First Child’s Struggles, Is It Worse for Daughters?

Written by Zahara Almira Ramadhan, Content Writer Intern at Project Child Indonesia

We’ve all heard about birth order stereotypes, right? The oldest one is known to bear the biggest responsibility, such as watching the younger siblings 24/7 and taking care of the entire house when their parents are gone somewhere. On the other hand, the second or middle siblings are kind of invisible. They had all the love and attention before the youngest one was born, but who knows where it went after the youngest arrived. Finally, the youngest one is, you know, the rebel and most spoiled. 

I’m not going to tell you whether those assumptions are right or wrong. Instead, I’d like to talk more about the known “responsibility” that oldest children seem to bear. I myself am actually the second and also youngest child in my family, and I had never known that my older sister has been carrying a certain amount of weight all her life. It was not until I talked to my friends, who happen to be first-born children. It turned out that they all share the same struggles; one of them even says that the burden of being a female first-born is bigger than the males. Is it true?

The struggles of the eldest daughter

Society certainly does expect so much from women in terms of household responsibilities, but would you expect that children should bear it too? A psychotherapist explained that eldest daughters carry so much burden because it is a behavior learnt at a very young age (Morris, 2022). They spent such a little time being children, but they soon had to adapt into an older figure by the time they have younger siblings. Since women are commonly seen as caregivers, mothers usually expect the eldest daughter to take the mother role whenever they are unable to keep an eye on the children. This can lead to pressures and anxieties that preserves until they grow up to be adults. It also leads to a tendency of people-pleasing behaviors because they are so used to being responsible for everybody’s well-being.

Another pressure that eldest daughters seem to encounter is that they have to be “perfect”, as if there is any human being who’s perfect at all. The article by Morris also collected some experiences that eldest daughters faced; one said that she was always pushed to be the best in school and in her personal life. This sadly relates to my friends’ experiences on a spiritual level. They all experienced the pressure of having to thrive academically and get into a hardcore major in college, such as medical or law. Whereas, their younger siblings are free to choose whichever major they want. I think it’s quite unfair how eldest daughters are controlled so that they can be an “example” of a perfect child. What’s the point of shaping a perfect child if the younger ones are free to do whatever they want instead of following their sister’s steps? 

Domestic responsibilities

You may ask, how are the struggles different from first-born sons? As you may know, our world is pretty much still tied to a patriarchal system. Men are valued ever since the day they were born, they don’t even have to try. The biggest difference falls into the household responsibilities. Eldest daughters tend to be burdened by house chores and caregiving responsibilities, as women are expected to fulfill those roles at any time point in their lives. On the other hand, boys tend to be free from those responsibilities just because of their gender. They are not expected to be good at cleaning, cooking, doing the laundry, or any other house chores that you can name. Caregiving is also not an expected skill from men, which is quite flawed considering it’s both parents’ job, mother and father, to take care of their children.

Let’s overcome your struggles, ladies

If it’s not already late for you, try to set boundaries for your parents and siblings. Everybody likes to say, “Communication is key,” and I think that’s right. If you’ve never told your parents that they are asking too much of you at such a young age, things won’t likely ever change. They will continue asking you to be the best and the most responsible. So, you’ll have to try negotiating with them for certain things that you think are too much. For example, if you are demanded to get a 100% score test when you already get a 97%, explain that this is already your best. This is the result of you staying up all night studying while still maintaining your sanity.

If that phase had passed already, now it’s time for you to be kind to yourself. A psychology coach and teacher says, “It’s not your responsibility to make sure everyone is okay,” and that you don’t have to fix everyone. You have sacrificed a big part of your childhood making sure that your siblings are okay, and now that you’re all adults, you can let them go. They are now responsible for their own well-being, and so are you. You can stop sacrificing your time and energy to help others when you actually need to help yourself too. Let’s stop putting pressure on yourself, and think about what you really want to do with your life now that your siblings are not your children anymore.

Are you taking deep breaths now? Thinking about a spa or a self-care night at home? Good, keep going! Take your time to relax and focus on yourself, whatever that means for you. Having experienced the weight of being the eldest daughter, I hope you wouldn’t pass it to your future daughter if you expect to have children. I believe you already know that having a perfect daughter isn’t realistic and making them take a mother role isn’t ideal at all. Let’s end these struggles, not only for you, but for all the first-born daughters in the next generations. 

References

Morris, N. (2022, January 11). Surface Pressure: The psychology of ‘eldest daughter anxiety’. Metro.co.uk. Retrieved from: https://metro.co.uk/2022/01/11/surface-pressure-the-psychology-of-eldest-daughter-anxiety-15898221/ 

Memilih Childfree, Mendefinisikan Kembali Peran Wanita

Written by Maria Olivia Laurent, Content Writer Intern at Project Child Indonesia

“Kok umur segini belum punya anak?”

“Semoga nanti habis nikah langsung dikasih momongan ya~”

“Makin banyak anak makin banyak rezeki, hihi.”

Kayaknya sudah biasa ya mendengar pertanyaan-pertanyaan seperti itu dari keluarga dan teman-teman? Haduh, sudah beban menjadi wanita di era sekarang ini susah, ditambah lagi ekspektasi dan nyinyiran dari orang sekitar. Nyatanya, asumsi bahwa setiap wanita akan menjadi seorang ibu sudah mendarah daging di pikiran dan tradisi masyarakat sejak berabad-abad yang lalu. Hal ini merupakan sebuah konsekuensi hidup di tengah budaya patriarki yang membatasi peran wanita sedemikian rupa. Kasarnya, wanita itu cuma mesin ngelahirin dan ngebesarin anak doang.

Tidak ada salahnya jika wanita ingin menjadi seorang ibu. Menjadi ibu adalah sebuah kehormatan dan pengorbanan besar demi membesarkan buah hati. Namun, tidak ada salahnya pula jika wanita tidak ingin menjadi seorang ibu. Semua ini tergantung pilihan. Konsep ‘my body my choice’ inilah yang melahirkan fenomena childfree yang sedang marak dibahas di masyarakat dan media sosial. Childfree adalah sebuah istilah yang merujuk pada orang atau pasangan yang memilih untuk tidak memiliki anak. Childfree tidak sama dengan childless, ya. Childless merujuk kepada kondisi dimana seseorang tidak memiliki anak karena sebuah keadaan walaupun mereka menginginkan anak tersebut. Gampangnya, childfree itu terjadi karena faktor internal yakni pilihan. Sedangkan childless terjadi karena faktor eksternal seperti keguguran, penyakit, maupun kondisi fisik lainnya. 

Fenomena childfree ini terbilang kontroversial karena banyak yang beranggapan bahwa wanita harus memberikan keturunan untuk suaminya. Sebuah hakikat seorang wanita yang tertulis di ajaran-ajaran agama dan norma sosial. Akan tetapi, seiring berkembangnya zaman dan isu-isu yang berdampak besar di kehidupan manusia, asumsi ini mulai diperdebatkan. Melihat dari data sensus penduduk, angka kelahiran di Indonesia terus mengalami penurunan. Di tahun 2019 sendiri angka kelahiran kasar per 1000 penduduk di Indonesia hanya berada di angka 17.75. Laju pertumbuhan penduduk pada tahun 2010-2020 menunjukan angka 1.25%, sebuah penurunan dari periode sebelumnya tahun 2000-2010 pada angka 1.49% (Badan Pusat Statistik, 2020). Laju ini juga diprediksi akan terus menurun di periode berikutnya. 

Lantas, apa sih yang membuat semakin banyak orang memilih untuk childfree? Ada banyak faktor yang mendukung hal tersebut, terkait masalah fisik, psikologis, ekonomi, juga faktor lingkungan. Yuk kenali alasan-alasannya terlebih dahulu sebelum kita berpikir yang enggak-enggak dan main hakim sendiri. Siapa tahu salah satu alasan di bawah ini kalian setujui juga.

Pertama adalah kondisi fisik yang tidak memungkinkan untuk memiliki anak. Entah itu karena penyakit bawaan, tubuh yang lemah, atau risiko kehamilan dan melahirkan yang besar. Jadi daripada membahayakan ibu dan janin, lebih baik tidak memiliki anak saja. Biasanya, wanita yang memutuskan untuk tidak memiliki anak karena memprioritaskan kesehatannya akan dicap egois. Mereka yang bilang seperti itu mungkin tidak paham tentang kondisi medis dan seberapa bahayanya kehamilan bagi beberapa wanita. Kalau kata dokter sudah mustahil, jangan dipaksakan karena dorongan orang sekitar, sebab ibu bisa kehilangan nyawa dan sang bayi bisa lahir cacat atau malah meninggal. 

Kedua, kondisi psikologis. Seseorang harus memiliki mental dan kesiapan batin yang matang untuk dapat membesarkan anak. Mereka mungkin sadar bahwa mental mereka masih rapuh atau ada trauma masa lalu yang belum terselesaikan. Oleh sebab itu, mereka memutuskan untuk childfree agar anak mereka tidak terbebani masalah orang tuanya dan tidak tumbuh di lingkungan yang toxic. Lagi-lagi, memiliki anak adalah sebuah tanggung jawab yang besar dalam berjangka panjang. Jika seseorang merasa masih belum siap menanggung itu, mungkin menjadi childfree adalah jalan yang tepat untuk saat ini. 

Alasan ketiga ini bisa dibilang adalah alasan terkuat. Faktor keuangan yang belum stabil. Aku rasa ungkapan “banyak anak banyak rezeki” ini hanya berlaku untuk keluarga yang sudah berkecukupan. Jika kebutuhan sehari-hari saja masih susah tercukupi, bagaimana dengan kebutuhan anak nantinya? Kaum milenial lebih memilih untuk menabung daripada memiliki anak. Bukan karena pelit, tapi karena mereka tidak ingin anak mereka tumbuh serba kekurangan. Nanti saat ekonomi sudah jaya, baru mereka akan memiliki anak di rumah yang sudah sejahtera. Atau jika nanti tetap memilih untuk childfree, hal ini juga wajar, kok. Toh, kalian bebas untuk menggunakan uang hasil kerja kalian sendiri. Banyak juga orang kaya childfree yang memutuskan untuk menjadi orang tua asuh atau donor anak-anak panti asuhan. 

Faktor selanjutnya adalah lingkungan. Anak muda lebih mempunyai environmental awareness dibanding generasi sebelumnya. Memiliki anak akan menambah overpopulasi dunia dan memperparah kerusakan lingkungan. Emisi karbon dikhawatirkan akan semakin memburuk dan membuat keberlangsungan makhluk hidup terancam. Anak-anak kita pun akan terancam. Mereka akan hidup di dunia dengan keterbatasan air bersih, tumpukan sampah, jalanan macet, dan sebagainya. Memang, kita tidak bisa memprediksi apa yang akan sesungguhnya terjadi di masa depan, namun melihat dari kondisi memprihatinkan Bumi kita saat ini, tidak herab bahwa argummen lingkungan ini menjadi semakin populer di kalangan childfree

Terakhir adalah alasan personal. Mereka memang tidak mau punya anak, sesederhana itu. Mungkin mereka tidak suka anak kecil, ingin kebebasan total, tidak mau terikat, dan lain sebagainya. Namun, hal yang perlu diingat adalah keputusan childfree ini harus merupakan keputusan bersama jika terjadi di sebuah pasangan agar tidak menimbulkan konflik. Jangan lupa untuk diskusi tentang anak waktu mempersiapkan pernikahan ya!

Ketika kita sudah memutuskan untuk childfree, kerap muncul pertanyaan ini: Nanti siapa yang akan merawatmu waktu tua?

Wah, berarti sama saja mereka menginginkan balas budi dari anak mereka saat tua nanti. Anak bukanlah pembantu atau sumber uang kita. Kita melahirkan dan membesarkan mereka dengan ikhlas. Belum tentu juga anak akan mau merawat orang tuanya saat tua nanti, jadi pernyataan itu sejatinya tidak berlaku untuk orang childfree

Pada akhirnya, beberapa orang masih akan mengatakan keputusan childfree ini egois. Tetapi, akan jauh lebih egois untuk memiliki anak karena tekanan sosial dan menyesalinya nanti. Orang tua tidak akan bahagia. Anak-anak pun juga tidak akan bahagia. Mereka juga mungkin akan mengatakan bahwa memiliki anak akan membuat hidup seseorang bermakna, tapi sekali lagi, makna hidup setiap orang berbeda-beda. Setiap orang berhak mengambil keputusan akan hidup mereka sendiri, entah itu memiliki anak atau tidak, dan hanya mereka yang dapat menilai apakah keputusan itu tepat atau tidak. 

Referensi

Cain, S. (2020, July 25). Why a generation is choosing to be child-free. The Guardian. https://www.theguardian.com/books/2020/jul/25/why-a-generation-is-choosing-to-be-child-free

Clason, M. (2020, October 12). Why Do People Choose to Be Childfree?. Soapboxie. https://soapboxie.com/social-issues/Why-Do-People-Choose-To-Not-Have-Kids

Fenomena Childfree di Indonesia. (2021, September 2). Media Indonesia. https://epaper.mediaindonesia.com/detail/fenomena-childfree-di-indonesia

Saroh, N. I. (2021, September 5). Tren Childfree Pasangan Muda, Bisakah Diterapkan di Indonesia? Voi.Id. https://voi.id/berita/82230/tren-childfree-pasangan-muda-bisakah-diterapkan-di-indonesia

Should Individuals With Intellectual Disabilities Bear Children?

Written by Amaranila Nariswari, Content Writer Intern at Project Child Indonesia

If you’re into controversial ideas, maybe you’ve heard people talking about how individuals with intellectual disabilities (ID) should not be allowed to bear children. Some say they tend to have a lower ability to develop skills needed for day-to-day survival like communication and interpersonal skills, including self-awareness and empathy. Is it true, though, that ID people should not bear children? Personally, I am against this idea. For me, it is selfish, and I could not see any logical reasons behind it (I had to create a debate simulation with my friend to check both the pro and cons arguments, still, I could not find it acceptable to deny every human’s right to bear children!). I must admit, though, this controversial subject is interesting to discuss!

Before we proceed, it is important to know different types of ID. According to Byrd (2020), there are two dimensions of people with ID: one concerning their intellectual functioning and the other is related to their adaptive behaviors. Intellectual functioning is highly related to what we know as the intelligence quotient or the IQ, in which a test can measure. It is related to one’s learning ability, decision-making, reasoning, and problem-solving. On average, people score between 85 to 115, while those scoring under 75 or 70 are considered low intelligence. On the other hand, adaptive behaviors are related to how people communicate, understand others, and take care of themselves. A concrete test like the IQ doesn’t usually measure adaptive behaviors. Instead, it needs to be observed and measured by a specialist by comparing one’s behavior with others of the same age. 

Is ID genetically inherited? Well, yes, and no. Conditions like Down Syndrome and Fragile X Syndrome are usually inherited. However, ID cases are not as common as we thought they were. According to the American Psychiatric Association, ID affects 1% of the population, while 85% out of it have mild ID (APA, 2021). Some other IDs in children can be caused by the condition of the mother’s pregnancy or situations during childbirth, like consuming alcohol during pregnancy, lack of nutrition needed, or the babies being born way too early (Byrd, 2020). This is why expecting women should really pay attention to themselves and the baby and get their pregnancy routinely checked. 

Aside from being genetically inherited or situations during pregnancy and childbirth, more common causes of ID children are caused by how they are nurtured. Like whether ID people should not be allowed to bear children, the psychological debate over nature versus nurture has also been around for some time now. Psychologists have discussed which one affects more significant human development (Cherry, 2020). Nativists believe that one’s behavior is ‘wired’ from the very beginning, under the influence of the genetic code the parents have. In contrast, Empiricists believe that babies are born like a blank canvas, which will gradually be filled with what they learn along the way they grow. I can’t say which one is correct and which one is not, for I believe that both have their right-and-can-be-proven points. If you’re interested in this topic, I suggest you look more into it by reading psychological journals and readings. Even though both are correct, if we look into our environment, we can see that nurture plays a very important role in child development. When children are badly nurtured, they tend to fail developing skills children need, like understanding their environment and differentiating which behavior is suitable for children their age. 

These days I’ve been watching a kid in my neighborhood selling rice boxes every day. I don’t know where he came from, but I see him in his usual spot everyday, sleeping on hard concrete beside his old bicycle and looking tired. I feel sad as I believe children his age should not spend their time collecting money, but instead study and play with their friends. Learning and playing with friends is a privilege this kid doesn’t have. He might not be identified as an ID person. However, the environment he lives in does not rule out the possibility of this kid failing to develop the skills needed to survive. Instead of prohibiting ID people from bearing children, negligent parents shouldn’t have children. No parents are perfect. However, before having children, it is important to understand that parental roles include ensuring that your children’s basic needs are met, especially in terms of education and safety, including love and care for them. 

Children raised by negligent parents tend to perform lower in almost every aspect of their lives, especially academically and in skills revolving around social and emotional (Zahedani et al., 2016). This is harmful to the children, as they will be late to understand how things should be done in real life. What can we do, though, if we see cases of negligent parents? You can help the children by giving them company, talking to their parents, and if the issue is bad, please, report it to the Child Protection Commission. However, before we see the act of negligence, we have to try to prevent it by introducing a child-friendly environment and socialization regarding taking good care of children. Remember, children cannot choose who their parents are, but they sometimes have to bear their parents’ mistakes (in which they should NOT). As privileged people who understand the importance of children’s development, it would be good if we could bat an eye at our environment, ensuring no more harm is done to children.

References:

APA. 2021. What Is Intellectual Disability? American Psychiatric Association. Retrieved from https://www.psychiatry.org/patients-families/intellectual-disability/what-is-intellectual-disability#:~:text=Additionally%2C%20the%20intellectual%20and%20adaptive,be%20diagnosed%20with%20intellectual%20disability

Byrd, Florence. 2020. Intellectual Disability. WebMD. Retrieved from https://www.webmd.com/parenting/baby/child-intellectual-disability 

Cherry, Kendra. 2020. The Age Old Debate of Nature vs. Nurture. Very Well Mind. Retrieved from https://www.verywellmind.com/what-is-nature-versus-nurture-2795392

Zahedani, Zahed et al. (2016). The influence of parenting style on academic achievement and career path. J Adv Med Educ Prof. 2016;4(3):130-134. 

Aturan dan Persepsi Masyarakat tentang Adopsi Anak

Written by Zahara Almira Ramadhan, Content Writer Intern at Project Child Indonesia

Mempunyai keturunan masih menjadi tekanan yang cukup besar di Indonesia. Memasuki umur 20-an tahun, kita mulai dibanjiri pertanyaan “kapan nikah?” dari keluarga sendiri. Tekanannya tidak berhenti di status pernikahan, tapi berlanjut ke tekanan untuk mempunyai anak setelah menikah. Padahal, tidak semua orang menikah untuk punya anak, kan? Gimana kabarnya mereka yang sudah lama memilih untuk tidak mempunyai anak? Atau mereka yang dari segi kesehatan tidak mampu mempunyai anak? Aku rasa tekanan sosialnya masih disamaratakan tanpa adanya pengecualian.

Mengingat kondisi dan pendirian orang yang berbeda-beda, banyak dari mereka berpikir untuk mengadopsi alih-alih memproduksi anak. Ada yang alasannya berakar dari ketidakmampuan reproduksi, ada juga yang secara personal ingin mengadopsi anak demi kesejahteraan anak-anak Indonesia. Menurut Kementerian Sosial, jumlah anak yatim-piatu di Indonesia mencapai sekitar empat juta anak. Di antaranya ada 20.000 anak yang ditinggal orang tua akibat Covid-19, 45.000 anak di bawah naungan panti asuhan, dan sekitar 3,9 juta anak berasal dari keluarga tidak mampu.

Banyaknya jumlah anak yatim-piatu ini tentu menggerakkan hati orang untuk mendukung kesejahteraan mereka. Bantuan yang paling umum kita temui adalah donasi, baik itu berupa uang maupun material lainnya seperti baju, buku, dan mainan. Hal lain yang tidak semua orang bisa lakukan adalah mengadopsi anak-anak tersebut karena Indonesia memiliki serangkaian peraturan yang harus dipenuhi untuk mengadopsi anak. 

Hukum Indonesia mempersulit adopsi anak?

Selama sekolah, kita diajari tentang terbentuknya anak dari proses reproduksi. Tapi kita tidak dikenali dengan konsep mengadopsi anak dan aturan-aturan dasarnya sebagai opsi untuk mempunyai anak. Makanya, tidak sedikit dari kita merasa kaget atas hukum Indonesia mengenai adopsi anak. Emangnya seriweuh itu, ya?

Dalam Peraturan Pemerintah No. 54 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak, calon orang tua angkat harus berumur minimal 30 tahun dan maksimal 55 tahun, berstatus menikah minimal selama lima tahun, mampu secara ekonomi dan sosial, beragama yang sama dengan calon anak angkat, dan lain-lain. Dari sini, media sosial sempat diramaikan dengan pertanyaan: berarti kalau statusnya tidak menikah, tidak bisa adopsi anak? Jangan siap sambat dulu ya, jawabannya boleh kok. Namun peraturannya jatuh ke tangan Kementerian Sosial. Orang yang berstatus tidak menikah, janda, dan duda bisa disebut sebagai orang tua tunggal atau single parent. Orang tua tunggal dibolehkan mengadopsi anak dengan izin dari Kementerian Sosial, yang diatur dalam Peraturan Menteri Sosial No. 110/HUK/2009 (Permensos 110/2009). 

Berpasangan maupun tunggal, calon orang tua angkat harus menjadi orang tua asuh dulu sekurang-kurangnya selama enam bulan. Orang tua asuh adalah pasangan suami istri atau orang tua tunggal yang melakukan pengasuhan anak secara sementara. Setelah masa pengasuhan tersebut, calon orang tua angkat bisa mengajukan pengangkatan anak secara resmi ke pengadilan. Posisi mereka di mata pengadilan pun sudah lebih kuat karena bukti nyata masa pengasuhan sebelumnya. Setelah anak resmi diadopsi, orang tua angkat harus melaporkan perkembangan anak tiap tahunnya sampai anak berusia 18 tahun atau harus dimonitor dan dievaluasi oleh instansi sosial setempat.

Aturan mengadopsi anak memang banyak dan panjang prosesnya, tapi bukan berarti aturan itu dibuat untuk mempersulit para calon orang tua angkat. Aturan yang dibuat sedemikian rupa adalah upaya untuk menghindari tindakan yang membahayakan anak. Menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), tindak pidana perdagangan dan eksploitasi terhadap anak mencapai 147 kasus selama tahun 2021. Kasus-kasus tersebut memposisikan anak sebagai korban eksploitasi ekonomi, pekerjaan, serta prostitusi. Maka dari itu, komisioner KPAI mengatakan, rangkaian proses adopsi anak bertujuan untuk memenuhi hak-hak dasar anak dan perlindungan anak. Hak-hak dasar anak termasuk hak untuk hidup dan mendapat kasih sayang, sedangkan perlindungan anak mengacu pada perlindungan dari tindakan menyimpang, seperti eksploitasi anak.

Apa kata orang kalau kita mengadopsi anak?
Persepsi sosial mengenai adopsi anak tentu berbeda-beda. “Kalau bisa bikin, kenapa adopsi?” hanyalah satu dari banyak pertanyaan yang mungkin keluar dari mulut orang lain. Menjadi pejuang hak asasi manusia di Indonesia terkadang memang sulit; kamu pasti akan berhadapan dengan komentar orang-orang di sekitarmu, termasuk keluarga dan teman terdekat. Untuk menghadapi persepsi ini, kamu bisa jelaskan pelan-pelan tentang alasanmu mengadopsi anak. Tentu kamu tidak wajib menceritakan segalanya. Kamu bahkan tidak wajib merespons komentar orang lain. Tapi, ada baiknya untuk bertukar pandangan dengan mereka yang tidak memahamimu, supaya mereka lebih terbuka dengan wawasan baru dan lebih sadar akan mirisnya kesejahteraan anak di Indonesia.

Anak adopsi bukannya susah diatur ya? Emangnya bisa mencintai dia seperti anak kandung? Pandangan ini merupakan stigma yang sudah lama melekat di masyarakat umum. Stigma ini tentu saja tidak benar; yang namanya anak-anak pasti kebanyakan susah diatur. Rasa ingin tahu mereka sangat besar, dan masih banyak aktivitas yang belum mereka coba di umur tersebut. Selain itu, walaupun orang tua angkat tidak mengalami proses reproduksi anak, mereka akan tetap menjalani proses merawat dan membesarkan anak. Mulai dari memenuhi kebutuhan pendidikan, finansial, fisik, sampai emosional. 

Sama halnya dengan anak kandung, memenuhi kebutuhan emosional anak angkat tidaklah mudah. Kamu harus menghabiskan waktu dengannya untuk memastikan mereka mendapat perhatian dan kasih sayang. Pada akhirnya, kedekatan emosional pasti akan tumbuh di antara orang tua dan anak angkat layaknya orang tua dan anak kandung pada umumnya.

Mengadopsi anak bukanlah hal yang bisa diputuskan dalam semalam. Ada banyak syarat yang harus dipenuhi, dan proses mengadopsinya pun tidaklah cepat. Alur mengadopsi ini harus dipatuhi oleh semua calon pengadopsi demi keamanan anak itu sendiri, mengingat banyaknya orang dewasa yang menyalahi fungsi anak sebagai sumber uang. Persepsi skeptis dan stigma buruk dari masyarakat juga merupakan tantangan lain yang harus dihadapi setelah mengadopsi anak. Mereka adalah bukti dari kurangnya wawasan masyarakat mengenai adopsi. Selama kamu membesarkan anak angkat dengan penuh perhatian, kalian akan tumbuh menjadi keluarga yang sebenarnya.

Referensi

Dinas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta. (n.d). ADOPSI ANAK. Retrieved from: http://dinsos.jogjaprov.go.id/pelayanan-masyarakat-2/ 

Pratomo, R. (2018, December 18). Bolehkah Single Parent Mengadopsi Anak?. Hukum Online. Retrieved from: https://www.hukumonline.com/klinik/a/bolehkah-isingle-parent-i-mengadopsi-anak-lt58536910d0461 

Rachman, A. (2022, January 18). KPAI Sebut Sebanyak 147 Anak Dieksploitasi dan Diperdagangkan Selama 2021. Tempo.co. Retrieved from: https://nasional.tempo.co/read/1551060/kpai-sebut-sebanyak-147-anak-dieksploitasi-dan-diperdagangkan-selama-2021 

Setiawan, K. (2021, August 24). Kemensos Berikan Perlindungan kepada 4 Jutaan Anak Yatim-Piatu. Kementerian Sosial Republik Indonesia. Retrieved from: https://kemensos.go.id/kemensos-berikan-perlindungan-kepada-4-jutaan-anak-yatim-piatu 

Warta Kota. (2020, February 5). Jalan Panjang Prosedur Adopsi Anak, Salah Satunya Tidak Memiliki Penyimpangan Seksual. Retrieved from: https://wartakota.tribunnews.com/2020/02/05/jalan-panjang-prosedur-adopsi-anak-salah-satunya-tidak-memiliki-penyimpangan-seksual 

Protect, Not Shame: Teaching Sexual Body Awareness To Children

We all know children are full of curiosity. They always want to try different food, games, clothes, and many things to satisfy their imagination. One curiosity is also about their body. We often find kids putting their hands in their mouths, running around naked, smelling their poop, touching their genitals, and asking their parents why boys and girls have different body parts. This exploration is very normal as their bodies are the most familiar thing to them. They are born with it and grow up seeing changes in themselves. 

However, parents tend to avoid talking about the sexual aspect because they deem it inappropriate for their age. How ridiculous is that? There is nothing shameful about acknowledging that their kids have sexual body parts they are curious about. Moreover, talking about sex will not ruin your child’s innocence and encourage them to have an unhealthy interest in sex. It’s just basic biological knowledge. In this day and age where everything is just one click away on the Internet, information can easily turn into misinformation. Especially concerning sex, a topic that garners much scrutiny, avoidance of the issue can be very dangerous for our kids. 

One negative impact of withdrawing necessary sexual health information from our children is sexual violence. According to Indonesia’s Ministry of Women Empowerment and Child Protection, there are over 8.730 cases of sexual abuse in minorities, and the perpetrators mostly came from their family members or close adult caregivers. That is just the official data alone, and many more unreported cases are undeniably still out there. Lack of body awareness at a young age leads children to become unaware they are being harassed and touched inappropriately by the adults around them. They’ll think being touched like that is normal and eventually won’t tell their parents about it. Adolescences may also engage in underage sexual activity with their peers without understanding the grave consequences. Because of those reasons, parents need to be as honest as possible with their kids and start introducing age-appropriate sex education and body safety skills. 

You might ask, how can we know that our children’s sexual behaviors are still considered normal? The American Academy of Paediatrics listed the following as common in children between ages 2 to 6:

  • Touching genitals in public or private
  • Looking at or touching a peer or a new sibling’s genitals
  • Showing genitals to peers
  • Standing or sitting too close to someone
  • Trying to see peers or adults naked

In contrast, uncommon behaviors include inserting objects into genitals, explicit imitation of sexual activity, and rubbing their bodies against others. If these behaviors arise, parents need to interfere directly or get professional help. But if their behaviors are still largely new, distractible, and only occasional, then they are normal. 

Here are some things parents can do to support our children’s healthy exploration:

1. Use correct terms for body parts

Often parents use slang to define sexual body parts because they think their kids are too young to understand the correct biological terms. We need to stop this practice. The word ‘penis’ or ‘vagina’ is NOT difficult to understand. If we can teach them how to use words like ‘eyes’ or ‘nose’, we can teach them those words as well. Making up names will only give them the idea there is something disgusting about those parts. In the process, explain which parts are usually exposed (arms or legs) and which parts need to be covered (genitals or butt). 

2. Teach consent

Let your children know it’s totally okay to reject an unwanted touch and that doing so is not disrespectful. If some touches make them uncomfortable, instruct your kids to say ‘No’, scream to alert other adults, or run back to you. Tell the other family members they should always respect the child’s consent and can only be in a close space with your children under your supervision. 

Additionally, as parents, we need to understand that some affection cannot be forced. Don’t let people kiss or hug your children when they don’t like it. Inappropriate touching, even in a trusted adult like their grandparents, can confuse children. Emphasize that they can make their own decisions regarding their bodies. You are there to support and protect them, and they can always go to you if something is wrong. 

3. Control media exposure

Media can portray sexuality in a wrong light. It can influence children’s perspective on what is and what is not acceptable in society from the movies or TV series they consume. Parents need to pay attention to the rating system in movies, shows, and games, and utilize the parental control available in gadgets. There are a lot of safer alternatives if you still want to teach your kids using media. For example, you can find many health videos on puberty and sexual development on Youtube presented by experts and professionals. 

4. Welcome any questions

Because this is a new topic for them, your kids will undoubtedly have many questions to ask you. Encourage them! Not only it can give them new insights, but it will also prepare you and your kids for future serious conversations, like for example, discussing sex later on. As the responsible adult figures in their lives, don’t laugh or get angry when they ask you strange things or repeat the same questions. Follow up your answers with a confirmation question to bait them if they still want to ask more. Then, don’t forget to listen to their responses and reactions to know if they understand enough. 

In short, kids shouldn’t be made to feel ashamed for their curiosity. Their sexual body parts are not something taboo. It’s just body parts! The key to a healthy exploration is to have open, honest, and non-judgmental communication. Parents need to be active role figures during this time and nurture them on the right path so they can feel protected and understood. 

References

American Academy of Pediatrics. (2019, April 1). Sexual Behaviors in Young Children: What’s Normal, What’s Not?. Healthychildren.org. https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/preschool/Pages/Sexual-Behaviors-Young-Children.aspx

Gan, E. (2019, September 28). Teaching children about body safety: Call genitals by proper terms for a start, experts advise parents. Today Online. https://www.todayonline.com/singapore/teaching-children-about-body-safety-call-genitals-proper-terms-start-experts-advise

Marder, J. (2020, July 16). Keeping Kids Curious About Their Bodies Without Shame. The New York Times. https://www.nytimes.com/2020/07/16/parenting/kids-body-boundaries.html

Emosi Meletup-Letup, Aku Harus Bagaimana?!

Written by Amaranila Nariswari, Content Writer Intern at Project Child Indonesia

Pernah nggak, kamu berada di fase di mana kamu merasa bahwa orang lain ‘tuh gagal dalam memahami emosi dalam dirimu, atau jangan-jangan, kamu lagi berada di fase tersebut? Kadang kala, fase tersebut diiringi dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul terkait berbagai peraturan tidak tertulis yang membatasi kegiatanmu. Misalnya saja, setiap hari Sabtu kamu harus mengikuti kursus piano yang telah diatur oleh mama dan papa, sedangkan kamu bertanya-tanya, apa memang perlu kamu mengikuti kursus piano tersebut? Sayangnya, kamu tidak bisa bolos kursus secara sembarangan, selelah apapun diri kalian setelah satu minggu bergulat dengan kegiatan di sekolah. “Papa dan Mama nggak ngertiin aku banget, sih, aku kan ingin pergi ke mall juga seperti teman-temanku!”, begitu mungkin pikirmu. Jika sudah begitu, bagaimana sih cara kita menyikapi perasaan kalut tersebut?

Perlu dipahami bahwa pada taraf tertentu, perasaan-perasaan kalut seperti itu memang lumrah hadir di tengah-tengah masa pertumbuhan remaja. Biasanya ini terjadi ketika pola pikir para remaja mulai terbentuk secara konkrit. Kamu mungkin merasa tahu apa yang cocok dan tepat buatmu, tapi kamu tidak punya kemampuan untuk mewujudkan hal tersebut karena kamu masih berada di bawah pengawasan orang tua. Tidak jarang situasi ini bikin kamu ingin memberontak sehingga fase ini sering kali disebut sebagai rebel phase atau fase memberontak. Apa sih sebenarnya fase memberontak itu? Fase memberontak merupakan sebuah mekanisme yang dilalui remaja dalam menunjukkan eksistensi diri (Shepherd’s Hill, n.d). Kamu ingin menunjukkan bahwa kamu ‘ada’ dan ingin didengar serta diperhatikan. 

Mungkin kamu merasa asing dalam tubuh kamu sendiri, bertanya-tanya alasan di balik lonjakan emosi dalam diri tersebut. Tidak perlu khawatir, semua akan baik-baik saja selama kamu bisa mengambil kontrol atas emosimu sendiri. Hal pertama yang dapat kamu lakukan adalah menelaah alasan-alasan apa saja yang sekiranya dapat memicu terjadinya lonjakan emosi secara spontan. Ketika kamu telah menemukan faktor apa saja yang membuatmu merasa risau, coba untuk komunikasikan hal tersebut kepada orang lain. Mari kita ambil contoh kasus di atas, misalnya saja, teman-temanmu mengajakmu pergi ke suatu mall di kota untuk membeli peralatan make up, padahal di hari yang sama kamu harus menghadiri kursus musik. Kamu mungkin merasa bingung, ingin sekali pergi ke mall bersama teman-teman, tapi tahu bahwa apabila kamu membolos, orang tuamu akan kecewa terhadapmu. Lantas, apa langkah selanjutnya yang harus dilakukan?

Pertimbangkan pilihan-pilihan yang kamu punya. Apabila kamu pergi bersama teman-teman, kamu akan kehilangan satu materi dari tempat kursus, dan kamu harus mengejar ketertinggalan tersebut dengan belajar lebih lama satu atau dua jam di rumah. Apabila kamu pergi ke tempat kursus, teman-temanmu mungkin akan mencap dirimu sebagai teman yang tidak solid dan tidak asyik. Setiap pilihan memiliki bobotnya masing-masing. Selalu ada dua sisi dalam satu koin, begitu pula dengan pilihan-pilihan yang kita buat. Opsi yang terlihat lebih baik tidak selalu merupakan pilihan terbaik, dan bisa saja opsi yang kita pikir sembrono justru menghasilkan memori paling berharga dalam hidup kita. Lantas, ketika kita sudah menentukan pilihan, selanjutnya apa?

Komunikasi! Coba komunikasikan kerisauanmu kepada orang tua. Apabila kamu ingin istirahat selama satu pekan, katakan saja bahwa kamu ingin beristirahat dan pergi bersama teman-temanmu. Terkadang, sulit untuk mengungkapkan apa yang ada di pikiran kita secara lisan, untuk itu, usahakan untuk menjelaskannya sebaik yang kamu bisa. Apabila kamu mengalami kesulitan dalam mengungkapkan perasaanmu melalui ucapan, kamu bisa, lho, menyampaikannya melalui tulisan! Terkadang memang ada orang yang lebih mudah mengungkapkan perasaannya melalui tulisan dibandingkan dengan lisan, dan ketahuilah, itu sama sekali bukan masalah! Poin utama dari komunikasi adalah pesanmu tersampaikan dengan baik kepada pihak yang dituju. 

Tidak menutup kemungkinan bahwa permintaanmu akan ditolak oleh orang tuamu. Jika hal ini terjadi, apa yang harus dilakukan? Cobalah untuk berargumen dan jelaskan alasan mengapa kamu benar-benar menginginkan hal tersebut. Orang tua memiliki kewajiban untuk mendengarkan dan menghormati pendapat anaknya, namun, perlu diingat bahwa dalam berpendapat, kamu harus melakukannya dengan baik dan sopan, ya! Dengarkan juga argumen yang disampaikan oleh orang tuamu. Jangan sampai keinginanmu untuk pergi bermain bersama teman mengaburkan nilai-nilai penting yang disampaikan oleh orang tuamu. Apabila kamu kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang tuamu, kamu bisa juga, lho, bercerita dengan guru di sekolah, saudara, ataupun teman sebayamu. Terkadang, meminta bantuan kepada orang lain dapat meringankan beban pikiran kita, membuat perasaan yang kalut menjadi lebih tenang. Jangan lupa juga untuk mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah mendengarkan cerita dan argumenmu.

Apabila orang tuamu menyanggupi keinginanmu, jangan sia-siakan kepercayaan yang telah diberikan oleh mereka. Manfaatkan waktu yang kamu miliki untuk beristirahat dan bersenang-senang dengan baik. Jangan sampai kamu jadi merasa bersalah karena pergi bermain dan bukannya pergi ke tempat kursus. Meskipun kita berada di luar lingkungan sekolah atau tempat kursus, kamu juga bisa memanfaatkan waktu dengan belajar, lho! Belajar tidak harus selalu berkaitan dengan hal-hal eksakta, kamu bisa juga belajar dengan mengamati keadaan sekitarmu, misalnya mengamati cara memperlakukan orang lain dengan sopan atau membelanjakan uang dengan bijak dengan berbelanja sesuai kebutuhan dan bukan keinginan.

Bisa jadi permasalahan yang kamu hadapi lebih pelik dari sekadar ingin bermain versus harus pergi ke tempat kursus sehingga letupan emosi yang kalian hadapi pun juga lebih besar. Tidak apa-apa, untuk berkembang, kita memang harus melalui fase seperti ini. Kedepannya, kamu juga akan menghadapi fase-fase menarik lainnya. Tidak perlu takut dan khawatir, terima bahwa fase-fase tersebut merupakan bagian dari dirimu, tapi apa yang membentuk dirimu adalah sifat gigih yang kamu tunjukkan dalam menghadapi fase-fase tersebut. Apa pun yang kamu rasakan, semua itu dapat dipahami, namun perlu diingat pula bahwa dirimu lebih dari sekadar emosimu!

Referensi:

Arjanto, L.P. (n.d). Mengapa Remaja Suka Memberontak? The Asian Parent. Retrieved from https://id.theasianparent.com/mengapa-remaja-suka-memberontak

Shepherd’s Hill Academy. (n.d). Identifying Rebellion in Your Teenager. Shepherd’s Hill Academy. Retrieved from https://www.shepherdshillacademy.org/resources/identifying-rebellion-teenager/#:~:text=This%20is%20the%20point%20of,in%20direct%20opposition%20to%20them