Penyediaan Akses Air Minum untuk Masa Depan Anak

Manusia memerlukan air bersih untuk hidup. Air yang tercemar tidak hanya kotor dan tidak layak dikonsumsi, namun juga dapat berbahaya bagi kesehatan dan dapat beresiko menimbulkan kematian. Untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan memenuhi hak dasar bagi seluruh penduduk Indonesia, penyediaan akses air minum yang terjamin perlu dipertimbangkan secara serius untuk menjadi salah satu prioritas pembangunan nasional. Terbatasnya akses terhadap air dapat merampas kesempatan anak dalam hal pendidikan dan ekonomi dan dapat menghambat mereka untuk keluar dari lingkaran kemiskinan. Karena jauhnya akses air dari rumah, seringkali anak-anak di daerah terpencil juga mendapat tugas untuk mengambil air bagi keluarga mereka. Tanggung jawab ini akan menyita waktu mereka yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk belajar dan bermain. Akses air yang aman dan mudah dijangkau akan memberi mereka tambahan waktu agar mereka dapat bermain layaknya anak-anak pada umumnya dan menggunakan waktu untuk belajar demi masa depan mereka.

Pembangunan infrastruktur merupakan salah satu prioritas pembangunan bagi pemerintahan Presiden Joko Widodo. Presiden menegaskan dalam berbagai kesempatan betapa pentingnya infrastruktur bagi kemajuan suatu bangsa, meliputi sebagai pondasi dasar dalam pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kemandirian suatu negara. Hal ini juga berlaku bagi pembangunan dan pengembangan infrastruktur air minum atau biasa disebut sebagai Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM).

Tantangan lain selain kurangnya penyelenggara SPAM di pedesaan di antaranya adalah infrastruktur yang digunakan untuk mendistribusikan air di Indonesia kondisinya biasanya sudah usang, kurang terawat dan rentan terhadap kebocoran. Apabila sistem distribusi tersebut rusak, air akan dapat terkontaminasi dengan organisme penyakit yang ditularkan melalui air. Tingkat pertumbuhan penduduk yang pesat juga mengakibatkan adanya kesenjangan antara jumlah penduduk dan cakupan pelayanan yang belum memadai. Kurangnya tenaga ahli lokal juga sering menjadi penghalang untuk menciptakan sistem distribusi pengolahan air yang lebih modern, yang membutuhkan tenaga terlatih untuk operasi dan pemeliharaannya.

Berdasarkan penilaian kinerja yang dilakukan Badan Peningkatan Penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSPAM) terhadap 371 PDAM pada 2016, diketahui bahwa jumlah PDAM yang berada dalam kondisi sehat 198 (53%), kurang sehat 108 (29%), dan sakit 65 (18%). Kondisi ini berbeda dari tahun 2015, dimana dari 368 PDAM yang dinilai, PDAM dalam kondisi sehat 196 (53%), kurang sehat 100 (27%), dan sakit 72 (20%). Sedangkan pada 2014, dari 359 PDAM yang dinilai, PDAM dalam kondisi sehat 182 (51%), kurang sehat 103 (29%), dan sakit 74 (21%) (BAPPENAS 2017). Dari sini dapat disimpulkan bahwa dari tahun 2014 sampai dengan tahun 2016, jumlah PDAM yang sehat bertambah hanya sedikit, jumlah PDAM yang kurang sehat bertambah dan jumlah PDAM yang sakit sedikit berkurang. Terlihat tantangan lain SPAM di Indonesia yaitu masih diperlukan banyak perbaikan untuk pemeliharaan SPAM dari pemerintah.

Sesuai UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, penyediaan air minum adalah salah satu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib pemerintah daerah. Seiring dengan program pembangunan pemerintah, aspek pendanaan untuk pembangunan SPAM juga harus menjadi komitmen dan perhatian pemerintah daerah. Namun dengan keterbatasan pendanaan pemerintah daerah dan prioritas pembangunan lainnya, pemerintah pusat juga turut mendukung pembangunan SPAM di daerah melalui pendanaan APBN, sehingga pembangunan infrastruktur SPAM mendapatkan pendanaan bersama dari pemerintah daerah dan pemerintah pusat.

Selain melalui APBN dan APBD, pemerintah juga membuka kesempatan kepada badan usaha untuk mendukung pengembangan SPAM melalui mekanisme Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 122 Tahun 2015 tentang Sistem Penyediaan Air Minum. Kelebihan dari skema KPBU antara lain memberikan alternatif pembiayaan lain karena keterbatasan pendanaan pemerintah, efisiensi, teknologi baru yang dipergunakan oleh swasta dan mempercepat peningkatan cakupan dan kualitas pelayanan publik. Skema KPBU diharapkan dapat mengoptimalkan biaya investasi terutama di perkotaan yang pertumbuhan penduduknya meningkat dengan pesat. Kemampuan membayar di perkotaan yang cenderung lebih besar dapat menjadi alasan kuat bagi penanam modal untuk berinvestasi, namun bagaimana dengan masyarakat di wilayah terpencil yang tidak mampu? Kurang kondusifnya iklim usaha mengakibatkan sektor swasta enggan untuk mengembangkan SPAM di pedesaan. Akibatnya jaringan perpipaan dan penyediaan air minum untuk masyarakat miskin pedesaan kurang mendapat perhatian baik dari pemerintah maupun dari pihak swasta.   

Upaya untuk mengembangkan SPAM di Indonesia salah satunya dapat dimulai dari sekolah dengan menyediakan instalasi air minum untuk membangun kebiasaan dan meningkatkan kesadaran anak-anak, guru, orang tua, dan orang-orang di sekitar lingkungan sekolah. Sistem water filter menjamin kebersihan air sehingga meminimalisir potensi penyakit akibat air yang tercemar. Selain itu, anak-anak akan dapat menyisihkan sebagian uang sakunya untuk membeli keperluan lain selain air minum. Sistem ini juga mudah untuk dipelajari sehingga siapapun dapat mengoperasikan dan melakukan pemeliharaannya.  Penerapan Drinking Water Program di sekolah dapat menawarkan opsi penyediaan air minum untuk membantu pemerintah baik di perkotaan maupun daerah terpencil, khususnya untuk anak-anak. Dengan sistem penyediaan air minum yang baik dan terjangkau, anak-anak akan mendapat kesempatan untuk mengembangkan potensi mereka karena mereka memiliki lebih banyak waktu untuk belajar dan bermain, sehingga harapan untuk memiliki masa depan yang lebih cerah pun lebih besar.

Semua Dapat Berpartisipasi untuk Mendukung SDGs

Sebagai tindak lanjut dari agenda Millennium Development Goals yang telah berjalan selama 15 tahun, pada bulan September 2015 Perserikatan Bangsa-Bangsa mencanangkan resolusi baru yang lebih universal, inklusif dan komprehensif yaitu Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. SDGs memiliki 17 tujuan baru untuk mendorong pembangunan berkelanjutan berdasarkan hak asasi manusia dan kesetaraan untuk mendorong pembangunan sosial, ekonomi dan lingkungan hidup. SDG nomor 6 bertujuan untuk menjamin ketersediaan serta pengelolaan air bersih dan sanitasi yang berkelanjutan dengan salah satu targetnya yaitu memberi akses air minum aman dan terjangkau secara universal dan merata pada semua orang di tahun 2030.  

Indonesia telah berkomitmen untuk mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dengan diadopsinya sebagian besar target dan indikator SDGs ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Integrasi agenda global ke dalam RPJMN menunjukkan bahwa pemerintah menaruh perhatian besar dengan melegitimasi dan memberikan dasar hukum bagi pelaksanaan agenda SDGs di Indonesia.

Pada bulan Juli 2017 Presiden Jokowi telah menandatangani Peraturan Presiden No. 59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang menetapkan struktur dan mekanisme tata kelola SDGs nasional untuk perencanaan, penganggaran, pembiayaan, pemantauan dan pelaporan. Dalam perpres ini disebutkan bahwa salah satu sasaran nasional RPJMN tahun 2015-2019 adalah meningkatkan akses air minum layak untuk 40% penduduk berpendapatan terbawah pada tahun 2019 menjadi 100%.

Perpres tersebut juga merupakan komitmen agar pelaksanaan dan pencapaian SDGs dilaksanakan secara partisipatif dengan melibatkan seluruh pihak. Sesuai dengan prinsip utama SDGs yaitu inklusi dan partisipasi, di dalam perpres tersebut dijelaskan pentingnya peran aktor non-pemerintah seperti ormas, filantropi, pelaku usaha, akademisi dan pihak terkait lainnya. Dibutuhkan berbagai platform di tingkat nasional dan daerah untuk mempertemukan aktor non-pemerintah tersebut dan mewujudkan kemitraan yang nyata.

Organisasi non-pemerintah memiliki peran penting dalam mengkomunikasikan SDGs kepada publik dengan membuat proses kebijakan menjadi lebih transparan dan mudah diterima. Salah satu tujuan dari meningkatkan kesadaran publik tentang SDGs adalah untuk memberdayakan masyarakat agar dapat turut serta dalam menyelesaikan permasalahan di sekitar mereka dan berkontribusi pada SDGs.

Selain NGO, partisipasi dari berbagai pihak merupakan bagian konstituen dari pembangunan berkelanjutan yang krusial bagi realisasi tujuan agenda tersebut dengan menggabungkan berbagai sumber informasi, pengetahuan dan keahlian sehingga menghasilkan ide-ide baru, menumbuhkan komitmen bagi semua pihak yang terlibat, meningkatkan kesadaran terhadap suatu isu dan memahami tantangan apa yang perlu diselesaikan bersama.

Project Child Indonesia dapat menjadi salah satu wadah bertemunya pemerintah, penanam modal, masyarakat madani serta akademisi untuk mencapai tujuan SDGs ke-6 dengan terlaksananya Drinking Water Program (DWP). Sejak dilaksanakan pada tahun 2016, DWP telah memberikan dampak positif terhadap 29 sekolah di Yogyakarta, 4 sekolah di Fakfak dan akan terus dikembangkan di berbagai wilayah di Indonesia.

Program ini menjamin tersedianya air minum yang aman dan terjangkau di sekolah-sekolah dengan dana yang didapat dari penanam modal yang peduli terhadap isu ini. Penyuluhan di sekolah mengenai dibutuhkannya akses air minum bagi seluruh masyarakat, pentingnya mendapat asupan air minum yang cukup bagi anak-anak, serta kelebihan dari sistem water filter dari segi kesehatan, finansial maupun lingkungan juga diberikan oleh relawan muda yang datang dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia maupun luar negeri.

Agenda 2030 menekankan pada “integrasi” dan “kesatuan” dimana tujuan dan target tidak akan tercapai apabila semua pihak berjalan sendiri-sendiri. Pendekatan yang koheren dan holistik dengan melibatkan berbagai pihak akan meningkatkan implementasi SDGs serta berkontribusi pada koherensi kebijakan untuk pembangunan berkelanjutan agar tercipta masyarakat yang madani.

Demografi Relawan Project Child

Volunteer (relawan) merupakan bagian penting Project Child Indonesia. Dari sekian banyak volunteer yang aktif dan pernah aktif di Project Child, demografi volunteer menjadi hal yang menarik.

Berikut infografis dari demografi volunteer PCI:

Infographic DWP

Mengapa Drinking Water Program diperlukan? Simak infografis ini untuk tahu lebih dalam tentang peran Drinking Water Program untuk anak sekolah.

 

Apa itu literasi internet?

Literasi Internet merupakan salah satu bagian penting di zaman sekarang, dimana teknologi makin berkembang dan internet menjadi alat paling penting dalam kehidupan kita sehari-hari. Semua kalangan mengakses internet untuk keperluan masing-masing, mulai dari online games, media sosial, sampai pada portal-portal berita. Sayangnya, kemudahan dalam mengakses ini tidak disertai dengan kemampuan para penggunanya untuk menyaring informasi dengan baik dan benar.

Ini terjadi karena Internet tidak secara otomatis menyaring konten negatif, sehingga ketika pengguna internet secara tidak langsung menemukan konten negatif tersebut, padahal sedang mencari sesuatu yang positif. Banyak pengguna internet yang, dengan buta dan tanpa memeriksa kembali konten negatif ini, langsung membagikannya kepada kerabatnya. Hal ini menyebabkan pentingnya literasi internet di kalangan pengguna internet Indonesia.

Literasi internet (atau seringkali disebut juga dengan literasi digital), secara sempit, berarti kemampuan untuk mencari informasi yang dibutuhkan dengan pemanfaatan internet. Ada tiga poin yang diperhatikan dalam literasi internet, yaitu (1) kemampuan untuk mengetahui konten ilegal dan berbahaya di Internet dengan baik, (2) kemampuan untuk berkomunikasi di Internet dengan baik, dan (3) kemampuan untuk memproteksi privasi dan melakukan tindakan keamanan.

Penting bagi masyarakat Indonesia untuk mendapatkan literasi internet, terutama sedini mungkin. Dengan begitu, anak-anak dapat memahami bagaimana menggunakan internet dengan baik dan benar. Saat ini masih kita dapati banyak sekali pengguna internet Indonesia yang menggunakan internet secara negatif. Entah itu mengakses konten ilegal, ataupun membagikan konten negatif, seperti hoax, di media sosial mereka.

Dengan latar belakang ini, Project Child Indonesia mengadakan Internet Literacy Program. Program ini baru dimulai pada tahun 2017, dengan 8 sekolah dasar di Yogyakarta sebagai partner. Program ini ditujukan kepada anak usia sekolah, dengan harapan bahwa mereka dapat menggunakan internet dengan baik dan benar.

Infografis: NGO Anak di Indonesia

Indonesia merupakan rumah dari jutaan anak dan remaja. Walau demikian belum semua anak di Indonesia berada dalam kehidupan dan keadaan yang aman dan layak. Maka dari itu ada banyak sekali organisasi-organisasi non-profit (NGO) yang bergerak di bidang anak-anak.

Berikut ini kami sajikan infografis mengenai NGO Anak yang ada di Indonesia.

Mengapa Anak-Anak Perlu Membawa Air Minum ke Sekolah

Sekolah, pada umumnya, tidak mampu menyediakan akses air minum dengan cepat, mudah dan murah, bagi anak didik mereka. Ketidakmampuan tersebut bisa disebabkan berbagai macam hal, seperti kesulitan akses air bersih di sekitar sekolah, ketiadaan biaya sebagai ongkos pembuatan dan perawatan akses air minum, dan sebagainya. Padahal, waktu yang dihabiskan di sekolah cenderung lebih besar ketimbang di rumah sendiri. Belum lagi aktivitas padat dan menghabiskan energi yang dilakukan oleh anak-anak di sekolah, yang umumnya tidak disadari oleh para guru dan orang tua.

 

Berikut ini beberapa alasan mengapa anak-anak perlu membawa air minum ke sekolah.

  1. Anak-anak belum mampu untuk menyadari, dengan cepat, bahwa mereka membutuhkan asupan air selama mereka beraktivitas. Hal ini berbahaya karena akan menyebabkan anak-anak mudah kekurangan cairan atau dehidrasi. Ditambah dengan aktivitas yang padat selama proses belajar mengajar, hal ini akan membahayakan anak-anak. Kekurangan air juga akan membuat anak-anak cenderung untuk tidak dapat berkonsentrasi dengan maksimal dalam menyerap pelajaran.
  2. Anak-anak cenderung untuk memenuhi kebutuhan akan air melalui minuman bersoda dan tinggi gula. Hal ini bisa menyebabkan berbagai macam hal, mulai dari obesitas, sampai pada diabetes di usia yang muda. Minuman tinggi kalori dan gula yang ada di sekolah mudah di akses dan cenderung murah. Bukan berarti kita melarang mereka untuk minum minuman tersebut, tetapi terlalu sering tidak baik bagi kesehatan mereka dalam jangka panjang.
  3. Kurangnya akses terhadap air, pada umumnya, dan air minum yang layak, pada khususnya, di sekolah, akan mengganggu proses belajar mengajar, serta dapat mendorong timbulnya penyakit-penyakit seperti diare. Hal ini terjadi bisa karena tidak adanya infrastruktur yang memadai, ataupun sekolah tidak memiliki cukup urgensi dan atau biaya untuk menyediakan akses air yang layak.

 

Project Child Indonesia memahami berbagai alasan yang telah dikemukakan di atas, sehingga kami mengadakan Drinking Water Program. Drinking Water Program telah berjalan di Yogyakarta dan Pacitan. Selain memberikan water filter dan membantu pemasangan, kami juga mengadakan pendidikan lingkungan kepada murid-murid yang berada di sekolah, agar mereka dapat memahami pentingnya menjaga lingkungan. Saat ini, kami sedang mengembangkan lebih jauh program ini ke Indonesia Timur. Fakfak, Papua Barat, menjadi pilot project Drinking Water Program dan saat ini sedang kami jalankan. Kami membutuhkan donasi pembaca, agar dapat menyukseskan program ini. Pembaca dapat berdonasi melalui http://kitabisa.com/airuntuksekolah.

Kami Mencari Anggota Tim Baru: Teaching Quality Assurance Officer

Project Child Indonesia mengundang insan-insan muda yang memiliki passion di bidang pendidikan alternatif di Indonesia untuk bergabung bersama tim kami sebagai  TEACHING QUALITY ASSURANCE OFFICER

Sebagai seorang Teaching Quality Assurance Officer, tugas dan tanggung jawab anda akan meliputi:

  • Membantu relawan dalam membuat dan mengembangkan rencana pembelajaran (lesson plan).
  • Memeriksa dan menjaga kualitas rencana pembelajaran yang dibuat oleh relawan.
  • Mengawasi seluruh aktivitas pendidikan dan pengajaran.
  • Membuat laporan dan analisis untuk digunakan oleh tim pengembangan kurikulum.

Persyaratan:

  • Fresh graduate atau mahasiswa tingkat akhir dari semua jurusan (diutamakan dari studi pendidikan)
  • Senang hati, berpikiran terbuka & memiliki hasrat untuk bekerja di bidang pendidikan
  • Memiliki kemampuan observasi dan analisa yang kuat
  • Memiliki kemampuan dalam dokumentasi dan membuat laporan
  • Berorientasi pada detail dan mampu membuat report yang komprehensif dan detail
  • Memiliki kemampuan interpersonal yang tinggi dan mampu bekerja dalam tim

Posisi ini adalah posisi berbayar paruh-waktu dengan basis pekerjaan di Yogyakarta, Indonesia. Posisi ini akan bertanggungjawab dan melapor langsung kepada Educational Manager di Project Child Indonesia.

Pelamar harus mengirimkan lamaran beserta CV/Resume beserta foto terbaru dan disertai dengan motivation letter ke contact@projectchild.ngo (Subject: TQA Application) sebelum tanggal 30 Oktober 2017.

Narahubung:  Umu di +62-857-2710-4784 (Hanya WhatsApp dan SMS) atau umuainia@projectchild.ngo

 

Kesenjangan Pendidikan Literasi Digital dengan Kemudahan Akses Internet

Sosialisasi Internet Literacy Program di SD Muhammadiyah Wirobrajan. Foto: Mahessa.

Oleh Muhammad Abie Zaidannas Suhud – Sekretaris Jenderal, Project Child Indonesia

Pekan lalu saya dan beberapa anggota tim Project Child Indonesia berkunjung ke SD Muhammadiyah 2 Wirobrajan untuk diskusi dan sosialisasi Internet Literacy Program dengan murid, guru serta orang tua murid. Kunjungan ini bertujuan untuk membuka program bertajuk Internet Literacy Program yang diselenggarakan oleh Project Child Indonesia dengan kolaborasi bersama Gameloft Indonesia yang mendonasikan 10 unit komputer untuk sekolah tersebut.

Ketika saya bertanya pada para murid siapa yang punya akun Instagram, Facebook, Line dan menggunakan aplikasih chatting seperti WhatsApp, Telegram dan BBM, hampir semuanya mengacungkan tangan. Namun ketika saya tanya kepada orang tua murid, apakah mereka tahu anaknya menggunakan aplikasi-aplikasi tersebut, hampir semua orang tua menjawab tidak tahu. Hal ini berarti banyak anak-anak di bawah umur yang menggunakan internet tanpa pengawasan atau bimbingan orang tua.

Akses internet di Indonesia (pulau Jawa khususnya) sangat mudah dan murah untuk dijangkau semua kalangan. Tentunya hal tersebut adalah hal yang bagus dan patut disyukuri. Walaupun demikian, kemudahan akses tersebut tidak diikuti dengan kesiapan banyak pihak mulai dari orangtua, guru, sekolah hingga pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pendidikan literasi digital untuk pengguna internet muda.

Demografi pengguna internet di Indonesia didominasi oleh generasi muda. Sebanyak 35,6 juta atau 26,9% dari total 132,7 juta pengguna internet di Indonesia berusia 10 hingga 24 tahun (APJII, 2016). Sementara itu, generasi berusia 25-40 an yang sekarang banyak menjadi orang tua, terutama dari kalangan ekonomi menengah ke bawah cenderung kurang paham dan mengikuti perkembangan teknologi dengan utuh.

Akibatnya, tidak jarang anak-anak menggunakan internet hanya sebatas untuk memenuhi kebutuhan hiburan. Dalam beberapa kasus, anak-anak bukan saja mengkonsumsi pornografi tapi juga menjadi ‘produsen’ yang membuat sendiri konten pornografi dengan ponsel pintarnya. Dalam beberapa kasus lainnya anak-anak juga menjadi korban penculikan atau perdagangan manusia. Belum lagi masalah-masalah terkait misinformasi dan berita palsu (fake-newshoax) yang kerap beredar di Internet yang banyak tersebar di kalangan anak-anak yang kemudian memperparah konflik pada isu SARA di Indonesia.

Adanya kesenjangan antara kemudahan mengakses internet dengan pendidikan literasi digital dan etika berinternet harus menjadi perhatian semua pihak. Perlu ada upaya-upaya yang terkoordinir untuk menyediakan pendidikan literasi digital untuk anak-anak, khususnya untuk anak-anak usia Sekolah Dasar. Selain itu juga perlu upaya untuk memberikan edukasi kepada orang tua supaya dapat membimbing anak-anaknya dalam menggunakan teknologi, khususnya internet dan media sosial.

Internet Literacy Program yang digagas oleh Project Child mencoba mengisi kesenjangan antara kemudahan mengakses internet dengan rendahnya pendidikan literasi digital di Indonesia. Program ini bertujuan untuk mengenalkan teknologi dan penggunaan internet yang aman dan bertanggungjawab bagi generasi muda Indonesia, khususnya siswa-siswa usia Sekolah Dasar. Melalui program ini siswa akan diberikan pendidikan tentang literasi digital mulai pengenalan dasar komputer dan internet, bagaimana cara menggunakan internet secara aman dan bertanggung jawab, pengenalan kepada bahasa pemrograman serta bagaimana memanfaatkan internet untuk peningkatan kapasitas diri.

Semua pihak diharapkan dapat berpartisipasi aktif dalam program ini baik sebagai relawan atau menyumbangkan komputer untuk membangun laboratorium komputer di sekolah-sekolah dasar yang tidak mampu membiayai pembangunan dan pengembangan laboratorium di sekolahnya. Untuk berpartisipasi aktif, anda dapat mengunjungi laman web Project Child Indonesia.

Membangun Literasi Digital melalui Pendidikan Teknologi lewat Internet Literacy Program

Bertepatan pada pekan Hari Pendidikan Nasional Mei 2017, Project Child Indonesia meluncurkan program terbarunya: Internet Literacy Program. Internet Literacy Program bertujuan untuk mengenalkan teknologi dan penggunaan internet yang aman dan bertanggungjawab bagi generasi muda Indonesia, khususnya siswa-siswa usia Sekolah Dasar. Pada tahap awal, program ini akan dilaksanakan di 3 sekolah dasar di Yogyakarta yaitu SD Negeri Bumijo, SD Negeri Bangunrejo I dan SD Negeri Vidya Qasana.

Demografi pengguna internet di Indonesia didominasi oleh generasi muda, dimana sebanyak 35,6 juta atau 26,9% dari total 132,7 juta pengguna internet di Indonesia berusia 10 hingga 24 tahun (APJII, 2016). Sementara itu, ada kesenjangan antara pendidikan literasi di Indonesia dengan kemudahan mengakses internet dimana penetrasi penggunaan internet di demografi berusia 10-24 tahun mencapai tingkat 75%. Sementara itu belum ada pendidikan literasi digital yang terstruktur dan merata di Indonesia. Di Yogyakarta sendiri, hampir sebagian besar sekolah tidak mampu untuk memiliki guru komputer akibat keterbatasan biaya, apalagi untuk memiliki sebuah laboratorium komputer.

Melalui program ini siswa akan diberikan pendidikan tentang literasi digital mulai pengenalan dasar komputer dan internet, bagaimana cara menggunakan internet secara aman dan bertanggung jawab, pengenalan kepada koding dan pemrograman serta bagaimana memanfaatkan internet untuk peningkatan kapasitas diri. Program pendidikan ini diberikan kepada siswa kelas 4 dan 5 dengan metode yang menyenangkan dengan menggunakan laboratorium komputer yang disediakan oleh Gameloft Indonesia bekerjasama dengan Project Child Indonesia. Program ini diharapkan dapat mengisi kesenjangan antara tingginya penetrasi penggunaan internet dengan rendahnya literasi digital di Indonesia serta mendorong generasi muda di Indonesia untuk dapat meningkatkan pertumbuhan industri digital dan industri kreatif di Indonesia.

Program telah melalui serangkaian riset mengenai literasi digital di Indonesia serta memiliki kurikulum yang disesuaikan dengan kondisi literasi digital di kalangan siswa SD di Indonesia. Relawan menjadi ujung tombak untuk memastikan program ini berjalan dengan baik. Pada tahap awal progam ini, Project Child Indonesia telah merekrut 14 orang relawan yang diseleksi secara ketat serta telah melalui pelatihan sebelum dapat mengajar dalam program ini. Dalam tahap selanjutnya, Project Child Indonesia akan mengembangkan program ini ke lebih banyak sekolah di Yogyakarta dan Indonesia.

Project Child Indonesia juga membuka kesempatan publik untuk berpartisipasi aktif dalam menyediakan pendidikan literasi internet di Indonesia. Siapapun dapat berpartisipasi aktif sebagai relawan atau menyumbangkan komputer untuk membangun laboratorium komputer di sekolah-sekolah dasar yang tidak mampu membiayai pembangunan dan pengembangan laboratorium di sekolahnya. Untuk berpartisipasi aktif, kunjungi laman web Project Child Indonesia di http://projectchild.ngo/id/ikut-terlibat .