HARDIKNAS: Saatnya Melawan Diri

Ditulis oleh Graciella Stephanie Ganadhi, Penulis Konten Project Child Indonesia

Pada 3 Juli 1922, tiga tahun setelah kembali ke tanah air dari pengasingannya di Belanda, Ki Hajar Dewantara mendirikan “National Onderwijs Institut Tamansiswa” (Sekolah Taman Siswa) di Yogyakarta. Sekolah ini merupakan sumbangsihnya terhadap pendidikan muda-mudi tanah air yang kala itu dibatasi oleh pemerintah Hindia Belanda untuk menuntut ilmu. Kala itu, orang yang berhak bersekolah hanyalah kalangan ningrat, orang peranakan, dan anak priyayi. Filosofinya yang paling dikenang dan dihidupi hingga sekarang adalah “Patrap Triloka” yang berbunyi: “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani (Di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan).” Menurutnya, semua orang, terlepas dari latar belakang dan kemampuan ekonominya, berhak untuk mengenyam pendidikan yang dapat berperan dalam perbaikan hidupnya.

Setiap tahunnya, tanggal 2 Mei selalu diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional yang bertepatan dengan hari kelahiran Ki Hajar Dewantara. Sebagai muda-mudi Indonesia di jaman sekarang, semangat kita seharusnya sepadan dengan semangat yang dimiliki Ki Hajar Dewantara. Bapak Pendidikan kita di masa mudanya telah berjuang melawan pemerintah Hindia Belanda demi mewujudkan kesetaraan pendidikan bagi seluruh rakyat. Pada jaman sekarang, yang merupakan lawan kita mungkin bukan pemerintah Hindia Belanda, melainkan kemalasan kita sendiri yang dengan mudah bisa kita lawan. Sebelum adanya keputusan untuk pembelajaran daring, banyak dari kita yang acapkali mengeluh dan menyuarakan keinginan untuk belajar dari rumah karena kita sudah terlalu bergantung pada internet untuk segala kebutuhan kita. Namun, nyatanya, setelah diputuskan untuk melaksanakan pembelajaran melalui daring, banyak dari kita yang protes karena kesulitan. Memang, seperti yang dirasakan oleh Ki Hajar Dewantara, perubahan itu pasti menyulitkan, apalagi dengan banyaknya dari kita yang mungkin masih kurang paham tentang penggunaan pembelajaran daring. Tetapi, janganlah biarkan penghalang kecil bernama keengganan belajar dan kemalasan ini menghalangi langkah kita untuk menuntut ilmu. Jangan sia-siakan perjuangan Ki Hajar Dewantara yang berjuang untuk kesetaraan pendidikan kita semua. Ujian kita lebih mudah, jadi marilah kita sebagai muda-mudi Indonesia terus berjuang mengalahkan ego kita sendiri demi masa depan kita yang lebih cerah!

Referensi:

  • https://id.wikipedia.org/wiki/Sekolah_Taman_Siswa
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Hadjar_Dewantara
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Pendidikan_Nasional

COVID-19: Aku Bisa Bantu Apa Sih?

Ditulis oleh Graciella Stephanie Ganadhi. Content Writer Project Child Indonesia

Kalau ada yang menyebut frasa “tenaga medis”, apa sih hal yang langsung muncul di otak kalian? Dokter atau suster? Seringnya, kita berpikiran kalau dokter itu jasanya yang paling besar dalam penanganan COVID-19 terus kita lupa deh kalau ada banyak suster dan bidan yang juga bekerja keras dan mempertaruhkan nyawa untuk membantu pemerintah dalam penanganan pandemi ini.

World Health Day yang diselenggarakan oleh World Health Organization (WHO) tahun ini mengusung tema: dukung suster dan bidan. Lah, terus, apa hubungannya sama kita yang cuma masyarakat awam? Kan, kita juga ga bisa ngapa-ngapain? Hmm, sebenarnya itu adalah cara pikir yang salah kaprah, teman-teman. Banyak cara, loh, untuk kita membantu para tenaga medis yang sedang berjuang menangani pasien yang terjangkit coronavirus:

  • Cuci tangan, cuci, tangan, cuci tangan! Usahakan tangan kalian selalu bersih. Ada kemungkinan besar tangan kalian menjadi sumber berkumpulnya virus dan bakteri.
  • Jangan menyentuh area muka, terutama mata, hidung, dan mulut! Coronavirus menyebar lewat droplet atau cairan. Area mata, hidung, dan mulut menjadi area rentan masuknya virus.
  • Selalu pakai masker! Jika kalian harus berpergian keluar, gunakan masker yang menutupi hidung dan mulut. Kalau kalian memakai masker kain, pastikan masker dicuci dan didesinfektan setelah 4 jam digunakan. Jangan pernah memakai masker N95 yang sangat diperlukan oleh para tenaga medis. Kalian ga perlu lebay, tenaga medis lebih butuh daripada kita yang tidak kontak langsung dengan pasien positif corona.
  • Mandi dan rendam pakaian yang kalian pakai keluar rumah menggunakan cairan desinfektan!
  • #dirumahaja! Kalau tidak benar-benar mendesak, mending kalian di rumah aja. Selain lebih aman, kalian juga mengurangi resiko terinfeksi dan menginfeksi.
  • Ikuti anjuran pemerintah yuk! Anjuran yang dikeluarkan pemerintah itu bukan asal ngomong, teman-teman. Pemerintah juga ingin pandemi ini segera selesai sehingga semua aktivitas bisa kembali lancar seperti biasa. 

Sebenarnya, membantu tenaga medis dalam situasi seperti sekarang ini tuh mudah banget kok. Kalau kalian tetap sehat, kalian sudah meringankan pekerjaan mereka dan mengurangi resiko pekerjaan mereka. Jadi, kesehatan kalian itu udah lebih dari cukup kok, teman-teman. Yuk, semuanya tetap sehat, ya!

References:

  • https://www.who.int/news-room/campaigns/world-health-day/world-health-day-2020

Jangan-Jangan Aku Kena COVID-19?

Ditulis oleh Graciella Stephanie Ganadhi, Content Writer Project Child Indonesia

Akhir-akhir ini apa kalian pernah merasa parno tiba-tiba tenggorokan mulai sakit, agak demam, terus dada juga mulai sesak sehabis kalian nonton berita tentang COVID-19? Lalu kalian jadi bertanya-tanya, jangan-jangan aku kena COVID-19? Hm, kemungkinannya sih sebenernya kecil banget, hampir ngga mungkin malah. Kalo kalian habis jalan-jalan ke luar negeri atau ketemu sama penderita COVID-19 sih, mungkin aja kalian kena COVID-19, tapi kalo kalian udah social distancing dan tiba-tiba kalian merasa sakit, mungkin aja itu cuma gejala psikosomatik dari otak kalian, guys!

Jadi, otak kita ini punya bagian yang namanya amigdala. Nah, amigdala ini apa sih? Basically, amigdala itu punya fungsi macam-macam, guys. Salah satunya adalah mengatur rasa takutmu. Nonton berita dalam jangka waktu yang cukup lama, terutama berita yang bikin takut kaya berita COVID-19 akhir-akhir ini bikin otak kalian, terutama sistem saraf otonom, terus-terusan berada di posisi fight atau flight sehingga kalian jadi stres. Stres kalian inilah yang menyebabkan ketidakseimbangan antara sistem saraf simpatetik dan parasimpatetik sehingga muncul reaksi psikosomatik yang mirip gejala COVID-19.

Stres berlebih itu sebenarnya merugikan, lho. Sebuah penelitian oleh André Bovis dan André Simoneton di 1949 menunjukkan bahwa stres dapat menyebabkan penurunan frekuensi tubuh. Jadi, semua benda di alam semesta ini bergetar dan memiliki frekuensi, mulai dari sel sampai atom. Orang yang sehat seharusnya punya frekuensi antara 7000 hingga 8000 uB (unit Bovis). Kalo seseorang punya frekuensi yang kurang dari 1000 uB, artinya orang tersebut sudah mendekati kematian. Orang yang sakit parah bakal punya frekuensi antara 2000 hingga 3000 uB, sedangkan orang yang sakit dan stres bakal punya frekuensi dibawah 5000 uB. Nah, ketakutan atau kecemasan berlebih dapat menyebabkan turunnya frekuensi tubuh menjadi dibawah 5000 uB dan ini bisa jadi bahaya untuk kita. Studi menunjukkan virus juga punya frekuensi sekitar 5000 uB. Artinya, jika frekuensi tubuh kalian berada dibawah 5000 uB seperti saat kalian stres, virus akan mengira bahwa tubuh kalian adalah “rumah” karena frekuensi yang mirip. Jadi ketika kalian stres, virus bakalan lebih mudah masuk dan bikin kalian sakit.

Sebaiknya, jangan khawatir dan stres berlebihan tentang berita, guys. “Sadar bukan cemas, siap bukan panik” harusnya jadi moto kalian dalam menghadapi situasi sekarang ini. Tetep nonton berita, yah! Tapi gausah dibawa stres. Saat kaya gini penting untuk melek berita, tapi juga kesehatan harus tetap jadi nomor satu. Tonton berita secukupnya, kalo perlu, jam nonton berita itu udah kalian jadwal. Jangan seharian mantengin berita. Habis nonton berita, kalian bisa ngegame atau olahraga ringan atau meditasi buat meredakan stres juga bisa banget, lho. Yuk, batasi nonton berita yang bikin stres dan tetap mengutamakan kesehatan ya!

Referensi:

  • http://www.lamartinablanca.com/Unidades_Bovis.html
  • https://whitemagicway.com/bovisbiometer.html
  • https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200323131032-255-486024/cegah-corona-jadi-jadian-akibat-stres-dan-cemas-berlebih
  • https://twitter.com/mbahndi/status/1241556884261224449?s=08

#CeritaVolunteer : Nadhia, Volunteer Sekolah Sungai Batch #29

Oleh : Nadhia Dheany, Volunteer Sekolah Sungai Batch #29

Halo! Aku Nadhia Dheany, aku merupakan salah volunteer #Batch29 di Project Child Indonesia. Aku mengambil Program Sekolah Sungai yang bertepatan di Sungai Gajahwong Yogyakarta. Yang membuat aku tertarik untuk mengikuti kegiatan volunteer di Sekolah Sungai karena selain untuk mengisi waktu aku juga ingin mencari kegiatan baru dan mendapatkan pengalaman baru.

Program volunteer #Batch29 ini dimulai dari sekitaran bulan Juli 2019 dimana waktu itu aku dan teman teman lain yang akan menjadi volunteer diberikan training terlebih dahulu. Dan pada training ini aku mendapatkan pelajaran baru, yaitu tentang pedagogi untuk pertama kalinya. Dari training ini pula aku tau kalau kedepannya aku akan dihadapkan dengan hal – hal yang baru yang belum pernah aku dapatkan sebelumnya. Dan pada hari itu juga itu adalah kali pertama aku bertemu teman – teman yang sangat ramah, baik dan juga aktif sehingga dari sinilah terlihat juga kalau orang-orangnya bisa diajak untuk bekerjasama dengan baik. 

Untuk kegiatan dari sekolah sungai pun juga tidak terlalu menyita waktu, untuk sekolah sungai di Gajahwong diadakan setiap hari selasa dari jam 15.00 – 17.00 WIB . Hal yang paling seru itu ketika jemput adik – adik kerumah mereka dan melihat adik adik yang semangat untuk bermain dan juga belajar bersama dengan para kaka – kaka volunteer

Dan untuk kegiatan setiap minggunya sebagai volunteer juga tidak hanya pergi ke sekolah sungai setiap hari selasa aja tapi juga di Project Child Indonesia juga ada kegiatan study club di setiap minggunya dimana setiap minggunya topiknya juga berbeda – beda dan itu yang bikin aku tambah senang menjadi volunteer di Project Child, karna dari study club ini aku juga mendapatkan ilmu – ilmu baru setiap minggu nya. Dan disini aku juga merasa menjadi volunteer itu tidak hanya membagi kebaikan dengan orang lain saja tetapi juga memberi kebaikan bagi diri kita sendiri dan membuat aku menjadi manusia yang lebih berkembang dari sebelumnya.

Terorisme dan Anak-anak

Oleh : Akbar Mohammad Arief, S.I.P., M.Si.
Alumni Program studi Kajian Terorisme Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia


Generasi muda khususnya anak-anak merupakan generasi penerus masa depan dunia ini, maka dari itu kita semua sebagai warga dunia memiliki peranan penting untuk melindungi masa depan dari anak-anak ini. Pada Konvensi Hak Hak Anak tahun 1989 yang diberlakukan oleh PBB dan diratifikasi oleh seluruh negara anggota PBB, konvensi ini mendefinisikan hak-hak anak untuk mendapatkan pendidikan, makanan, perlindungan dari bahaya dan jaminan kesehatan. Selain itu, konvensi ini juga mengatur kewajiban negara negara untuk melindungi anak- anak yang menjadi warga negara mereka dari perekrutan menjadi tentara anak-anak dan buruh dibawah umur (United Nations, 2020).

Dunia pada masa sekarang ini menghadapi ancaman dari aksi terorisme yang dilakukan oleh berbagai kelompok- kelompok teror di dunia. Tercatat bahwa rata rata 21,000 orang di dunia kehilangan nyawanya sebagai akibat dari serangan teror, dan terdapat peningkatan jumlah kematian akibat serangan teror yang signifikan pada rentang waktu 2010-2014, dimana 7,827 jiwa meregang nyawa akibat serangan teror pada tahun 2010 dan 44,490 orang kehilangan nyawanya akibat serangan teror di tahun 2014 (Ritchie, Hasell, Appel, & Roser, 2019). Aksi terorisme ini juga mengancam keamanan hidup anak-anak serta juga mengancam proses pemikiran anak-anak, anak-anak dapat menjadi korban serangan teror yang terjadi di berbagai belahan dunia, selain itu anak-anak juga berpotensi terpapar narasi-narasi kebencian dan ideologi ekstremis.

Aksi terorisme merupakan sikap ekstremisme dengan kekerasan yang dibentuk dan tumbuh dari suatu proses yang disebut dengan radikalisme.

Definisi radikalisme pada studi mengenai terorisme adalah sebuah proses mengubah pemikiran atau pemahaman seorang individu dalam tahap tahap menuju ekstremisme yang biasanya berujung pada aksi teror, radikalisme dapat tumbuh dan berkembang dari pemahaman yang salah dan cenderung fanatik akan sebuah ideologi Radikalisme dan ekstremisme yang menggunakan kekerasan mengancam kelangsungan hidup anak-anak di seluruh dunia, sejak usia dini anak-anak di berbagai belahan dunia memiliki potensi untuk terpapar radikalisme dan melakukan aksi teror. Salah satu faktor yang membuat proses radikalisme dan ekstremisme berkembang pesat adalah narasi-narasi kebencian, anak-anak di seluruh penjuru dunia saat ini terancam paparan segala bentuk narasi kebencian yang mereka dapatkan dari berbagai sumber seperti internet, lingkaran pergaulan hingga keluarga mereka sendiri (Chamidi, 2019).

Meskipun keterlibatan anak-anak pada aksi teror kerap menjadi perdebatan antara pendefinisian anak-anak tersebut sebagai korban maupun pelaku, namun tidak dapat dipungkiri bahwa anak-anak juga merupakan salah satu faktor yang harus dipertimbangkan dalam mengatasi ekstremisme dengan kekerasan dan melawan aksi terorisme secara umum. Sebagai contoh, seorang warga Inggris yang bernama Shamima Begum meninggalkan rumahnya pada umur 15 tahun untuk berangkat ke Suriah dan bergabung dengan ISIS (Jorgensen, 2019). Shamima kemungkinan besar nekat untuk meninggalkan rumahnya dan berangkat ke Suriah setelah terpapar propaganda-propaganda ISIS yang berisi narasi kebencian terhadap musuh-musuh mereka dan janji-janji ISIS akan kehidupan yang lebih baik dan surga bagi para pengikut ISIS di akhirat kelak.

Selain Shamima, masih banyak anak-anak di dunia ini yang menjadi teroris atas dasar motivasi apapun, baik melalui keinginan sendiri maupun paksaan. Dalam skema perekrutan teroris, anak-anak sampai usia 18 tahun memiliki berbagai motivasi seperti: Pencarian jatidiri melalui identitas kelompok, faktor ideologi yang ditawarkan oleh kelompok teror, narasi mengenai ancaman dan kebencian terhadap golongan lain di luar golongan dari anak tersebut, kemungkinan untuk mendapatkan ketenaran dan rasa hormat dari lingkungannya, perekrutan melalui koneksi pribadi seperti keluarga maupun teman sebaya (Darden, 2019).

Perekrutan kelompok teror terhadap anak-anak juga dapat terjadi melalui paksaan. Pada tahun 1987 sebuah organisasi teror bernama Lord Resistance’s Army (LRA) di Uganda kerap menculik, mengintimidasi dan mempersenjatai anak-anak, tercatat sebanyak 20,000 anak di Uganda menjadi tentara/teroris anak dengan paksaan pada saat itu. Pada saat ini, ISIS tercatat telah menculik ribuan anak-anak dari berbagai daerah kekuasaannya pada masa pendudukan ISIS untuk dijadikan teroris anak (Darden, 2019). Selain karena penculikan, terdapat pula anak-anak yang dengan sukarela bergabung dengan ISIS karena pengaruh dan dukungan dari kedua orang tuanya untuk menjadi seorang kombatan.

Penculikan dan perekrutan anak secara paksa untuk menjadi tentara/teroris anak merupakan salah satu bentuk eksploitasi yang dilakukan oleh kelompok teror, bentuk eksploitasi lainnya terhadap anak, terutama anak perempuan adalah pelacuran anak, perbudakan seks anak dan pernikahan paksa antara anak-anak dan anggota kelompok teror. Seperti pada kasus Shamima, meskipun ia berangkat ke Suriah atas keinginannya, namun ia juga dapat disebut telah mengalami eksploitasi karena tidak ada bukti konkrit apakah Shamima menjadi seorang pengantin di bawah umur bagi seorang anggota ISIS berdasarkan kemauannya atau atas dasar paksaan (Jorgensen, 2019).

Dalam upaya melindungi anak-anak dari pengaruh narasi kebencian dan pemaksaan anak-anak untuk menjadi anggota kelompok teror merupakan tugas semua kalangan yang bertanggung jawab pada kehidupan anak, mulai dari lingkungan keluarga hingga negara tempat kewarganegaraan anak tersebut. Narasi kebencian dapat dilawan dengan upaya-upaya kontra narasi, yang dilakukan dengan mendidik orang tua anak untuk selalu menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dan anti ekstremisme pada anak-anak sedari usia dini, terutama dari segi pengamalan ilmu ilmu agama dan juga nilai nilai mengenai keberagaman di dunia ini.

Perlindungan bagi pemaksaan anak-anak untuk menjadi kelompok teror juga dapat dilakukan oleh negara atau aktor terkait lainnya yang memiliki kapasitas untuk melindungi anak-anak di medan perang dari kelompok-kelompok teror. Dalam kasus Indonesia institusi pendidikan dan organisasi keagamaan seperti MUI, NU dan Muhammadiyah dapat berperan untuk melakukan pencegahan awal terhadap eksploitasi anak yang dilakukan oleh kelompok teror, dengan melakukan pemantauan pada anak-anak yang tergabung dalam institusi-institusi pendidikan mereka, dan apabila diperlukan sebuah tindak lanjut, dapat diteruskan kepada instansi terkait untuk penanganan lebih lanjut.

Meskipun banyak cara untuk melindungi anak-anak dari bahaya radikalisme/ekstremisme dan terorisme, persebaran informasi yang begitu bebas di internet dan interaksi tanpa batas yang diberikan oleh media sosial tetap menjadi ancaman terbesar dalam menyeret anak-anak pada spektrum radikalisme dan ekstremisme. Maka dari itu dalam penanganannya pemerintah selaku aktor yang paling berkuasa dalam persebaran informasi di sebuah negara harus dengan sigap menjaga persebaran informasi yang terdapat di internet, dan melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah segala jenis narasi kebencian dan sosialisasi yang dapat berujung pada radikalisasi dan eksploitasi kelompok teror terhadap anak.

Mengingat anak-anak adalah masa depan bagi dunia ini, maka diperlukan kesadaran dan tindakan nyata untuk dapat melindungi anak-anak dari bahaya-bahaya yang diakibatkan oleh narasi kebencian yang dapat berujung pada radikalisme dan ekstremisme. Tugas ini tidak hanya merupakan tugas suatu instansi tertentu, namun sudah menjadi tanggung jawab seluruh warga dunia untuk ikut berkontribusi melindungi anak-anak dari pengaruh-pengaruh berbahaya yang disebarkan oleh aktor-aktor yang tidak bertanggung jawab.


Referensi :

  • Chamidi. (2019, 12 22). Kunjungan rumah program deradikalisasi LSM ACCEPT International. (A. Arief, Interviewer)
  • Darden, J. T. (2019). Tackling Terrorists’ Exploitation of Youth. United States of America: American Enterprise Institute.
  • Jorgensen, N. (2019, June 30). Children associated with terrorist groups in the context of the legal framework for child soldiers. Retrieved from Questions of International Law: http://www.qil-qdi.org/children-associated-with-terrorist-groups-in-the-context-of-the-legal-framework-for-child-soldiers/#_ftn1
  • Ritchie, H., Hasell, J., Appel, C., & Roser, M. (2019, July). Terrorism. Retrieved from Our World in Data: https://ourworldindata.org/terrorism#how-many-people-are-killed-by-terrorists-worldwide
  • United Nations. (2020, January 4). Global Issues, Children. Retrieved from United Nations: https://www.un.org/en/sections/issues-depth/children/index.html

Standardisasi Kualitas Air Menurut Dinas Kesehatan dan Dinas Lingkungan Hidup

Ditulis oleh Sekar Ningtyas Kinasih, Content Writer
Project Child Indonesia


Kompleksitas permasalahan sumber air bersih di Yogyakarta masih memerlukan upaya lebih lanjut yang ditujukan kepada pemerintah daerah, masyarakat maupun kelompok tertentu yang terlibat dengan pembangunan proyek pemerintah. Diungkapkan oleh salah satu peneliti senior dari Pusat Penelitian Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan (LIPI) tahun 2016 bahwa maraknya pembangunan hotel dan apartemen, minimnya lahan konservasi, perubahan tata guna lahan pertanian menjadi non-pertanian merupakan perkara utama krisis air kota Yogyakarta. Adapun unsur-unsur lain yang mempertajam penurunan kualitas pada air bersih seperti limbah rumah tangga, limbah industri hingga tingginya konsumsi air secara berlebihan. 

Kesadaran akan air sebagai materi esensial pada keberlangsungan hidup manusia menjadi dasar utama penerapan Drinking Water Program yang dilakukan sejak tahun 2016 ke beberapa sekolah oleh Project Child Indonesia– sekaligus bukti nyata terhadap dukungan implementasi Sustainable Development Goals (SDG) nomor 6, yakni menjamin ketersediaan air bersih dan sanitasi layak secara universal pada setiap lapisan masyarakat di tahun 2030. Pada tanggal 10 Juli 2019, PCI kembali mengadakan sosialisasi Drinking Water Program bersama 5 sekolah mitra baru yaitu SD Cokrokusuman, SD Sayidan, SD Karangmulyo, SD Ngupasan dan SD Wirosaban yang juga dihadiri 22 perwakilan sekolah mitra lainnya maupun 3 perwakilan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta. 

Tak hanya mempromosikan bagaimana DWP meningkatkan keterjangkauan akses air minum yang cukup terhadap anak-anak sekolah, di kesempatan yang sama para fasilitator seminar juga memberikan penyuluhan standardisasi kualitas air menurut Dinas Kesehatan dan Dinas Lingkungan Hidup melalui 3 parameter utama sebagai berikut:

Syarat Fisika
Air berkualitas perlu memenuhi beberapa syarat fisika seperti:

  • Jernih alias tidak keruh – umumnya disebabkan oleh butiran koloid tanah liat.
  • Tidak berwarna dan tidak mengandung bahan-bahan berbahaya pada kesehatan.
  • Tawar – apabila secara fisik air memiliki rasa asin, manis atau pahit, dapat diartikan bahwa air tidak layak konsumsi.
  • Tidak berbau – kondisi air yang bau mengindikasikan adanya penguraian bahan organik oleh mikroorganisme air.
  • Suhu normal – memastikan suhu air tidak panas yang kerap disebabkan oleh pelarutan zat kimia pada saluran pipa dan berujung pada resiko kesehatan. 
  • Nilai kandungan Total Dissolve Solid atau disingkat TDS (zat padat) tidak melebihi 1000 untuk air bersih dan 100 untuk air minum.

Syarat Kimiawi
Ada pula beberapa syarat kimiawi yang perlu diperhatikan yakni:

  • pH (derajat keasaman) – tingkat keasaman pada air umumnya dikarenakan adanya pelarutan gas oksida (karbon dioksida), sehingga disyaratkan kandungan pH mencapai 6 hingga 8 agar senyawa kimia tidak berubah menjadi racun yang mengganggu kesehatan.
  • Besi (Fe) – kondisi air yang memiliki kandungan besi lebih dari 0,1 mg dapat dicirikan dengan warna air yang cenderung kuning dan rasa khas seperti logam. Hal ini dapat beresiko pada gangguan dalam tubuh.
  • Kesadahan – kesadahan ditimbulkan oleh adanya kandungan sulfat dan karbonat , klorida dan nitrat dari magnesium, kalsium,  besi dan aluminium. Tingkat kesadahan dalam air dipastikan tidak melebihi 500 mg/l karena dapat menimbulkan terbentuknya lapisan kerak putih pada alat dapur, korosifitas pada pipa air hingga kondisi perut mual.
  • Nitrat dan Nitrit – pencemaran kedua zat ini bersumber dari tanah maupun tanaman, yang apabila terkandung pada air dalam jumlah berlebihan akan menghalangi aliran oksigen di dalam tubuh.
  • Timbal (Pb) – pencemaran air dapat ditimbulkan oleh logam timbal (Pb) yang kemudian memicu resiko gangguan ginjal, hati, otak hingga kematian sehingga patut untuk dihindari.

Syarat Mikrobiologi
Memastikan air minum tidak terkontaminasi oleh bakteri E.coli (Escherichia Coli) yang merupakan bakteri patogen penyebab gangguan pencernaan seperti diare dan muntaber. Beberapa Coliform lain yang patut dihindari adalah Salmonella Typhi yang memicu terjadinya demam typoid (tifus). Bila bakteri ini masuk melalui mulut dan tersebar di dalam tubuh, hal ini dapat berujung pada gangguan pencernaan yang ditandai dengan gejala seperti demam, sakit kepala, sakit perut dan penurunan nafsu makan.


Melaksanakan uji kelayakan air bersih sesuai standardisasi yang telah ditetapkan oleh pihak Dinas Kesehatan dan Dinas Lingkungan Hidup sangatlah penting, guna menjamin bahwa setiap lapisan masyarakat berhak memperoleh air bersih sebagai pemenuhan kebutuhan hidup dan terbebas dari ancaman kesehatan. Implementasi DWP merupakan salah satu komitmen yang diharapkan dapat menjadi sarana terpenuhinya tujuan-tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG) disertai dengan tumbuhnya kesadaran masyarakat dalam pengambilan langkah preventif pada pencemaran air dalam kehidupan sehari-hari seperti pengurangan pemakaian deterjen, menghindari pembuangan sampah ke sungai, tidak mengeksploitasi sumber mata air, mengoptimalkan pelaksanaan rehabilitasi lahan kritis sebagai konservasi air bawah tanah hingga penggunaan air secara wajar (tidak berlebihan).


Sumber :

Kesukarelawanan Anak Muda untuk Meraih Tujuan-Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)

Kita tidak bisa selalu membangun masa depan untuk para pemuda kita, tapi kita bisa membangun para pemuda kita untuk masa depan

Franklin D. Roosevelt

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), ada 1.8 miliar orang yang berumur 10-24 tahun di dunia, yang bisa dikatakan sebagai generasi terbesar anak muda dalam sejarah. Oleh karena itu, peran anak-anak muda dalam mengadvokasi dan mengeksekusi perubahan sangat krusial, terutama dengan melihat peran mereka sebagai agen perubahan untuk masa depan. Dalam menanggapi fenomena ini, PBB telah menekankan dan mendorong partisipasi aktif para pemuda untuk berkontribusi dalam mempercepat meraih Tujuan-Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Di banyak negara, terutama negara-negara yang sedang berkembang dan kurang berkembang, banyak pemuda yang mengalami beberapa masalah besar terkait dengan SDGs, seperti kurangnya akses pada pendidikan, layanan kesehatan, dan pekerjaan, yang pada akhirnya akan membuat lebih banyak masalah sosio-ekonomi struktural di masa yang akan datang. Tentu saja, salah satu cara yang relatif terbaik dan termudah untuk mendorong keterlibatan mereka dalam menyelesaikan masalah-masalah tersebut, adalah melalui aktivitas-aktivitas kesukarelawanan.

Kesukarelawanan, yang biasanya dieksekusi melalui lembaga-lembaga non-profit, telah secara signifikan memberi berbagai dampak positif terhadap pemangku-pemangku kepentingan yang terlibat, seperti organisasi-organisasi non-profit itu sendiri, serta para pemuda dan komunitas-komunitas yang terlibat. Lembaga-lembaga non-profit dapat diuntungkan melalui meluasnya misi-misinya, meningkatnya dukungan publik, dan munculnya para pendukung dan relawan baru. Sementara itu, para anak muda dapat diuntungkan dalam hal peningkatan pengembangan diri mereka, yang mencakup rasa tanggung jawab, empati, kepercayaan diri, kemampuan-kemampuan sosial yang baru, meningkatnya kesehatan fisik dan mental, dan perkembangan-perkembangan psikologis dan intelektual yang lainnya. PBB sendiri sudah mengakui grup-grup relawan sebagai salah satu pemangku kepentingan untuk mencapai “Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan”, yang juga sangat bisa membantu perkembangan perencanaan nasional dan implementasinya.

Dapat dilihat bahwa kesukarelawanan adalah salah satu alat pemacu berjalannya pembangunan berkelanjutan, dan sangat direkomendasikan bagi semua komunitas untuk ikut terlibat. Meskipun demikian, terlepas dari manfaat-manfaat dari kesukarelawanan anak muda yang sudah disebutkan sebelumnya, banyak anak muda yang sayangnya masih belum memiliki dorongan yang cukup untuk melakukan aktivitas-aktivitas kerelawanan, yang dapat disebabkan oleh kurangnya informasi, waktu, ketertarikan, dan sebagainya. Terlepas dari masalah-masalah tersebut yang harus diperhitungkan, kesukarelawanan tentunya akan memberi banyak keuntungan untuk para pemuda dan komunitas-komunitas grassroot yang terlibat, terutama dalam usaha meraih SDGs. Terlepas dari pentingnya dan efektifnya kesukarelawanan, aktivitas ini tidak dimasukkan dalam agenda Tujuan-Tujuan Pembangunan Milenial (MDGs) waktu itu. Pentingnya dan efektifnya kesukarelawanan juga dapat dibuktikan dengan fakta bahwa negara-negara yang memiliki jumlah relawan yang banyak cenderung lebih giat dalam memelihara kondisi sosial dan ekonominya, menurut sebuah statistik dari The International Forum for Volunteering in Development. Banyak aspek dari kemiskinan yang juga dapat secara perlahan diselesaikan melalui aktivitas kesukarelawanan, seperti aspek pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan lingkungan tempat tinggal, yang mana merupakan objektif-objektif utama dari implementasi SDGs.

Jangan tunggu lagi, mari menjadi seorang relawan untuk meraih SDGs bersama-sama!

Kunjungan SMSG: Kolaborasi Sebagai Kunci Pergerakan di Bidang Pendidikan

Semua Murid Semua Guru (SMSG) adalah organisasi pendidikan yang berfokus pada kolaborasi. SMSG didirikan oleh Najeela Shihab, seorang pendidik dan aktivis dalam bidang pendidikan. Organisasi ini berfokus pada upaya mengkolaborasikan komunitas-komunitas dan organisasi-organisasi independen sehingga dampak yang diperoleh akan lebih besar daripada jika mereka bekerja sendiri. Bersama-sama, komunitas-komunitas ini akan mampu memberikan dampak yang lebih besar, serta membangun jaringan antar komunitas yang lebih baik.

Project Child Indonesia (PCI) dipandang sebagai salah satu NGO yang telah mampu mewujudkan gerakan kolaborasi dalam program-programnya, khususnya program Sekolah Sungai yang merupakan program pertama yang dijalankan oleh PCI. Program ini adalah bentuk nyata kolaborasi antara masyarakat setempat, para murid, sukarelawan, pendanaan berkelanjutan, dan keterlibatan sukarelawan dari luar negeri.

Sekitar 28 murid dari Sekolah Sungai hadir pada acara kunjungan SMSG pada tanggal 23 November 2018. Co-founder PCI, Surayah Ryha, bersama founder SMSG, Najeela Shihab mendiskusikan pentingnya pengembangan dalam bidang pendidikan alternatif. Banyak komunitas yang bergerak dalam bidang pendidikan masih membutuhkan perhatian lebih, meskipun mereka telah turut bekerja mendukung agenda pemerintah mewujudkan reformasi pendidikan. Organisasi-organisasi ini, salah satunya PCI, sudah terlibat dalam pergerakan pendidikan dengan membangun program-program berkelanjutan yang telah berjalan cukup lama. Pergerakan ini adalah hal positif yang perlu dibagikan pada sesama aktivis pendidikan. Dalam acara ini juga hadir sejumlah media massa nasional yang akan ikut serta menyebarkan berita baik ini ke seluruh Indonesia.

Usai kunjungan, PCI berkesempatan untuk berbagi ide dan pemikiran terkait pendidikan alternatif dengan komunitas-komunitas lain di Hotel GreenHost, serta memperluas jaringan melalui sesi berjejaring yang diadakan oleh SMSG. Kunjungan yang dilaksanakan di PCI ini diharapkan dapat memberi wawasan baru mengenai kolaborasi yang bisa dilakukan oleh SMSG bersama dengan komunitas-komunitas lain. Kolaborasi tersebut tentu berkaitan dengan lingkup kerja Project Child Indonesia. Pengembangan masyarakat merupakan salah satu jenis kolaborasi yang dapat dilakukan dengan melibatkan masyarakat di sekitar lokasi Sekolah Sungai.

Ada pula beberapa hasil yang diharapkan dari sesi berjejaring yang dilakukan dengan SMSG beserta komunitas di dalamnya: semakin banyak berita baik mengenai pergerakan pendidikan alternatif di Indonesia untuk mendorong gagasan tentang volunteerism pada para pembacanya, dan kolaborasi yang mungkin dilakukan dengan komunitas-komunitas yang aktif dalam gerakan serupa. Pada intinya, mewujudkan jejaring yang lebih baik dengan SMSG, media, dan komunitas-komunitas dalam naungan SMSG.

—————-

Penulis: Filla Lavenia Palupy

Penyediaan Akses Air Minum untuk Masa Depan Anak

Manusia memerlukan air bersih untuk hidup. Air yang tercemar tidak hanya kotor dan tidak layak dikonsumsi, namun juga dapat berbahaya bagi kesehatan dan dapat beresiko menimbulkan kematian. Untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan memenuhi hak dasar bagi seluruh penduduk Indonesia, penyediaan akses air minum yang terjamin perlu dipertimbangkan secara serius untuk menjadi salah satu prioritas pembangunan nasional. Terbatasnya akses terhadap air dapat merampas kesempatan anak dalam hal pendidikan dan ekonomi dan dapat menghambat mereka untuk keluar dari lingkaran kemiskinan. Karena jauhnya akses air dari rumah, seringkali anak-anak di daerah terpencil juga mendapat tugas untuk mengambil air bagi keluarga mereka. Tanggung jawab ini akan menyita waktu mereka yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk belajar dan bermain. Akses air yang aman dan mudah dijangkau akan memberi mereka tambahan waktu agar mereka dapat bermain layaknya anak-anak pada umumnya dan menggunakan waktu untuk belajar demi masa depan mereka.

Pembangunan infrastruktur merupakan salah satu prioritas pembangunan bagi pemerintahan Presiden Joko Widodo. Presiden menegaskan dalam berbagai kesempatan betapa pentingnya infrastruktur bagi kemajuan suatu bangsa, meliputi sebagai pondasi dasar dalam pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kemandirian suatu negara. Hal ini juga berlaku bagi pembangunan dan pengembangan infrastruktur air minum atau biasa disebut sebagai Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM).

Tantangan lain selain kurangnya penyelenggara SPAM di pedesaan di antaranya adalah infrastruktur yang digunakan untuk mendistribusikan air di Indonesia kondisinya biasanya sudah usang, kurang terawat dan rentan terhadap kebocoran. Apabila sistem distribusi tersebut rusak, air akan dapat terkontaminasi dengan organisme penyakit yang ditularkan melalui air. Tingkat pertumbuhan penduduk yang pesat juga mengakibatkan adanya kesenjangan antara jumlah penduduk dan cakupan pelayanan yang belum memadai. Kurangnya tenaga ahli lokal juga sering menjadi penghalang untuk menciptakan sistem distribusi pengolahan air yang lebih modern, yang membutuhkan tenaga terlatih untuk operasi dan pemeliharaannya.

Berdasarkan penilaian kinerja yang dilakukan Badan Peningkatan Penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSPAM) terhadap 371 PDAM pada 2016, diketahui bahwa jumlah PDAM yang berada dalam kondisi sehat 198 (53%), kurang sehat 108 (29%), dan sakit 65 (18%). Kondisi ini berbeda dari tahun 2015, dimana dari 368 PDAM yang dinilai, PDAM dalam kondisi sehat 196 (53%), kurang sehat 100 (27%), dan sakit 72 (20%). Sedangkan pada 2014, dari 359 PDAM yang dinilai, PDAM dalam kondisi sehat 182 (51%), kurang sehat 103 (29%), dan sakit 74 (21%) (BAPPENAS 2017). Dari sini dapat disimpulkan bahwa dari tahun 2014 sampai dengan tahun 2016, jumlah PDAM yang sehat bertambah hanya sedikit, jumlah PDAM yang kurang sehat bertambah dan jumlah PDAM yang sakit sedikit berkurang. Terlihat tantangan lain SPAM di Indonesia yaitu masih diperlukan banyak perbaikan untuk pemeliharaan SPAM dari pemerintah.

Sesuai UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, penyediaan air minum adalah salah satu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib pemerintah daerah. Seiring dengan program pembangunan pemerintah, aspek pendanaan untuk pembangunan SPAM juga harus menjadi komitmen dan perhatian pemerintah daerah. Namun dengan keterbatasan pendanaan pemerintah daerah dan prioritas pembangunan lainnya, pemerintah pusat juga turut mendukung pembangunan SPAM di daerah melalui pendanaan APBN, sehingga pembangunan infrastruktur SPAM mendapatkan pendanaan bersama dari pemerintah daerah dan pemerintah pusat.

Selain melalui APBN dan APBD, pemerintah juga membuka kesempatan kepada badan usaha untuk mendukung pengembangan SPAM melalui mekanisme Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 122 Tahun 2015 tentang Sistem Penyediaan Air Minum. Kelebihan dari skema KPBU antara lain memberikan alternatif pembiayaan lain karena keterbatasan pendanaan pemerintah, efisiensi, teknologi baru yang dipergunakan oleh swasta dan mempercepat peningkatan cakupan dan kualitas pelayanan publik. Skema KPBU diharapkan dapat mengoptimalkan biaya investasi terutama di perkotaan yang pertumbuhan penduduknya meningkat dengan pesat. Kemampuan membayar di perkotaan yang cenderung lebih besar dapat menjadi alasan kuat bagi penanam modal untuk berinvestasi, namun bagaimana dengan masyarakat di wilayah terpencil yang tidak mampu? Kurang kondusifnya iklim usaha mengakibatkan sektor swasta enggan untuk mengembangkan SPAM di pedesaan. Akibatnya jaringan perpipaan dan penyediaan air minum untuk masyarakat miskin pedesaan kurang mendapat perhatian baik dari pemerintah maupun dari pihak swasta.   

Upaya untuk mengembangkan SPAM di Indonesia salah satunya dapat dimulai dari sekolah dengan menyediakan instalasi air minum untuk membangun kebiasaan dan meningkatkan kesadaran anak-anak, guru, orang tua, dan orang-orang di sekitar lingkungan sekolah. Sistem water filter menjamin kebersihan air sehingga meminimalisir potensi penyakit akibat air yang tercemar. Selain itu, anak-anak akan dapat menyisihkan sebagian uang sakunya untuk membeli keperluan lain selain air minum. Sistem ini juga mudah untuk dipelajari sehingga siapapun dapat mengoperasikan dan melakukan pemeliharaannya.  Penerapan Drinking Water Program di sekolah dapat menawarkan opsi penyediaan air minum untuk membantu pemerintah baik di perkotaan maupun daerah terpencil, khususnya untuk anak-anak. Dengan sistem penyediaan air minum yang baik dan terjangkau, anak-anak akan mendapat kesempatan untuk mengembangkan potensi mereka karena mereka memiliki lebih banyak waktu untuk belajar dan bermain, sehingga harapan untuk memiliki masa depan yang lebih cerah pun lebih besar.

Semua Dapat Berpartisipasi untuk Mendukung SDGs

Sebagai tindak lanjut dari agenda Millennium Development Goals yang telah berjalan selama 15 tahun, pada bulan September 2015 Perserikatan Bangsa-Bangsa mencanangkan resolusi baru yang lebih universal, inklusif dan komprehensif yaitu Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. SDGs memiliki 17 tujuan baru untuk mendorong pembangunan berkelanjutan berdasarkan hak asasi manusia dan kesetaraan untuk mendorong pembangunan sosial, ekonomi dan lingkungan hidup. SDG nomor 6 bertujuan untuk menjamin ketersediaan serta pengelolaan air bersih dan sanitasi yang berkelanjutan dengan salah satu targetnya yaitu memberi akses air minum aman dan terjangkau secara universal dan merata pada semua orang di tahun 2030.  

Indonesia telah berkomitmen untuk mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dengan diadopsinya sebagian besar target dan indikator SDGs ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Integrasi agenda global ke dalam RPJMN menunjukkan bahwa pemerintah menaruh perhatian besar dengan melegitimasi dan memberikan dasar hukum bagi pelaksanaan agenda SDGs di Indonesia.

Pada bulan Juli 2017 Presiden Jokowi telah menandatangani Peraturan Presiden No. 59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang menetapkan struktur dan mekanisme tata kelola SDGs nasional untuk perencanaan, penganggaran, pembiayaan, pemantauan dan pelaporan. Dalam perpres ini disebutkan bahwa salah satu sasaran nasional RPJMN tahun 2015-2019 adalah meningkatkan akses air minum layak untuk 40% penduduk berpendapatan terbawah pada tahun 2019 menjadi 100%.

Perpres tersebut juga merupakan komitmen agar pelaksanaan dan pencapaian SDGs dilaksanakan secara partisipatif dengan melibatkan seluruh pihak. Sesuai dengan prinsip utama SDGs yaitu inklusi dan partisipasi, di dalam perpres tersebut dijelaskan pentingnya peran aktor non-pemerintah seperti ormas, filantropi, pelaku usaha, akademisi dan pihak terkait lainnya. Dibutuhkan berbagai platform di tingkat nasional dan daerah untuk mempertemukan aktor non-pemerintah tersebut dan mewujudkan kemitraan yang nyata.

Organisasi non-pemerintah memiliki peran penting dalam mengkomunikasikan SDGs kepada publik dengan membuat proses kebijakan menjadi lebih transparan dan mudah diterima. Salah satu tujuan dari meningkatkan kesadaran publik tentang SDGs adalah untuk memberdayakan masyarakat agar dapat turut serta dalam menyelesaikan permasalahan di sekitar mereka dan berkontribusi pada SDGs.

Selain NGO, partisipasi dari berbagai pihak merupakan bagian konstituen dari pembangunan berkelanjutan yang krusial bagi realisasi tujuan agenda tersebut dengan menggabungkan berbagai sumber informasi, pengetahuan dan keahlian sehingga menghasilkan ide-ide baru, menumbuhkan komitmen bagi semua pihak yang terlibat, meningkatkan kesadaran terhadap suatu isu dan memahami tantangan apa yang perlu diselesaikan bersama.

Project Child Indonesia dapat menjadi salah satu wadah bertemunya pemerintah, penanam modal, masyarakat madani serta akademisi untuk mencapai tujuan SDGs ke-6 dengan terlaksananya Drinking Water Program (DWP). Sejak dilaksanakan pada tahun 2016, DWP telah memberikan dampak positif terhadap 29 sekolah di Yogyakarta, 4 sekolah di Fakfak dan akan terus dikembangkan di berbagai wilayah di Indonesia.

Program ini menjamin tersedianya air minum yang aman dan terjangkau di sekolah-sekolah dengan dana yang didapat dari penanam modal yang peduli terhadap isu ini. Penyuluhan di sekolah mengenai dibutuhkannya akses air minum bagi seluruh masyarakat, pentingnya mendapat asupan air minum yang cukup bagi anak-anak, serta kelebihan dari sistem water filter dari segi kesehatan, finansial maupun lingkungan juga diberikan oleh relawan muda yang datang dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia maupun luar negeri.

Agenda 2030 menekankan pada “integrasi” dan “kesatuan” dimana tujuan dan target tidak akan tercapai apabila semua pihak berjalan sendiri-sendiri. Pendekatan yang koheren dan holistik dengan melibatkan berbagai pihak akan meningkatkan implementasi SDGs serta berkontribusi pada koherensi kebijakan untuk pembangunan berkelanjutan agar tercipta masyarakat yang madani.