Perempuan dan Pendidikan

Ditulis oleh Vina Dina, Content Writer Intern Project Child Indonesia

Di Indonesia, perbedaan kedudukan dan pembagian tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan masih banyak berkembang di masyarakat karena faktor budaya dan kepercayaan. Sebagai contoh, anak perempuan dipandang lebih bertanggung jawab untuk mengurus urusan rumah tangga seperti menyiapkan makanan, mencuci, membersihkan rumah daripada laki-laki.

Konstruksi sosial yang membentuk pembedaan antara laki-laki dan perempuan pada kenyataannya mengakibatkan ketidakadilan terhadap perempuan. Pembedaan peran, status, wilayah dan sifat mengakibatkan perempuan tidak otonom. Perempuan tidak memiliki kebebasan untuk memilih dan membuat keputusan baik untuk pribadinya maupun lingkungan karena adanya pembedaan tersebut (Ainiyah, 2017).

Masyarakat memandang perempuan sebagai sosok yang lemah lembut dan memiliki peran ideal sebagai seorang istri dan ibu yang memiliki tanggung jawab untuk membesarkan anak, membersihkan rumah, mengurus dapur dan melayani suami. Bahkan di beberapa daerah, perempuan memiliki tiga tuntutan utama yang wajib dipenuhi yang dikenal dengan 3M, yaitu Masak (memasak), Mancak (berdandan), Manak (beranak/melahirkan anak). Namun, apakah perempuan ditakdirkan hanya untuk melakukan ketiga tugas tersebut? Apakah ketika mereka tidak menjalankan salah satu tuntutan tersebut, ia gagal menjadi seorang perempuan?

Jauh daripada itu, perempuan memiliki peran yang lebih penting dan lebih luas. Perempuan juga memiliki hak untuk dirinya sendiri dan memilih apa yang ingin mereka lakukan selagi tidak bertentangan dengan norma, hukum dan agama. Mereka berhak memutuskan apakah ia akan menikah, memiliki anak, karier apa yang akan mereka jalani, bahkan seberapa tinggi pendidikan yang akan mereka ambil.

Seiring dengan berkembangnya zaman, peran perempuan semakin berkembang dan tidak dibatasi. Dewasa ini, banyak perempuan mulai menyadari mereka berhak memilih dan mengambil keputusan untuk pribadinya maupun lingkungannya. Hal tersebut didukung dengan semakin berkembangnya paham feminisme dan terbentuknya lembaga-lembaga pemberdayaan perempuan.

Berbicara mengenai perempuan, salah satu sosok yang berjasa dalam memperjuangkan hak-hak kaum perempuan adalah R.A. Kartini. Beliau dikenal sebagai sosok emansipasi wanita yang memperjuangkan kebebasan, persamaan hukum dan pendidikan bagi perempuan.  R.A Kartini membuktikan bahwa perempuan bisa memiliki peran yang lebih besar bagi lingkungannya bahkan bagi bangsa dan negara. Perempuan memiliki hak untuk memutuskan pilihan-pilihan yang ada di hidupnya dan mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya.

Sayangnya, meskipun emansipasi wanita telah diperjuangkan oleh R.A. Kartini dan tetap digaungkan oleh banyak pihak, masih banyak stigma yang bermunculan ketika seorang perempuan mengambil keputusan yang tidak umum di masyarakat, seperti memiliki pendidikan dan/atau jabatan yang tinggi, menjadi pemimpin, memilih untuk tidak menikah dan memiliki anak, serta lain sebagainya. Oleh karena itu, perempuan membutuhkan lebih banyak keberanian untuk memperjuangkan hak dan pilihannya.

You educate a man; you educate a man. You educate a woman; you educate a generation.

-BrighamYoungs

“Untuk apa sekolah tinggi-tinggi, nanti ujung-ujungnya juga di dapur, mengurus anak dan rumah?” 

Pendapat tersebut masih sering sekali kita dengar bahkan sampai detik ini dan membuat sebagian perempuan ragu untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Padahal, pendidikan merupakan hak setiap warga negara, baik laki-laki maupun perempuan, tua atau muda, kaya atau miskin, semua berhak menuntut pendidikan sampai jenjang yang mereka inginkan. Meskipun nantinya seorang perempuan dengan tingkat pendidikan tinggi memilih menjadi ibu rumah tangga, namun ia dapat menjadi seorang ibu rumah tangga dengan wawasan yang lebih luas dan terbuka sehingga melahirkan anak yang cerdas.

Hal tersebut didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Winarti (2019) yang menunjukkan semakin tinggi tingkat pendidikan ibu, maka semakin baik pola pengasuhan yang diberikan kepada anak. Semakin baik pola asuh yang diberikan, maka akan semakin baik pula tingkat kecerdasan anak karena keluarga, terutama ibu, merupakan tempat belajar pertama yang anak miliki sebelum selanjutnya melanjutkan pendidikan ke sekolah formal.

Educate a woman, you educate her family. Educate a girl and you can change the future.

-Queen Rania of Jordan

Secara tidak langsung, dengan memperbesar kesempatan bagi perempuan untuk mendapatkan pendidikan tinggi, diharapkan dapat mencetak generasi-generasi selanjutnya yang lebih cerdas karena perempuan merupakan arsitek kecerdasan generasi selanjutnya. Selain itu, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka akan semakin besar pula kesempatan bagi mereka untuk mendapatkan pekerjaan dan jabatan yang lebih baik serta pendapatan yang lebih layak.

Terlepas dari persepsi masyarakat bahwa peran ideal perempuan adalah sebagai istri dan ibu, perempuan memiliki hak untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Tidak semua perempuan siap untuk hidup bersama membangun rumah tangga, dan tidak semua pasangan yang menikah siap untuk menjadi orang tua. Oleh karena itu, biarkan perempuan memilih apa yang terbaik menurutnya. Sebagai manusia, perempuan memiliki hak untuk mendapatkan kebahagiaan dalam hidup dan menjalani kehidupan sesuai keinginannya tanpa memikirkan stigma masyarakat terkait keputusannya.

Kita harus membuat sejarah. Kita mesti menentukan masa depan yang sesuai dengan keperluan sebagai seorang kaum perempuan dan harus mendapatkan pendidikan yang cukup seperti kaum laki-laki

-R.A. Kartini

Sudah saatnya kita menghapus persepsi bahwa perempuan hanya memiliki peran sebagai anak, kakak/adik, istri dan ibu. Lebih dari itu, perempuan berhak untuk mendapatkan pendidikan tinggi dan mewujudkan semua impiannya sehingga ia dapat menolong dirinya sendiri untuk kemudian mendidik anak-anaknya dan membantu mensejahterakan bangsa dan negara melalui ilmunya. Seperti yang dituliskan pada surat R.A. Kartini untuk Ny. Abendanon, “kami berikhtiar agar teguh sungguh, sehingga kami sanggup berdiri sendiri, menolong diri sendiri. Dan siapa yang dapat menolong dirinya sendiri, akan dapat menolong orang lain dengan lebih sempurna pula”. 

Sebagai sesama perempuan dan sesama manusia, kita bisa saling membantu satu sama lain untuk mendapatkan akses pendidikan yang lebih baik. Untuk membantu mendukung kemudahan akses dan fasilitas dalam pendidikan di masa pandemi Covid-19, Project Child Indonesia mengadakan program Online Learning Assistant (OLA). OLA merupakan program yang dibuat untuk membantu anak-anak komunitas Sekolah Sungai mendapatkan dan memahami materi sekolah dengan lebih baik lagi melalui tutor tambahan diluar jam sekolah baik secara offline maupun online. Kamu dapat berkontribusi dalam program tersebut dengan menjadi volunteer, partner atau supporters dan berdonasi pada laman kitabisa.com

We believe that everyone can do good, and this time is our job to fix the misunderstood opinion about women’s education and bring the brighter future.  

Sumber:

Ainiyah, Qurrotul. (2017) “Urgensi Pendidikan Perempuan Dalam Menghadapi Masyarakat Modern’, Halaqa: Islamic Education Journal

Nabila, F. S. dan Jakaria U. (2020) “Persepsi Masyarakat terhadap Pentingnya Pendidikan Tinggi untuk Kaum Perempuan (Studi Kasus di Desa Curah Dringu Kecamatan Tongas Kabupaten Probolinggo)”, AL-HIKMAH : Jurnal Pendidikan dan Pendidikan Agama Islam, 2(2), p-ISSN 2685-4139Winarti, W. (2019) “Hubungan Antara Tingkat Pendidikan Orang Tua dengan Orientasi Pola Asuh Anak Usia Dini (Studi di RA al Karimy Kec. Kutorejo Kab. Mojokerto)”, PROCEEDING: The Annual International Conference on Islamic Education, 4(1), pp. 261-270.

Volunteer dan Internship, Why Not?

Ditulis oleh Vina Dina, Content Writer Intern Project Child Indonesia

Pernahkah kalian bergabung menjadi volunteer saat kuliah? atau menjadi anak magang? Hmm, mungkin sebagian mahasiswa bertanya-tanya, kenapa harus menjadi volunteer? Apa sih pentingnya magang? Unpaid pula. Nanti juga setelah lulus juga kerja.

Okay, so, we will talk about those topics yang juga merupakan tema dari PCI Talks vol.2, College Experience: Volunteer and Internship, bersama dengan Kak Abie dan Kak Fajar yang merupakan “alumni” volunteer dan internship Project Child Indonesia. Singkat mengenai PCI Talks, PCI Talks merupakan program webinar yang diselenggaarakan oleh Departemen Partnership Project Child Indonesia dan disponsori oleh To My Doughter (TMD). PCI Talks vol. 2 yang dilaksanakan pada tanggal 26 Maret 2021 lalu, membahas mengenai pengalaman-pengalaman Kak Abie dan Kak Fajar saat menjadi volunter dan menjalani internship di Project Child Indonesia serta pentingnya pengalaman tersebut untuk dunia kerja yang tentunya bisa menjadi bahan pertimbangan untuk kita semua.

Mengapa harus menjadi volunteer?

Semua yang manusia lakukan, kecerdasan yang manusia miliki bisa digantikan oleh mesin, terkecuali empati.

-Abie Zaidannas Suhud

Mengapa harus menjadi volunteer? Jawabannya mungkin akan berbeda untuk setiap orang. Namun bagi Kak Abie dan Kak Fajar, dengan menjadi volunteer kita diajarkan untuk lebih berempati, solutif dan merupakan proses untuk dapat membantu orang lain sekaligus mengenal diri sendiri. 

Rasa empati sangat diperlukan untuk membangun hubungan sosial. Dengan empati, kita bisa ikut memahami dan merasakan apa yang orang lain rasakan sehingga kita bisa lebih tepat dalam memberikan masukan dan solusi. Ketika kita menjadi volunteer, besar peluang kita akan bertemu dengan orang-orang yang tidak mendapatkan privilege sebesar yang kita peroleh sehingga dapat memunculkan keinginan untuk berkontribusi membantu meringankan beban-beban yang mereka miliki seperti yang dirasakan oleh Kak Fajar. Keuntungan lain ketika menjadi volunteer adalah bertemu dengan berbagai macam karakteristik individu, baik yang berbeda agama, budaya, bahkan bahasa. Hal tersebut meningkatkan kemampuan kita untuk beradaptasi dengan orang baru dan menjadi lebih toleran.

Apakah wajib mengikuti kegiatan volunteer saat kuliah? Tentu tidak. Namun, menjadi volunteer bisa menjadi salah satu alternatif untuk menemukan apa yang kalian sukai, atau sebaliknya, kalian bisa menjadi volunteer karena hal-hal yang kita sukai. Sebagian dari kita mungkin senang bertemu dan bermain dengan anak-anak seperti Kak Abie dan juga memiliki ketertarikan pada pendidikan, sebagiannya lagi memiliki ketertarikan menjadi relawan untuk korban bencana alam seperti Kak Fajar, dan sebagian lainnya mungkin belum menemukan apa yang disukai, but it’s okay. Kita bisa mencoba banyak hal baru untuk memperluas zona nyaman kita bukan? Coba saja dulu, siapa tau kita temukan hal-hal menarik dan menyenangkan saat menjadi volunteer?

Selagi ada kesempatan dan kalian memiliki privilege untuk mengeksplor banyak hal, lakuin aja dulu. Karena saat menjadi volunteer, selain kalian membantu orang lain, kalian juga berproses untuk semakin mengenal diri sendiri.

-Septian Fajar

Apakah internship itu penting?

Penting atau tidaknya suatu kegiatan tergantung pada skala prioritas dari masing-masing individu. Internship atau magang bisa menjadi penting untuk sebagian mahasiswa karena ketika kita mengikuti kegiatan magang, maka kita akan mendapatkan pengalaman bekerja langsung dilapangan yang tidak bisa kita peroleh di kehidupan kampus. Ketika kita terjun langsung dilapangan, kita tidak jarang menemukan masalah-masalah yang harus segera diatasi dan dicari solusinya sehingga dapat meningkatkan kemampuan problem solving seseorang. 

Kemampuan tersebut sangat penting karena seperti yang Kak Fajar ceritakan dalam PCI Talks vol.2. Saat menjalani wawancara untuk melamar pekerjaan, pertanyaan yang ditanyakan bukan hanya pertanyaan umum seperti “kamu akan melihat dirimu 5 tahun lagi seperti apa”, akan tetapi lebih sering pertanyaan-pertanyaan mengenai problem solving. Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut, dibutuhkan pengalaman nyata yang setidaknya hampir mirip dengan masalah-masalah yang ditanyakan oleh perusahaan dan dapat kita peroleh ketika kita pernah terjun langsung dilapangan seperti saat menjadi volunteer atau internship di suatu organisasi atau perusahaan.

Selain itu, tidak menutup kemungkinan jika pekerjaan kita di masa depan akan sesuai dengan apa yg kita kerjakan saat menjalani internship, seperti yang dialami oleh Kak Sabrina, salah satu “alumni”  internship di PCI sekaligus audience di PCI TALKS vol. 2.

Sebagian perusahaan atau organisasi memang mengadakan program internship secara unpaid dan hal tersebut menjadi pertimbangan untuk beberapa orang. Tentu saja karena semua orang di dunia ini membutuhkan uang untuk bertahan hidup. Namun, adakalanya mendapatkan pengalaman lebih berharga dari pada mendapatkan gaji. 

The keys are earning, learning and networking. Learning dan networking akan mengarahkan kita ke earning.

-Abie Zaidannas Suhud

Seperti pesan dari Kak Abie, 3 hal yang paling penting untuk dipertimbangkan ketika memilih sesuatu adalah earning, learning dan networking. Namun learning dan networking akan mengarahkan kita pada earning di masa yang akan datang. Ketika kita mengikuti program internship, mungkin kita tidak akan mendapatkan sisi ‘earning’ apabila perusahaan atau organisasi yang kita pilih tidak memberikan fasilitas tersebut. Namun ‘learning’ dan ‘networking’ akan selalu bisa kita peroleh asal kita mau mengetuk pintu serta belajar dan menanyakan pertanyaan yang tepat. Kita mungkin tidak mendapatkan hasilnya secara langsung, tapi siapa yang tau apa yang akan terjadi di hari esok, bulan depan, atau 10 tahun lagi? The tree takes time to grow and bear fruit, isn’t it?.

Tak perlu tunggu hebat, untuk berani memulai apa yang kau impikan

-Terhebat, Coboy Junior

Beberapa dari kita mungkin ada yang merasa ragu untuk mencoba bergabung dalam kegiatan volunteer dan internship karena merasa tidak memiliki basic yang matang. Tapi, siapa orang yang tidak pernah merasa ragu di dunia ini? Just start today, mulailah melangkah melakukan sesuatu yang bisa mendekatkan kita ke impian kita karena kita tidak perlu menjadi sempurna saat memulai. Nikmati prosesnya serta belajar dari kesalahan dan lingkungan sekitar. Sejalan dengan apa yang diungkapkan Kak Abie, ketika kita masih muda, resiko yang kita dapatkan saat membuat kesalahan akan lebih sedikit. So, jangan takut untuk mencoba banyak hal yang kalian ingin coba!

Just do it! Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Mumpung masih ada kesempatannya. Bisa jadi, saat menjadi volunteer, kita bisa menemukan hal yang benar-benar kita nyaman dan sukai. Kita juga bisa mendapatkan kenalan baru, sahabat baru dan mungkin saja mereka yang kita temui saat volunteer dan internship adalah rekan kerja kita di masa yang akan datang seperti yang dialami oleh Kak Abie dan Kak Fajar. Selain itu, tidak menutup kemungkinan ketika kita menjadi volunteer dan intern, secara tidak langsung kita membantu orang-orang yg tidak seberuntung kita untuk mendapatkan sesuatu yang tidak mereka dapatkan sebelumnya, seperti pendidikan, kesehatan, rasa aman dan lainnya.

Just do good then you will get good. 

Untuk teman-teman yang memiliki ketertarikan terhadap bidang pendidikan dan senang bertemu dan berinteraksi dengan anak-anak, Project Child Indonesia bisa menjadi wadah yang tepat untuk memulai langkah baru. Project Child Indonesia membuka pendaftaran volunteer dan internship yang terbuka untuk seluruh Indonesia. Kalaupun internship dan volunter bukanlah hal yang teman-teman sukai namun ingin berkontribusi untuk membantu pendidikan anak-anak, kalian juga bisa mendonasikan sebagian uang saku kalian di kitabisa.com. Everyone can do good, no matter what you are interest in or how big the impact that you bring. The choice is yours.

Pandemi, Pendidikan, dan Teknologi

Ditulis oleh Vina Dina, Content Writer Intern di Project Child Indonesia

Pendidikan adalah proses memperoleh pengetahuan. Melalui pendidikan, baik di sekolah maupun diluar sekolah, anak akan mendapatkan pengetahuan mengenai hal-hal di sekitarnya dan diharapkan dapat mengubah dunia menjadi lebih baik lagi.  Menurut data Profil Anak Indonesia tahun 2018, Mayoritas anak usia 5-17 tahun berstatus masih bersekolah (83,62%). Sisanya sebesar 12,69% anak tidak/belum bersekolah dan 3,70% anak berstatus tidak bersekolah lagi. Jika dilihat menurut tipe daerah, persentase anak usia 5-17 tahun yang berstatus masih bersekolah di perkotaan lebih tinggi dibandingkan di pedesaan. Sebaliknya, persentase anak yang tidak bersekolah lagi di daerah perkotaan lebih kecil dibanding daerah perdesaan. Penyebab dari perbedaan persentase tersebut diakibatkan adanya perbedaan kemudahan akses pendidikan serta ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan.

Pandemi Covid-19 yang berlangsung semenjak awal tahun 2020 secara nyata menyebabkan banyak perubahan di berbagai sektor termasuk sektor pendidikan. Pada masa pandemi, pemerintah mengubah sistem pendidikan di Indonesia menjadi sistem pembelajaran jarak jauh dengan berbagai metode yang berkembang secara dinamis menyesuaikan kondisi pandemi. Salah satu dari metode tersebut yang juga merupakan metode yang paling umum digunakan adalah metode pembelajaran dalam jaringan (Daring). Dalam metode daring, sistem pembelajaran dilakukan sepenuhnya secara online, seperti penyampaian materi melalui video conference ataupun media online lain sehingga metode ini sangat bergantung pada jaringan online dan membutuhkan smartphone untuk dapat mengakses materi yang diberikan.

Sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia saat ini adalah Sistem Pendidikan Nasional, yaitu sistem yang pengelolaannya diselenggarakan secara sentralistik sehingga seluruh sistem dan kebijakan diatur oleh pemerintah pusat dan berlaku untuk nasional. Sistem Pendidikan Nasional didalamnya mengatur mengenai tujuan pendidikan, materi dan metode pembelajaran, tenaga kependidikan hingga untuk persyaratan kenaikan pangkat (Munirah, 2015 dalam Afifah, 2020). Oleh karena itu, perubahan sistem menjadi sistem pembelajaran jarak jauh akibat pandemi harus diterapkan oleh semua sekolah dan instansi perguruan tinggi yang ada di seluruh daerah di Indonesia.

Sistem pembelajaran jarak jauh dapat menjadi solusi belajar mengajar yang efektif dalam masa pandemi Covid-19 apabila setiap siswa dan pengajar memiliki ketersediaan akses terhadap jaringan internet dan smartphone atau personal computer (PC) lainnya serta menguasai cara penggunaan alat komunikasi dan aplikasi yang ada didalamnya. Akan tetapi, tidak semua pengajar dan siswa memiliki fasilitas tersebut sehingga dapat menghambat keberlangsungan proses belajar. Oleh karena itu, Project Child Indonesia menginisiasi program Online Learning Assistance untuk membantu anak-anak Sekolah Sungai, yaitu anak-anak di daerah bantaran Sungai Code, Sungai Winongo dan Sungai Gajahwong. Program Online Learning Assistance tersebut juga bekerja sama dengan PT. XL. Axiata Tbk. untuk memberikan bantuan kuota, serta sesi tutor secara online dan offline bersama dengan volunter agar anak-anak dapat lebih mudah memahami materi dan mengerjakan tugas mereka.

Selain itu, Project Child Indonesia juga membantu memfasilitasi belajar anak-anak Sekolah Sungai dalam proses belajar mengajar menggunakan Tablet PC yang dihibahkan oleh Kementerian Luar Negeri (KEMENLU) kepada Project Child Indonesia. Adanya bantuan hibah 35 Tablet PC oleh KEMENLU sangat membantu keberlangsungan dan kelancaran proses belajar mengajar anak-anak dan diharapkan dapat meningkatkan prestasi mereka karena berkurangnya hambatan untuk mengakses materi sekolah.

Perkembangan Pandemi Covid-19 yang sangat dinamis menuntut setiap manusia untuk juga dapat bergerak secara dinamis. Tidak menutup kemungkinan perubahan-perubahan di berbagai sistem yang terjadi untuk menyesuaikan keadaan pandemi akan tetap diterapkan meskipun pandemi telah berhasil diatasi. Keberhasilan suatu sistem tidak akan bisa dicapai oleh hanya satu manusia, namun hanya bisa diwujudkan bersama-sama sebagai satu kesatuan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk dapat saling mengulurkan tangan untuk membantu sesama sekecil apapun bantuan itu karena, everyone can do good.

Kamu juga bisa membantu meningkatkan fasilitas belajar anak-anak Sekolah Sungai dengan ikut berdonasi di KitaBisa.com Bantuan Belajar untuk Adik-Adik Sekolah Sungai. Bantuan akan disalurkan untuk keberlangsungan sekaligus biaya operasional kegiatan Online Learning Assistance. Everyone can do good, including you. So, when will you start?

Sumber:

https://www.kemenpppa.go.id/lib/uploads/slider/e56dc-15242-profil-anak-indonesia_-2019.pdf

Afifah, Nur. (2020). SISTEM PENDIDIKAN DI INDONESIA. 3.

http://pusdatin.kemdikbud.go.id/wp-content/uploads/2020/05/PANDUAN-PEMBELAJARAN-JARAK-JAUH-BELAJAR-DIRUMAH-MASA-C-19.pdf

Selamat Hari Bahagia Sedunia! Sudahkah Kamu Bahagia Hari Ini?

Ditulis oleh Vina Dina, Content Writer Intern Project Child Indonesia

Halo orang-orang baik! Selamat Hari Bahagia Sedunia!

Sudahkah kalian merasa bahagia saat ini? Kalau sudah, selamat! Jangan lupakan hal-hal yang membuat kamu bahagia karena tidak semua orang merasa bahagia saat ini. Jika kamu merupakan salah satu yang belum merasa bahagia, yuk duduk sebentar, hentikan sebentar aktivitas yang sedang kamu lakukan, lalu tarik nafas dalam. Tanyakan hal ini ke dirimu “Kapan ya terakhir kali aku benar-benar tersenyum dan tertawa lepas? Saat itu, apa ya yang membuat aku tersenyum atau tertawa?”

Sudah? Kalau sudah, semoga dengan mengingat kembali hal-hal yang menyenangkan untukmu bisa membuat kamu bahagia hari ini.

Setiap manusia pasti ingin bahagia bukan? Bahkan, beberapa diantaranya mendefinisikan kesuksesan dengan “hidup dengan rasa bahagia dan cukup”. Akan tetapi, semakin dewasa, perasaan bahagia mungkin lebih sulit untuk dirasakan apalagi pada kondisi pandemi yang saat ini tak kunjung usai. Sekarang ini, ada baiknya untuk kita menurunkan standar kebahagiaan yang kita miliki menjadi lebih sederhana. Kita perlu menyadari, banyak sekali hal-hal kecil yang bisa membuat kita merasa bahagia, seperti melihat senja di sore hari, menemukan jajanan favorit saat kita masih keciil, membantu mengerjakan tugas sekolah anak-anak tetangga sekitar rumah, atau sesederhana menemukan uang di saku celana yang lama tidak dipakai.

Di tengah kondisi pandemi ini, kita juga dapat menciptakan kebahagiaan loh! Sejalan dengan kampanye untuk memperingati Internasional Days of Happiness, kita bisa melalui masa yang kurang menyenangkan dengan 3 langkah baik, yaitu Keep Calm, Stay Wise and Be Kind.

Keep Calm

Sabar, satu persatu. Duduk sebentar, apa sih yang dikejar?

-NKCTHI

Di tengah ketidakpastian akan masa depan dan masalah-masalah yang diluar kontrol kita, penting bagi kita untuk tetap tenang. Don’t forget to breathe. Seringkali kita merasa semua urusan harus diselesaikan hari ini, semua pertanyaan harus kita temukan jawabannya sekarang, dan masa depan harus tergambar jelas dari detik ini. Tanpa kita sadari, kita memburu diri kita sendiri dan tidak menikmati masa yang saat ini sedang kita jalani sehingga kita selalu merasa tidak puas dan jauh dari rasa bahagia.

You already did your best and if there were many things which wouldn’t go as planned, it’s okay. Let yourself rest. Let the world fix it and decide what’s best for you

-Rara Noormega

Stay Wise

Apa yang kita lakukan akan selalu berdampak baik terhadap diri sendiri, lingkungan, maupun orang lain. Oleh karena itu, kita diharapkan dapat bijaksana dalam bertindak dan mengambil keputusan. Bukankah hidup memang selalu tentang pilihan? Seperti,

“Apakah lebih baik aku menggunakan uang yang tersisa untuk membeli barang-barang lucu, atau mendonasikan uang yang tersisa untuk membantu orang lain yang lebih membutuhkan?”

“Apakah aku harus mengubah lifestyle lebih ecofriendly untuk membantu menyelamatkan bumi atau tetap menggunakan produk-produk biasa yang lebih terjangkau?”

Tentu saja,  setiap pilihan memiliki resiko masing-masing dan pilihannya selalu ada ditangan kita. Namun, akan lebih bijak jika kita mempertimbangkan secara matang apa yang akan kita pilih sehingga tidak merugikan lingkungan dan diri sendiri serta akan lebih baik jika dapat membawa pengaruh positif ke lingkungan.

Everything can be taken from us but one thing: the freedom to choose our attitude in any given set of circumstances

-Viktor Frankl

Be Kind

Project Child Indonesia meyakini bahwa “everyone can do good”. Setiap manusia yang ada di bumi dapat memberikan kebaikan terhadap diri mereka sendiri, orang lain, dan lingkungannya. Apakah kebaikan yang diberikan harus dengan melakukan hal besar? tentu tidak, kawan. Bukankah, kerikil dilemparpun menjadi gelombang? Sekecil apapun kebaikan pasti akan memberikan dampak, seperti membantu membawakan koper lansia di stasiun, menutupi tumpahan minyak dilantai, dan menyisihkan beberapa rupiah untuk orang yang lebih membutuhkan.

Salah satu bentuk kebaikan yang bisa kita lakukan untuk orang lain kapanpun dan dimanapun adalah dengan berdonasi. Tanpa kita sadari, beberapa rupiah yang kita donasikan bisa jadi menyelamatkan hidup orang tersebut. Selain itu, menurut laman Greater Good Magazine, berdonasi dapat menciptakan rasa percaya dan terhubung secara sosial dan melepaskan endorfin yang dapat meningkatkan kebahagiaan. Tidak ada salahnya jika uang 25.000 yang awalnya kita gunakan untuk membeli boba milk tea kita donasikan untuk membantu pendidikan anak-anak, atau membantu bencana alam, dan lain-lain dengan harapan, beberapa rupiah yang kita donasikan dapat membuka jalan untuk mereka meraih masa depan.

Di bumi banyak orang baik, tapi kita masih perlu lebih banyak lagi

-NKCTHI

International Childfree Day

Ditulis oleh Anna Safira Salsabila, Content Writer Intern Project Child Indonesia

Seorang anak merupakan anugerah bagi setiap keluarga, sehingga menjadi orang tua adalah hal yang luar biasa. Namun, pilihan untuk mempunyai anak dan menjadi orang tua tidaklah mudah. Banyak kemudian yang pada akhirnya memilih untuk tidak memiliki anak sama sekali. Hal ini kemudian menjadi perhatian para aktivis dimana sudah seharusnya masyarakat menormalisasi hak seseorang untuk tidak memiliki anak (childless). Dikarenakan tidak semua orang berkeingininan dan mampu untuk mendirikan keluarga serta memiliki anak. Pada tanggal 1 Agustus kemudian diperingati sebagai “International Childfree Day“. Peringatan ini memiliki makna bahwa seseorang yang memilih untuk “childfree” tetap bisa menginspirasi dengan melakukan kebaikan-kebaikan lainnya. Pada peringatan ini setiap tahunnya, diadakan nominasi-nominasi untuk pria dan wanita “childfree” untuk mendapatkan penghargaan karena jasa-jasa mereka untuk lingkungan dan dunia yang tentunya menginspirasi orang lain. Seperti pada tahun 2019, Soot Liang Woo dari Thailand yang dinobatkan sebagai Childfree Person of the Year. Soot adalah seorang aktivis yang mendirikan suaka serta penggalangan dana untuk hewan-hewan seperti anjing dan kucing. Soot merupakan seorang childfree karena alasan overpopulation yang sedang terjadi di dunia. Ia dinobatkan sebagai Childfree Person of The Year pada tahun 2019 karena perjalanannya sebagai advokat hewan yang penuh tantangan sehingga sangat menginspirasi. Pada peringatan “International Childfree Day” ini bisa dimaknai dengan bahwa apapun keputusan seseorang, termasuk untuk tidak memiliki anak, tidak menghalangi untuk selalu berbuat kebaikan dan menginspirasi sesama.

Referensi

  • https://internationalchildfreeday.com/

Hello Me! Let’s Be Friend

Ditulis oleh Nindy Silvia Anggraini, Penulis Konten Project Child Indonesia

Aku terlahir sebagai makhluk sosial. Berinteraksi dengan orang lain sudah menjadi sebuah tuntutan bahkan sejak sebelum aku dilahirkan. Di Umurku yang masih balita ibu dan ayah mengajariku cara berbicara yang tujuannya adalah membangun komunikasi dengan mereka. Beranjak dewasa, aku dipertemukan dengan lingkungan yang lebih luas. Sekolah menuntutku untuk bersosialisasi, berinteraksi dan menjalin pertemanan dengan mereka orang-orang di sekitarku. Kata orang, paling tidak kita harus memiliki satu teman yang akan selalu ada untuk kita untuk bertahan hidup. Tempat kita berbagi cerita, berkeluh kesah, tertawa, menangis, melakukan banyak hal bersama. Kata orang, kita tidak bisa hidup sendirian. Kata orang, hidup akan lebih ringan bila dipikul bersama. Oleh karena itu aku dituntut sejak kecil untuk selalu bersikap baik didepan banyak orang. Mengumpulkan orang-orang yang bisa kujadikan “temanku” agar aku tidak kesepian. Aku berusaha menahan egoku untuk bisa menerapkan nilai “saling” dalam sebuah hubungan pertemanan. Saling berbagi, saling mengerti, saling menyayangi, semuanya hubungan timbal balik. Tapi sebentar, bolehkah aku berfikir sedikit aneh dan berbeda dari kalian?

Aku mengakui bahwa aku makhluk sosial yang membutuhkan orang lain untuk bertahan hidup. Tapi jangan lupakan fakta bahwa manusia juga makhluk individu dengan kepentingan dan kesusahan mereka masing-masing. Aku adalah aku dengan kesusahan, kesenangan, tanggung jawab dan hak ku sendiri. Menurutku, seberapa dalam kita membangun sebuah hubungan pertemanan atau apapun itu, pada akhirnya kita akan berjuang sendiri demi diri kita sendiri. Sejak awal aku sedikit tidak setuju dengan nilai dasar dari hubungan pertemanan “saling”. Aku tahu mereka teman-temanku memiliki masalahnya dan kegembiraannya sendiri, dan aku merasa tidak perlu menambah bebannya untuk memikirkan tentang masalah yang kumiliki. Tidak, tidak berarti aku menyalahkan nilai persahabatan yang indah itu. Aku sangat menyukai ketika ada seseorang yang selalu bersorak untuk kegembiraanku dan ikut menangis bersama kesedihanku. Tapi bukankah aku juga harus melakukan sebaliknya untuk “membalas” jasanya? Disinilah masalahku dimulai. Aku terlalu larut dengan tugasku sebagai teman dan melupakan bahwa aku adalah diriku sendiri. Bukan berlagak sok perhatian, tapi aku merasa terlalu banyak mengkhawatirkan lingkungan sekitarku dan melupakan diriku yang sedang berjuang sendirian.

 Tapi tidak ada kata terlambat untuk ini. Aku harus bisa bertahan menyandang label makhluk sosial sekaligus makhluk individu. Aku bersyukur atas kehadiran teman-temanku. Mereka sangat membantu masa-masa sulitku dan mereka juga ikut senang di saat-saat bahagiaku. Tapi mulai saat ini aku akan mulai berteman dengan diriku sendiri. Memahami, menghargai, menjaga, dan merawat diriku sendiri yang sudah berjuang melewati hari demi hari yang aku sendiri tidak dapat prediksi baik dan buruknya. Terimakasih sudah selalu bertahan dalam segala keadaan, selamat hari persahabatan, diriku!

Ini Dia Alternatif Pemakaian Plastik Untuk Bisnis Rumahan Yang Ramah Lingkungan

Ditulis oleh Anna Safira Salsabila, Content Writer Project Child Indonesia

Bisnis rumahan merupakan bisnis yang populer dan sedang dijalani oleh berbagai kalangan khususnya, selama pandemi COVID-19 ini mulai berjalan di Indonesia. Masyarakat banyak yang beralih untuk menjalankan bisnis rumahan karena banyak dari mereka yang kurang beruntung mendapat PHK dari kantor. Tetapi juga banyak yang ingin mencoba peruntungan di bidang ini dikarenakan sangat potensial untuk dijalankan. Bisnis rumahan di kala pandemi ini mulai dari pakaian, makanan, dan peralatan lainnya memberikan peluang yang besar karena masyarakat menjadi cenderung untuk lebih konsumtif selama di rumah saja. Namun, peningkatan bisnis rumahan sejalan dengan meningkatnya penggunaan plastik. Hal ini karena kebanyakan bisnis rumahan menggunakan packaging berbahan plastik. Padahal, sampah plastik berbahaya untuk lingkungan. Dikutip dari The Telegraph, penguraian sampah plastik bisa memakan waktu sampai dengan 400 tahun, dan membakarnya akan menimbulkan zat-zat berbahaya di udara. Nah, agar bisnis kita ramah lingkungan dan mendukung eco living, berikut bahan-bahan pengganti plastik yang dapat digunakan untuk bisnis rumahan. 

1. Kantong Kertas

Kantong kertas atau yang biasa dikenal dengan sebutan paperbag merupakan alternatif pengganti plastik yang cocok untuk bisnis makanan. Selain ramah lingkungan, paperbag juga ringan dan praktis. Kita juga dapat mendesain kemasan paperbag sesuai keinginan kita sehingga lebih menarik sebagai packaging

2. Reusable bag

Alternatif pengganti plastik berikutnya yaitu reusable bag atau tas yang bisa digunakan berulang kali. Reusable bag ini sangat bermanfaat karena dapat digunakan tidak hanya pada saat membeli produk saja melainkan dapat juga digunakan setelahnya untuk kebutuhan lainnya. 

3. Kardus

Pemakaian kardus untuk mengganti penggunaan plastik sangatlah efisien dan ramah lingkungan. Hal ini karena kardus adalah bahan yang kokoh sehingga cocok untuk packaging berbagai produk. Selain itu, kardus juga bisa digunakan lagi atau didaur ulang dan dikreasikan. 

Itu dia, beberapa alternatif untuk mengurangi penggunaan plastik dalam bisnis rumahan yang bisa kita coba. Karena menurut data dari KLHK, 64 juta ton sampah setiap tahunnya dan 60% nya berasal dari sampah plastik. Sehingga, mengurangi sampah plastik dapat menjaga ekosistem dunia. Menerapkan prinsip ramah lingkungan juga dapat menyelamatkan bumi di masa yang akan datang. 

Referensi

Hari Anak Nasional : Bertumbuh Dalam Dunia Maya

Ditulis oleh Nindy Silvia Anggraini, Penulis Konten Project Child Indonesia

Hari Anak Nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli tahun ini jelas akan berbeda pelaksanaannya dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pandemi Covid-19 yang mengharuskan kita semua untuk menerapkan social distancing, sehingga tidak akan ada perayaan seperti biasanya. Namun, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPPA) hadir dengan ide yang segar yakni mengadakan acara Hari Anak Nasional secara virtual. Dengan merayakan di rumah, perayaan Hari Anak Nasional 2020 akan disiarkan melalui daring lewat aplikasi Zoom dengan peserta dari seluruh provinsi sebanyak 750 orang dan melalui TV serta radio. 

Tema yang diangkat untuk tahun ini adalah “Anak Terlindungi, Indonesia Maju”. Bukan tanpa maksud, pengambilan tema tersebut mengajak masyarakat untuk melihat apa yang ada di sekitar mereka dan menumbuhkan rasa kepedulian terhadap anak-anak terutama selama masa pandemi ini. Kenapa terlindungi? karena dari 79 juta lebih anak Indonesia, di antaranya adalah anak-anak banyak yang harus dapat perlindungan khusus terutama yang dalam situasi darurat seperti ini. Anak-anak dalam situasi tertentu perlu perhatian dan perlindungan lebih, dengan harapan kita bisa menyiapkan masa depan anak-anak sebaik mungkin. Karena saat ini bukan hanya orang dewasa saja yang merasakan dampak dari Covid-19, namun adanya pandemi ini juga akan berpengaruh pada anak terutama pada kegiatan belajar, aktivitasnya dalam bersosialisasi, dan juga dalam tumbuh kembang anak yang berkaitan dengan eksplorasi lingkungan sekitarnya. Belum lagi mereka yang tumbuh dalam keluarga kurang mampu dan tidak dapat menerapkan pola pembelajaran jarak jauh. Pemerintah, dalam tema hari anak kali ini juga fokus pada perlindungan anak-anak Indonesia terhadap resiko penularan Covid-19. Indonesia sebagai negara berkembang dengan banyak masyarakat menengah kebawah yang untuk mengisi perut saja sudah kebingungan, bagaimana bisa berfikir tentang sanitasi yang baik dan perlindungan terhadap imun? Rendahnya kesejahteraan masyarakat menjadi faktor pendukung meningkatnya resiko penularan Covid-19. Untuk itu, pemerintah menjadikan hari anak sebagai momentum dalam menyuarakan masalah ini.

Namun terlepas dari hal tersebut, pembelajaran sosialisasi lah yang akan paling mempengaruhi. Semua sekarang serba daring, semua memerlukan akses internet termasuk tumbuh kembang anak. Seperti yang kita tahu, dunia maya adalah dunia tanpa sekat yang dapat menghubungkan apapun, siapapun,dan dimanapun. Masa kanak-kanak merupakan fase mengeksplor dengan tingkat keingintahuan yang sangat tinggi. Bukankah disini berarti orangtua harus memberi perhatian yang lebih besar pula pada anaknya? Faktanya, akses internet yang tanpa batas adalah gudang pengetahuan, rasa ingin tahu anak-anak terjawab semua lewat internet. Dengan catatan, entah itu pengetahuan baik maupun buruk. Berbeda anak akan berbeda pula cara memaknai sebuah informasi. Orangtua dalam hal ini sebisa mungkin meningkatkan pengawasan dan perhatiannya terhadap penggunaan internet oleh anak-anak. Gunakan fitur-fitur yang aman untuk anak dan pantau selalu tumbuh kembangnya. 

Referensi 

https://nasional.kompas.com/read/2020/07/20/15520411/hari-anak-nasional-23-juli-2020-diperingati-melalui-virtual

Yuk Lakukan Kegiatan Ini Selama Di Rumah Aja!

Ditulis oleh Anna Safira Salsabila, Content Writer Intern Project Child Indonesia

Lockdown akibat pandemi COVID-19 sudah berjalan selama 5 bulan terhitung sejak bulan Maret hingga Juli 2020. Tentu waktu yang tidak sebentar untuk menghabiskan waktu di rumah saja dan membatasi bahkan menghentikan aktivitas di luar ruangan, karena seperti yang kita ketahui, segala kegiatan belajar mengajar dialihkan melalui sarana daring atau online merujuk pada Surat Edaran Mendikbud Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan COVID-19 dan Nomor 36962/MPK.A/HK/2020. Sehingga sebisa mungkin kita dapat mengisi waktu-waktu di rumah dengan sebaik mungkin. Ada beberapa kegiatan menarik yang tentunya bermanfaat yang dapat kita lakukan selama berada di rumah, berikut diantaranya.

1. Membaca di Perpustakaan Online

Selama pandemi tentu kita tidak dapat bepergian ke tempat-tempat umum kecuali dalam keadaan mendesak, sehingga opsi yang bisa kita pakai adalah dengan mengunjunginya secara online. Bagaimana bisa? Nah, kita bisa mengunjungi salah satunya adalah perpustakaan online disediakan secara gratis dan bisa diakses oleh semua orang, salah satunya adalah www.perpusnas.go.id yang merupakan web resmi perpustakaan nasional Indonesia.

2. Berdonasi

Banyak hal terjadi selama 5 bulan terakhir ini, termasuk banyak hal-hal kurang beruntung yang menimpa sesama akibat adanya pandemi COVID-19. Oleh karenanya, sebagai sesama manusia kita harus saling membantu dengan cara yaitu berdonasi melalui berbagai platform media. Link untuk berdonasi salah satunya adalah melalui donasi resmi PMI, http://donasi.pmi.or.id/ untuk membantu korban COVID-19. Selain itu, kita juga dapat berdonasi untuk membantu anak-anak kurang mampu yang sangat terdampak oleh pandemi ini. Mereka membutuhkan bantuan berupa kuota internet agar dapat mendukung proses belajar mengajar selama pandemi. Donasi ini dapat dilakukan melalui crowdfunding yang dilakukan oleh Gollaborate bekerjasama dengan Project Child Indonesia dengan link https://kitabisa.com/campaign/gollaboratexpci.  

3. Bercocok Tanam

Kegiatan bercocok tanam merupakan kegiatan yang sangat cocok dilakukan selama berada di rumah yang tidak berkaitan dengan menatap layar gadget. Menggunakan media tanam sederhana dengan tata cara yang mudah, tentu bercocok tanam dapat dijadikan kegiatan untuk mengisi waktu-waktu senggang selama berada di rumah saja. Selain menyenangkan, kegiatan bercocok tanam juga dapat membantu menyelamatkan lingkungan hidup.

Nah, demikian hal-hal bermanfaat yang dapat kita lakukan selama pandemi COVID-19 ini. Jangan lupa tetap selalu jaga keselamatan dan patuhi protokol kesehatan yang sudah ada.

Berbagi Kehidupan Melalui Donor Darah

Ditulis oleh Graciella Stephanie Ganadhi, Content Writer Intern Project Child Indonesoa

Darah sering disebut sebagai sumber kehidupan. Darah mempunyai fungsi penting untuk mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh kita sehingga organ-organ tubuh kita bisa berfungsi dengan baik. Jika kelancaran aliran darah kita terganggu seperti dalam kasus hiperkoagulasi yang menyebabkan darah penderita terlalu mudah menggumpal sehingga mereka harus selalu meminum obat pengencer darah untuk memastikan kelancaran peredaran darah. Selain itu, ada penyakit kelainan hemofilia dimana penderita memiliki darah yang sulit membeku sehingga penderita sering membutuhkan transfusi darah jika mereka terluka dan mengeluarkan banyak darah. Tidak jarang para penderita penyakit darah ini memiliki pengalaman yang lebih sulit jika mereka memiliki penyakit lain seperti gagal ginjal dan diabetes dikarenakan gangguan pada darah mereka yang mempersulit proses operasi ataupun perawatan.

Melihat pentingnya fungsi darah dalam hal kesehatan, tentu penanganan sumbangan darah tidak boleh sembarangan. Di Indonesia, Palang Merah Indonesia (PMI) adalah penanggung jawab utama dalam hal pendistribusian sumbangan darah dan tentunya memastikan keamanan kantong-kantong sumbangan darah yang didistribusikan. PMI bertanggung jawab untuk menyediakan kantong darah ke rumah-rumah sakit untuk digunakan dalam proses operasi atau penanganan pasien. Sayangnya, selama masa pandemi COVID-19, PMI mengalami kesulitan untuk mengumpulkan sumbangan darah karena adanya pembatasan sosial. Sebagian besar pendonor memilih untuk tidak mendonorkan darahnya selama masa pandemi karena adanya himbauan untuk tidak mengunjungi pelayanan kesehatan jika tidak ada kebutuhan mendesak.

Untungnya, PMI memiliki inisiasi bernama PMI Mobile yang bertujuan untuk memudahkan para pendonor untuk mendonorkan darahnya. Tidak perlu khawatir harus keluar rumah dan terpapar resiko tinggi tertular COVID-19, para pendonor cukup mendaftarkan diri ke PMI lalu PMI akan mengumpulkan pendonor di satu daerah, tentunya dengan mengindahkan peraturan penjarakan fisik dan larangan berkumpul dengan 10 orang atau lebih. Informasi lebih lanjut bisa diakses melalui http://ayodonor.pmi.or.id/mobilemu.php

Jadi, tunggu apa lagi? Kalau kamu memenuhi syarat untuk mendonorkan darah, yuk langsung saja menyumbang! Sumbangan darahmu bisa berkontribusi penting bagi hidup orang lain lho! Kalau mencatut dari laman PMI, katanya nih: Give Blood, Give Life. Yuk!

Referensi: