Hari Anak Nasional : Bertumbuh Dalam Dunia Maya

Ditulis oleh Nindy Silvia Anggraini, Penulis Konten Project Child Indonesia

Hari Anak Nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli tahun ini jelas akan berbeda pelaksanaannya dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pandemi Covid-19 yang mengharuskan kita semua untuk menerapkan social distancing, sehingga tidak akan ada perayaan seperti biasanya. Namun, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPPA) hadir dengan ide yang segar yakni mengadakan acara Hari Anak Nasional secara virtual. Dengan merayakan di rumah, perayaan Hari Anak Nasional 2020 akan disiarkan melalui daring lewat aplikasi Zoom dengan peserta dari seluruh provinsi sebanyak 750 orang dan melalui TV serta radio. 

Tema yang diangkat untuk tahun ini adalah “Anak Terlindungi, Indonesia Maju”. Bukan tanpa maksud, pengambilan tema tersebut mengajak masyarakat untuk melihat apa yang ada di sekitar mereka dan menumbuhkan rasa kepedulian terhadap anak-anak terutama selama masa pandemi ini. Kenapa terlindungi? karena dari 79 juta lebih anak Indonesia, di antaranya adalah anak-anak banyak yang harus dapat perlindungan khusus terutama yang dalam situasi darurat seperti ini. Anak-anak dalam situasi tertentu perlu perhatian dan perlindungan lebih, dengan harapan kita bisa menyiapkan masa depan anak-anak sebaik mungkin. Karena saat ini bukan hanya orang dewasa saja yang merasakan dampak dari Covid-19, namun adanya pandemi ini juga akan berpengaruh pada anak terutama pada kegiatan belajar, aktivitasnya dalam bersosialisasi, dan juga dalam tumbuh kembang anak yang berkaitan dengan eksplorasi lingkungan sekitarnya. Belum lagi mereka yang tumbuh dalam keluarga kurang mampu dan tidak dapat menerapkan pola pembelajaran jarak jauh. Pemerintah, dalam tema hari anak kali ini juga fokus pada perlindungan anak-anak Indonesia terhadap resiko penularan Covid-19. Indonesia sebagai negara berkembang dengan banyak masyarakat menengah kebawah yang untuk mengisi perut saja sudah kebingungan, bagaimana bisa berfikir tentang sanitasi yang baik dan perlindungan terhadap imun? Rendahnya kesejahteraan masyarakat menjadi faktor pendukung meningkatnya resiko penularan Covid-19. Untuk itu, pemerintah menjadikan hari anak sebagai momentum dalam menyuarakan masalah ini.

Namun terlepas dari hal tersebut, pembelajaran sosialisasi lah yang akan paling mempengaruhi. Semua sekarang serba daring, semua memerlukan akses internet termasuk tumbuh kembang anak. Seperti yang kita tahu, dunia maya adalah dunia tanpa sekat yang dapat menghubungkan apapun, siapapun,dan dimanapun. Masa kanak-kanak merupakan fase mengeksplor dengan tingkat keingintahuan yang sangat tinggi. Bukankah disini berarti orangtua harus memberi perhatian yang lebih besar pula pada anaknya? Faktanya, akses internet yang tanpa batas adalah gudang pengetahuan, rasa ingin tahu anak-anak terjawab semua lewat internet. Dengan catatan, entah itu pengetahuan baik maupun buruk. Berbeda anak akan berbeda pula cara memaknai sebuah informasi. Orangtua dalam hal ini sebisa mungkin meningkatkan pengawasan dan perhatiannya terhadap penggunaan internet oleh anak-anak. Gunakan fitur-fitur yang aman untuk anak dan pantau selalu tumbuh kembangnya. 

Referensi 

https://nasional.kompas.com/read/2020/07/20/15520411/hari-anak-nasional-23-juli-2020-diperingati-melalui-virtual

Yuk Lakukan Kegiatan Ini Selama Di Rumah Aja!

Ditulis oleh Anna Safira Salsabila, Content Writer Intern Project Child Indonesia

Lockdown akibat pandemi COVID-19 sudah berjalan selama 5 bulan terhitung sejak bulan Maret hingga Juli 2020. Tentu waktu yang tidak sebentar untuk menghabiskan waktu di rumah saja dan membatasi bahkan menghentikan aktivitas di luar ruangan, karena seperti yang kita ketahui, segala kegiatan belajar mengajar dialihkan melalui sarana daring atau online merujuk pada Surat Edaran Mendikbud Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan COVID-19 dan Nomor 36962/MPK.A/HK/2020. Sehingga sebisa mungkin kita dapat mengisi waktu-waktu di rumah dengan sebaik mungkin. Ada beberapa kegiatan menarik yang tentunya bermanfaat yang dapat kita lakukan selama berada di rumah, berikut diantaranya.

1. Membaca di Perpustakaan Online

Selama pandemi tentu kita tidak dapat bepergian ke tempat-tempat umum kecuali dalam keadaan mendesak, sehingga opsi yang bisa kita pakai adalah dengan mengunjunginya secara online. Bagaimana bisa? Nah, kita bisa mengunjungi salah satunya adalah perpustakaan online disediakan secara gratis dan bisa diakses oleh semua orang, salah satunya adalah www.perpusnas.go.id yang merupakan web resmi perpustakaan nasional Indonesia.

2. Berdonasi

Banyak hal terjadi selama 5 bulan terakhir ini, termasuk banyak hal-hal kurang beruntung yang menimpa sesama akibat adanya pandemi COVID-19. Oleh karenanya, sebagai sesama manusia kita harus saling membantu dengan cara yaitu berdonasi melalui berbagai platform media. Link untuk berdonasi salah satunya adalah melalui donasi resmi PMI, http://donasi.pmi.or.id/ untuk membantu korban COVID-19. Selain itu, kita juga dapat berdonasi untuk membantu anak-anak kurang mampu yang sangat terdampak oleh pandemi ini. Mereka membutuhkan bantuan berupa kuota internet agar dapat mendukung proses belajar mengajar selama pandemi. Donasi ini dapat dilakukan melalui crowdfunding yang dilakukan oleh Gollaborate bekerjasama dengan Project Child Indonesia dengan link https://kitabisa.com/campaign/gollaboratexpci.  

3. Bercocok Tanam

Kegiatan bercocok tanam merupakan kegiatan yang sangat cocok dilakukan selama berada di rumah yang tidak berkaitan dengan menatap layar gadget. Menggunakan media tanam sederhana dengan tata cara yang mudah, tentu bercocok tanam dapat dijadikan kegiatan untuk mengisi waktu-waktu senggang selama berada di rumah saja. Selain menyenangkan, kegiatan bercocok tanam juga dapat membantu menyelamatkan lingkungan hidup.

Nah, demikian hal-hal bermanfaat yang dapat kita lakukan selama pandemi COVID-19 ini. Jangan lupa tetap selalu jaga keselamatan dan patuhi protokol kesehatan yang sudah ada.

Berbagi Kehidupan Melalui Donor Darah

Ditulis oleh Graciella Stephanie Ganadhi, Content Writer Intern Project Child Indonesoa

Darah sering disebut sebagai sumber kehidupan. Darah mempunyai fungsi penting untuk mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh kita sehingga organ-organ tubuh kita bisa berfungsi dengan baik. Jika kelancaran aliran darah kita terganggu seperti dalam kasus hiperkoagulasi yang menyebabkan darah penderita terlalu mudah menggumpal sehingga mereka harus selalu meminum obat pengencer darah untuk memastikan kelancaran peredaran darah. Selain itu, ada penyakit kelainan hemofilia dimana penderita memiliki darah yang sulit membeku sehingga penderita sering membutuhkan transfusi darah jika mereka terluka dan mengeluarkan banyak darah. Tidak jarang para penderita penyakit darah ini memiliki pengalaman yang lebih sulit jika mereka memiliki penyakit lain seperti gagal ginjal dan diabetes dikarenakan gangguan pada darah mereka yang mempersulit proses operasi ataupun perawatan.

Melihat pentingnya fungsi darah dalam hal kesehatan, tentu penanganan sumbangan darah tidak boleh sembarangan. Di Indonesia, Palang Merah Indonesia (PMI) adalah penanggung jawab utama dalam hal pendistribusian sumbangan darah dan tentunya memastikan keamanan kantong-kantong sumbangan darah yang didistribusikan. PMI bertanggung jawab untuk menyediakan kantong darah ke rumah-rumah sakit untuk digunakan dalam proses operasi atau penanganan pasien. Sayangnya, selama masa pandemi COVID-19, PMI mengalami kesulitan untuk mengumpulkan sumbangan darah karena adanya pembatasan sosial. Sebagian besar pendonor memilih untuk tidak mendonorkan darahnya selama masa pandemi karena adanya himbauan untuk tidak mengunjungi pelayanan kesehatan jika tidak ada kebutuhan mendesak.

Untungnya, PMI memiliki inisiasi bernama PMI Mobile yang bertujuan untuk memudahkan para pendonor untuk mendonorkan darahnya. Tidak perlu khawatir harus keluar rumah dan terpapar resiko tinggi tertular COVID-19, para pendonor cukup mendaftarkan diri ke PMI lalu PMI akan mengumpulkan pendonor di satu daerah, tentunya dengan mengindahkan peraturan penjarakan fisik dan larangan berkumpul dengan 10 orang atau lebih. Informasi lebih lanjut bisa diakses melalui http://ayodonor.pmi.or.id/mobilemu.php

Jadi, tunggu apa lagi? Kalau kamu memenuhi syarat untuk mendonorkan darah, yuk langsung saja menyumbang! Sumbangan darahmu bisa berkontribusi penting bagi hidup orang lain lho! Kalau mencatut dari laman PMI, katanya nih: Give Blood, Give Life. Yuk!

Referensi:

HARDIKNAS: Saatnya Melawan Diri

Ditulis oleh Graciella Stephanie Ganadhi, Penulis Konten Project Child Indonesia

Pada 3 Juli 1922, tiga tahun setelah kembali ke tanah air dari pengasingannya di Belanda, Ki Hajar Dewantara mendirikan “National Onderwijs Institut Tamansiswa” (Sekolah Taman Siswa) di Yogyakarta. Sekolah ini merupakan sumbangsihnya terhadap pendidikan muda-mudi tanah air yang kala itu dibatasi oleh pemerintah Hindia Belanda untuk menuntut ilmu. Kala itu, orang yang berhak bersekolah hanyalah kalangan ningrat, orang peranakan, dan anak priyayi. Filosofinya yang paling dikenang dan dihidupi hingga sekarang adalah “Patrap Triloka” yang berbunyi: “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani (Di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan).” Menurutnya, semua orang, terlepas dari latar belakang dan kemampuan ekonominya, berhak untuk mengenyam pendidikan yang dapat berperan dalam perbaikan hidupnya.

Setiap tahunnya, tanggal 2 Mei selalu diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional yang bertepatan dengan hari kelahiran Ki Hajar Dewantara. Sebagai muda-mudi Indonesia di jaman sekarang, semangat kita seharusnya sepadan dengan semangat yang dimiliki Ki Hajar Dewantara. Bapak Pendidikan kita di masa mudanya telah berjuang melawan pemerintah Hindia Belanda demi mewujudkan kesetaraan pendidikan bagi seluruh rakyat. Pada jaman sekarang, yang merupakan lawan kita mungkin bukan pemerintah Hindia Belanda, melainkan kemalasan kita sendiri yang dengan mudah bisa kita lawan. Sebelum adanya keputusan untuk pembelajaran daring, banyak dari kita yang acapkali mengeluh dan menyuarakan keinginan untuk belajar dari rumah karena kita sudah terlalu bergantung pada internet untuk segala kebutuhan kita. Namun, nyatanya, setelah diputuskan untuk melaksanakan pembelajaran melalui daring, banyak dari kita yang protes karena kesulitan. Memang, seperti yang dirasakan oleh Ki Hajar Dewantara, perubahan itu pasti menyulitkan, apalagi dengan banyaknya dari kita yang mungkin masih kurang paham tentang penggunaan pembelajaran daring. Tetapi, janganlah biarkan penghalang kecil bernama keengganan belajar dan kemalasan ini menghalangi langkah kita untuk menuntut ilmu. Jangan sia-siakan perjuangan Ki Hajar Dewantara yang berjuang untuk kesetaraan pendidikan kita semua. Ujian kita lebih mudah, jadi marilah kita sebagai muda-mudi Indonesia terus berjuang mengalahkan ego kita sendiri demi masa depan kita yang lebih cerah!

Referensi:

  • https://id.wikipedia.org/wiki/Sekolah_Taman_Siswa
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Hadjar_Dewantara
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Pendidikan_Nasional

COVID-19: Aku Bisa Bantu Apa Sih?

Ditulis oleh Graciella Stephanie Ganadhi. Content Writer Project Child Indonesia

Kalau ada yang menyebut frasa “tenaga medis”, apa sih hal yang langsung muncul di otak kalian? Dokter atau suster? Seringnya, kita berpikiran kalau dokter itu jasanya yang paling besar dalam penanganan COVID-19 terus kita lupa deh kalau ada banyak suster dan bidan yang juga bekerja keras dan mempertaruhkan nyawa untuk membantu pemerintah dalam penanganan pandemi ini.

World Health Day yang diselenggarakan oleh World Health Organization (WHO) tahun ini mengusung tema: dukung suster dan bidan. Lah, terus, apa hubungannya sama kita yang cuma masyarakat awam? Kan, kita juga ga bisa ngapa-ngapain? Hmm, sebenarnya itu adalah cara pikir yang salah kaprah, teman-teman. Banyak cara, loh, untuk kita membantu para tenaga medis yang sedang berjuang menangani pasien yang terjangkit coronavirus:

  • Cuci tangan, cuci, tangan, cuci tangan! Usahakan tangan kalian selalu bersih. Ada kemungkinan besar tangan kalian menjadi sumber berkumpulnya virus dan bakteri.
  • Jangan menyentuh area muka, terutama mata, hidung, dan mulut! Coronavirus menyebar lewat droplet atau cairan. Area mata, hidung, dan mulut menjadi area rentan masuknya virus.
  • Selalu pakai masker! Jika kalian harus berpergian keluar, gunakan masker yang menutupi hidung dan mulut. Kalau kalian memakai masker kain, pastikan masker dicuci dan didesinfektan setelah 4 jam digunakan. Jangan pernah memakai masker N95 yang sangat diperlukan oleh para tenaga medis. Kalian ga perlu lebay, tenaga medis lebih butuh daripada kita yang tidak kontak langsung dengan pasien positif corona.
  • Mandi dan rendam pakaian yang kalian pakai keluar rumah menggunakan cairan desinfektan!
  • #dirumahaja! Kalau tidak benar-benar mendesak, mending kalian di rumah aja. Selain lebih aman, kalian juga mengurangi resiko terinfeksi dan menginfeksi.
  • Ikuti anjuran pemerintah yuk! Anjuran yang dikeluarkan pemerintah itu bukan asal ngomong, teman-teman. Pemerintah juga ingin pandemi ini segera selesai sehingga semua aktivitas bisa kembali lancar seperti biasa. 

Sebenarnya, membantu tenaga medis dalam situasi seperti sekarang ini tuh mudah banget kok. Kalau kalian tetap sehat, kalian sudah meringankan pekerjaan mereka dan mengurangi resiko pekerjaan mereka. Jadi, kesehatan kalian itu udah lebih dari cukup kok, teman-teman. Yuk, semuanya tetap sehat, ya!

References:

  • https://www.who.int/news-room/campaigns/world-health-day/world-health-day-2020

Jangan-Jangan Aku Kena COVID-19?

Ditulis oleh Graciella Stephanie Ganadhi, Content Writer Project Child Indonesia

Akhir-akhir ini apa kalian pernah merasa parno tiba-tiba tenggorokan mulai sakit, agak demam, terus dada juga mulai sesak sehabis kalian nonton berita tentang COVID-19? Lalu kalian jadi bertanya-tanya, jangan-jangan aku kena COVID-19? Hm, kemungkinannya sih sebenernya kecil banget, hampir ngga mungkin malah. Kalo kalian habis jalan-jalan ke luar negeri atau ketemu sama penderita COVID-19 sih, mungkin aja kalian kena COVID-19, tapi kalo kalian udah social distancing dan tiba-tiba kalian merasa sakit, mungkin aja itu cuma gejala psikosomatik dari otak kalian, guys!

Jadi, otak kita ini punya bagian yang namanya amigdala. Nah, amigdala ini apa sih? Basically, amigdala itu punya fungsi macam-macam, guys. Salah satunya adalah mengatur rasa takutmu. Nonton berita dalam jangka waktu yang cukup lama, terutama berita yang bikin takut kaya berita COVID-19 akhir-akhir ini bikin otak kalian, terutama sistem saraf otonom, terus-terusan berada di posisi fight atau flight sehingga kalian jadi stres. Stres kalian inilah yang menyebabkan ketidakseimbangan antara sistem saraf simpatetik dan parasimpatetik sehingga muncul reaksi psikosomatik yang mirip gejala COVID-19.

Stres berlebih itu sebenarnya merugikan, lho. Sebuah penelitian oleh André Bovis dan André Simoneton di 1949 menunjukkan bahwa stres dapat menyebabkan penurunan frekuensi tubuh. Jadi, semua benda di alam semesta ini bergetar dan memiliki frekuensi, mulai dari sel sampai atom. Orang yang sehat seharusnya punya frekuensi antara 7000 hingga 8000 uB (unit Bovis). Kalo seseorang punya frekuensi yang kurang dari 1000 uB, artinya orang tersebut sudah mendekati kematian. Orang yang sakit parah bakal punya frekuensi antara 2000 hingga 3000 uB, sedangkan orang yang sakit dan stres bakal punya frekuensi dibawah 5000 uB. Nah, ketakutan atau kecemasan berlebih dapat menyebabkan turunnya frekuensi tubuh menjadi dibawah 5000 uB dan ini bisa jadi bahaya untuk kita. Studi menunjukkan virus juga punya frekuensi sekitar 5000 uB. Artinya, jika frekuensi tubuh kalian berada dibawah 5000 uB seperti saat kalian stres, virus akan mengira bahwa tubuh kalian adalah “rumah” karena frekuensi yang mirip. Jadi ketika kalian stres, virus bakalan lebih mudah masuk dan bikin kalian sakit.

Sebaiknya, jangan khawatir dan stres berlebihan tentang berita, guys. “Sadar bukan cemas, siap bukan panik” harusnya jadi moto kalian dalam menghadapi situasi sekarang ini. Tetep nonton berita, yah! Tapi gausah dibawa stres. Saat kaya gini penting untuk melek berita, tapi juga kesehatan harus tetap jadi nomor satu. Tonton berita secukupnya, kalo perlu, jam nonton berita itu udah kalian jadwal. Jangan seharian mantengin berita. Habis nonton berita, kalian bisa ngegame atau olahraga ringan atau meditasi buat meredakan stres juga bisa banget, lho. Yuk, batasi nonton berita yang bikin stres dan tetap mengutamakan kesehatan ya!

Referensi:

  • http://www.lamartinablanca.com/Unidades_Bovis.html
  • https://whitemagicway.com/bovisbiometer.html
  • https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200323131032-255-486024/cegah-corona-jadi-jadian-akibat-stres-dan-cemas-berlebih
  • https://twitter.com/mbahndi/status/1241556884261224449?s=08

#CeritaVolunteer : Nadhia, Volunteer Sekolah Sungai Batch #29

Oleh : Nadhia Dheany, Volunteer Sekolah Sungai Batch #29

Halo! Aku Nadhia Dheany, aku merupakan salah volunteer #Batch29 di Project Child Indonesia. Aku mengambil Program Sekolah Sungai yang bertepatan di Sungai Gajahwong Yogyakarta. Yang membuat aku tertarik untuk mengikuti kegiatan volunteer di Sekolah Sungai karena selain untuk mengisi waktu aku juga ingin mencari kegiatan baru dan mendapatkan pengalaman baru.

Program volunteer #Batch29 ini dimulai dari sekitaran bulan Juli 2019 dimana waktu itu aku dan teman teman lain yang akan menjadi volunteer diberikan training terlebih dahulu. Dan pada training ini aku mendapatkan pelajaran baru, yaitu tentang pedagogi untuk pertama kalinya. Dari training ini pula aku tau kalau kedepannya aku akan dihadapkan dengan hal – hal yang baru yang belum pernah aku dapatkan sebelumnya. Dan pada hari itu juga itu adalah kali pertama aku bertemu teman – teman yang sangat ramah, baik dan juga aktif sehingga dari sinilah terlihat juga kalau orang-orangnya bisa diajak untuk bekerjasama dengan baik. 

Untuk kegiatan dari sekolah sungai pun juga tidak terlalu menyita waktu, untuk sekolah sungai di Gajahwong diadakan setiap hari selasa dari jam 15.00 – 17.00 WIB . Hal yang paling seru itu ketika jemput adik – adik kerumah mereka dan melihat adik adik yang semangat untuk bermain dan juga belajar bersama dengan para kaka – kaka volunteer

Dan untuk kegiatan setiap minggunya sebagai volunteer juga tidak hanya pergi ke sekolah sungai setiap hari selasa aja tapi juga di Project Child Indonesia juga ada kegiatan study club di setiap minggunya dimana setiap minggunya topiknya juga berbeda – beda dan itu yang bikin aku tambah senang menjadi volunteer di Project Child, karna dari study club ini aku juga mendapatkan ilmu – ilmu baru setiap minggu nya. Dan disini aku juga merasa menjadi volunteer itu tidak hanya membagi kebaikan dengan orang lain saja tetapi juga memberi kebaikan bagi diri kita sendiri dan membuat aku menjadi manusia yang lebih berkembang dari sebelumnya.

Terorisme dan Anak-anak

Oleh : Akbar Mohammad Arief, S.I.P., M.Si.
Alumni Program studi Kajian Terorisme Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia


Generasi muda khususnya anak-anak merupakan generasi penerus masa depan dunia ini, maka dari itu kita semua sebagai warga dunia memiliki peranan penting untuk melindungi masa depan dari anak-anak ini. Pada Konvensi Hak Hak Anak tahun 1989 yang diberlakukan oleh PBB dan diratifikasi oleh seluruh negara anggota PBB, konvensi ini mendefinisikan hak-hak anak untuk mendapatkan pendidikan, makanan, perlindungan dari bahaya dan jaminan kesehatan. Selain itu, konvensi ini juga mengatur kewajiban negara negara untuk melindungi anak- anak yang menjadi warga negara mereka dari perekrutan menjadi tentara anak-anak dan buruh dibawah umur (United Nations, 2020).

Dunia pada masa sekarang ini menghadapi ancaman dari aksi terorisme yang dilakukan oleh berbagai kelompok- kelompok teror di dunia. Tercatat bahwa rata rata 21,000 orang di dunia kehilangan nyawanya sebagai akibat dari serangan teror, dan terdapat peningkatan jumlah kematian akibat serangan teror yang signifikan pada rentang waktu 2010-2014, dimana 7,827 jiwa meregang nyawa akibat serangan teror pada tahun 2010 dan 44,490 orang kehilangan nyawanya akibat serangan teror di tahun 2014 (Ritchie, Hasell, Appel, & Roser, 2019). Aksi terorisme ini juga mengancam keamanan hidup anak-anak serta juga mengancam proses pemikiran anak-anak, anak-anak dapat menjadi korban serangan teror yang terjadi di berbagai belahan dunia, selain itu anak-anak juga berpotensi terpapar narasi-narasi kebencian dan ideologi ekstremis.

Aksi terorisme merupakan sikap ekstremisme dengan kekerasan yang dibentuk dan tumbuh dari suatu proses yang disebut dengan radikalisme.

Definisi radikalisme pada studi mengenai terorisme adalah sebuah proses mengubah pemikiran atau pemahaman seorang individu dalam tahap tahap menuju ekstremisme yang biasanya berujung pada aksi teror, radikalisme dapat tumbuh dan berkembang dari pemahaman yang salah dan cenderung fanatik akan sebuah ideologi Radikalisme dan ekstremisme yang menggunakan kekerasan mengancam kelangsungan hidup anak-anak di seluruh dunia, sejak usia dini anak-anak di berbagai belahan dunia memiliki potensi untuk terpapar radikalisme dan melakukan aksi teror. Salah satu faktor yang membuat proses radikalisme dan ekstremisme berkembang pesat adalah narasi-narasi kebencian, anak-anak di seluruh penjuru dunia saat ini terancam paparan segala bentuk narasi kebencian yang mereka dapatkan dari berbagai sumber seperti internet, lingkaran pergaulan hingga keluarga mereka sendiri (Chamidi, 2019).

Meskipun keterlibatan anak-anak pada aksi teror kerap menjadi perdebatan antara pendefinisian anak-anak tersebut sebagai korban maupun pelaku, namun tidak dapat dipungkiri bahwa anak-anak juga merupakan salah satu faktor yang harus dipertimbangkan dalam mengatasi ekstremisme dengan kekerasan dan melawan aksi terorisme secara umum. Sebagai contoh, seorang warga Inggris yang bernama Shamima Begum meninggalkan rumahnya pada umur 15 tahun untuk berangkat ke Suriah dan bergabung dengan ISIS (Jorgensen, 2019). Shamima kemungkinan besar nekat untuk meninggalkan rumahnya dan berangkat ke Suriah setelah terpapar propaganda-propaganda ISIS yang berisi narasi kebencian terhadap musuh-musuh mereka dan janji-janji ISIS akan kehidupan yang lebih baik dan surga bagi para pengikut ISIS di akhirat kelak.

Selain Shamima, masih banyak anak-anak di dunia ini yang menjadi teroris atas dasar motivasi apapun, baik melalui keinginan sendiri maupun paksaan. Dalam skema perekrutan teroris, anak-anak sampai usia 18 tahun memiliki berbagai motivasi seperti: Pencarian jatidiri melalui identitas kelompok, faktor ideologi yang ditawarkan oleh kelompok teror, narasi mengenai ancaman dan kebencian terhadap golongan lain di luar golongan dari anak tersebut, kemungkinan untuk mendapatkan ketenaran dan rasa hormat dari lingkungannya, perekrutan melalui koneksi pribadi seperti keluarga maupun teman sebaya (Darden, 2019).

Perekrutan kelompok teror terhadap anak-anak juga dapat terjadi melalui paksaan. Pada tahun 1987 sebuah organisasi teror bernama Lord Resistance’s Army (LRA) di Uganda kerap menculik, mengintimidasi dan mempersenjatai anak-anak, tercatat sebanyak 20,000 anak di Uganda menjadi tentara/teroris anak dengan paksaan pada saat itu. Pada saat ini, ISIS tercatat telah menculik ribuan anak-anak dari berbagai daerah kekuasaannya pada masa pendudukan ISIS untuk dijadikan teroris anak (Darden, 2019). Selain karena penculikan, terdapat pula anak-anak yang dengan sukarela bergabung dengan ISIS karena pengaruh dan dukungan dari kedua orang tuanya untuk menjadi seorang kombatan.

Penculikan dan perekrutan anak secara paksa untuk menjadi tentara/teroris anak merupakan salah satu bentuk eksploitasi yang dilakukan oleh kelompok teror, bentuk eksploitasi lainnya terhadap anak, terutama anak perempuan adalah pelacuran anak, perbudakan seks anak dan pernikahan paksa antara anak-anak dan anggota kelompok teror. Seperti pada kasus Shamima, meskipun ia berangkat ke Suriah atas keinginannya, namun ia juga dapat disebut telah mengalami eksploitasi karena tidak ada bukti konkrit apakah Shamima menjadi seorang pengantin di bawah umur bagi seorang anggota ISIS berdasarkan kemauannya atau atas dasar paksaan (Jorgensen, 2019).

Dalam upaya melindungi anak-anak dari pengaruh narasi kebencian dan pemaksaan anak-anak untuk menjadi anggota kelompok teror merupakan tugas semua kalangan yang bertanggung jawab pada kehidupan anak, mulai dari lingkungan keluarga hingga negara tempat kewarganegaraan anak tersebut. Narasi kebencian dapat dilawan dengan upaya-upaya kontra narasi, yang dilakukan dengan mendidik orang tua anak untuk selalu menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dan anti ekstremisme pada anak-anak sedari usia dini, terutama dari segi pengamalan ilmu ilmu agama dan juga nilai nilai mengenai keberagaman di dunia ini.

Perlindungan bagi pemaksaan anak-anak untuk menjadi kelompok teror juga dapat dilakukan oleh negara atau aktor terkait lainnya yang memiliki kapasitas untuk melindungi anak-anak di medan perang dari kelompok-kelompok teror. Dalam kasus Indonesia institusi pendidikan dan organisasi keagamaan seperti MUI, NU dan Muhammadiyah dapat berperan untuk melakukan pencegahan awal terhadap eksploitasi anak yang dilakukan oleh kelompok teror, dengan melakukan pemantauan pada anak-anak yang tergabung dalam institusi-institusi pendidikan mereka, dan apabila diperlukan sebuah tindak lanjut, dapat diteruskan kepada instansi terkait untuk penanganan lebih lanjut.

Meskipun banyak cara untuk melindungi anak-anak dari bahaya radikalisme/ekstremisme dan terorisme, persebaran informasi yang begitu bebas di internet dan interaksi tanpa batas yang diberikan oleh media sosial tetap menjadi ancaman terbesar dalam menyeret anak-anak pada spektrum radikalisme dan ekstremisme. Maka dari itu dalam penanganannya pemerintah selaku aktor yang paling berkuasa dalam persebaran informasi di sebuah negara harus dengan sigap menjaga persebaran informasi yang terdapat di internet, dan melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah segala jenis narasi kebencian dan sosialisasi yang dapat berujung pada radikalisasi dan eksploitasi kelompok teror terhadap anak.

Mengingat anak-anak adalah masa depan bagi dunia ini, maka diperlukan kesadaran dan tindakan nyata untuk dapat melindungi anak-anak dari bahaya-bahaya yang diakibatkan oleh narasi kebencian yang dapat berujung pada radikalisme dan ekstremisme. Tugas ini tidak hanya merupakan tugas suatu instansi tertentu, namun sudah menjadi tanggung jawab seluruh warga dunia untuk ikut berkontribusi melindungi anak-anak dari pengaruh-pengaruh berbahaya yang disebarkan oleh aktor-aktor yang tidak bertanggung jawab.


Referensi :

  • Chamidi. (2019, 12 22). Kunjungan rumah program deradikalisasi LSM ACCEPT International. (A. Arief, Interviewer)
  • Darden, J. T. (2019). Tackling Terrorists’ Exploitation of Youth. United States of America: American Enterprise Institute.
  • Jorgensen, N. (2019, June 30). Children associated with terrorist groups in the context of the legal framework for child soldiers. Retrieved from Questions of International Law: http://www.qil-qdi.org/children-associated-with-terrorist-groups-in-the-context-of-the-legal-framework-for-child-soldiers/#_ftn1
  • Ritchie, H., Hasell, J., Appel, C., & Roser, M. (2019, July). Terrorism. Retrieved from Our World in Data: https://ourworldindata.org/terrorism#how-many-people-are-killed-by-terrorists-worldwide
  • United Nations. (2020, January 4). Global Issues, Children. Retrieved from United Nations: https://www.un.org/en/sections/issues-depth/children/index.html

Standardisasi Kualitas Air Menurut Dinas Kesehatan dan Dinas Lingkungan Hidup

Ditulis oleh Sekar Ningtyas Kinasih, Content Writer
Project Child Indonesia


Kompleksitas permasalahan sumber air bersih di Yogyakarta masih memerlukan upaya lebih lanjut yang ditujukan kepada pemerintah daerah, masyarakat maupun kelompok tertentu yang terlibat dengan pembangunan proyek pemerintah. Diungkapkan oleh salah satu peneliti senior dari Pusat Penelitian Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan (LIPI) tahun 2016 bahwa maraknya pembangunan hotel dan apartemen, minimnya lahan konservasi, perubahan tata guna lahan pertanian menjadi non-pertanian merupakan perkara utama krisis air kota Yogyakarta. Adapun unsur-unsur lain yang mempertajam penurunan kualitas pada air bersih seperti limbah rumah tangga, limbah industri hingga tingginya konsumsi air secara berlebihan. 

Kesadaran akan air sebagai materi esensial pada keberlangsungan hidup manusia menjadi dasar utama penerapan Drinking Water Program yang dilakukan sejak tahun 2016 ke beberapa sekolah oleh Project Child Indonesia– sekaligus bukti nyata terhadap dukungan implementasi Sustainable Development Goals (SDG) nomor 6, yakni menjamin ketersediaan air bersih dan sanitasi layak secara universal pada setiap lapisan masyarakat di tahun 2030. Pada tanggal 10 Juli 2019, PCI kembali mengadakan sosialisasi Drinking Water Program bersama 5 sekolah mitra baru yaitu SD Cokrokusuman, SD Sayidan, SD Karangmulyo, SD Ngupasan dan SD Wirosaban yang juga dihadiri 22 perwakilan sekolah mitra lainnya maupun 3 perwakilan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta. 

Tak hanya mempromosikan bagaimana DWP meningkatkan keterjangkauan akses air minum yang cukup terhadap anak-anak sekolah, di kesempatan yang sama para fasilitator seminar juga memberikan penyuluhan standardisasi kualitas air menurut Dinas Kesehatan dan Dinas Lingkungan Hidup melalui 3 parameter utama sebagai berikut:

Syarat Fisika
Air berkualitas perlu memenuhi beberapa syarat fisika seperti:

  • Jernih alias tidak keruh – umumnya disebabkan oleh butiran koloid tanah liat.
  • Tidak berwarna dan tidak mengandung bahan-bahan berbahaya pada kesehatan.
  • Tawar – apabila secara fisik air memiliki rasa asin, manis atau pahit, dapat diartikan bahwa air tidak layak konsumsi.
  • Tidak berbau – kondisi air yang bau mengindikasikan adanya penguraian bahan organik oleh mikroorganisme air.
  • Suhu normal – memastikan suhu air tidak panas yang kerap disebabkan oleh pelarutan zat kimia pada saluran pipa dan berujung pada resiko kesehatan. 
  • Nilai kandungan Total Dissolve Solid atau disingkat TDS (zat padat) tidak melebihi 1000 untuk air bersih dan 100 untuk air minum.

Syarat Kimiawi
Ada pula beberapa syarat kimiawi yang perlu diperhatikan yakni:

  • pH (derajat keasaman) – tingkat keasaman pada air umumnya dikarenakan adanya pelarutan gas oksida (karbon dioksida), sehingga disyaratkan kandungan pH mencapai 6 hingga 8 agar senyawa kimia tidak berubah menjadi racun yang mengganggu kesehatan.
  • Besi (Fe) – kondisi air yang memiliki kandungan besi lebih dari 0,1 mg dapat dicirikan dengan warna air yang cenderung kuning dan rasa khas seperti logam. Hal ini dapat beresiko pada gangguan dalam tubuh.
  • Kesadahan – kesadahan ditimbulkan oleh adanya kandungan sulfat dan karbonat , klorida dan nitrat dari magnesium, kalsium,  besi dan aluminium. Tingkat kesadahan dalam air dipastikan tidak melebihi 500 mg/l karena dapat menimbulkan terbentuknya lapisan kerak putih pada alat dapur, korosifitas pada pipa air hingga kondisi perut mual.
  • Nitrat dan Nitrit – pencemaran kedua zat ini bersumber dari tanah maupun tanaman, yang apabila terkandung pada air dalam jumlah berlebihan akan menghalangi aliran oksigen di dalam tubuh.
  • Timbal (Pb) – pencemaran air dapat ditimbulkan oleh logam timbal (Pb) yang kemudian memicu resiko gangguan ginjal, hati, otak hingga kematian sehingga patut untuk dihindari.

Syarat Mikrobiologi
Memastikan air minum tidak terkontaminasi oleh bakteri E.coli (Escherichia Coli) yang merupakan bakteri patogen penyebab gangguan pencernaan seperti diare dan muntaber. Beberapa Coliform lain yang patut dihindari adalah Salmonella Typhi yang memicu terjadinya demam typoid (tifus). Bila bakteri ini masuk melalui mulut dan tersebar di dalam tubuh, hal ini dapat berujung pada gangguan pencernaan yang ditandai dengan gejala seperti demam, sakit kepala, sakit perut dan penurunan nafsu makan.


Melaksanakan uji kelayakan air bersih sesuai standardisasi yang telah ditetapkan oleh pihak Dinas Kesehatan dan Dinas Lingkungan Hidup sangatlah penting, guna menjamin bahwa setiap lapisan masyarakat berhak memperoleh air bersih sebagai pemenuhan kebutuhan hidup dan terbebas dari ancaman kesehatan. Implementasi DWP merupakan salah satu komitmen yang diharapkan dapat menjadi sarana terpenuhinya tujuan-tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG) disertai dengan tumbuhnya kesadaran masyarakat dalam pengambilan langkah preventif pada pencemaran air dalam kehidupan sehari-hari seperti pengurangan pemakaian deterjen, menghindari pembuangan sampah ke sungai, tidak mengeksploitasi sumber mata air, mengoptimalkan pelaksanaan rehabilitasi lahan kritis sebagai konservasi air bawah tanah hingga penggunaan air secara wajar (tidak berlebihan).


Sumber :

Kesukarelawanan Anak Muda untuk Meraih Tujuan-Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)

Kita tidak bisa selalu membangun masa depan untuk para pemuda kita, tapi kita bisa membangun para pemuda kita untuk masa depan

Franklin D. Roosevelt

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), ada 1.8 miliar orang yang berumur 10-24 tahun di dunia, yang bisa dikatakan sebagai generasi terbesar anak muda dalam sejarah. Oleh karena itu, peran anak-anak muda dalam mengadvokasi dan mengeksekusi perubahan sangat krusial, terutama dengan melihat peran mereka sebagai agen perubahan untuk masa depan. Dalam menanggapi fenomena ini, PBB telah menekankan dan mendorong partisipasi aktif para pemuda untuk berkontribusi dalam mempercepat meraih Tujuan-Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Di banyak negara, terutama negara-negara yang sedang berkembang dan kurang berkembang, banyak pemuda yang mengalami beberapa masalah besar terkait dengan SDGs, seperti kurangnya akses pada pendidikan, layanan kesehatan, dan pekerjaan, yang pada akhirnya akan membuat lebih banyak masalah sosio-ekonomi struktural di masa yang akan datang. Tentu saja, salah satu cara yang relatif terbaik dan termudah untuk mendorong keterlibatan mereka dalam menyelesaikan masalah-masalah tersebut, adalah melalui aktivitas-aktivitas kesukarelawanan.

Kesukarelawanan, yang biasanya dieksekusi melalui lembaga-lembaga non-profit, telah secara signifikan memberi berbagai dampak positif terhadap pemangku-pemangku kepentingan yang terlibat, seperti organisasi-organisasi non-profit itu sendiri, serta para pemuda dan komunitas-komunitas yang terlibat. Lembaga-lembaga non-profit dapat diuntungkan melalui meluasnya misi-misinya, meningkatnya dukungan publik, dan munculnya para pendukung dan relawan baru. Sementara itu, para anak muda dapat diuntungkan dalam hal peningkatan pengembangan diri mereka, yang mencakup rasa tanggung jawab, empati, kepercayaan diri, kemampuan-kemampuan sosial yang baru, meningkatnya kesehatan fisik dan mental, dan perkembangan-perkembangan psikologis dan intelektual yang lainnya. PBB sendiri sudah mengakui grup-grup relawan sebagai salah satu pemangku kepentingan untuk mencapai “Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan”, yang juga sangat bisa membantu perkembangan perencanaan nasional dan implementasinya.

Dapat dilihat bahwa kesukarelawanan adalah salah satu alat pemacu berjalannya pembangunan berkelanjutan, dan sangat direkomendasikan bagi semua komunitas untuk ikut terlibat. Meskipun demikian, terlepas dari manfaat-manfaat dari kesukarelawanan anak muda yang sudah disebutkan sebelumnya, banyak anak muda yang sayangnya masih belum memiliki dorongan yang cukup untuk melakukan aktivitas-aktivitas kerelawanan, yang dapat disebabkan oleh kurangnya informasi, waktu, ketertarikan, dan sebagainya. Terlepas dari masalah-masalah tersebut yang harus diperhitungkan, kesukarelawanan tentunya akan memberi banyak keuntungan untuk para pemuda dan komunitas-komunitas grassroot yang terlibat, terutama dalam usaha meraih SDGs. Terlepas dari pentingnya dan efektifnya kesukarelawanan, aktivitas ini tidak dimasukkan dalam agenda Tujuan-Tujuan Pembangunan Milenial (MDGs) waktu itu. Pentingnya dan efektifnya kesukarelawanan juga dapat dibuktikan dengan fakta bahwa negara-negara yang memiliki jumlah relawan yang banyak cenderung lebih giat dalam memelihara kondisi sosial dan ekonominya, menurut sebuah statistik dari The International Forum for Volunteering in Development. Banyak aspek dari kemiskinan yang juga dapat secara perlahan diselesaikan melalui aktivitas kesukarelawanan, seperti aspek pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan lingkungan tempat tinggal, yang mana merupakan objektif-objektif utama dari implementasi SDGs.

Jangan tunggu lagi, mari menjadi seorang relawan untuk meraih SDGs bersama-sama!