Membesarkan Anak menjadi Lebih Bahagia dan Sehat: Apa Gaya Mengasuh yang terbaik?

Ditulis oleh: Louis Budiman, Grants Researcher Intern Project Child Indonesia

Keluarga merupakan agen sosialisasi yang mendasar dan utama bagi setiap manusia untuk tumbuh. Menciptakan lingkungan keluarga yang bahagia, sehat, dan aman bagi anak memerlukan peran proaktif orang tua. Untuk mencapai hal tersebut, pengasuhan yang baik sangat penting dan merupakan aspek paling dasar yang tidak hanya membentuk perilaku anak, tetapi juga kemungkinan mereka untuk menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan sukses di masa depan. Setiap orang tua pasti mencintai dan menyayangi anaknya sendiri, tapi mungkin kita masih bertanya-tanya: bagaimana pola asuh anak yang terbaik?

Sebagian besar peneliti dan pakar sepakat bahwa ada empat jenis utama pola asuh anak (Morin, 2019): authoritarian atau otoriter (fokus pada kepatuhan dan hukuman ketimbang kedisiplinan); authoritative atau suportif (menciptakan hubungan positif dan menegakkan aturan); permisif (tidak menegakkan aturan; ‘anak-anak akan selalu menjadi anak-anak’); dan uninvolved atau tidak peduli (memberikan sedikit bimbingan, pengasuhan, atau perhatian). Faktanya, kebanyakan orang tua tidak selalu hanya cocok dengan salah satu kategori karena mereka sering mengadopsi berbagai pendekatan secara bersamaan (Lloyd, 2016). Hal ini dikarenakan setiap orang tua dan anak memiliki karakteristik dan latar belakang keluarga yang berbeda, yang membuat generalisasi sedikit rumit. Namun demikian, sebagian besar penelitian serta orang tua setuju bahwa jenis pola asuh anak yang suportif adalah cara paling umum untuk membesarkan anak-anak yang lebih bahagia dan lebih sehat (Morin, 2020). Pendekatan pengasuhan seperti itu juga dapat mengurangi konsekuensi negatif yang sering dibuat oleh jenis pola asuh anak yang lainnya. Selain itu, kenyataannya adalah bahwa setiap orang bisa menjadi orang tua yang lebih authoritative atau suportif.

Ada beberapa hal yang bisa mulai dilakukan oleh orang tua untuk menjadi lebih suportif dalam mengasuh anak. Pertama, orang tua sebisa mungkin harus peka dalam menyadari emosi dan perasaan anak mereka. Hal ini sangat penting terutama ketika anak-anak menangis atau marah. Memberitahu mereka untuk berhenti menangis mungkin merupakan reaksi spontan sebagian besar orang tua, tetapi penting juga bagi orang tua untuk mencari tahu apa yang sebenarnya dialami anak mereka ketika di momen tersebut karena si anak mungkin menganggap sedang dalam masalah yang besar atau mendalam. Untuk melakukannya, orang tua dapat memulai dengan mempertimbangkan perasaan anak mereka, memvalidasi emosi anak mereka, dan menjadi pendengar yang baik. Hal ini juga dapat membantu orang tua untuk memberikan perhatian yang positif dan mencegah masalah perilaku anak.

Menegakkan aturan juga penting dalam membesarkan anak untuk bisa bertanggung jawab. Orang tua yang permisif atau tidak peduli cenderung menaruh usaha yang sedikit pada aspek ini, sedangkan orang tua yang otoriter bisa terlalu intens dalam menetapkan aturan dan terlalu berlebihan dalam memberikan peringatan. Orang tua yang suportif sering kali menetapkan aturan yang jelas dan menjelaskan alasan di baliknya kepada anak mereka – dan ini bisa menjadi cara yang ideal untuk tidak hanya menegakkan aturan tetapi juga untuk membantu anak memahami dan berekspektasi akan konsekuensi dalam mengikuti atau tidak mengikuti aturan. Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua harus menghindari membuat malu, membuat rasa bersalah, dan memberikan hukuman fisik kepada anak mereka. Sebaliknya, beri anak konsekuensi yang mengajarkan pelajaran hidup dan kesempatan untuk belajar. Hal ini diperlukan untuk membantu anak mengontrol emosi, melatih keterampilan resolusi konflik, dan mengembangkan rasa tanggung jawab. Selain itu, reward atau insentif juga dapat membantu dan memotivasi anak untuk membiasakan perilaku yang baik.

Yang terakhir tapi tidak kalah pentingnya, orang tua harus membangun hubungan yang positif dan sehat dengan anak mereka. Daripada bertujuan untuk mengontrol anak, lebih baik bagi orang tua untuk mendorong kedisiplinan diri anak mereka. Orang tua juga perlu menjadi panutan yang baik dan memberikan waktu keluarga yang cukup untuk menjaga kesehatan mental anak mereka. Menjadi orang tua yang lebih suportif membutuhkan rasa cinta, kasih sayang, dan kesabaran – dan ini adalah kunci untuk membesarkan anak yang lebih bahagia dan lebih sehat.

Referensi:

Lloyd, C. (2016). What’s your parenting style?. Retrieved from https://www.greatschools.org/gk/articles/types-of-parenting-styles/#:~:text=Studies%20have%20identified%20four%20major,academically%20strong%20and%20emotionally%20stable

Morin, A. (2019). 4 Types of Parenting Styles and Their Effects on Kids. Retrieved from https://www.verywellfamily.com/types-of-parenting-styles-1095045.

Morin, A. (2020). 12 Ways to Become a More Authoritative Parent. Retrieved from https://www.verywellfamily.com/ways-to-become-a-more-authoritative-parent-4136329.

Thompson, H. (2018). What’s the ‘best’ parenting style to raise a successful child?.  Retrieved from https://www.mother.ly/child/whats-the-best-parenting-style-to-raise-a-successful-child.

Kamu Tidak Harus Menunggu Untuk Berbuat Baik

Ditulis oleh: Angelien Chrestella Pardi, Social Business Trainee Intern Project Child Indonesia

Hati Nurani yang Bersalah

Saya selalu menikmati melakukan perjalanan dan naik mobil. Dengan hiruk pikuknya kehidupan kuliah dan pekerjaan, terutama di masa pandemi ini, saya sering memanfaatkan waktu ini untuk menghilangkan stres, mendengarkan musik yang menenangkan sambil mengamati kehidupan yang terjadi di sekitar saya. Namun, di dalam perjalanan, tidak jarang saya melihat orang-orang menjalani kehidupan mereka yang sulit. Misalnya, anak-anak kecil meminta-minta kepada pengendara mobil dan motor, orang tua membawa karung, mengais-ngais tempat sampah, dan lain-lain.

Sama seperti orang lain, melihat betapa sulitnya hidup bagi orang-orang yang kurang mampu benar-benar menyentuh hati dan membuat saya sangat terharu. Saya sering menemukan diri saya berempati dengan orang-orang tersebut dan mengatakan pada diri sendiri bahwa saya akan melayani orang-orang yang sangat membutuhkan pertolongan dan membantu mereka di saat saya mencapai kesuksesan. Namun, suara hati saya terus-menerus menghantui saya dengan satu pertanyaan ini: Kenapa? Kenapa harus di kemudian hari?

Penjelasan di Balik Pertanyaan Tersebut

Saya yakin bahwa saya bukan satu-satunya orang yang bersalah untuk memiliki pemikiran seperti itu. Menunjukan jari kepada orang lain untuk memiliki pemikiran ini bukanlah niat saya karena menurut saya sangatlah wajar bagi manusia untuk memprioritaskan diri mereka sendiri, dan kebutuhan mereka, di atas orang lain. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan merenungkan mengapa kita terus mengatakan pada diri sendiri untuk membantu orang lain hanya setelah kaya dan nyaman dengan kehidupan? Mengapa kita harus menunggu saat itu datang untuk membantu orang lain? Mari kita berhenti sejenak dan merenungkan pertanyaan ini.

Sekarang izinkan saya bertanya kepada Anda: Bagaimana jika waktu yang tepat itu tidak pernah datang? Apa yang terjadi kemudian? Apakah itu berarti Anda tidak akan berbuat baik dalam hidup Anda? Jelas tidak karena kenyataannya, dalam hidup, tidak ada waktu yang ideal untuk melakukan hal tertentu. Berbuat baik tidaklah berkecualian. Tidak akan pernah ada waktu yang tepat bagi Anda untuk berbuat baik dan membantu orang lain. Percayalah, momen itu tidak akan pernah datang. Anda hanya membuang-buang waktu jika Anda menunggunya. Jika Anda ingin membantu orang lain, mulailah dari sekarang.

Bagaimana Saya Dapat Membantu?

Anda sudah memiliki keinginan untuk berbuat baik. Itu hebat! Ini membuktikan kebaikan dan sikap kepedulian Anda terhadap orang lain dan bahwa Anda bersedia dan siap untuk memberikan kontribusi altruistik kepada sekeliling Anda. Namun, mungkin Anda masih tidak yakin bagaimana Anda dapat membantu orang lain. Langkah apakah yang harus ditempuh selanjutnya? Bagaimana Anda memulainya?

Janganlah khawatir! Berikut adalah beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk berbuat baik:

1. Jadilah seorang Samaria yang Baik Hati

Janganlah menutup mata atau kuping Anda terhadap orang yang membutuhkan bantuan Anda. Sebaliknya, bantulah mereka semampu Anda. Belikan makanan untuk yang lapar, berikan selimut untuk yang kedinginan, dan bantulah orang tua saat mereka menyeberang jalan. Tindakan kebaikan kecil ini mungkin tampak tidak berarti bagi Anda, tetapi Anda tidak akan pernah tahu seberapa besar artinya bagi mereka.

2. Jadilah Seorang Sukarelawan

Menjadi sukarelawan adalah salah satu cara paling luar biasa yang dapat Anda lakukan untuk membantu komunitas Anda. Selain menambah kebahagiaan dan arti kehidupan dalam hidup Anda, menjadi seorang sukarelawan juga dapat memberi Anda rasa memiliki dalam komunitas. Selain itu, Anda dapat memilih bagaimana Anda ingin berkontribusi dan membantu komunitas berdasarkan minat dan hasrat Anda.

3. Penggalangan Dana untuk Suatu Tujuan

Melibatkan teman dan keluarga Anda untuk menggalang dana dengan tujuan yang sangatlah dekat di hati Anda adalah cara yang bagus dan menyenangkan untuk mendukung komunitas Anda. Selain itu, menyumbang sebagai pengganti acara khusus untuk tujuan yang Anda minati adalah cara luar biasa untuk membuat hari tersebut berkesan dan bermakna.

4. Berbagilah Dengan Menyumbang

Tidak semua orang mempunyai waktu untuk melakukan bakti sosial meskipun mereka mempunyai keinginannya. Dan itu tidak apa-apa! Sumbangan datang dalam banyak bentuk dan terserah Anda mau menyumbang apa, tentu berdasarkan kebutuhan masyarakat. Misalnya, Anda dapat mengantar dan menyumbangkan makanan ke komunitas lokal, pakaian ke tempat penampungan tunawisma, buku dan perlengkapan ke sekolah dan panti asuhan setempat.

Selain itu, ada banyak sekali organisasi non-profit di luar sana yang menerima sumbangan dana. Dengan mendanai organisasi-organisasi tersebut, Anda dapat membantu NGOs dalam mendukung program-program berkelanjutan mereka, sehingga dengan demikian, Anda dapat membantu masyarakat rentan.

5. Gunakanlah Suara Anda

Tidak semua orang memiliki keberanian untuk membela diri mereka sendiri. Hal ini sangatlah menonjol di para korban bullying, pemerkosaan, rasisme, seksisme, dan sebagainya. Seringkali, individu-individu yang tidak berani untuk membela diri berasal dari kelompok minoritas masyarakat, seperti yang tunawisma, yang terlantar, yang tertindas, dan yang tak berdaya. Oleh karena itu, jika Anda aktif di media sosial, atau platform-platform lainnya, Anda dapat menggunakan keterampilan Anda dengan sangat baik! Gunakanlah suara Anda dan bicaralah untuk mereka, bersama mereka. Tindakan Anda akan meningkatkan kesadaran kepada orang-orang di sekitar Anda dan siapa tahu, dapat memberi kelompok-kelompok minoritas tersebut keberanian untuk membela diri dan membantu membawa perubahan positif dan bermanfaat bagi komunitas.

Berbuat Baik dengan Project Child Indonesia

Sebagai organisasi nirlaba yang berpusat pada sukarelawan, Project Child Indonesia menawarkan beberapa kesempatan bagi orang-orang, terutama para remaja, untuk berpartisipasi dalam membuat perbedaan di kalangan masyarakat. Dari peran relawan hingga posisi magang, kampanye publik hingga acara penggalangan dana, Project Child Indonesia berniat untuk menginspirasi lebih banyak individu agar lebih peduli pada masyarakat, terutama dalam mengadvokasi dan mendukung anak-anak dan warga negara Indonesia yang berada di komunitas rentan di Yogyakarta. Oleh karena itu, jika hasrat dan minat Anda terletak pada advokasi anak dan pendidikan, dan juga menemukan diri Anda berkomitmen untuk membuat dampak besar pada masyarakat, menjalankan waktu Anda di Project Child Indonesia sebagai seorang sukarelawan pastilah berhikmah.

Garis bawah

Bunda Theresa pernah berkata,

“Sehari tanpa melakukan sesuatu yang baik untuk orang lain adalah hari yang tidak berharga untuk dijalani.”

Kutipan ini mengartikulasikan dengan asli tentang esensi kehidupan yang paling mendasar. Hidup tidak akan bermakna tanpa tindakan kebaikan, tindakan kasih sayang dan bahasa cinta yang universal.

Tindakan apapun yang Anda memutuskan untuk melakukan, ingatlah untuk selalu berbuat baik karena tindakan inilah yang membuat hidup kita berarti. Setiap benih yang Anda tanam hari ini akan menghasilkan buah yang besar di keesokan hari. Dengan ini, berhentilah menunggu dan mulailah membantu orang lain karena apapun keadaannya, “Semua orang dapat berbuat baik”.

Keunikan dan Keindahan Kewirausahaan Sosial

Ditulis oleh: Faya Augustian Ariestyarini, magang Social Business Trainee Project Child Indonesia

Tergabung sebagai bagian dari tim social business trainee di Project Child Indonesia Batch 32 merupakan suatu pengalaman baru dan unik bagi saya. Menjadi pengalaman baru karena merupakan kali pertama saya mengikuti program magang dan tergabung ke dalam tim social business, sekaligus menjadi pengalaman yang unik karena tergabung ke dalam tim social business di organisasi non-profit yang artinya akan lebih banyak mengkonsep bisnis bertajuk kewirausahaan sosial (social enterpreneurship). Saya banyak belajar mengenai organisasi non profit, seperti definisi, orientasi, struktur keorganisasian, hingga bagaimana tahapan yang tepat dalam merancang kewirausahaan sosial untuk diimplementasi pada organisasi non-profit Project Child Indonesia. Bisnis model dalam Project Child Indonesia unik karena membentuk skema kewirausahaan sosial, yang berupa ide bisnis dengan tujuan tidak sekadar mengejar keuntungan, tetapi juga untuk kebaikan sosial sehingga dana yang diperoleh dapat dimanfaatkan untuk mendanai program sosial yang berkontribusi untuk lingkungan. 

Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh British Council dan USESCAP dengan judul Developing an Inclusive and Creative Economy: The State of Social Enterprise in Indonesia (2018), hasil pertumbuhan social enterprise di Indonesia terus mengalami pertumbuhan yang signifikan selama beberapa tahun terakhir. Bahkan dalam lima tahun terakhir saja, jumlah wiraswasta sosial berkembang 5 kali lebih besar dibandingkan 5 tahun sebelumnya.  Berdasarkan hasil riset tersebut, tentunya akan timbul pertanyaan terkait dengan apa yang menjadi daya tarik social enterprise yang seakan menjadi tren baru di dalam dunia bisnis pada saat ini.

Alasan dibalik popularitas dari konsep kewirausahaan sosial dalam bisnis ialah keunikan kewirausahaan sosial yang menyajikan cerita-cerita dan tujuan yang unik dibalik didirikannya bisnis tersebut. Kewirausahaan sosial yang hadir dengan menawarkan tujuan mulia, membawa manfaat, serta perubahan bagi lingkungan, seakan menjadi keunikan dan magnet tersendiri bagi kewirausahaan sosial. Terdapat beberapa hal yang menjadi alasan mengapa kewirausahaan sosial unik dan penting keberadaannya bagi lingkungan dan perekonomian itu sendiri, antara lain:

1. Sebagai pelopor bisnis sosial yang mampu menggerakkan orang lain untuk berkontribusi membantu lingkungan dan masyarakat.

Kewirausahaan sosial menjalankan model bisnisnya dengan berupaya menyelaraskan tujuan memperoleh keuntungan dengan nilai-nilai sosial mereka. Hal ini dapat memicu motivasi orang lain untuk tergerak membantu dan berkontribusi membawa dampak bagi lingkungan, sehingga membawa perubahan bagi lingkungan dan perkonomian sekitar.

Hal ini ditemukan pada Project Child Indonesia sebagai organisasi non-profit yang memiliki visi yakni setiap anak di Indonesia memiliki kesempatan untuk belajar, memiliki kehidupan yang sehat, merasa didukung, dan aman untuk hidup di lingkungan bersih yang siap menghadapi bencana alam. Selama beberapa bulan tergabung dalam tim magang sosial bisnis di Project Child Indonesia, saya menyadari bahwa bisnis model yang disajikan oleh Project Child Indonesia dapat memotivasi masyarakat untuk turut berkontribusi membawa dampak bagi lingkungan, baik partisipasinya melalui donasi secara langsung, tergabung dalam program magang, maupun relawan.

2. Bisnis yang menawarkan nilai sosial dan ekonomi.

Kewirausahaan sosial yang memiliki tujuan khusus untuk berkontribusi menyelesaikan permasalahan sosial berpeluang untuk menemukan peluang pasar baru yang sesuai dengan ceruk masyarakat tersebut, sehingga kehadiran kewirausahaan sosial dapat dengan cepat dan efisien, dalam membantu memecahkan permasalahan sosial dan perekonomian dari masyarakat atau lingkungan tersebut.

Berdasarkan visi dari Project Child Indonesia, model bisnis dari organisasi ini mengusung konsep kewirausahaan sosial, yang juga secara spesifik mengarahkan kami sebagai social business trainee untuk menciptakan model bisnis yang sesuai dengan nilai-nilai dan tujuan dari Project Child Indonesia. Contohnya adalah ketika saya dan rekan-rekan satu tim diminta untuk menyusun konsep warung vegan di Project Child Indonesia. Dalam penyusunan konsep bisnis dari warung tersebut, tentunya dilandasi oleh beberapa tujuan sosial yang sesuai dengan nilai-nilai Project Child Indonesia. Kami sebagai bagian dari tim social business trainee di tantang untuk membuat konsep bisnis yang selain membawa manfaat ekonomi berupa profit, tetapi juga menyajikan nilai-nilai sosial di dalam bisnis yang dikonsepkan.

3. Memiliki tujuan mulia untuk membawa dampak bagi lingkungan.

Project Child Indonesia dengan mottonya “Everyone can do good” menawarkan nilai sosial yang menarik dalam organisasinya. Hal ini berlaku pula dalam pembuatan konsep bisnis pada Project Child Indonesia, setiap unit bisnis yang dirancang harus dapat sesuai dengan nilai-nilai Project Child Indonesia yang dapat menyeimbangi antara profit dan kebermanfaatan bisnis bagi lingkungan. Setiap model bisnis yang dirancang oleh kami sebagai tim social business trainee, harus disertai dengan nilai-nilai sosial dengan membawa tujuan dan memiliki misi bahwa keberadaan bisnis akan membawa manfaat bagi lingkungan, sehingga nilai-nilai sosial dan ajakan perubahan sosial merupakan inti dari setiap kegiatan operasional dari bisnis yang mengusung konsep kewirausahaan sosial.

REFERENSI

British Council. (2018). The State of Social Enterprise in Indonesia. Available at https://www.britishcouncil.org/sites/default/files/the_state_of_social_enterprise_in_indonesia_british_council_web_final_0.pdf (Accessed 26 May 2021).

Cohive Space. 2017. 5 Reasons Why Social Entrepreneurship Matters. Available at https://cohive.space/blogs/5-reasons-why-social-entrepreneurship-matters/ (Accessed 26 May 2021).

Roger L. Martin & Sally Osberg. (2007). Social Enterpreneurship: The Case for Definition. Available at https://ssir.org/articles/entry/social_entrepreneurship_the_case_for_definition (Accessed 26 May 2021).

Perubahan Kesehatan Mental Anak-anak di Pandemi Covid-19

Ditulis oleh Lubna Hanifa M, Grants Researcher Intern Project Child Indonesia

Pandemi Covid-19 telah berdampak besar kepada jutaan orang di seluruh dunia, mungkin mengubah hidup mereka selamanya. Pandemi ini tidak hanya mengancam kesehatan fisik dunia, tetapi juga kesehatan mental.

Di antara mereka yang berisiko adalah anak usia sekolah yang saat ini berada pada masa-masa kritis dalam hidup mereka untuk belajar dan bersosialisasi. Karena pandemi, banyak siswa mengalami penurunan kesehatan mental yang dapat memiliki efek jangka panjang.

Perubahan Sekolah Luring ke Daring

Salah satu konsekuensi utama dari pandemi adalah penutupan sekolah yang meluas. Pergeseran drastis ke pembelajaran daring – yang masih berlangsung, bahkan sampai sekarang – berpotensi memicu masalah kesehatan mental lebih lanjut karena mengganggu banyak aspek kehidupan anak. Untuk siswa usia sekolah, kelompok pertemanan atau peer group memegang peran yang sangat penting dalam kehidupan mereka. Selain itu, hari sekolah biasa memberikan struktur dan rutinitas bagi anak-anak. Saat hal-hal kritis ini diambil dari mereka, perasaan kesepian dan ketidaktentuan akan muncul. Akibatnya, anak-anak menjadi lebih tergantung dan mencari perhatian pada orang tua. Jika perasaan ini terus berlanjut dan cukup parah, masalah lebih lanjut dapat muncul yang berdampak negatif terhadap kesehatan mental mereka seperti depresi atau kecemasan berlebih.

Konsekuensi Isolasi Mandiri dan Karantina

Selain pembelajaran daring, anak-anak yang telah mengalami atau sedang menjalani isolasi diri atau karantina juga dapat mengalami efek yang merugikan terkait kesehatan mentalnya. Khususnya, anak-anak kecil lebih rentan mengalami stres ketika terpisah dari orangtuanya untuk jangka panjang, karena orangtua merupakan individu penting dalam kehidupan mereka. Selain itu, anak-anak yang mengalami isolasi diri lebih cenderung mengalami gangguan stres pasca trauma, gangguan stres akut, serta gangguan penyesuaian diri.

Ancaman di Rumah

Bagi sebagian anak, faktor risiko utama keselamatan mereka bisa berasal dari rumah tinggal mereka sendiri. Waktu tinggal yang lama di rumah membuat mereka menghadapi bahaya yang sebelumnya dapat mereka hindari dengan menjalani rutinitas sehari-hari sebelum pandemi melanda. Isolasi sosial di lingkungan rumah yang bermasalah merupakan isu yang sangat mendesak. Meningkatnya stres dan ketidakpastian ekonomi yang dialami oleh orangtua merupakan faktor yang berpotensi meningkatkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. Situasi keluarga seperti itu dapat membuat anak semakin gelisah, cemas, atau mudah tersinggung, selain diancam secara fisik. Dalam beberapa kasus, anak mungkin mengalami emosi negatif yang terpendam akibat terlalu lama tinggal di rumah, sehingga membuatnya lebih rentan berkonflik dengan anggota keluarga lain dalam rumah.

Secara keseluruhan, meskipun ada peraturan tertentu untuk melindungi anak-anak dan keluarga mereka dari virus, pembatasan ini sebenarnya dapat menimbulkan kerugian yang tidak diinginkan. Karena itu, urgensi untuk mengimbangi ancaman virus dengan ancaman terhadap kesehatan mental masyarakat, khususnya anak-anak, harus segera menjadi pertimbangan.

Perempuan dan Pendidikan

Ditulis oleh Vina Dina, Content Writer Intern Project Child Indonesia

Di Indonesia, perbedaan kedudukan dan pembagian tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan masih banyak berkembang di masyarakat karena faktor budaya dan kepercayaan. Sebagai contoh, anak perempuan dipandang lebih bertanggung jawab untuk mengurus urusan rumah tangga seperti menyiapkan makanan, mencuci, membersihkan rumah daripada laki-laki.

Konstruksi sosial yang membentuk pembedaan antara laki-laki dan perempuan pada kenyataannya mengakibatkan ketidakadilan terhadap perempuan. Pembedaan peran, status, wilayah dan sifat mengakibatkan perempuan tidak otonom. Perempuan tidak memiliki kebebasan untuk memilih dan membuat keputusan baik untuk pribadinya maupun lingkungan karena adanya pembedaan tersebut (Ainiyah, 2017).

Masyarakat memandang perempuan sebagai sosok yang lemah lembut dan memiliki peran ideal sebagai seorang istri dan ibu yang memiliki tanggung jawab untuk membesarkan anak, membersihkan rumah, mengurus dapur dan melayani suami. Bahkan di beberapa daerah, perempuan memiliki tiga tuntutan utama yang wajib dipenuhi yang dikenal dengan 3M, yaitu Masak (memasak), Mancak (berdandan), Manak (beranak/melahirkan anak). Namun, apakah perempuan ditakdirkan hanya untuk melakukan ketiga tugas tersebut? Apakah ketika mereka tidak menjalankan salah satu tuntutan tersebut, ia gagal menjadi seorang perempuan?

Jauh daripada itu, perempuan memiliki peran yang lebih penting dan lebih luas. Perempuan juga memiliki hak untuk dirinya sendiri dan memilih apa yang ingin mereka lakukan selagi tidak bertentangan dengan norma, hukum dan agama. Mereka berhak memutuskan apakah ia akan menikah, memiliki anak, karier apa yang akan mereka jalani, bahkan seberapa tinggi pendidikan yang akan mereka ambil.

Seiring dengan berkembangnya zaman, peran perempuan semakin berkembang dan tidak dibatasi. Dewasa ini, banyak perempuan mulai menyadari mereka berhak memilih dan mengambil keputusan untuk pribadinya maupun lingkungannya. Hal tersebut didukung dengan semakin berkembangnya paham feminisme dan terbentuknya lembaga-lembaga pemberdayaan perempuan.

Berbicara mengenai perempuan, salah satu sosok yang berjasa dalam memperjuangkan hak-hak kaum perempuan adalah R.A. Kartini. Beliau dikenal sebagai sosok emansipasi wanita yang memperjuangkan kebebasan, persamaan hukum dan pendidikan bagi perempuan.  R.A Kartini membuktikan bahwa perempuan bisa memiliki peran yang lebih besar bagi lingkungannya bahkan bagi bangsa dan negara. Perempuan memiliki hak untuk memutuskan pilihan-pilihan yang ada di hidupnya dan mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya.

Sayangnya, meskipun emansipasi wanita telah diperjuangkan oleh R.A. Kartini dan tetap digaungkan oleh banyak pihak, masih banyak stigma yang bermunculan ketika seorang perempuan mengambil keputusan yang tidak umum di masyarakat, seperti memiliki pendidikan dan/atau jabatan yang tinggi, menjadi pemimpin, memilih untuk tidak menikah dan memiliki anak, serta lain sebagainya. Oleh karena itu, perempuan membutuhkan lebih banyak keberanian untuk memperjuangkan hak dan pilihannya.

You educate a man; you educate a man. You educate a woman; you educate a generation.

-BrighamYoungs

“Untuk apa sekolah tinggi-tinggi, nanti ujung-ujungnya juga di dapur, mengurus anak dan rumah?” 

Pendapat tersebut masih sering sekali kita dengar bahkan sampai detik ini dan membuat sebagian perempuan ragu untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Padahal, pendidikan merupakan hak setiap warga negara, baik laki-laki maupun perempuan, tua atau muda, kaya atau miskin, semua berhak menuntut pendidikan sampai jenjang yang mereka inginkan. Meskipun nantinya seorang perempuan dengan tingkat pendidikan tinggi memilih menjadi ibu rumah tangga, namun ia dapat menjadi seorang ibu rumah tangga dengan wawasan yang lebih luas dan terbuka sehingga melahirkan anak yang cerdas.

Hal tersebut didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Winarti (2019) yang menunjukkan semakin tinggi tingkat pendidikan ibu, maka semakin baik pola pengasuhan yang diberikan kepada anak. Semakin baik pola asuh yang diberikan, maka akan semakin baik pula tingkat kecerdasan anak karena keluarga, terutama ibu, merupakan tempat belajar pertama yang anak miliki sebelum selanjutnya melanjutkan pendidikan ke sekolah formal.

Educate a woman, you educate her family. Educate a girl and you can change the future.

-Queen Rania of Jordan

Secara tidak langsung, dengan memperbesar kesempatan bagi perempuan untuk mendapatkan pendidikan tinggi, diharapkan dapat mencetak generasi-generasi selanjutnya yang lebih cerdas karena perempuan merupakan arsitek kecerdasan generasi selanjutnya. Selain itu, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka akan semakin besar pula kesempatan bagi mereka untuk mendapatkan pekerjaan dan jabatan yang lebih baik serta pendapatan yang lebih layak.

Terlepas dari persepsi masyarakat bahwa peran ideal perempuan adalah sebagai istri dan ibu, perempuan memiliki hak untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Tidak semua perempuan siap untuk hidup bersama membangun rumah tangga, dan tidak semua pasangan yang menikah siap untuk menjadi orang tua. Oleh karena itu, biarkan perempuan memilih apa yang terbaik menurutnya. Sebagai manusia, perempuan memiliki hak untuk mendapatkan kebahagiaan dalam hidup dan menjalani kehidupan sesuai keinginannya tanpa memikirkan stigma masyarakat terkait keputusannya.

Kita harus membuat sejarah. Kita mesti menentukan masa depan yang sesuai dengan keperluan sebagai seorang kaum perempuan dan harus mendapatkan pendidikan yang cukup seperti kaum laki-laki

-R.A. Kartini

Sudah saatnya kita menghapus persepsi bahwa perempuan hanya memiliki peran sebagai anak, kakak/adik, istri dan ibu. Lebih dari itu, perempuan berhak untuk mendapatkan pendidikan tinggi dan mewujudkan semua impiannya sehingga ia dapat menolong dirinya sendiri untuk kemudian mendidik anak-anaknya dan membantu mensejahterakan bangsa dan negara melalui ilmunya. Seperti yang dituliskan pada surat R.A. Kartini untuk Ny. Abendanon, “kami berikhtiar agar teguh sungguh, sehingga kami sanggup berdiri sendiri, menolong diri sendiri. Dan siapa yang dapat menolong dirinya sendiri, akan dapat menolong orang lain dengan lebih sempurna pula”. 

Sebagai sesama perempuan dan sesama manusia, kita bisa saling membantu satu sama lain untuk mendapatkan akses pendidikan yang lebih baik. Untuk membantu mendukung kemudahan akses dan fasilitas dalam pendidikan di masa pandemi Covid-19, Project Child Indonesia mengadakan program Online Learning Assistant (OLA). OLA merupakan program yang dibuat untuk membantu anak-anak komunitas Sekolah Sungai mendapatkan dan memahami materi sekolah dengan lebih baik lagi melalui tutor tambahan diluar jam sekolah baik secara offline maupun online. Kamu dapat berkontribusi dalam program tersebut dengan menjadi volunteer, partner atau supporters dan berdonasi pada laman kitabisa.com

We believe that everyone can do good, and this time is our job to fix the misunderstood opinion about women’s education and bring the brighter future.  

Sumber:

Ainiyah, Qurrotul. (2017) “Urgensi Pendidikan Perempuan Dalam Menghadapi Masyarakat Modern’, Halaqa: Islamic Education Journal

Nabila, F. S. dan Jakaria U. (2020) “Persepsi Masyarakat terhadap Pentingnya Pendidikan Tinggi untuk Kaum Perempuan (Studi Kasus di Desa Curah Dringu Kecamatan Tongas Kabupaten Probolinggo)”, AL-HIKMAH : Jurnal Pendidikan dan Pendidikan Agama Islam, 2(2), p-ISSN 2685-4139Winarti, W. (2019) “Hubungan Antara Tingkat Pendidikan Orang Tua dengan Orientasi Pola Asuh Anak Usia Dini (Studi di RA al Karimy Kec. Kutorejo Kab. Mojokerto)”, PROCEEDING: The Annual International Conference on Islamic Education, 4(1), pp. 261-270.

Volunteer dan Internship, Why Not?

Ditulis oleh Vina Dina, Content Writer Intern Project Child Indonesia

Pernahkah kalian bergabung menjadi volunteer saat kuliah? atau menjadi anak magang? Hmm, mungkin sebagian mahasiswa bertanya-tanya, kenapa harus menjadi volunteer? Apa sih pentingnya magang? Unpaid pula. Nanti juga setelah lulus juga kerja.

Okay, so, we will talk about those topics yang juga merupakan tema dari PCI Talks vol.2, College Experience: Volunteer and Internship, bersama dengan Kak Abie dan Kak Fajar yang merupakan “alumni” volunteer dan internship Project Child Indonesia. Singkat mengenai PCI Talks, PCI Talks merupakan program webinar yang diselenggaarakan oleh Departemen Partnership Project Child Indonesia dan disponsori oleh To My Doughter (TMD). PCI Talks vol. 2 yang dilaksanakan pada tanggal 26 Maret 2021 lalu, membahas mengenai pengalaman-pengalaman Kak Abie dan Kak Fajar saat menjadi volunter dan menjalani internship di Project Child Indonesia serta pentingnya pengalaman tersebut untuk dunia kerja yang tentunya bisa menjadi bahan pertimbangan untuk kita semua.

Mengapa harus menjadi volunteer?

Semua yang manusia lakukan, kecerdasan yang manusia miliki bisa digantikan oleh mesin, terkecuali empati.

-Abie Zaidannas Suhud

Mengapa harus menjadi volunteer? Jawabannya mungkin akan berbeda untuk setiap orang. Namun bagi Kak Abie dan Kak Fajar, dengan menjadi volunteer kita diajarkan untuk lebih berempati, solutif dan merupakan proses untuk dapat membantu orang lain sekaligus mengenal diri sendiri. 

Rasa empati sangat diperlukan untuk membangun hubungan sosial. Dengan empati, kita bisa ikut memahami dan merasakan apa yang orang lain rasakan sehingga kita bisa lebih tepat dalam memberikan masukan dan solusi. Ketika kita menjadi volunteer, besar peluang kita akan bertemu dengan orang-orang yang tidak mendapatkan privilege sebesar yang kita peroleh sehingga dapat memunculkan keinginan untuk berkontribusi membantu meringankan beban-beban yang mereka miliki seperti yang dirasakan oleh Kak Fajar. Keuntungan lain ketika menjadi volunteer adalah bertemu dengan berbagai macam karakteristik individu, baik yang berbeda agama, budaya, bahkan bahasa. Hal tersebut meningkatkan kemampuan kita untuk beradaptasi dengan orang baru dan menjadi lebih toleran.

Apakah wajib mengikuti kegiatan volunteer saat kuliah? Tentu tidak. Namun, menjadi volunteer bisa menjadi salah satu alternatif untuk menemukan apa yang kalian sukai, atau sebaliknya, kalian bisa menjadi volunteer karena hal-hal yang kita sukai. Sebagian dari kita mungkin senang bertemu dan bermain dengan anak-anak seperti Kak Abie dan juga memiliki ketertarikan pada pendidikan, sebagiannya lagi memiliki ketertarikan menjadi relawan untuk korban bencana alam seperti Kak Fajar, dan sebagian lainnya mungkin belum menemukan apa yang disukai, but it’s okay. Kita bisa mencoba banyak hal baru untuk memperluas zona nyaman kita bukan? Coba saja dulu, siapa tau kita temukan hal-hal menarik dan menyenangkan saat menjadi volunteer?

Selagi ada kesempatan dan kalian memiliki privilege untuk mengeksplor banyak hal, lakuin aja dulu. Karena saat menjadi volunteer, selain kalian membantu orang lain, kalian juga berproses untuk semakin mengenal diri sendiri.

-Septian Fajar

Apakah internship itu penting?

Penting atau tidaknya suatu kegiatan tergantung pada skala prioritas dari masing-masing individu. Internship atau magang bisa menjadi penting untuk sebagian mahasiswa karena ketika kita mengikuti kegiatan magang, maka kita akan mendapatkan pengalaman bekerja langsung dilapangan yang tidak bisa kita peroleh di kehidupan kampus. Ketika kita terjun langsung dilapangan, kita tidak jarang menemukan masalah-masalah yang harus segera diatasi dan dicari solusinya sehingga dapat meningkatkan kemampuan problem solving seseorang. 

Kemampuan tersebut sangat penting karena seperti yang Kak Fajar ceritakan dalam PCI Talks vol.2. Saat menjalani wawancara untuk melamar pekerjaan, pertanyaan yang ditanyakan bukan hanya pertanyaan umum seperti “kamu akan melihat dirimu 5 tahun lagi seperti apa”, akan tetapi lebih sering pertanyaan-pertanyaan mengenai problem solving. Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut, dibutuhkan pengalaman nyata yang setidaknya hampir mirip dengan masalah-masalah yang ditanyakan oleh perusahaan dan dapat kita peroleh ketika kita pernah terjun langsung dilapangan seperti saat menjadi volunteer atau internship di suatu organisasi atau perusahaan.

Selain itu, tidak menutup kemungkinan jika pekerjaan kita di masa depan akan sesuai dengan apa yg kita kerjakan saat menjalani internship, seperti yang dialami oleh Kak Sabrina, salah satu “alumni”  internship di PCI sekaligus audience di PCI TALKS vol. 2.

Sebagian perusahaan atau organisasi memang mengadakan program internship secara unpaid dan hal tersebut menjadi pertimbangan untuk beberapa orang. Tentu saja karena semua orang di dunia ini membutuhkan uang untuk bertahan hidup. Namun, adakalanya mendapatkan pengalaman lebih berharga dari pada mendapatkan gaji. 

The keys are earning, learning and networking. Learning dan networking akan mengarahkan kita ke earning.

-Abie Zaidannas Suhud

Seperti pesan dari Kak Abie, 3 hal yang paling penting untuk dipertimbangkan ketika memilih sesuatu adalah earning, learning dan networking. Namun learning dan networking akan mengarahkan kita pada earning di masa yang akan datang. Ketika kita mengikuti program internship, mungkin kita tidak akan mendapatkan sisi ‘earning’ apabila perusahaan atau organisasi yang kita pilih tidak memberikan fasilitas tersebut. Namun ‘learning’ dan ‘networking’ akan selalu bisa kita peroleh asal kita mau mengetuk pintu serta belajar dan menanyakan pertanyaan yang tepat. Kita mungkin tidak mendapatkan hasilnya secara langsung, tapi siapa yang tau apa yang akan terjadi di hari esok, bulan depan, atau 10 tahun lagi? The tree takes time to grow and bear fruit, isn’t it?.

Tak perlu tunggu hebat, untuk berani memulai apa yang kau impikan

-Terhebat, Coboy Junior

Beberapa dari kita mungkin ada yang merasa ragu untuk mencoba bergabung dalam kegiatan volunteer dan internship karena merasa tidak memiliki basic yang matang. Tapi, siapa orang yang tidak pernah merasa ragu di dunia ini? Just start today, mulailah melangkah melakukan sesuatu yang bisa mendekatkan kita ke impian kita karena kita tidak perlu menjadi sempurna saat memulai. Nikmati prosesnya serta belajar dari kesalahan dan lingkungan sekitar. Sejalan dengan apa yang diungkapkan Kak Abie, ketika kita masih muda, resiko yang kita dapatkan saat membuat kesalahan akan lebih sedikit. So, jangan takut untuk mencoba banyak hal yang kalian ingin coba!

Just do it! Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Mumpung masih ada kesempatannya. Bisa jadi, saat menjadi volunteer, kita bisa menemukan hal yang benar-benar kita nyaman dan sukai. Kita juga bisa mendapatkan kenalan baru, sahabat baru dan mungkin saja mereka yang kita temui saat volunteer dan internship adalah rekan kerja kita di masa yang akan datang seperti yang dialami oleh Kak Abie dan Kak Fajar. Selain itu, tidak menutup kemungkinan ketika kita menjadi volunteer dan intern, secara tidak langsung kita membantu orang-orang yg tidak seberuntung kita untuk mendapatkan sesuatu yang tidak mereka dapatkan sebelumnya, seperti pendidikan, kesehatan, rasa aman dan lainnya.

Just do good then you will get good. 

Untuk teman-teman yang memiliki ketertarikan terhadap bidang pendidikan dan senang bertemu dan berinteraksi dengan anak-anak, Project Child Indonesia bisa menjadi wadah yang tepat untuk memulai langkah baru. Project Child Indonesia membuka pendaftaran volunteer dan internship yang terbuka untuk seluruh Indonesia. Kalaupun internship dan volunter bukanlah hal yang teman-teman sukai namun ingin berkontribusi untuk membantu pendidikan anak-anak, kalian juga bisa mendonasikan sebagian uang saku kalian di kitabisa.com. Everyone can do good, no matter what you are interest in or how big the impact that you bring. The choice is yours.

Pandemi, Pendidikan, dan Teknologi

Ditulis oleh Vina Dina, Content Writer Intern di Project Child Indonesia

Pendidikan adalah proses memperoleh pengetahuan. Melalui pendidikan, baik di sekolah maupun diluar sekolah, anak akan mendapatkan pengetahuan mengenai hal-hal di sekitarnya dan diharapkan dapat mengubah dunia menjadi lebih baik lagi.  Menurut data Profil Anak Indonesia tahun 2018, Mayoritas anak usia 5-17 tahun berstatus masih bersekolah (83,62%). Sisanya sebesar 12,69% anak tidak/belum bersekolah dan 3,70% anak berstatus tidak bersekolah lagi. Jika dilihat menurut tipe daerah, persentase anak usia 5-17 tahun yang berstatus masih bersekolah di perkotaan lebih tinggi dibandingkan di pedesaan. Sebaliknya, persentase anak yang tidak bersekolah lagi di daerah perkotaan lebih kecil dibanding daerah perdesaan. Penyebab dari perbedaan persentase tersebut diakibatkan adanya perbedaan kemudahan akses pendidikan serta ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan.

Pandemi Covid-19 yang berlangsung semenjak awal tahun 2020 secara nyata menyebabkan banyak perubahan di berbagai sektor termasuk sektor pendidikan. Pada masa pandemi, pemerintah mengubah sistem pendidikan di Indonesia menjadi sistem pembelajaran jarak jauh dengan berbagai metode yang berkembang secara dinamis menyesuaikan kondisi pandemi. Salah satu dari metode tersebut yang juga merupakan metode yang paling umum digunakan adalah metode pembelajaran dalam jaringan (Daring). Dalam metode daring, sistem pembelajaran dilakukan sepenuhnya secara online, seperti penyampaian materi melalui video conference ataupun media online lain sehingga metode ini sangat bergantung pada jaringan online dan membutuhkan smartphone untuk dapat mengakses materi yang diberikan.

Sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia saat ini adalah Sistem Pendidikan Nasional, yaitu sistem yang pengelolaannya diselenggarakan secara sentralistik sehingga seluruh sistem dan kebijakan diatur oleh pemerintah pusat dan berlaku untuk nasional. Sistem Pendidikan Nasional didalamnya mengatur mengenai tujuan pendidikan, materi dan metode pembelajaran, tenaga kependidikan hingga untuk persyaratan kenaikan pangkat (Munirah, 2015 dalam Afifah, 2020). Oleh karena itu, perubahan sistem menjadi sistem pembelajaran jarak jauh akibat pandemi harus diterapkan oleh semua sekolah dan instansi perguruan tinggi yang ada di seluruh daerah di Indonesia.

Sistem pembelajaran jarak jauh dapat menjadi solusi belajar mengajar yang efektif dalam masa pandemi Covid-19 apabila setiap siswa dan pengajar memiliki ketersediaan akses terhadap jaringan internet dan smartphone atau personal computer (PC) lainnya serta menguasai cara penggunaan alat komunikasi dan aplikasi yang ada didalamnya. Akan tetapi, tidak semua pengajar dan siswa memiliki fasilitas tersebut sehingga dapat menghambat keberlangsungan proses belajar. Oleh karena itu, Project Child Indonesia menginisiasi program Online Learning Assistance untuk membantu anak-anak Sekolah Sungai, yaitu anak-anak di daerah bantaran Sungai Code, Sungai Winongo dan Sungai Gajahwong. Program Online Learning Assistance tersebut juga bekerja sama dengan PT. XL. Axiata Tbk. untuk memberikan bantuan kuota, serta sesi tutor secara online dan offline bersama dengan volunter agar anak-anak dapat lebih mudah memahami materi dan mengerjakan tugas mereka.

Selain itu, Project Child Indonesia juga membantu memfasilitasi belajar anak-anak Sekolah Sungai dalam proses belajar mengajar menggunakan Tablet PC yang dihibahkan oleh Kementerian Luar Negeri (KEMENLU) kepada Project Child Indonesia. Adanya bantuan hibah 35 Tablet PC oleh KEMENLU sangat membantu keberlangsungan dan kelancaran proses belajar mengajar anak-anak dan diharapkan dapat meningkatkan prestasi mereka karena berkurangnya hambatan untuk mengakses materi sekolah.

Perkembangan Pandemi Covid-19 yang sangat dinamis menuntut setiap manusia untuk juga dapat bergerak secara dinamis. Tidak menutup kemungkinan perubahan-perubahan di berbagai sistem yang terjadi untuk menyesuaikan keadaan pandemi akan tetap diterapkan meskipun pandemi telah berhasil diatasi. Keberhasilan suatu sistem tidak akan bisa dicapai oleh hanya satu manusia, namun hanya bisa diwujudkan bersama-sama sebagai satu kesatuan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk dapat saling mengulurkan tangan untuk membantu sesama sekecil apapun bantuan itu karena, everyone can do good.

Kamu juga bisa membantu meningkatkan fasilitas belajar anak-anak Sekolah Sungai dengan ikut berdonasi di KitaBisa.com Bantuan Belajar untuk Adik-Adik Sekolah Sungai. Bantuan akan disalurkan untuk keberlangsungan sekaligus biaya operasional kegiatan Online Learning Assistance. Everyone can do good, including you. So, when will you start?

Sumber:

https://www.kemenpppa.go.id/lib/uploads/slider/e56dc-15242-profil-anak-indonesia_-2019.pdf

Afifah, Nur. (2020). SISTEM PENDIDIKAN DI INDONESIA. 3.

http://pusdatin.kemdikbud.go.id/wp-content/uploads/2020/05/PANDUAN-PEMBELAJARAN-JARAK-JAUH-BELAJAR-DIRUMAH-MASA-C-19.pdf

Selamat Hari Bahagia Sedunia! Sudahkah Kamu Bahagia Hari Ini?

Ditulis oleh Vina Dina, Content Writer Intern Project Child Indonesia

Halo orang-orang baik! Selamat Hari Bahagia Sedunia!

Sudahkah kalian merasa bahagia saat ini? Kalau sudah, selamat! Jangan lupakan hal-hal yang membuat kamu bahagia karena tidak semua orang merasa bahagia saat ini. Jika kamu merupakan salah satu yang belum merasa bahagia, yuk duduk sebentar, hentikan sebentar aktivitas yang sedang kamu lakukan, lalu tarik nafas dalam. Tanyakan hal ini ke dirimu “Kapan ya terakhir kali aku benar-benar tersenyum dan tertawa lepas? Saat itu, apa ya yang membuat aku tersenyum atau tertawa?”

Sudah? Kalau sudah, semoga dengan mengingat kembali hal-hal yang menyenangkan untukmu bisa membuat kamu bahagia hari ini.

Setiap manusia pasti ingin bahagia bukan? Bahkan, beberapa diantaranya mendefinisikan kesuksesan dengan “hidup dengan rasa bahagia dan cukup”. Akan tetapi, semakin dewasa, perasaan bahagia mungkin lebih sulit untuk dirasakan apalagi pada kondisi pandemi yang saat ini tak kunjung usai. Sekarang ini, ada baiknya untuk kita menurunkan standar kebahagiaan yang kita miliki menjadi lebih sederhana. Kita perlu menyadari, banyak sekali hal-hal kecil yang bisa membuat kita merasa bahagia, seperti melihat senja di sore hari, menemukan jajanan favorit saat kita masih keciil, membantu mengerjakan tugas sekolah anak-anak tetangga sekitar rumah, atau sesederhana menemukan uang di saku celana yang lama tidak dipakai.

Di tengah kondisi pandemi ini, kita juga dapat menciptakan kebahagiaan loh! Sejalan dengan kampanye untuk memperingati Internasional Days of Happiness, kita bisa melalui masa yang kurang menyenangkan dengan 3 langkah baik, yaitu Keep Calm, Stay Wise and Be Kind.

Keep Calm

Sabar, satu persatu. Duduk sebentar, apa sih yang dikejar?

-NKCTHI

Di tengah ketidakpastian akan masa depan dan masalah-masalah yang diluar kontrol kita, penting bagi kita untuk tetap tenang. Don’t forget to breathe. Seringkali kita merasa semua urusan harus diselesaikan hari ini, semua pertanyaan harus kita temukan jawabannya sekarang, dan masa depan harus tergambar jelas dari detik ini. Tanpa kita sadari, kita memburu diri kita sendiri dan tidak menikmati masa yang saat ini sedang kita jalani sehingga kita selalu merasa tidak puas dan jauh dari rasa bahagia.

You already did your best and if there were many things which wouldn’t go as planned, it’s okay. Let yourself rest. Let the world fix it and decide what’s best for you

-Rara Noormega

Stay Wise

Apa yang kita lakukan akan selalu berdampak baik terhadap diri sendiri, lingkungan, maupun orang lain. Oleh karena itu, kita diharapkan dapat bijaksana dalam bertindak dan mengambil keputusan. Bukankah hidup memang selalu tentang pilihan? Seperti,

“Apakah lebih baik aku menggunakan uang yang tersisa untuk membeli barang-barang lucu, atau mendonasikan uang yang tersisa untuk membantu orang lain yang lebih membutuhkan?”

“Apakah aku harus mengubah lifestyle lebih ecofriendly untuk membantu menyelamatkan bumi atau tetap menggunakan produk-produk biasa yang lebih terjangkau?”

Tentu saja,  setiap pilihan memiliki resiko masing-masing dan pilihannya selalu ada ditangan kita. Namun, akan lebih bijak jika kita mempertimbangkan secara matang apa yang akan kita pilih sehingga tidak merugikan lingkungan dan diri sendiri serta akan lebih baik jika dapat membawa pengaruh positif ke lingkungan.

Everything can be taken from us but one thing: the freedom to choose our attitude in any given set of circumstances

-Viktor Frankl

Be Kind

Project Child Indonesia meyakini bahwa “everyone can do good”. Setiap manusia yang ada di bumi dapat memberikan kebaikan terhadap diri mereka sendiri, orang lain, dan lingkungannya. Apakah kebaikan yang diberikan harus dengan melakukan hal besar? tentu tidak, kawan. Bukankah, kerikil dilemparpun menjadi gelombang? Sekecil apapun kebaikan pasti akan memberikan dampak, seperti membantu membawakan koper lansia di stasiun, menutupi tumpahan minyak dilantai, dan menyisihkan beberapa rupiah untuk orang yang lebih membutuhkan.

Salah satu bentuk kebaikan yang bisa kita lakukan untuk orang lain kapanpun dan dimanapun adalah dengan berdonasi. Tanpa kita sadari, beberapa rupiah yang kita donasikan bisa jadi menyelamatkan hidup orang tersebut. Selain itu, menurut laman Greater Good Magazine, berdonasi dapat menciptakan rasa percaya dan terhubung secara sosial dan melepaskan endorfin yang dapat meningkatkan kebahagiaan. Tidak ada salahnya jika uang 25.000 yang awalnya kita gunakan untuk membeli boba milk tea kita donasikan untuk membantu pendidikan anak-anak, atau membantu bencana alam, dan lain-lain dengan harapan, beberapa rupiah yang kita donasikan dapat membuka jalan untuk mereka meraih masa depan.

Di bumi banyak orang baik, tapi kita masih perlu lebih banyak lagi

-NKCTHI

International Childfree Day

Ditulis oleh Anna Safira Salsabila, Content Writer Intern Project Child Indonesia

Seorang anak merupakan anugerah bagi setiap keluarga, sehingga menjadi orang tua adalah hal yang luar biasa. Namun, pilihan untuk mempunyai anak dan menjadi orang tua tidaklah mudah. Banyak kemudian yang pada akhirnya memilih untuk tidak memiliki anak sama sekali. Hal ini kemudian menjadi perhatian para aktivis dimana sudah seharusnya masyarakat menormalisasi hak seseorang untuk tidak memiliki anak (childless). Dikarenakan tidak semua orang berkeingininan dan mampu untuk mendirikan keluarga serta memiliki anak. Pada tanggal 1 Agustus kemudian diperingati sebagai “International Childfree Day“. Peringatan ini memiliki makna bahwa seseorang yang memilih untuk “childfree” tetap bisa menginspirasi dengan melakukan kebaikan-kebaikan lainnya. Pada peringatan ini setiap tahunnya, diadakan nominasi-nominasi untuk pria dan wanita “childfree” untuk mendapatkan penghargaan karena jasa-jasa mereka untuk lingkungan dan dunia yang tentunya menginspirasi orang lain. Seperti pada tahun 2019, Soot Liang Woo dari Thailand yang dinobatkan sebagai Childfree Person of the Year. Soot adalah seorang aktivis yang mendirikan suaka serta penggalangan dana untuk hewan-hewan seperti anjing dan kucing. Soot merupakan seorang childfree karena alasan overpopulation yang sedang terjadi di dunia. Ia dinobatkan sebagai Childfree Person of The Year pada tahun 2019 karena perjalanannya sebagai advokat hewan yang penuh tantangan sehingga sangat menginspirasi. Pada peringatan “International Childfree Day” ini bisa dimaknai dengan bahwa apapun keputusan seseorang, termasuk untuk tidak memiliki anak, tidak menghalangi untuk selalu berbuat kebaikan dan menginspirasi sesama.

Referensi

  • https://internationalchildfreeday.com/

Hello Me! Let’s Be Friend

Ditulis oleh Nindy Silvia Anggraini, Penulis Konten Project Child Indonesia

Aku terlahir sebagai makhluk sosial. Berinteraksi dengan orang lain sudah menjadi sebuah tuntutan bahkan sejak sebelum aku dilahirkan. Di Umurku yang masih balita ibu dan ayah mengajariku cara berbicara yang tujuannya adalah membangun komunikasi dengan mereka. Beranjak dewasa, aku dipertemukan dengan lingkungan yang lebih luas. Sekolah menuntutku untuk bersosialisasi, berinteraksi dan menjalin pertemanan dengan mereka orang-orang di sekitarku. Kata orang, paling tidak kita harus memiliki satu teman yang akan selalu ada untuk kita untuk bertahan hidup. Tempat kita berbagi cerita, berkeluh kesah, tertawa, menangis, melakukan banyak hal bersama. Kata orang, kita tidak bisa hidup sendirian. Kata orang, hidup akan lebih ringan bila dipikul bersama. Oleh karena itu aku dituntut sejak kecil untuk selalu bersikap baik didepan banyak orang. Mengumpulkan orang-orang yang bisa kujadikan “temanku” agar aku tidak kesepian. Aku berusaha menahan egoku untuk bisa menerapkan nilai “saling” dalam sebuah hubungan pertemanan. Saling berbagi, saling mengerti, saling menyayangi, semuanya hubungan timbal balik. Tapi sebentar, bolehkah aku berfikir sedikit aneh dan berbeda dari kalian?

Aku mengakui bahwa aku makhluk sosial yang membutuhkan orang lain untuk bertahan hidup. Tapi jangan lupakan fakta bahwa manusia juga makhluk individu dengan kepentingan dan kesusahan mereka masing-masing. Aku adalah aku dengan kesusahan, kesenangan, tanggung jawab dan hak ku sendiri. Menurutku, seberapa dalam kita membangun sebuah hubungan pertemanan atau apapun itu, pada akhirnya kita akan berjuang sendiri demi diri kita sendiri. Sejak awal aku sedikit tidak setuju dengan nilai dasar dari hubungan pertemanan “saling”. Aku tahu mereka teman-temanku memiliki masalahnya dan kegembiraannya sendiri, dan aku merasa tidak perlu menambah bebannya untuk memikirkan tentang masalah yang kumiliki. Tidak, tidak berarti aku menyalahkan nilai persahabatan yang indah itu. Aku sangat menyukai ketika ada seseorang yang selalu bersorak untuk kegembiraanku dan ikut menangis bersama kesedihanku. Tapi bukankah aku juga harus melakukan sebaliknya untuk “membalas” jasanya? Disinilah masalahku dimulai. Aku terlalu larut dengan tugasku sebagai teman dan melupakan bahwa aku adalah diriku sendiri. Bukan berlagak sok perhatian, tapi aku merasa terlalu banyak mengkhawatirkan lingkungan sekitarku dan melupakan diriku yang sedang berjuang sendirian.

 Tapi tidak ada kata terlambat untuk ini. Aku harus bisa bertahan menyandang label makhluk sosial sekaligus makhluk individu. Aku bersyukur atas kehadiran teman-temanku. Mereka sangat membantu masa-masa sulitku dan mereka juga ikut senang di saat-saat bahagiaku. Tapi mulai saat ini aku akan mulai berteman dengan diriku sendiri. Memahami, menghargai, menjaga, dan merawat diriku sendiri yang sudah berjuang melewati hari demi hari yang aku sendiri tidak dapat prediksi baik dan buruknya. Terimakasih sudah selalu bertahan dalam segala keadaan, selamat hari persahabatan, diriku!