Hari Oeang “Sigap dalam Menghadapi Tantangan”

Selamat Hari Keuangan Nasional 2022! 

Masyarakat Indonesia sudah 76 kali memperingati hari nasional ini loh. Hari Keuangan Nasional atau yang bisa disebut juga sebagai Hari Oeang Republik Indonesia ini ditetapkan pertama kali pada tanggal 1946.

Sejak kemerdekaan, Indonesia masih menggunakan mata uang Jepang dan juga NICA (Netherlands Indies Civil Administration). Banyaknya mata uang yang beredar, membuat Indonesia mengalami inflasi yang cukup tinggi sehingga Pemerintah Indonesia mengumumkan bahwa mata uang NICA sudah tidak berlaku lagi di Indonesia. 

A.A. Maramis selaku Menteri Keuangan saat itu membentuk Panitia Penyelenggara Pencetakan Uang Kertas Republik Indonesia pada tanggal 7 November 1945 yang kemudian bekerja untuk mencetak uang. Sampai akhirnya pada Mei 1946, proses pencetakan uang harus terhenti sejenak karena alasan keamanan. Kemudian pada 30 Oktober 1946 Oeang Republik Indonesia resmi beredar di Indonesia.

Hari Oeang merupakan hari yang bersejarah bagi Bangsa Indonesia. Maka dari itu, untuk merayakan Hari Oeang yang ke-76 yaitu Kemenkeu telah melaksanakan Kick Off yang diadakan pada 30 September 2022 kemarin.

Kick Off Hari Oeang dibuka dengan senam bersama yang melibatkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati beserta dengan unit Eselon 1. Adapun tema dari Hari Oeang ke-7 yaitu “Kemenkeu Satu: Sigap Hadapi Tantangan, Tangguh Kawal Pemulihan.” Dalam pidatonya Menkeu tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada team, “Saya ingin menyampaikan terima kasih kepada anda semuanya yang selama 3 tahun dalam kondisi pandemi, dalam resiko yang anda hadapi namun anda tetap melayani dengan baik. Kementerian Keuangan salah satu dari nilai kita adalah pelayanan dan itu tidak kita korbankan meskipun kita dihadapkan pada pandemi.”

Rangkaian hari Oeang juga dimeriahkan oleh beberapa acara yang dapat diikuti oleh masyarakat seperti kegiatan donor darah, bakti sosial, upacara, webinar series, family gathering, dan mengadakan 18 macam lomba. Adapun lomba-lomba yang diadakan seperti Oeang Chess Tournament, Turnamen Sepakbola, Oeang Run, Lomba Fotografi, Lomba Video Pendek, dan bahkan terdapat lomba E-Sports dari berbagai macam permainan. Seluruh rangkaian acara tersebut dapat ditonton ulang melalui kanal Youtube dari Sekretariat Jenderal Kemenkeu RI.

Generasi Muda dalam Aksi Gotong Royong

Written by Citra Dwizarati, Content Writer Intern at Project Child Indonesia

Generasi muda sebagai penerus bangsa berperan penting dalam meneruskan bangsa Indonesia dengan menerapkan nilai-nilai sumpah pemuda dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sangat mempengaruhi persatuan dan kemajuannya bangsa indonesia.

Tahukah kamu perjuangan para pemuda?

Indonesia merupakan negara kepulauan, penduduk yang menyebar dari sabang sampai merauke yang menjadikan Indonesia kaya akan keragaman budaya, agama, ras, suku hingga kebiasaannya. Meskipun masyarakat Indonesia berasal dari suku yang berbeda, tetapi kita tetap satu bangsa.

Sumpah pemuda menjadi awal perjuangan para pemuda-pemudi yang berjanji dan mengaku satu tanah air, satu bahasa, dan satu bangsa Indonesia.

Perjuangan pemuda yang bertahun-tahun dalam melawan penjajah, tidak mematahkan semangat para pemuda untuk memperjuangkan kemerdekaan. Tindakan tersebut sebagai bentuk peduli dengan bangsa indonesia dalam mewujudkan perjuangan cita-cita para pemuda. Hingga pada akhirnya para pemuda berhasil menyatukan bangsa Indonesia.

Proklamasi sumpah pemuda yang memiliki makna yang mendalam sebagai pedoman bagi penerus bangsa untuk memajukan bangsa Indonesia.

Untuk menghargai jasa para pahlawan, kita dapat menanamkan nilai-nilai sumpah pemuda kepada penerus bangsa. Dengan menanamkan jiwa nasionalisme, persaudaraan dan kebersamaan dalam diri.

Hari sumpah pemuda menjadi bagian sejarah terpenting. Pesan penting yang disampaikan pada teks pidato sumpah pemuda, menjadi pengingat bagi kita semua betapa harumnya perjuangan para pemuda dalam memperjuangkan kemerdekaan demi Indonesia yang satu.

Kita sebagai generasi muda tentu perlu bisa menjadi generasi penerus. Maka perlu membangun karakter bangsa dengan menerapkan nilai-nilai sumpah pemuda.

Bagaimana menerapkan nilai-nilai sumpah pemuda?

Sejarah menjadi pedoman bagi kita bagi para penerus bangsa dalam membangun indonesia menjadi lebih baik. Merayakan hari sumpah pemuda dengan menanamkan nilai sumpah pemuda sebagai bentuk menghargai jasa para pahlawan.

Dengan menerapkan sikap nasionalisme, persatuan, cinta tanah air, kebersamaan dan persaudaraan sebagai nilai yang terkandung dalam sumpah pemuda.

Salah satu bentuk sikap anak muda dalam menerapkan nilai sumpah pemuda dengan bergotong royong.

Gotong royong merupakan kegiatan yang dilakukan secara bersama kerjasama untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Gotong royong sebagai sikap perjuangan para pemuda, menjadi budaya yang sudah tumbuh bersama masyarakat menjadi kebiasaan bagi masyarakat Indonesia.

Maka peran generasi muda diperlukan untuk melakukan aksi gotong royong. Semangat kerjasama tim sebagai sikap dasar anak bangsa, yang bersama-sama dilakukan dalam membersihkan lingkungan yang awalnya berat menjadi ringan.

Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh – Johny Soelistyo

Dengan meningkatnya semangat gotong royong terhadap lingkungan, menjadi contoh bagi generasi penerus dalam menanamkan sikap sumpah pemuda.

Aksi yang dilakukan tersebut oleh generasi milenial tanpa disadari telah menerapkan nilai-nilai sumpah pemuda. Sebagaimana kita sebagai makhluk hidup menjadi tanggungjawab bersama dalam menjaga lingkungan. Langkah kecil yang dilakukan secara bersamaan, membawa perubahan dan harapan bagi bangsa.

World clean up day, sebagai salah satu kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan kesadaran terhadap lingkungan. Kampanye yang dilakukan mengajak membersihkan lingkungan demi kepentingan bersama. Kegiatan yang dapat kita rasakan manfaatnya melalui kebersamaan yang terjalin dalam mencapai lingkungan yang bersih dan sehat.

Pada 16 September, kegiatan peduli lingkungan yang dilakukan oleh team project child dengan bergotong royong melalui kegiatan clean up day. Kegiatan tersebut sebagai salah satu bentuk mempererat kebersamaan dan persatuan dalam menjaga lingkungan.

Kegiatan ini meningkatkan kesadaran dan untuk mengingat kembali betapa besar perjuangan para pemuda dalam memperjuangkan kemerdekaan dengan semangat kebersamaan dan persatuan. Maka untuk tetap terus berjalannya sikap perjuangan pemuda, maka diperlukan menanamkan sikap gotong royong sejak dini.

Seiring waktu, sikap gotong royong menurun. Keberadaan teknologi menjadi tantangan bagi anak muda. Meskipun begitu, tingginya semangat anak muda tidak menghalangi dalam bergotong royong.

Saat ini gotong royong yang tidak hanya dilakukan seperti kerja bakti, namun ada pula gotong royong di era digital melalui donasi dalam membantu mensejahterakan masyarakat.

Melalui berbagai kegiatan yang tersebar di media sosial dapat mendorong semangat generasi muda. Kebiasaan gotong royong yang membawa kesejahteraan, yang mana bahu membahu kepada sesama yang memperkuat persatuan untuk mencapai kepentingan masyarakat umum

Sumpah pemuda memperkuat persatuan indonesia. Dengan persatuan, kita dapat memajukan bangsa Indonesia. Besarnya perjuangan yang telah dibangun oleh para pemuda melalui sumpah pemuda, tanpa adanya jasa para pemuda.

Tunawisma yang Masih Berkembang di Indonesia

Written by Shania Amalia Hafta, Content Writer Intern at Project Child Indonesia

Homeless atau disebut sebagai tunawisma merupakan kasus yang masih harus diperhatikan. Walaupun Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, jumlah penduduk miskin Indonesia pada September 2021 mengalami penurunan, tetapi status ini masih ditemukan di sekitar kita.

Peristiwa Tunawisma di Indonesia

Dilansir dari Kompas.com, pada 16 September 2022 terdapat keterangan bahwa ada seorang tunawisma yang ditemukan oleh warga telah meninggal di kolong jembatan Inspeksi Kalimalang, Duren Sawit, Jakarta Timur. Diketahui, Bapak tersebut berusia 57 tahun dan bisa mendapatkan makanan jika diberikan oleh warga sekitar. Bahkan, pada tahun 2021, ketika masa pandemi masih berlangsung ketat, masih ada Bapak berusia 68 tahun berkeliling mencari sampah untuk bertahan hidup selama adanya program PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat). Ada juga seorang tunawisma yang diduga oleh warga mengalami gangguan kejiwaan di daerah bagian provinsi Bengkulu, kemudian meninggal dunia karena dibunuh dengan senjata tajam.

Lalu, apa sebenarnya definisi Tunawisma?

Menurut Glasser (1994), tunawisma adalah kondisi yang terpisah dari masyarakat, tidak adanya ikatan atau lemahnya hubungan sosial dengan orang lain. Sedangkan menurut Tomas dan Dittmar (1995), seseorang dapat dikatakan tunawisma bukan hanya tidak memiliki tempat tinggal. Tetapi, juga adanya beberapa dimensi terkait, seperti kurangnya rasa aman dan kehangatan tubuh, emosional, tidak ada privasi, kurang ada rasa keterikatan dengan dunia, dan lemahnya kehadiran spiritualitas di dalam diri, seperti adanya harapan, memiliki tujuan hidup, dan bentuk keyakinan lainnya.

Berapa data kasus Tunawisma di Indonesia?

Menurut beberapa sumber, terdapat 3 juta tunawisma di Indonesia. Pada 2019, diperkirakan ada sekitar 77.500 gelandangan dan pengemis masih tersebar di kota-kota besar Indonesia. Pada tahun 2020, diketahui Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta mencatat bahwa, masalah gelandangan merupakan posisi teratas yang mengalami penyandang masalah kesejahteraan sosial, yaitu dengan jumlah 1.044 orang. Bahkan, pada tahun 2021, dilansir dari katadata.co.id, ada beberapa provinsi yang memiliki tingkat tertinggi jumlah gelandangan di desa/kelurahan, diantaranya adalah Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, DKI Jakarta, dan Sulawesi Selatan.

Mengapa orang dengan status tunawisma bisa muncul?

Menurut Mago, dkk., yang melakukan penelitian menggunakan Fuzzy Cognitive Map untuk memahami sebuah sistem sosial yang ada, tunawisma dapat bermunculan disebabkan adanya beberapa hal yang dihadapinya, seperti perumahan, akses layanan sosial, kondisi kesehatan mental, dukungan keluarga, asuransi, masalah pengangguran, dan peristiwa traumatis lainnya, seperti adanya pelecehan seksual di masa kanak-kanak dan pembelajaran. Ada juga dari sudut pandang postmodernisme, yaitu memahami arti dari kata ‘rumah’ tidak hanya sebagai tempat berlindung, tetapi juga sebagai stabilitas, kenyamanan, keamanan, keselamatan, ekspresi diri, dan kesejahteraan fisik yang tidak bisa lepas dari kondisi ekonomi, sosial, dan politik yang berlaku. Lalu, ada juga teori konstruksi sosial yang menjelaskan tentang perilaku manusia termasuk rasa ingin tahu, adanya keinginan dasar untuk merasakan keamanan, merefleksikan, dan menilai apa yang harus mereka lakukan di tengah-tengah struktur kekuasaan yang berlaku di kehidupan sosial. Selain itu, tunawisma dapat muncul disebabkan ketimpangan akan standar upah, ras, harga rumah, layanan kesehatan, baik fisik maupun mental.

Bagaimana caranya menanggulangi tunawisma?

Lakukan program preventif atau pencegahan terjadinya tunawisma, dengan mengadakan kegiatan penyuluhan, bimbingan, latihan, pendidikan, pemberian bantuan, dan pengawasan dengan topik utama yang berkaitan dengan kondisi hidupnya, kondisi keluarganya, hubungan antara lalu lintas dengan tunawisma, dan rehabilitasi tunawisma. Berdasarkan salah satu penelitian, bisa juga menggunakan pendekatan panti untuk membangun komunikasi dan motivasi agar bangkit dari kondisi yang dihadapinya. Lingkungan Pondok Sosial juga bisa berperan dalam memberikan tempat tinggal untuk memiliki kehidupan yang layak. Lalu, bisa juga menggunakan metode transit home, yaitu merubah hidup tunawisma dengan memiliki tempat tingal yang layak dan memahami pembekalan diri agar siap bersosialisasi dengan kehidupan di masyarakat. Tetapi, ada juga yang menggunakan metode transmigrasi, yaitu mengirimkan para tunawisma ke luar daerah atau luar pulau untuk diberikan pemahaman mengenai kontribusi dan motivasi usaha yang dapat dilakukan di desa.

Apakah ada solusi lain untuk menangani tunawisma?

Semuanya tergantung pada pihak pemerintah yang memiliki tekad untuk mengatasi permasalahan tunawisma di Indonesia berdasarkan undang-undang dan hukum yang berlaku, seperti tentang kesejahteraan sosial, kesejahteraan anak, perlindungan anak, dan penangulangan gelandangan dan pengemis. Begitu juga dengan pihak LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang sebagai wadah untuk advokasi memahami persoalan kemiskinan serta aksi menyuarakan kebutuhan masyarakat. Tidak lupa juga, peran dan partisipasi masyarakat untuk mendukung program penanggulangan tunawisma, sehingga menjadi langkah besar untuk membangkitkan motivasi tunawisma kembali menjalani hidup yang wajar sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

World Food Day 2022 Leave NO ONE Behind

World food day is one of the special days celebrated on 16 October every year. This food day was first named in 1979 by the Food and Agriculture Organization of the United Nations or commonly abbreviated as FAO in Roma. However, Food and Agriculture Organization started this world food day in 1981 and continues every year until this day

World food day have its own theme every single year. For example, 2021 world food day theme is “Our Actions are our future, better production, better nutrition, a better environment and a better life (four betters)” That 2021 world food day highlighting sustainable agriculture and food systems.

This 2022 world food day have very special theme that is “Leave NO ONE behind”. The theme aims to remind that there are still many people out there who is still lack healthy food so that many of them are malnutrition. FAO said that food supply is not a problem for the world today. Current food production can actually meet the needs of the whole world. However, the problem is in the access and availability of nutritious food. Also the world is currently experiencing various challenges, such as Covid-19, political conflicts, and even war conflicts. According to Food and Agriculture Organization, the main victims of this nutritional deficiency are more than 80 percent of the poor living in the rural areas and most of them are still depend on agriculture and natural resources. People who experience this still find it difficult to gain access to finance, technology, and training.

To solve this problem, the younger generation is the main character that responsible for raising awareness about the importance of sustainable food. Because of that, Sustainesia who is the community based social enterprise with a mission to build food sustainability ecosystem, will hold an Eathink Market Fest which will be present on October 15-16 at Alam Sutera, South Tangerang, Banten.

Peer Pressure is a Social Challenge Behind Children’s Smile and Laughter

Peer pressure is a social challenge behind the children’s smile and laughter. Sometimes, we can lost to know about this phenomenon. They doing these for want to be accepted by the surrounding environment.

Peer Pressure cases that are vulnerable to occur to children

In 2018, there was an elementary school student from Kediri who became the target of bullying by his friends with physical violence for committing an own goal while playing soccer, resulting in a brain infection. There is also an elementary school student who is playing soccer behind his house, suddenly kicked by his friends until the student cries and is short of breath to get up. Not only that, there was an elementary school student with special needs from Depok, there was physical violence from his classmate which started from joking and was not supervised by the teacher. In fact, the most pathetic case was that an elementary school child from Singaparna, Tasikmalaya died with a sore throat and could not eat, due to a traumatic event that happened to him, namely being asked to do sexual behavior with one of animal by his friends.

Seeing this incident, what is the meaning of peer pressure?

Lotar & Kamenov (2013) say, is a feeling that is influenced by encouragement or pressure from peers to do unexpected activities with the aim of being accepted in their social group. According to Bin-Bin Chen, peer pressure exists because of human awareness of the importance of groups in social life. A child is introduced to life outside the home through two processes, introduce groups and learning to understand the culture of a group. Peers can also influence a person’s attitudes, conversations, interests, appearance and behavior, so that if you are not careful, it will have positive and negative impacts on someone.

Peer Pressure also has several types and forms. According to Temesgen (2015), there are two types of peer pressure, namely positive and negative. Peer pressure positively encourages individuals to actualize themselves to be better people, especially responsibility and personality formation. Meanwhile, negative peer pressure is having the nature of seeking temporary satisfaction and not being responsible for all existing decisions, so that they do something outside the prevailing norms. Kupersmidt and DeRosier (2007) say, negative forms of peer pressure are maladaptive behaviors, such as truancy, stealing, cheating, and behaviors that are not in line with norms and rules.

Prahbakar (2012) said that peer pressure is carried out in two forms, namely direct and indirect. If done directly, someone will get pressure from peers to do something. Meanwhile, indirect peer pressure does not have signs of being pressured, but action. For example, being shunned by peers for no apparent reason is due to having different behavior from other people.

Why peer pressure could be happen?

Brown, Clasen, and Eicher (1985) state that there are several aspects that can lead to peer pressure, namely the emergence of feelings that are influenced by pressure to be involved in school activities, friendship groups to being asked to conform to members, to activities and behavior that violate . Peer pressure can also occur when there are several influencing factors, such as a sense of openness to others, the role of peer pressure, opportunities to exert influence, and having close relationships with certain people.

What is the impact of someone who is exposed to peer pressure?

If you look at the description above, there are positive and negative sides that will be obtained when experiencing peer pressure. Some of the possibilities that can be felt are getting advice, support for trying new things, friendships to increase self-esteem, opportunities for new experiences, role models, and as an exercise in social skills. However, the phenomenon of peer pressure will disappear when a person experiences anxiety, depression, distance and arguments with friends or family, disturbances to focus on education, pressure to do risky things, rapidly changing behavior, disturbances in understanding the concept of self-esteem and self-confidence, and the feeling of unhappiness that occurs simultaneously in a person’s desire to be accepted by the group.

What should a person do when experiencing peer pressure?

Reporting from verywellfamily.com, there are several ways a person can deal with peer pressure. A person can plan the best way to deal with peer pressure for himself. Then, learn to resist something you don’t want to do. After that, build friendships with the right people, as well as adults who support each other.

Then, what is our role as adults to our children when experiencing peer pressure?

Our job as adults is to guide children in understanding how to deal with peer pressure. We can start to discuss calmly and listen to the child’s answers well to tell stories about their experiences. Then, the following is education about good friendships, training children to become independent people, and having the courage to say no. If the child already knows the risky behaviors that the child is paying attention to, teach about the types and impacts of these behaviors. In addition, do role-play activities with children about peer pressure in order to train children to be more resilient in dealing with these events.

Young Generation in Preserving Batik

The role of young generation in preserving batik is very important. Way that we can do to celebrated national batik to use batik, as a form of appreciating Indonesian batik culture.

Did you know the influence of national batik day celebration?

With the celebration of batik, it can have an impact on the global community.

As we know, Indonesia is rich in cultural diversity, especially batik cloth. Basically batik as a popular Indonesian cultural identity.

The increase of batik industry changes people’s lifestyles in dressing dynamically, so that craftsmen follow the flow of fashion developments. Which is batik can also prosper the batik craftsmen both nationally and globally

Batik has become a new innovation in modern way.

“The increasingly varied batik motifs have awakened a number of Indonesian designers to develop modern batik” -Tina Andrean

The Short History of Batik

Historically, the traditional process of making batik is not easy through various steps.

The types and philosophies of batik from various regions provide uniqueness and so meaningful that poured into traditional batik.

So that the art on cloth made traditionally has a high and universal value. So only certain circles can use batik cloth.

However in this era batik can be used by all people regardless of the social status, makes batik a part of popular culture.

But people are basically using Batik that identically used at formal events.

Meanwhile, how can we use batik continuously?

The stigma of our society towards using of batik could be change through the trend of wrapped cloth by young people which has become the new fashion trend of 2020 until now.

Overtime, batik cloth has developed to be more modern, especially in the digital era, making it easier to introduce modern batik culture which is now a fashion trend. One of them is in introducing batik wrapped cloth through the hashtag Berkain Bersama.

This movement based on the anxiety of young people against the use of batik that had faded, began to get used to using batik cloth to invite all groups to preserve batik culture. Through #BerkainBersama, you can find enthusiasm of young people to use batik wrapped cloth.

We can see that this movement invites and gets a positive response from all circles who can encourage the use of batik again. The Berkain Bersama movement aims to realize and succeed in normalizing the use of batik in everyday life.

The technique of tying and wrapping the fabric becomes an artistic value in the use of batik.

These movement that changes traditional fabrics that flexible to used, so that it can encourage young people to use batik as daily clothing. Activities that can have a positive influence. Especially young people who take part in using batik cloth which can have a positive influence on other young people. The high use of batik wrapped cloth has become a new habit in dressing.

The more difficult the process of making batik, the higher the value of batik. So that as Indonesian cultural heritage, it is certainly important for us the younger generation to maintain and preserve it.

How to preserve batik?

Historically, batik has a deep meaning, therefore, it is important for young people to know the history of batik making. Love for our homeland begins with small steps by starting to get used to using batik cloth as a form of support for Indonesian culture. By using batik, we take part in preserving culture.

As we can see, the use of batik is very dynamic at times. As Indonesian citizens should be proud and loved of the richness of Indonesian culture. So that batik can be sustainable and passed down to the next generation. Therefore, we as the younger generation take part in preserving batik culture

Happy World National Batik Days, Let’s #BerkainBersama!