International Childfree Day

Ditulis oleh Anna Safira Salsabila, Content Writer Intern Project Child Indonesia

Seorang anak merupakan anugerah bagi setiap keluarga, sehingga menjadi orang tua adalah hal yang luar biasa. Namun, pilihan untuk mempunyai anak dan menjadi orang tua tidaklah mudah. Banyak kemudian yang pada akhirnya memilih untuk tidak memiliki anak sama sekali. Hal ini kemudian menjadi perhatian para aktivis dimana sudah seharusnya masyarakat menormalisasi hak seseorang untuk tidak memiliki anak (childless). Dikarenakan tidak semua orang berkeingininan dan mampu untuk mendirikan keluarga serta memiliki anak. Pada tanggal 1 Agustus kemudian diperingati sebagai “International Childfree Day“. Peringatan ini memiliki makna bahwa seseorang yang memilih untuk “childfree” tetap bisa menginspirasi dengan melakukan kebaikan-kebaikan lainnya. Pada peringatan ini setiap tahunnya, diadakan nominasi-nominasi untuk pria dan wanita “childfree” untuk mendapatkan penghargaan karena jasa-jasa mereka untuk lingkungan dan dunia yang tentunya menginspirasi orang lain. Seperti pada tahun 2019, Soot Liang Woo dari Thailand yang dinobatkan sebagai Childfree Person of the Year. Soot adalah seorang aktivis yang mendirikan suaka serta penggalangan dana untuk hewan-hewan seperti anjing dan kucing. Soot merupakan seorang childfree karena alasan overpopulation yang sedang terjadi di dunia. Ia dinobatkan sebagai Childfree Person of The Year pada tahun 2019 karena perjalanannya sebagai advokat hewan yang penuh tantangan sehingga sangat menginspirasi. Pada peringatan “International Childfree Day” ini bisa dimaknai dengan bahwa apapun keputusan seseorang, termasuk untuk tidak memiliki anak, tidak menghalangi untuk selalu berbuat kebaikan dan menginspirasi sesama.

Referensi

  • https://internationalchildfreeday.com/

Hello Me! Let’s Be Friend

Ditulis oleh Nindy Silvia Anggraini, Penulis Konten Project Child Indonesia

Aku terlahir sebagai makhluk sosial. Berinteraksi dengan orang lain sudah menjadi sebuah tuntutan bahkan sejak sebelum aku dilahirkan. Di Umurku yang masih balita ibu dan ayah mengajariku cara berbicara yang tujuannya adalah membangun komunikasi dengan mereka. Beranjak dewasa, aku dipertemukan dengan lingkungan yang lebih luas. Sekolah menuntutku untuk bersosialisasi, berinteraksi dan menjalin pertemanan dengan mereka orang-orang di sekitarku. Kata orang, paling tidak kita harus memiliki satu teman yang akan selalu ada untuk kita untuk bertahan hidup. Tempat kita berbagi cerita, berkeluh kesah, tertawa, menangis, melakukan banyak hal bersama. Kata orang, kita tidak bisa hidup sendirian. Kata orang, hidup akan lebih ringan bila dipikul bersama. Oleh karena itu aku dituntut sejak kecil untuk selalu bersikap baik didepan banyak orang. Mengumpulkan orang-orang yang bisa kujadikan “temanku” agar aku tidak kesepian. Aku berusaha menahan egoku untuk bisa menerapkan nilai “saling” dalam sebuah hubungan pertemanan. Saling berbagi, saling mengerti, saling menyayangi, semuanya hubungan timbal balik. Tapi sebentar, bolehkah aku berfikir sedikit aneh dan berbeda dari kalian?

Aku mengakui bahwa aku makhluk sosial yang membutuhkan orang lain untuk bertahan hidup. Tapi jangan lupakan fakta bahwa manusia juga makhluk individu dengan kepentingan dan kesusahan mereka masing-masing. Aku adalah aku dengan kesusahan, kesenangan, tanggung jawab dan hak ku sendiri. Menurutku, seberapa dalam kita membangun sebuah hubungan pertemanan atau apapun itu, pada akhirnya kita akan berjuang sendiri demi diri kita sendiri. Sejak awal aku sedikit tidak setuju dengan nilai dasar dari hubungan pertemanan “saling”. Aku tahu mereka teman-temanku memiliki masalahnya dan kegembiraannya sendiri, dan aku merasa tidak perlu menambah bebannya untuk memikirkan tentang masalah yang kumiliki. Tidak, tidak berarti aku menyalahkan nilai persahabatan yang indah itu. Aku sangat menyukai ketika ada seseorang yang selalu bersorak untuk kegembiraanku dan ikut menangis bersama kesedihanku. Tapi bukankah aku juga harus melakukan sebaliknya untuk “membalas” jasanya? Disinilah masalahku dimulai. Aku terlalu larut dengan tugasku sebagai teman dan melupakan bahwa aku adalah diriku sendiri. Bukan berlagak sok perhatian, tapi aku merasa terlalu banyak mengkhawatirkan lingkungan sekitarku dan melupakan diriku yang sedang berjuang sendirian.

 Tapi tidak ada kata terlambat untuk ini. Aku harus bisa bertahan menyandang label makhluk sosial sekaligus makhluk individu. Aku bersyukur atas kehadiran teman-temanku. Mereka sangat membantu masa-masa sulitku dan mereka juga ikut senang di saat-saat bahagiaku. Tapi mulai saat ini aku akan mulai berteman dengan diriku sendiri. Memahami, menghargai, menjaga, dan merawat diriku sendiri yang sudah berjuang melewati hari demi hari yang aku sendiri tidak dapat prediksi baik dan buruknya. Terimakasih sudah selalu bertahan dalam segala keadaan, selamat hari persahabatan, diriku!

Ini Dia Alternatif Pemakaian Plastik Untuk Bisnis Rumahan Yang Ramah Lingkungan

Ditulis oleh Anna Safira Salsabila, Content Writer Project Child Indonesia

Bisnis rumahan merupakan bisnis yang populer dan sedang dijalani oleh berbagai kalangan khususnya, selama pandemi COVID-19 ini mulai berjalan di Indonesia. Masyarakat banyak yang beralih untuk menjalankan bisnis rumahan karena banyak dari mereka yang kurang beruntung mendapat PHK dari kantor. Tetapi juga banyak yang ingin mencoba peruntungan di bidang ini dikarenakan sangat potensial untuk dijalankan. Bisnis rumahan di kala pandemi ini mulai dari pakaian, makanan, dan peralatan lainnya memberikan peluang yang besar karena masyarakat menjadi cenderung untuk lebih konsumtif selama di rumah saja. Namun, peningkatan bisnis rumahan sejalan dengan meningkatnya penggunaan plastik. Hal ini karena kebanyakan bisnis rumahan menggunakan packaging berbahan plastik. Padahal, sampah plastik berbahaya untuk lingkungan. Dikutip dari The Telegraph, penguraian sampah plastik bisa memakan waktu sampai dengan 400 tahun, dan membakarnya akan menimbulkan zat-zat berbahaya di udara. Nah, agar bisnis kita ramah lingkungan dan mendukung eco living, berikut bahan-bahan pengganti plastik yang dapat digunakan untuk bisnis rumahan. 

1. Kantong Kertas

Kantong kertas atau yang biasa dikenal dengan sebutan paperbag merupakan alternatif pengganti plastik yang cocok untuk bisnis makanan. Selain ramah lingkungan, paperbag juga ringan dan praktis. Kita juga dapat mendesain kemasan paperbag sesuai keinginan kita sehingga lebih menarik sebagai packaging

2. Reusable bag

Alternatif pengganti plastik berikutnya yaitu reusable bag atau tas yang bisa digunakan berulang kali. Reusable bag ini sangat bermanfaat karena dapat digunakan tidak hanya pada saat membeli produk saja melainkan dapat juga digunakan setelahnya untuk kebutuhan lainnya. 

3. Kardus

Pemakaian kardus untuk mengganti penggunaan plastik sangatlah efisien dan ramah lingkungan. Hal ini karena kardus adalah bahan yang kokoh sehingga cocok untuk packaging berbagai produk. Selain itu, kardus juga bisa digunakan lagi atau didaur ulang dan dikreasikan. 

Itu dia, beberapa alternatif untuk mengurangi penggunaan plastik dalam bisnis rumahan yang bisa kita coba. Karena menurut data dari KLHK, 64 juta ton sampah setiap tahunnya dan 60% nya berasal dari sampah plastik. Sehingga, mengurangi sampah plastik dapat menjaga ekosistem dunia. Menerapkan prinsip ramah lingkungan juga dapat menyelamatkan bumi di masa yang akan datang. 

Referensi

Hari Anak Nasional : Bertumbuh Dalam Dunia Maya

Ditulis oleh Nindy Silvia Anggraini, Penulis Konten Project Child Indonesia

Hari Anak Nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli tahun ini jelas akan berbeda pelaksanaannya dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pandemi Covid-19 yang mengharuskan kita semua untuk menerapkan social distancing, sehingga tidak akan ada perayaan seperti biasanya. Namun, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPPA) hadir dengan ide yang segar yakni mengadakan acara Hari Anak Nasional secara virtual. Dengan merayakan di rumah, perayaan Hari Anak Nasional 2020 akan disiarkan melalui daring lewat aplikasi Zoom dengan peserta dari seluruh provinsi sebanyak 750 orang dan melalui TV serta radio. 

Tema yang diangkat untuk tahun ini adalah “Anak Terlindungi, Indonesia Maju”. Bukan tanpa maksud, pengambilan tema tersebut mengajak masyarakat untuk melihat apa yang ada di sekitar mereka dan menumbuhkan rasa kepedulian terhadap anak-anak terutama selama masa pandemi ini. Kenapa terlindungi? karena dari 79 juta lebih anak Indonesia, di antaranya adalah anak-anak banyak yang harus dapat perlindungan khusus terutama yang dalam situasi darurat seperti ini. Anak-anak dalam situasi tertentu perlu perhatian dan perlindungan lebih, dengan harapan kita bisa menyiapkan masa depan anak-anak sebaik mungkin. Karena saat ini bukan hanya orang dewasa saja yang merasakan dampak dari Covid-19, namun adanya pandemi ini juga akan berpengaruh pada anak terutama pada kegiatan belajar, aktivitasnya dalam bersosialisasi, dan juga dalam tumbuh kembang anak yang berkaitan dengan eksplorasi lingkungan sekitarnya. Belum lagi mereka yang tumbuh dalam keluarga kurang mampu dan tidak dapat menerapkan pola pembelajaran jarak jauh. Pemerintah, dalam tema hari anak kali ini juga fokus pada perlindungan anak-anak Indonesia terhadap resiko penularan Covid-19. Indonesia sebagai negara berkembang dengan banyak masyarakat menengah kebawah yang untuk mengisi perut saja sudah kebingungan, bagaimana bisa berfikir tentang sanitasi yang baik dan perlindungan terhadap imun? Rendahnya kesejahteraan masyarakat menjadi faktor pendukung meningkatnya resiko penularan Covid-19. Untuk itu, pemerintah menjadikan hari anak sebagai momentum dalam menyuarakan masalah ini.

Namun terlepas dari hal tersebut, pembelajaran sosialisasi lah yang akan paling mempengaruhi. Semua sekarang serba daring, semua memerlukan akses internet termasuk tumbuh kembang anak. Seperti yang kita tahu, dunia maya adalah dunia tanpa sekat yang dapat menghubungkan apapun, siapapun,dan dimanapun. Masa kanak-kanak merupakan fase mengeksplor dengan tingkat keingintahuan yang sangat tinggi. Bukankah disini berarti orangtua harus memberi perhatian yang lebih besar pula pada anaknya? Faktanya, akses internet yang tanpa batas adalah gudang pengetahuan, rasa ingin tahu anak-anak terjawab semua lewat internet. Dengan catatan, entah itu pengetahuan baik maupun buruk. Berbeda anak akan berbeda pula cara memaknai sebuah informasi. Orangtua dalam hal ini sebisa mungkin meningkatkan pengawasan dan perhatiannya terhadap penggunaan internet oleh anak-anak. Gunakan fitur-fitur yang aman untuk anak dan pantau selalu tumbuh kembangnya. 

Referensi 

https://nasional.kompas.com/read/2020/07/20/15520411/hari-anak-nasional-23-juli-2020-diperingati-melalui-virtual

Yuk Lakukan Kegiatan Ini Selama Di Rumah Aja!

Ditulis oleh Anna Safira Salsabila, Content Writer Intern Project Child Indonesia

Lockdown akibat pandemi COVID-19 sudah berjalan selama 5 bulan terhitung sejak bulan Maret hingga Juli 2020. Tentu waktu yang tidak sebentar untuk menghabiskan waktu di rumah saja dan membatasi bahkan menghentikan aktivitas di luar ruangan, karena seperti yang kita ketahui, segala kegiatan belajar mengajar dialihkan melalui sarana daring atau online merujuk pada Surat Edaran Mendikbud Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan COVID-19 dan Nomor 36962/MPK.A/HK/2020. Sehingga sebisa mungkin kita dapat mengisi waktu-waktu di rumah dengan sebaik mungkin. Ada beberapa kegiatan menarik yang tentunya bermanfaat yang dapat kita lakukan selama berada di rumah, berikut diantaranya.

1. Membaca di Perpustakaan Online

Selama pandemi tentu kita tidak dapat bepergian ke tempat-tempat umum kecuali dalam keadaan mendesak, sehingga opsi yang bisa kita pakai adalah dengan mengunjunginya secara online. Bagaimana bisa? Nah, kita bisa mengunjungi salah satunya adalah perpustakaan online disediakan secara gratis dan bisa diakses oleh semua orang, salah satunya adalah www.perpusnas.go.id yang merupakan web resmi perpustakaan nasional Indonesia.

2. Berdonasi

Banyak hal terjadi selama 5 bulan terakhir ini, termasuk banyak hal-hal kurang beruntung yang menimpa sesama akibat adanya pandemi COVID-19. Oleh karenanya, sebagai sesama manusia kita harus saling membantu dengan cara yaitu berdonasi melalui berbagai platform media. Link untuk berdonasi salah satunya adalah melalui donasi resmi PMI, http://donasi.pmi.or.id/ untuk membantu korban COVID-19. Selain itu, kita juga dapat berdonasi untuk membantu anak-anak kurang mampu yang sangat terdampak oleh pandemi ini. Mereka membutuhkan bantuan berupa kuota internet agar dapat mendukung proses belajar mengajar selama pandemi. Donasi ini dapat dilakukan melalui crowdfunding yang dilakukan oleh Gollaborate bekerjasama dengan Project Child Indonesia dengan link https://kitabisa.com/campaign/gollaboratexpci.  

3. Bercocok Tanam

Kegiatan bercocok tanam merupakan kegiatan yang sangat cocok dilakukan selama berada di rumah yang tidak berkaitan dengan menatap layar gadget. Menggunakan media tanam sederhana dengan tata cara yang mudah, tentu bercocok tanam dapat dijadikan kegiatan untuk mengisi waktu-waktu senggang selama berada di rumah saja. Selain menyenangkan, kegiatan bercocok tanam juga dapat membantu menyelamatkan lingkungan hidup.

Nah, demikian hal-hal bermanfaat yang dapat kita lakukan selama pandemi COVID-19 ini. Jangan lupa tetap selalu jaga keselamatan dan patuhi protokol kesehatan yang sudah ada.

Berbagi Kehidupan Melalui Donor Darah

Ditulis oleh Graciella Stephanie Ganadhi, Content Writer Intern Project Child Indonesoa

Darah sering disebut sebagai sumber kehidupan. Darah mempunyai fungsi penting untuk mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh kita sehingga organ-organ tubuh kita bisa berfungsi dengan baik. Jika kelancaran aliran darah kita terganggu seperti dalam kasus hiperkoagulasi yang menyebabkan darah penderita terlalu mudah menggumpal sehingga mereka harus selalu meminum obat pengencer darah untuk memastikan kelancaran peredaran darah. Selain itu, ada penyakit kelainan hemofilia dimana penderita memiliki darah yang sulit membeku sehingga penderita sering membutuhkan transfusi darah jika mereka terluka dan mengeluarkan banyak darah. Tidak jarang para penderita penyakit darah ini memiliki pengalaman yang lebih sulit jika mereka memiliki penyakit lain seperti gagal ginjal dan diabetes dikarenakan gangguan pada darah mereka yang mempersulit proses operasi ataupun perawatan.

Melihat pentingnya fungsi darah dalam hal kesehatan, tentu penanganan sumbangan darah tidak boleh sembarangan. Di Indonesia, Palang Merah Indonesia (PMI) adalah penanggung jawab utama dalam hal pendistribusian sumbangan darah dan tentunya memastikan keamanan kantong-kantong sumbangan darah yang didistribusikan. PMI bertanggung jawab untuk menyediakan kantong darah ke rumah-rumah sakit untuk digunakan dalam proses operasi atau penanganan pasien. Sayangnya, selama masa pandemi COVID-19, PMI mengalami kesulitan untuk mengumpulkan sumbangan darah karena adanya pembatasan sosial. Sebagian besar pendonor memilih untuk tidak mendonorkan darahnya selama masa pandemi karena adanya himbauan untuk tidak mengunjungi pelayanan kesehatan jika tidak ada kebutuhan mendesak.

Untungnya, PMI memiliki inisiasi bernama PMI Mobile yang bertujuan untuk memudahkan para pendonor untuk mendonorkan darahnya. Tidak perlu khawatir harus keluar rumah dan terpapar resiko tinggi tertular COVID-19, para pendonor cukup mendaftarkan diri ke PMI lalu PMI akan mengumpulkan pendonor di satu daerah, tentunya dengan mengindahkan peraturan penjarakan fisik dan larangan berkumpul dengan 10 orang atau lebih. Informasi lebih lanjut bisa diakses melalui http://ayodonor.pmi.or.id/mobilemu.php

Jadi, tunggu apa lagi? Kalau kamu memenuhi syarat untuk mendonorkan darah, yuk langsung saja menyumbang! Sumbangan darahmu bisa berkontribusi penting bagi hidup orang lain lho! Kalau mencatut dari laman PMI, katanya nih: Give Blood, Give Life. Yuk!

Referensi:

HARDIKNAS: Saatnya Melawan Diri

Ditulis oleh Graciella Stephanie Ganadhi, Penulis Konten Project Child Indonesia

Pada 3 Juli 1922, tiga tahun setelah kembali ke tanah air dari pengasingannya di Belanda, Ki Hajar Dewantara mendirikan “National Onderwijs Institut Tamansiswa” (Sekolah Taman Siswa) di Yogyakarta. Sekolah ini merupakan sumbangsihnya terhadap pendidikan muda-mudi tanah air yang kala itu dibatasi oleh pemerintah Hindia Belanda untuk menuntut ilmu. Kala itu, orang yang berhak bersekolah hanyalah kalangan ningrat, orang peranakan, dan anak priyayi. Filosofinya yang paling dikenang dan dihidupi hingga sekarang adalah “Patrap Triloka” yang berbunyi: “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani (Di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan).” Menurutnya, semua orang, terlepas dari latar belakang dan kemampuan ekonominya, berhak untuk mengenyam pendidikan yang dapat berperan dalam perbaikan hidupnya.

Setiap tahunnya, tanggal 2 Mei selalu diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional yang bertepatan dengan hari kelahiran Ki Hajar Dewantara. Sebagai muda-mudi Indonesia di jaman sekarang, semangat kita seharusnya sepadan dengan semangat yang dimiliki Ki Hajar Dewantara. Bapak Pendidikan kita di masa mudanya telah berjuang melawan pemerintah Hindia Belanda demi mewujudkan kesetaraan pendidikan bagi seluruh rakyat. Pada jaman sekarang, yang merupakan lawan kita mungkin bukan pemerintah Hindia Belanda, melainkan kemalasan kita sendiri yang dengan mudah bisa kita lawan. Sebelum adanya keputusan untuk pembelajaran daring, banyak dari kita yang acapkali mengeluh dan menyuarakan keinginan untuk belajar dari rumah karena kita sudah terlalu bergantung pada internet untuk segala kebutuhan kita. Namun, nyatanya, setelah diputuskan untuk melaksanakan pembelajaran melalui daring, banyak dari kita yang protes karena kesulitan. Memang, seperti yang dirasakan oleh Ki Hajar Dewantara, perubahan itu pasti menyulitkan, apalagi dengan banyaknya dari kita yang mungkin masih kurang paham tentang penggunaan pembelajaran daring. Tetapi, janganlah biarkan penghalang kecil bernama keengganan belajar dan kemalasan ini menghalangi langkah kita untuk menuntut ilmu. Jangan sia-siakan perjuangan Ki Hajar Dewantara yang berjuang untuk kesetaraan pendidikan kita semua. Ujian kita lebih mudah, jadi marilah kita sebagai muda-mudi Indonesia terus berjuang mengalahkan ego kita sendiri demi masa depan kita yang lebih cerah!

Referensi:

  • https://id.wikipedia.org/wiki/Sekolah_Taman_Siswa
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Hadjar_Dewantara
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Pendidikan_Nasional

COVID-19: Aku Bisa Bantu Apa Sih?

Ditulis oleh Graciella Stephanie Ganadhi. Content Writer Project Child Indonesia

Kalau ada yang menyebut frasa “tenaga medis”, apa sih hal yang langsung muncul di otak kalian? Dokter atau suster? Seringnya, kita berpikiran kalau dokter itu jasanya yang paling besar dalam penanganan COVID-19 terus kita lupa deh kalau ada banyak suster dan bidan yang juga bekerja keras dan mempertaruhkan nyawa untuk membantu pemerintah dalam penanganan pandemi ini.

World Health Day yang diselenggarakan oleh World Health Organization (WHO) tahun ini mengusung tema: dukung suster dan bidan. Lah, terus, apa hubungannya sama kita yang cuma masyarakat awam? Kan, kita juga ga bisa ngapa-ngapain? Hmm, sebenarnya itu adalah cara pikir yang salah kaprah, teman-teman. Banyak cara, loh, untuk kita membantu para tenaga medis yang sedang berjuang menangani pasien yang terjangkit coronavirus:

  • Cuci tangan, cuci, tangan, cuci tangan! Usahakan tangan kalian selalu bersih. Ada kemungkinan besar tangan kalian menjadi sumber berkumpulnya virus dan bakteri.
  • Jangan menyentuh area muka, terutama mata, hidung, dan mulut! Coronavirus menyebar lewat droplet atau cairan. Area mata, hidung, dan mulut menjadi area rentan masuknya virus.
  • Selalu pakai masker! Jika kalian harus berpergian keluar, gunakan masker yang menutupi hidung dan mulut. Kalau kalian memakai masker kain, pastikan masker dicuci dan didesinfektan setelah 4 jam digunakan. Jangan pernah memakai masker N95 yang sangat diperlukan oleh para tenaga medis. Kalian ga perlu lebay, tenaga medis lebih butuh daripada kita yang tidak kontak langsung dengan pasien positif corona.
  • Mandi dan rendam pakaian yang kalian pakai keluar rumah menggunakan cairan desinfektan!
  • #dirumahaja! Kalau tidak benar-benar mendesak, mending kalian di rumah aja. Selain lebih aman, kalian juga mengurangi resiko terinfeksi dan menginfeksi.
  • Ikuti anjuran pemerintah yuk! Anjuran yang dikeluarkan pemerintah itu bukan asal ngomong, teman-teman. Pemerintah juga ingin pandemi ini segera selesai sehingga semua aktivitas bisa kembali lancar seperti biasa. 

Sebenarnya, membantu tenaga medis dalam situasi seperti sekarang ini tuh mudah banget kok. Kalau kalian tetap sehat, kalian sudah meringankan pekerjaan mereka dan mengurangi resiko pekerjaan mereka. Jadi, kesehatan kalian itu udah lebih dari cukup kok, teman-teman. Yuk, semuanya tetap sehat, ya!

References:

  • https://www.who.int/news-room/campaigns/world-health-day/world-health-day-2020

Jangan-Jangan Aku Kena COVID-19?

Ditulis oleh Graciella Stephanie Ganadhi, Content Writer Project Child Indonesia

Akhir-akhir ini apa kalian pernah merasa parno tiba-tiba tenggorokan mulai sakit, agak demam, terus dada juga mulai sesak sehabis kalian nonton berita tentang COVID-19? Lalu kalian jadi bertanya-tanya, jangan-jangan aku kena COVID-19? Hm, kemungkinannya sih sebenernya kecil banget, hampir ngga mungkin malah. Kalo kalian habis jalan-jalan ke luar negeri atau ketemu sama penderita COVID-19 sih, mungkin aja kalian kena COVID-19, tapi kalo kalian udah social distancing dan tiba-tiba kalian merasa sakit, mungkin aja itu cuma gejala psikosomatik dari otak kalian, guys!

Jadi, otak kita ini punya bagian yang namanya amigdala. Nah, amigdala ini apa sih? Basically, amigdala itu punya fungsi macam-macam, guys. Salah satunya adalah mengatur rasa takutmu. Nonton berita dalam jangka waktu yang cukup lama, terutama berita yang bikin takut kaya berita COVID-19 akhir-akhir ini bikin otak kalian, terutama sistem saraf otonom, terus-terusan berada di posisi fight atau flight sehingga kalian jadi stres. Stres kalian inilah yang menyebabkan ketidakseimbangan antara sistem saraf simpatetik dan parasimpatetik sehingga muncul reaksi psikosomatik yang mirip gejala COVID-19.

Stres berlebih itu sebenarnya merugikan, lho. Sebuah penelitian oleh André Bovis dan André Simoneton di 1949 menunjukkan bahwa stres dapat menyebabkan penurunan frekuensi tubuh. Jadi, semua benda di alam semesta ini bergetar dan memiliki frekuensi, mulai dari sel sampai atom. Orang yang sehat seharusnya punya frekuensi antara 7000 hingga 8000 uB (unit Bovis). Kalo seseorang punya frekuensi yang kurang dari 1000 uB, artinya orang tersebut sudah mendekati kematian. Orang yang sakit parah bakal punya frekuensi antara 2000 hingga 3000 uB, sedangkan orang yang sakit dan stres bakal punya frekuensi dibawah 5000 uB. Nah, ketakutan atau kecemasan berlebih dapat menyebabkan turunnya frekuensi tubuh menjadi dibawah 5000 uB dan ini bisa jadi bahaya untuk kita. Studi menunjukkan virus juga punya frekuensi sekitar 5000 uB. Artinya, jika frekuensi tubuh kalian berada dibawah 5000 uB seperti saat kalian stres, virus akan mengira bahwa tubuh kalian adalah “rumah” karena frekuensi yang mirip. Jadi ketika kalian stres, virus bakalan lebih mudah masuk dan bikin kalian sakit.

Sebaiknya, jangan khawatir dan stres berlebihan tentang berita, guys. “Sadar bukan cemas, siap bukan panik” harusnya jadi moto kalian dalam menghadapi situasi sekarang ini. Tetep nonton berita, yah! Tapi gausah dibawa stres. Saat kaya gini penting untuk melek berita, tapi juga kesehatan harus tetap jadi nomor satu. Tonton berita secukupnya, kalo perlu, jam nonton berita itu udah kalian jadwal. Jangan seharian mantengin berita. Habis nonton berita, kalian bisa ngegame atau olahraga ringan atau meditasi buat meredakan stres juga bisa banget, lho. Yuk, batasi nonton berita yang bikin stres dan tetap mengutamakan kesehatan ya!

Referensi:

  • http://www.lamartinablanca.com/Unidades_Bovis.html
  • https://whitemagicway.com/bovisbiometer.html
  • https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200323131032-255-486024/cegah-corona-jadi-jadian-akibat-stres-dan-cemas-berlebih
  • https://twitter.com/mbahndi/status/1241556884261224449?s=08

#CeritaVolunteer : Nadhia, Volunteer Sekolah Sungai Batch #29

Oleh : Nadhia Dheany, Volunteer Sekolah Sungai Batch #29

Halo! Aku Nadhia Dheany, aku merupakan salah volunteer #Batch29 di Project Child Indonesia. Aku mengambil Program Sekolah Sungai yang bertepatan di Sungai Gajahwong Yogyakarta. Yang membuat aku tertarik untuk mengikuti kegiatan volunteer di Sekolah Sungai karena selain untuk mengisi waktu aku juga ingin mencari kegiatan baru dan mendapatkan pengalaman baru.

Program volunteer #Batch29 ini dimulai dari sekitaran bulan Juli 2019 dimana waktu itu aku dan teman teman lain yang akan menjadi volunteer diberikan training terlebih dahulu. Dan pada training ini aku mendapatkan pelajaran baru, yaitu tentang pedagogi untuk pertama kalinya. Dari training ini pula aku tau kalau kedepannya aku akan dihadapkan dengan hal – hal yang baru yang belum pernah aku dapatkan sebelumnya. Dan pada hari itu juga itu adalah kali pertama aku bertemu teman – teman yang sangat ramah, baik dan juga aktif sehingga dari sinilah terlihat juga kalau orang-orangnya bisa diajak untuk bekerjasama dengan baik. 

Untuk kegiatan dari sekolah sungai pun juga tidak terlalu menyita waktu, untuk sekolah sungai di Gajahwong diadakan setiap hari selasa dari jam 15.00 – 17.00 WIB . Hal yang paling seru itu ketika jemput adik – adik kerumah mereka dan melihat adik adik yang semangat untuk bermain dan juga belajar bersama dengan para kaka – kaka volunteer

Dan untuk kegiatan setiap minggunya sebagai volunteer juga tidak hanya pergi ke sekolah sungai setiap hari selasa aja tapi juga di Project Child Indonesia juga ada kegiatan study club di setiap minggunya dimana setiap minggunya topiknya juga berbeda – beda dan itu yang bikin aku tambah senang menjadi volunteer di Project Child, karna dari study club ini aku juga mendapatkan ilmu – ilmu baru setiap minggu nya. Dan disini aku juga merasa menjadi volunteer itu tidak hanya membagi kebaikan dengan orang lain saja tetapi juga memberi kebaikan bagi diri kita sendiri dan membuat aku menjadi manusia yang lebih berkembang dari sebelumnya.