Apa itu literasi internet?

Literasi Internet merupakan salah satu bagian penting di zaman sekarang, dimana teknologi makin berkembang dan internet menjadi alat paling penting dalam kehidupan kita sehari-hari. Semua kalangan mengakses internet untuk keperluan masing-masing, mulai dari online games, media sosial, sampai pada portal-portal berita. Sayangnya, kemudahan dalam mengakses ini tidak disertai dengan kemampuan para penggunanya untuk menyaring informasi dengan baik dan benar.

Ini terjadi karena Internet tidak secara otomatis menyaring konten negatif, sehingga ketika pengguna internet secara tidak langsung menemukan konten negatif tersebut, padahal sedang mencari sesuatu yang positif. Banyak pengguna internet yang, dengan buta dan tanpa memeriksa kembali konten negatif ini, langsung membagikannya kepada kerabatnya. Hal ini menyebabkan pentingnya literasi internet di kalangan pengguna internet Indonesia.

Literasi internet (atau seringkali disebut juga dengan literasi digital), secara sempit, berarti kemampuan untuk mencari informasi yang dibutuhkan dengan pemanfaatan internet. Ada tiga poin yang diperhatikan dalam literasi internet, yaitu (1) kemampuan untuk mengetahui konten ilegal dan berbahaya di Internet dengan baik, (2) kemampuan untuk berkomunikasi di Internet dengan baik, dan (3) kemampuan untuk memproteksi privasi dan melakukan tindakan keamanan.

Penting bagi masyarakat Indonesia untuk mendapatkan literasi internet, terutama sedini mungkin. Dengan begitu, anak-anak dapat memahami bagaimana menggunakan internet dengan baik dan benar. Saat ini masih kita dapati banyak sekali pengguna internet Indonesia yang menggunakan internet secara negatif. Entah itu mengakses konten ilegal, ataupun membagikan konten negatif, seperti hoax, di media sosial mereka.

Dengan latar belakang ini, Project Child Indonesia mengadakan Internet Literacy Program. Program ini baru dimulai pada tahun 2017, dengan 8 sekolah dasar di Yogyakarta sebagai partner. Program ini ditujukan kepada anak usia sekolah, dengan harapan bahwa mereka dapat menggunakan internet dengan baik dan benar.

Infografis: NGO Anak di Indonesia

Indonesia merupakan rumah dari jutaan anak dan remaja. Walau demikian belum semua anak di Indonesia berada dalam kehidupan dan keadaan yang aman dan layak. Maka dari itu ada banyak sekali organisasi-organisasi non-profit (NGO) yang bergerak di bidang anak-anak.

Berikut ini kami sajikan infografis mengenai NGO Anak yang ada di Indonesia.

The First International Startup Grind Yogyakarta Event

Google Grind

Startup Grind, the world’s biggest entrepreneur community powered by Google for Entrepreneurs, held their first official international event at Antologi Collaborative Space, Yogyakarta on Tuesday, February 20, 2018. The event took place as a result of a partnership between Tarugeni Foundation as the local sponsor and Project Child Indonesia as the organizing committee. By bringing the event to Yogyakarta, we aim to empower local entrepreneurs and strengthen their ability to make positive impact in the world.

 

As a city going strong with its economic growth, Yogyakarta is a hot spot for fast-growing startups and emerging companies in various fields. Being a part of Startup Grind, Yogyakarta joins a list of over 250 cities worldwide actively hosting events to connect, inspire, and educate their community of entrepreneurs. Startup Grind events strive to bring together entrepreneurs and people who are passionate about entrepreneurship, providing them with a space to engage as well as giving them inspirational insights through a fireside chat with influential people leading in their fields.

 

The event presented a Forbes “30 Under 30” honouree, Pamela Wagner as the main speaker. Formerly a Google employee, Pamela is the founder and CEO of Ajala Digital, an Austria-based global marketing agency focused on highly profitable advertising campaigns which has helped more than 2000 advertisers across 21 time zones – from Hawaii to Australia – grow their businesses. Interviewed by Jason Canniff, an American social entrepreneur and a Lead Mentor for the Entrepreneurs Institute and GeniusU based in Singapore, Pamela spoke about her journey to success and shared valuable inputs on entrepreneurship and self-development.

 

Attended by 50 people, ranging from business owners to university students, the event started with a networking session, followed by interview and Q&A sessions and more networking afterwards. As Pamela also admitted, networking had contributed more to her success than her study or work experience, Startup Grind accommodates everyone involved to network with people who share similar purpose-driven minds, making real connection and opening up new possibilities to achieve greater globally.

 

Written by Margareta Danastri,
Content Writer – Project Child Indonesia

Mengapa Anak-Anak Perlu Membawa Air Minum ke Sekolah

Sekolah, pada umumnya, tidak mampu menyediakan akses air minum dengan cepat, mudah dan murah, bagi anak didik mereka. Ketidakmampuan tersebut bisa disebabkan berbagai macam hal, seperti kesulitan akses air bersih di sekitar sekolah, ketiadaan biaya sebagai ongkos pembuatan dan perawatan akses air minum, dan sebagainya. Padahal, waktu yang dihabiskan di sekolah cenderung lebih besar ketimbang di rumah sendiri. Belum lagi aktivitas padat dan menghabiskan energi yang dilakukan oleh anak-anak di sekolah, yang umumnya tidak disadari oleh para guru dan orang tua.

 

Berikut ini beberapa alasan mengapa anak-anak perlu membawa air minum ke sekolah.

  1. Anak-anak belum mampu untuk menyadari, dengan cepat, bahwa mereka membutuhkan asupan air selama mereka beraktivitas. Hal ini berbahaya karena akan menyebabkan anak-anak mudah kekurangan cairan atau dehidrasi. Ditambah dengan aktivitas yang padat selama proses belajar mengajar, hal ini akan membahayakan anak-anak. Kekurangan air juga akan membuat anak-anak cenderung untuk tidak dapat berkonsentrasi dengan maksimal dalam menyerap pelajaran.
  2. Anak-anak cenderung untuk memenuhi kebutuhan akan air melalui minuman bersoda dan tinggi gula. Hal ini bisa menyebabkan berbagai macam hal, mulai dari obesitas, sampai pada diabetes di usia yang muda. Minuman tinggi kalori dan gula yang ada di sekolah mudah di akses dan cenderung murah. Bukan berarti kita melarang mereka untuk minum minuman tersebut, tetapi terlalu sering tidak baik bagi kesehatan mereka dalam jangka panjang.
  3. Kurangnya akses terhadap air, pada umumnya, dan air minum yang layak, pada khususnya, di sekolah, akan mengganggu proses belajar mengajar, serta dapat mendorong timbulnya penyakit-penyakit seperti diare. Hal ini terjadi bisa karena tidak adanya infrastruktur yang memadai, ataupun sekolah tidak memiliki cukup urgensi dan atau biaya untuk menyediakan akses air yang layak.

 

Project Child Indonesia memahami berbagai alasan yang telah dikemukakan di atas, sehingga kami mengadakan Drinking Water Program. Drinking Water Program telah berjalan di Yogyakarta dan Pacitan. Selain memberikan water filter dan membantu pemasangan, kami juga mengadakan pendidikan lingkungan kepada murid-murid yang berada di sekolah, agar mereka dapat memahami pentingnya menjaga lingkungan. Saat ini, kami sedang mengembangkan lebih jauh program ini ke Indonesia Timur. Fakfak, Papua Barat, menjadi pilot project Drinking Water Program dan saat ini sedang kami jalankan. Kami membutuhkan donasi pembaca, agar dapat menyukseskan program ini. Pembaca dapat berdonasi melalui http://kitabisa.com/airuntuksekolah.