunia mengangkat tema “Lost and Found” atau “Hilang dan Ditemukan”, yang mengacu pada segala hal yang telah direnggut oleh pandemi, namun dapat ditemukan kembali melalui harapan yang diberikan oleh dongeng.

Apakah Indonesia merayakan Hari Dongeng?

Indonesia juga memperingati Hari Dongeng, tepatnya pada tanggal 28 November mulai tahun 2015. Tanggal ini ditetapkan sebagai Hari Dongeng Nasional karena tanggal tersebut merupakan hari kelahiran Drs. Suyadi atau yang dikenal sebagai Pak Raden, sosok yang berjasa dalam perdongengan Indonesia. Kamu pasti tahu karakter Si Unyil, kan? Karakter ikonis ini merupakan karya Pak Raden pada tahun 1980-an dan melegenda sampai saat ini.

Selain Si Unyil, Indonesia memliki banyak dongeng yang berasal dari berbagai macam daerah. Dongeng-dongeng tersebut juga biasa disebut sebagai cerita rakyat maupun legenda. Mulai dari Bawang Merah dan Bawang Putih, Timun Mas, Malin Kundang, Sangkuriang, sampai legenda asal-usul berbagai macam tempat seperti Danau Toba, Selat Bali, dan masih banyak lagi. Dari judulnya saja sudah terlihat bahwa dongeng Indonesia dapat membuka wawasan anak mengenai daratan dan budaya Indonesia. Tidak hanya itu, dongeng juga mempunyai banyak manfaat untuk perkembangan anak.

Manfaat dongeng untuk anak

  1. Mengasah daya imajinasi dan kemampuan kognitif
    Dongeng dapat memicu daya imajinasi anak, yang juga berpengaruh terhadap kreativitas dan kemampuan kognitif si kecil. Menurut Sally Goddard Blythe, Direktur The Institute for Neuro-Physiological Psychology (dalam Darmawan, 2021), imajinasi dapat mengembangkan keterampilan pemecahan masalah dan berpikir kritis terhadap berbagai aspek dalam hidup anak, serta menciptakan ide dan sudut pandang baru. Imajinasi juga berperan untuk membuka wawasan anak terhadap dunia, baik itu mengenai tempat-tempat yang belum ia jelajahi maupun budaya dan aspek sosial lainnya.
  2. Menumbuhkan kecerdasan sosial dan emosional
    Dongeng pada umumnya mengandung norma sosial, nilai-nilai kehidupan, dan pesan moral yang dapat diambil oleh pembaca atau pendengarnya. Oleh karena itu, anak dapat mengetahui perbedaan perilaku baik dan buruk, serta konsekuensi yang datang bersamanya. Kegiatan mendongeng juga dapat meningkatkan komunikasi antar orang tua dan anak sehingga terbentuk hubungan yang lebih erat antar keduanya. Terlebih dari itu, menurut para ilmuwan, bacaan fiksi dapat memudahkan anak-anak dalam memahami orang lain dan dalam mengekspresikan empati (Saptoyo, 2021).
  3. Mengasah keterampilan bahasa
    Kekuatan super lainnya yang dipancarkan oleh dongeng adalah stimulasi keterampilan bahasa anak. Dengan berbagai kosakata baru dari dongeng, keterampilan bahasa anak otomatis berkembang, dan mereka menjadi lebih fasih dalam berkomunikasi (Dra. Ratih Ibrahim, M.M., dalam Pertiwi, n.d). Dengan pilihan buku dongeng yang tepat dan menarik, minat baca anak juga dapat tumbuh dan dikembangkan.

Wah, banyak sekali ya manfaat yang bisa didapatkan dari dongeng! Sayangnya, kegiatan mendongeng perlahan ditinggalkan oleh banyak orang di masa kini. Keberadaan teknologi seperti smartphone dan tab yang dilengkapi dengan berbagai macam aplikasi dianggap lebih praktis untuk menjadi sarana hiburan anak. Maka dari itu, Project Child Indonesia ingin mengajakmu untuk menghidupkan kembali budaya mendongeng di Hari Dongeng Sedunia ini! Bagaimana caranya? Simak beberapa cara mendongeng di bawah ini.

Cara mendongeng kepada anak

  1. Mendongeng secara verbal
    Mendongeng secara verbal merupakan cara yang paling umum digunakan. Kamu tidak perlu menghafal sebuah cerita untuk melakukannya, tetapi kamu dapat membacakan sebuah cerita secara lantang. Sebaliknya, kamu juga dapat menceritakan dongeng-dongeng yang kamu ketahui tanpa memiliki buku atau teks tertentu. Jangan lupa untuk gunakan suara yang berbeda untuk tiap karakter agar ceritanya menjadi lebih hidup!
  2. Gunakan properti
    Cara yang satu ini tentu saja opsional, namun akan sangat menarik di mata anak. Apabila kamu memiliki boneka, topeng, atau properti lainnya yang serupa dengan tokoh di cerita, kamu dapat menggunakannya untuk mendongeng. Kamu juga dapat mengajak anak untuk ikut menggerakkan properti-properti yang ada untuk merangsang aspek motorik mereka.
  3. Putarkan video dongeng
    Cara yang terakhir ini merupakan bukti kepraktisan dari teknologi. Apabila kamu tidak banyak memiliki waktu luang untuk mencari buku dan menyiapkan properti, Youtube merupakan opsi yang cukup layak untuk mendongeng. Kamu dapat mencari berbagai macam dongeng dari Indonesia maupun luar negeri, yang biasanya sudah dianimasikan sesuai dengan tokoh dan alur ceritanya. Terlebih lagi, anak juga dapat mulai belajar bahasa asing melalui dongeng luar negeri. Namun, perlu diingat bahwa lamanya paparan gadget terhadap anak butuh dibatasi, dan paparan layar sendiri tidak dianjurkan untuk anak di bawah usia tiga tahun.

Itu dia ketiga cara mudah mendongeng kepada anak. Mengingat banyaknya manfaat dan besarnya peran dongeng bagi anak dan orang-orang yang terlibat, akan sangat berarti apabila kita dapat melestarikan dongeng kepada generasi selanjutnya. Terlebih lagi di tahun 2022 ini, dengan tema  “Lost and Found” atau “Hilang dan Ditemukan”, kami harap dongeng dapat menjadi inspirasi bagi seluruh orang tua, anak-anak, atau siapa pun untuk menemukan setidaknya secercah cahaya dalam gelapnya pandemi. Walaupun pandemi telah merenggut banyak hal dan orang-orang yang sebelumnya berada di sekitar kita, kami yakin masih ada harapan dan masa depan yang menanti untuk semua orang di luar sana. Selamat Hari Dongeng Sedunia!

References

Darmawan, E. S. (2021, April 29). Meningkatkan Kecerdasan Anak lewat Imajinasi. Kompas.com. Retrieved from: https://lifestyle.kompas.com/read/2021/04/29/121700820/meningkatkan-kecerdasan-anak-lewat-imajinasi#:~:text=Kemampuan%20imajinasi%20tersebut%20perlu%20dikembangkan,mengasah%20kreativitas%20dan%20kemampuan%20kognitif.&text=Imajinasi%20juga%20berperan%20penting%20bagi,membantu%20mereka%20dalam%20memahami%20dunia

Pertiwi, A. (n.d). 3 Cara Kreatif Agar Aktivitas Mendongeng untuk Anak Jadi Lebih Seru. theAsianparent Indonesia. Retrieved from: https://id.theasianparent.com/cara-mendongeng-untuk-anak Saptoyo, R. D. A. (2021, March 20). Hari Dongeng Sedunia: Sejarah dan Pentingnya Dongeng untuk Anak. Kompas.com. Retrieved from: https://www.kompas.com/tren/read/2021/03/20/142500865/hari-dongeng-sedunia–sejarah-dan-pentingnya-dongeng-untuk-anak?page=all

Pandemi, Pendidikan, dan Teknologi

Ditulis oleh Vina Dina, Content Writer Intern di Project Child Indonesia

Pendidikan adalah proses memperoleh pengetahuan. Melalui pendidikan, baik di sekolah maupun diluar sekolah, anak akan mendapatkan pengetahuan mengenai hal-hal di sekitarnya dan diharapkan dapat mengubah dunia menjadi lebih baik lagi.  Menurut data Profil Anak Indonesia tahun 2018, Mayoritas anak usia 5-17 tahun berstatus masih bersekolah (83,62%). Sisanya sebesar 12,69% anak tidak/belum bersekolah dan 3,70% anak berstatus tidak bersekolah lagi. Jika dilihat menurut tipe daerah, persentase anak usia 5-17 tahun yang berstatus masih bersekolah di perkotaan lebih tinggi dibandingkan di pedesaan. Sebaliknya, persentase anak yang tidak bersekolah lagi di daerah perkotaan lebih kecil dibanding daerah perdesaan. Penyebab dari perbedaan persentase tersebut diakibatkan adanya perbedaan kemudahan akses pendidikan serta ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan.

Pandemi Covid-19 yang berlangsung semenjak awal tahun 2020 secara nyata menyebabkan banyak perubahan di berbagai sektor termasuk sektor pendidikan. Pada masa pandemi, pemerintah mengubah sistem pendidikan di Indonesia menjadi sistem pembelajaran jarak jauh dengan berbagai metode yang berkembang secara dinamis menyesuaikan kondisi pandemi. Salah satu dari metode tersebut yang juga merupakan metode yang paling umum digunakan adalah metode pembelajaran dalam jaringan (Daring). Dalam metode daring, sistem pembelajaran dilakukan sepenuhnya secara online, seperti penyampaian materi melalui video conference ataupun media online lain sehingga metode ini sangat bergantung pada jaringan online dan membutuhkan smartphone untuk dapat mengakses materi yang diberikan.

Sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia saat ini adalah Sistem Pendidikan Nasional, yaitu sistem yang pengelolaannya diselenggarakan secara sentralistik sehingga seluruh sistem dan kebijakan diatur oleh pemerintah pusat dan berlaku untuk nasional. Sistem Pendidikan Nasional didalamnya mengatur mengenai tujuan pendidikan, materi dan metode pembelajaran, tenaga kependidikan hingga untuk persyaratan kenaikan pangkat (Munirah, 2015 dalam Afifah, 2020). Oleh karena itu, perubahan sistem menjadi sistem pembelajaran jarak jauh akibat pandemi harus diterapkan oleh semua sekolah dan instansi perguruan tinggi yang ada di seluruh daerah di Indonesia.

Sistem pembelajaran jarak jauh dapat menjadi solusi belajar mengajar yang efektif dalam masa pandemi Covid-19 apabila setiap siswa dan pengajar memiliki ketersediaan akses terhadap jaringan internet dan smartphone atau personal computer (PC) lainnya serta menguasai cara penggunaan alat komunikasi dan aplikasi yang ada didalamnya. Akan tetapi, tidak semua pengajar dan siswa memiliki fasilitas tersebut sehingga dapat menghambat keberlangsungan proses belajar. Oleh karena itu, Project Child Indonesia menginisiasi program Online Learning Assistance untuk membantu anak-anak Sekolah Sungai, yaitu anak-anak di daerah bantaran Sungai Code, Sungai Winongo dan Sungai Gajahwong. Program Online Learning Assistance tersebut juga bekerja sama dengan PT. XL. Axiata Tbk. untuk memberikan bantuan kuota, serta sesi tutor secara online dan offline bersama dengan volunter agar anak-anak dapat lebih mudah memahami materi dan mengerjakan tugas mereka.

Selain itu, Project Child Indonesia juga membantu memfasilitasi belajar anak-anak Sekolah Sungai dalam proses belajar mengajar menggunakan Tablet PC yang dihibahkan oleh Kementerian Luar Negeri (KEMENLU) kepada Project Child Indonesia. Adanya bantuan hibah 35 Tablet PC oleh KEMENLU sangat membantu keberlangsungan dan kelancaran proses belajar mengajar anak-anak dan diharapkan dapat meningkatkan prestasi mereka karena berkurangnya hambatan untuk mengakses materi sekolah.

Perkembangan Pandemi Covid-19 yang sangat dinamis menuntut setiap manusia untuk juga dapat bergerak secara dinamis. Tidak menutup kemungkinan perubahan-perubahan di berbagai sistem yang terjadi untuk menyesuaikan keadaan pandemi akan tetap diterapkan meskipun pandemi telah berhasil diatasi. Keberhasilan suatu sistem tidak akan bisa dicapai oleh hanya satu manusia, namun hanya bisa diwujudkan bersama-sama sebagai satu kesatuan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk dapat saling mengulurkan tangan untuk membantu sesama sekecil apapun bantuan itu karena, everyone can do good.

Kamu juga bisa membantu meningkatkan fasilitas belajar anak-anak Sekolah Sungai dengan ikut berdonasi di KitaBisa.com Bantuan Belajar untuk Adik-Adik Sekolah Sungai. Bantuan akan disalurkan untuk keberlangsungan sekaligus biaya operasional kegiatan Online Learning Assistance. Everyone can do good, including you. So, when will you start?

Sumber:

https://www.kemenpppa.go.id/lib/uploads/slider/e56dc-15242-profil-anak-indonesia_-2019.pdf

Afifah, Nur. (2020). SISTEM PENDIDIKAN DI INDONESIA. 3.

http://pusdatin.kemdikbud.go.id/wp-content/uploads/2020/05/PANDUAN-PEMBELAJARAN-JARAK-JAUH-BELAJAR-DIRUMAH-MASA-C-19.pdf